
Bukankah semua orang akan lebih mudah jatuh hati pada suatu keindahan yang tidak bisa dimilikinya?
Seperti kata-kata yang sangat populer diucapkan banyak orang, mengenai setangkai bunga yang tumbuh di tepi sebuah jurang. Mengenai ada kalanya orang mencoba untuk memetiknya. Karena mudah saja. Keindahan itu tidak bisa dimiliki. Tapi ia telah jatuh hati.
Maka, keindahan itu adalah matanya. Bagaimana caranya menatapku hari itu. Dunia ini memilikinya dan ia membawanya kepadaku.
Kemudian ada ucapan lainnya, mengenai sesuatu yang indah, bisa diam-diam membunuhmu. Seseorang bisa jatuh masuk ke dalam jurang yang dalam itu, ketika seluruh konsentrasinya terpaku pada satu bunga yang hendak diraihnya. Lalu ia akan berpikir, haruskah ia tetap berusaha memetiknya, atau membiarkannya begitu saja, kesepian di sana.
Aku, berusaha tidak memandangnya tatkala ia melihat lurus ke arahku. Matanya menusuk, menenggelamkan. Aku alihkan pandanganku kemana pun, asal bukan matanya. Tapi aku tersadar, ia tidak bermaksud melakukannya. Dan kupandang lagi dia. Mata itu tidak bermaksud mengintimidasiku. Hanya aku saja yang merasa demikian. Karena sepasang mata ini indah, meruntuhkan seluruh alam bawah sadarku, mengacaukan pikiranku. Membuatku terhenyak. Mengapa aku dipertemukan dengannya kala itu.
Ia masih memandangku, tatapan penuh intimidasinya yang sebenarnya memiliki secercah kekhawatiran.
"maaf, ini... apa masih mencari pekerja paruh waktu?"
Ujung luar kedua alisnya menurun, guratan halus terukir di dahinya. Si pemilik mata indah ini menunggu jawabanku. Ia harap harap cemas. Aku masih tertegun. Jangan berharap aku bisa menjawabnya jika ia masih melihat ke arahku seperti ini. Dan, ia seperti mendengar monologku. Sekejap, matanya teralih. Dia menoleh ke arah kirinya. Tangan kirinya serta merta terangkat lurus, menunjuk sebuah papan putih kecil yang tergantung di bagian depan bangunan.
Layaknya terhipnotis, mataku mengikuti seluruh pergerakannya. Aku mendeham pelan. Sebenarnya ia tidak perlu melakukan itu, karena aku sudah tahu jawabannya. Aku hanya perlu waktu hingga ia tidak mencengkeramku lagi dengan matanya itu.
"O! Ya... tunggu sebentar."
__ADS_1
Dengan gerakan cepat aku memutar tubuhku. Meninggalkan posisi tempatku terpaku. Hanya kira-kira 1 meter di depannya. Aku kembali masuk ke dalam gedung, tanpa menutup pintu. Isi kepalaku masih kosong.
Bagaimana dunia menyimpan keindahannya di belakangku. 26 tahun aku hidup, dan baru kini diperlihatkan kepadaku. Gila.
"Tenchou... (kepala restoran) di depan ada yang tanya lowongan kerja paruh waktu. Gaijin... (orang asing)"
Aku mencondongkan tubuhku ke arah konter. Manajer restoran berada di baliknya, sedang mengiris tipis-tipis lidah sapi yang baru ia keluarkan dari mesin pendingin. Manajer itu, laki-laki berumur awal 40 tahun, mengalihkan konsentrasinya kepadaku, dan tanpa ba bi bu mengangguk, menyuruhku mempersilahkannya masuk. Jujur, aku tidak menyangka reaksinya akan sebegitu cepat.
Kakiku melangkah kembali ke luar restoran diiringi perasaan yang membuncah. Bibir ini seakan ingin menyunggingkan senyuman. Aku seperti menemukan tempat menjejakkan kaki untuk pertama kalinya, ruang kecil yang kokoh di antara bebatuan menuju tepi jurang itu. Ada satu pintu kesempatan untuk bisa memetik bunga tersebut rupanya.
Ini tidak akan jadi terakhir kalinya ia datang ke restoran ini. Satu suara meyakini. Seperti suara yang mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Tidak akan terperosok masuk, jatuh ke dalam jurang yang dasarnya tak terlihat. Rasa itu begitu kuat, tatkala aku mempersilahkannya masuk.
"bisa bahasa Jepang?"
Tanya si Tenchou. Beliau sesaat menghentikan pekerjaannya. Perempuan itu berdiri tepat di depan konter. Kedua telapak tangannya saling merapat erat. Dia grogi. Dari jauh, nyatanya aku yang masih berdiri di depan pintu masuk restoran baru saja menggeser tutup daun pintunya, mengobservasi. Dengan lekat-lekat aku menunggu jawaban selanjutnya. Ku pasang telingaku siaga penuh. Tapi tidak ada sedikit keraguan di dalam benakku bahwa ia tidak bisa berbahasa Jepang. Beberapa menit yang lalu kami baru saja berbicara satu sama lain.
"dekimasuyo... (saya bisa)"
Ujarnya cepat sembari mengangguk. Aku yakin aku melihat sisi pipinya tertarik. Ia tersenyum. Jawaban itu mengapa membuatku lega. Seperti ketika seseorang berdiri di depan altar, ditanya apakah ia menerima pasangan yang berdiri di sisinya untuk menjadi pendamping hidup hingga di penghujung hari nanti, dan jawabannya adalah, ya.
Dia akan jadi teman kerja paruh waktuku yang baru. Seyakin itu suara di kepalaku. Seperti membutakan. Mungkin benar. Keindahan ini, segala hal indah yang terpancar dari matanya, mungkinkah tidak kulihat pada saat yang tepat. Karena hasrat ini terlalu merongrong. Keinginan untuk memilikinya begitu meraung. Menjerumuskan.
__ADS_1
Jika saja bunga di tepi jurang itu, gugur bersamaan dengan bunga-bunga lainnya di tengah musim penuh badai ini, aku si pengelana, tidak akan pernah mengaguminya dari kejauhan. Karena ia tidak ada. Tapi lihat, bunga itu kokoh berpegang erat pada tangkainya yang rapuh. Seolah ia menunggu untuk diselamatkan sebelum turut terhempas badai pula. Ia meyudikan dirinya untuk dipetik, daripada mati tanpa seorangpun yang menikmati keindahannya.
Tapi kami, saling beradu pandang di masa yang salah. Nyatanya bebatuan ini ringkih, tergerus air hujan yang tak kunjung henti. Aku tahu dan layaknya pengelana, sudah terlalu banyak asam garam kehidupan yang menjadikannya pembelajaran. Saat satu langkah terasa kokoh, langkah berikutnya meragu dan aku putuskan untuk bergerak mundur. Aku akan jatuh masuk ke dalam jurang jika terus memaksa merengkuh bunga itu.
Maka, kubiarkan ia berada di sana. Keindahan itu memandangiku layaknya bertanya-tanya. Mengapa aku meninggalkannya. Ia tak bermulut lagi tak bertangan. Bunga itu tidak bisa menahan kepergianku si pengelana.
Malam itu, beberapa jam telah berlalu sepeninggal si pemilik mata indah. Masih terngiang ucapan tenchou kepadaku.
"Kamis nanti dia datang untuk wawancara. Siapkan meja kosong jam 9 malam."
Aku mengangguk. Sedikit rasa bahagia kembali membuncah di dada. Hanya sedikit, karena sisanya hanyalah rasa pedih. Karena si pengelana kerap merasa urung meninggalkan si bunga. Bagaimana jika ada pengelana lain yang melihatnya? Ia berharap bunga itu cepat saja gugur diterpa badai agar tidak ada orang lain yang menjumpainya. Si pengelana merasa dirinya egois. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir demikian.
Hari ini adalah hari selasa. Terdengar dendangan lagu lawas dari radio yang diputar di restoran. Setiap hari selasa. Sayup-sayup alunannya terdengar. Itu adalah lagu 'ito', yang dinyanyikan oleh Exile Atsushi. Celaka sekali liriknya, membuatku kembali mempertanyakan apa yang telah terjadi padaku hari ini.
Naze meguri au no ka wo?
Watashitachi wa nani mo shiranai.
Mengapa kita dipertemukan?
Kita tidak pernah tahu jawabannya.
__ADS_1