Kesayangan Tuan Rav

Kesayangan Tuan Rav
Part 7


__ADS_3

Rav menepuk keningnya sendiri, memiliki teman seperti Ammar ini memang butuh mental yang kuat.


Setelah Faisal menceritakan tentang hilangnya Zahra karena kebohongan yang mereka lakukan, Annisa pun segera melaporkan kasus hilangnya Zahra ke polisi agar bisa mendapatkan informasi lebih jelas. Dan Zahra pun segera ditemukan.


Saat ini Faisal sedang duduk di kursi taman bersama Diana.


"Nis, aku minta maaf atas semua yang terjadi."


"Udahlah, mas. Yang berlalu biarlah berlalu. Toh, ini juga bukan sepenuhnya kesalahan kamu."


"Tapi aku ngerasa gagal jagain Zahra putri satu-satunya yang kita miliki. Aku ngerasa gagal jadi ayah yang baik, apa lagi Zahra hilang sudah satu minggu."


"Kamu, kan juga sudah usaha buat cari dia. Sekarang kita juga udah laporin kasus hilangnya Zahra ke polisi, semoga akan ada kabar baik nanti."


"Amin."


"Kayanya aku harus segera pulang, soalnya malam ini aku harus nemenin suami aku untuk menghadiri undangan makan malam dari bos-nya."


"Iya, silakan! Makasih kamu udah gak marah-marah setelah tau yang sebenarnya."


"Hmm, aku mau setelah ini kamu harus menjadi orang yang lebih baik lagi. Jangan selalu mengedepankan ego."


"Pasti Nis."


"Aku pergi."


"Hati-hati!"


...****************...


Sedangkan di mansion Arga, Zahra sedang membantu Alfi dan para Maid untuk menyiapkan jamuan makan malam nanti. Karena rekan-rekan bisnis Arga akan datang.


"Segini cukup Tante?"


"Cukup kok."

__ADS_1


Sudah hampir satu minggu Zahra tinggal di mansion ini, dia sudah bisa beradaptasi selama tinggal di sini. Dia juga bisa merasakan hidup yang lebih damai dari sebelumnya, Alfi dan juga Arif begitu memperlakukannya dengan sangat baik. Mereka tidak menganggap Zahra sebagai tamu, melainkan sebagai putri sendiri.


Berbeda sekali kehidupannya ketika bersama ayah dan ibunya, dan saat bersama Arga dan Alfi.


"Assalamualaikum," salam Rav, dia baru pulang kuliah rupanya.


"Wa'alaikumussalam."


"Ada acara apa, nih? Kok banyak makanan?"


"Acara lamaran," sahut Rex.


"Lamaran siapa?"


"Lu sama Zahra."


"Apa?!" kaget Rav. "Gu--gue sama Zahra, ta--tapi Rav belum siap," ujarnya gugup.


"Rex itu bohong, malam ini daddy ngundang rekan-rekan bisnisnya buat makan malam. Bukan acara lamaran kamu."


"Ohh."


Rav memalingkan wajahnya. "Ng--enggak, si--siapa bilang?"


"Itu pipi Lo merah ******."


"Jambu," sahut para Maid. "Iya, itu maksudnya."


"Apaan, sih!"


"Udah-udah jangan digodain terus nanti pipi Rav makin merah lagi."


"Bunda!" kesal Rav, dia pun memilih untuk masuk ke dalam kamar.


Anaya hanya terkekeh melihatnya.

__ADS_1


Pukul 20.00, rekan-rekan bisnis Arga pun mulai berdatangan untuk menghadiri acara makan malam.


"Silakan masuk!"


Para Maid pun berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu yang datang.


Zahra hanya tersenyum setiap melihat satu persatu rekan bisnis Arif yang mulai berdatangan.


"Raww!"


"Aaa ...! Rav." Zahra menatap tajam Rav yang tersenyum manis ke arahnya.


"Apa?"


"Kamu bikin aku kaget."


"Lagian kamu, ngapain coba berdiri sendiri di sini?"


"Gak papa."


Ternyata, Annisa pun hadir di acara makan malam ini bersama suaminya yang juga rekan bisnis Arif.


"Selamat datang Bu Annisa" Alfi menyambut kedatangan Annisa dan suaminya.


"Wah, acara makan malamnya begitu mewah ya," puji Annisa.


"Iya, dong namanya juga makan malam sultan," ujar Revan—suami Annisa.


"Bisa aja."


"Yuk masuk!"


Saat memasuki ruangan tengah, Annisa tak sengaja melihat Zahra yang sedang mengobrol dengan Rav. Annisa merasakan perasaan aneh ketika melihat Zahra, dia tidak pernah tau wajah Zahra ketika dia dewasa. Jadi, dia tidak mengenali Zahra saat ini.


"Kenapa?" Revan menepuk pundak Annisa. "Nggak."

__ADS_1


'Siapa gadis itu?'


BERTEMBUNG...


__ADS_2