
Akhir minggu ini gw duduk di dalam sebuah kafe, berlokasi di kawasan perbelanjaan paling terkenal di seantero Kyoto, Kawaramachi nama jalannya. Kawasan yang tidak pernah tidur walau tidak seramai Tokyo atau Osaka.
Gw enggak sendiri. Gw menghabiskan sepanjang siang hingga sore bersama 4 teman lama gw. Satu orang, perempuan, tinggal dan kerja di Tokyo. Dia sudah tinggal di negara ini semenjak kami lulus SMA dulu. Dapat beasiswa, dan secepat itu pula dia meninggalkan Indonesia.
Hal yang seharusnya terjadi pula sama gw dulu. Sayangnya, nyokap nolak membiayai proses terjemah rapot dan berbagai dokumen kelengkapan lainnya ke bahasa Inggris untuk daftar beasiswa. Karena mudah saja. Mahal. Cerita lama.
Sisanya, 3 laki-laki. 2 bekerja di Osaka dan satu di Kyoto. Mereka bertiga juga teman SMA gw. Salah satunya yang dulu mencuci otak gw untuk ikut kelas bahasa Jepang.
Singkat kata, waktu mereka dengar kabar kalau gw tembus LPDP dan mulai kuliah di Kyoto tahun ini, tiba-tiba muncul grup Line, isinya kami berlima, dan enggak pernah stop bicara kapan bisa ketemu sama-sama. Mereka semua super sibuk. Dan bekerja dengan orang Jepang, artinya 3 kali lebih sibuk. Untungnya, Sabtu ini kita semua bisa ketemu di Kyoto.
"Artinya, selama lo masih napas, Li, itu lo masih bisa disuruh kerja."
Komentar si teman perempuan. Si Padang totok ini, kerja di sebuah bank terkenal di Jepang. Sebuah karir yang sangat cemerlang untuk ukuran warga negara asing, dan juga dari sudut pandang orang Jepang.
"Waktu gw masih ngurusin stock market ya, gw sehari semalem di kantor enggak pulang. Makanya itu divisi isinya cowok semua. Kalo ada cewek pun, pasti belom berkeluarga. Ya gw ini maksudnya."
Kami ditinggal berdua, 3 laki-laki sisanya lagi kabur untuk merokok di ruangan khusus di luar lokasi kafe.
"Eh terus, btw si Sasaki masih diemin lo, Li?"
Dan si Padang totok ini, bersikeras untuk ketemuan di Kyoto karena penasaran sampai mati dengan teman paruh waktu gw, Sasaki. Sayangnya jadwal ketemuan kita hari ini enggak terlalu tepat. Seingat gw, Sasaki ada acara jadi wasit handball di Uji. Pasti dia enggak masuk kerja juga hari ini.
"Aduh, bener ya... gw tuh..., enggak ngerti deh sama dia. Sumetai (dingin) banget orangnya, tau gak? Galak sih enggak... cuman, gayanya kayak... 'lo ada masalah bro sama gw?' Gitu... sok cool gitu."
Sembari mengikat tinggi rambut gw, si Padang totok masih getol memasang wajah serius namun excitednya, menunggu ucapan gw selanjutnya. Tapi tidak ada.
"Gw kasih tau nih, Li."
Dia mendeham lalu mengatur posisi duduknya lebih tegap.
"Dia suka sama lo, Li... udah fix tau... titik."
"Nek, gw udah capek deh ini lagi ini lagi ujung-ujungnya komentar lo."
"Lo udah kan ngomong ke dia buat ngasih hadiah soubetsu (perpisahan)? Terus respon dia apa waktu itu? Dia langsung happy, kan? Artinya sebenernya dia tuh mau approach lo, Li... tapi gak tau caranya gimana. Biasa lah... kita kan gaikoku jin (orang asing), jadi mereka suka begitu. Lo percaya deh sama gw. Mantan Jepang gw waktu kuliah, banyak."
Lalu dia tertawa panjang. Well, kalau gw ingat kejadian waktu itu, waktu Sasaki bilang dia mau sepatu--yang mahal, untuk hadiah perpisahannya, tiba-tiba auranya jadi lebih santai. He let his guard down.
Kalau teman perempuan gw ini enggak ngasih masukan untuk bicara mengenai hadiah perpisahan ke Sasaki, mungkin sampai detik ini keadaan gw dan Sasaki masih akan super awkward.
"ini ibu cerewet masih enggak stop ngomongin si cowok Jepang di tempat baito (kerja paruh waktu)-nya Lia itu?"
Si 3 teman laki-laki gw akhirnya datang. Rokok elektriknya mereka letakkan di atas meja. Masalah mengenai betapa teman perempuan gw ini sangat heboh sekali tiap kali berbicara tentang Sasaki, bukan makanan baru lagi untuk mereka.
"Buset deh, emang gimana sih orangnya? Kita samperin aja, gimana? Penasaran gw... Tempat baito lo jauh enggak dari sini, Li?"
__ADS_1
Salah satunya menyambar sembari geleng-geleng kepala, menyesap tetes terakhir kopinya.
"Gokil ya, kita orang kantoran masih kayak anak sekolahan aja, macam ngomongin cowo sekolah sebelah lagi gangguin temen kita. Bagus deh, Li... lo kuliah di sini. Kita jadi berasa mudaan dikit."
Kenyataannya memang gw yang masih kuliah di antara mereka berempat. Setelah berhasil dapat LPDP, bahkan di percobaan yang pertama, tanpa rasa berat sedikitpun segera mengajukan resign dari kantor yang lama dan langsung cabut ke Jepang.
"Restoran gw enggak jauh, sih..."
Jawab gw singkat, dan langsung disambut ramai oleh lainnya. Si 3 laki-laki mulai bilang mereka sudah lapar dan tidak ada salahnya juga datang untuk makan di sana, sementara si Padang totok,
"Kok keji sih musti sekarang banget, ya? Gw besok berangkat shucchou (perjalanan bisnis) ke Jakarta nih. Senin jam 8 pagi langsung ada meeting di Sudirman. Belom beres-beres data. Kalo meeting berantakan, digantung gw langsung sama bos gw pas balik entar."
Perbincangan saat itu, membuat kami akhirnya berakhir menunggu antrian di depan restoran gw bekerja. Yang sayangnya, si Padang totok enggak bisa ikut. Perjalanan kembali ke Tokyo, butuh waktu kira-kira 2,5 jam. Maka, buru-buru dia tadi berangkat ke stasiun Kyoto untuk mengejar jadwal shinkansen (kereta cepat) yang paling cepat. Lagipula hari ini tidak ada Sasaki.
"Mau menu bahasa Inggris atau bahasa Jepang? Sebentar lagi giliran kalian dipanggil masuk."
Gw menoleh dan terkejutnya gw kalau ternyata Sasaki masuk kerja hari ini. Bukannya dia pergi ke Uji hari ini, pikir gw. Di belakang, 3 teman laki-laki gw itu mulai bisik-bisik. 'Yang ini orangnya apa bukan?'
Wajah Sasaki masih seperti biasa. Dingin. Dia memandang ke arah gw, lalu ke arah 3 teman gw. Satu per satu. Ya Tuhan, sebenarnya dia bisa mencoba terlihat lebih menyenangkan di depan teman-teman gw.
"O... Inggris saja. Terima kasih."
Jawab gw pelan. Menu bahasa Inggris lebih baik untuk kami, karena menu Jepangnya tidak bergambar sama sekali. Akan menyusahkan 3 teman gw untuk memilih makanan yang ingin mereka pesan nanti.
Sasaki pun hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan kami.
"Orangnya itu, Li?"
"Kalo lo chat si Padang sekarang, bisa dia turun di Nagoya buat balik lagi ke Kyoto buat ketemu nih cowok."
Ujarnya cepat sembari terbahak-bahak hingga suara tawa gw teredam mati.
"Orangnya emang cool gitu, ya? Kalo begini sih kalah gw sama dia, Li. Cewek Jepang biasanya emang suka nih yang cool cool gitu."
Sementara gw, senyum-senyum saja mendengar celotehan ketiga teman gw ini. Celotehan khas obrolan para laki-laki ini, terus saja berlanjut saat kami mulai makan di dalam restoran. Salah satunya seperti,
"Bisa ya orang cool kayak gitu?"
Ucap teman gw. Itu bukan pertanyaan. Itu hanya komentarnya saja sembari sesekali melihat ke arah Sasaki yang bolak-balik mengantar pesanan.
"Udah punya cewek belom dia? Cerita enggak dia ke lo, Li?"
"Ya Allah, bro... nanggepin pas diajak ngomong aja udah bagus."
Lagipula, siapa yang mau jadi pacar seorang Sasaki kalau akan sering tidak diajak bicara.
"Paling enggak ya, Li... kalo masih jomblo, di Jerman ntar kan cewek-ceweknya cakep. Kalau cool doang tapi enggak ngomong sama sekali mah, gimana bisa dapat cewek bule. Iya gak?"
__ADS_1
"Iya, Li. Lo yang kalem aja, dia enggak bisa approach. Apalagi cewek eropa yang lebih gahar..."
Mereka tertawa terbahak-bahak dan letih gw meladeninya lebih lanjut. Hari pun berganti malam. Selepas meninggalkan restoran, kami sebentar mampir ke daerah Sanjo. Puluhan bar bertebaran di sana dan kami masuk ke salah satunya. Sebelum malam semakin larut, kami pun berpisah. 2 orang bertolak kembali ke Osaka, dan satunya kembali ke apartemen kantornya di sudut kota Kyoto. Sementara gw, kembali ke asrama. Satu percakapan terakhir kami sebelum berpisah,
"Kita sih gak ada komentar lah Li buat dia..."
Padahal gw rasa mereka sudah berkomentar lebih dari cukup mengenai Sasaki hari ini.
"Selama dia enggak ngapa-ngapain lo, so far so good. Hubungin kita aja lah kalau ada apa-apa nanti. Gampang. Oke?"
Ini adalah satu hal baik kenapa gw lebih senang punya banyak teman laki-laki. Buat gw, mereka berpikir lebih logis, to the point, menyenangkan, dan protektif.
Ada masa di mana gw trauma dan sama sekali menjauhi teman laki-laki gw. Trauma karena kejadian semasa SD dengan guru ngaji gw, akhirnya lambat laun bisa sedikit diobati. Walau perasaan hina dan jijiknya sampai gw meninggal pun, gw yakin enggak terlupakan.
Gw mulai punya beberapa teman laki-laki saat SMA. Dan ternyata semenyenangkan ini bergaul dengan mereka. Meski satu waktu gw pernah jadi sasaran pacar salah satu dari mereka. Gw dilabrak karena menurut dia, gw lumayan dekat dengan cowoknya. Kejadian itu aneh banget buat gw. Dan itulah perempuan dengan segala sifatnya yang suka tidak logis dan 'pakai hati'. Mungkin gw juga begitu. Karena gw juga perempuan.
Beberapa hari berlalu, dan datanglah satu hari saat gw dan Sasaki kembali bekerja di satu shift yang sama.
"Yang kemarin, pacar kamu yang mana?"
Gw terbengong-bengong. Gw diam cukup lama sembari berpikir. Apa maksud pertanyaan dia. Sekilas gw mengira bahkan dia tidak bicara kepada gw. Tapi matanya tertuju kepada gw.
Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Pengunjung restoran sudah mulai berkurang dan kami sudah mulai tidak sesibuk di awal.
"Maksudnya 'kemarin'?"
Gw tanya balik kepada Sasaki. Sampai akhirnya gw tersadar bahwa ini mengacu pada 3 orang teman laki-laki gw tempo hari. Bahkan gw sempat kesulitan mengoneksikannya. Apakah ini pertanyaan normal yang biasa ditanyakan orang Jepang kepada kenalannya? Bahkan gw yakin, gw dan Sasaki belum berada di tahap sedekat itu. Pertanyaan ini terlalu personal.
"Oh... bukan, kok. Teman."
"Tapi Riya punya pacar?"
Ha ha ha oh my God, lo pikir lo siapa nanya-nanya begini? Gw tidak habis pikir. Dan mohon digarisbawahi, ini pertama kalinya Sasaki memulai sebuah perbincangan dengan gw. Sebelumnya, selalu gw yang memulai. Sayang, tapi dia memilih pertanyaan yang salah untuk memulai basa-basi ini.
"Ada kok...,"
Jawab gw dengan cepat, jelas, dan lugas. Gw balik menatapnya. Seperti menantang.
"Dulu."
Dan gw menambahkan. Maksud hanya bercanda. Terlalu garing sebenarnya. Tapi kemudian gw meyakini telah mendapati Sasaki sedikit mendengus, menahan tawanya. Sayangnya dia tidak bisa menutupinya dari gw.
Malam itu, meninggalkan cukup tanda tanya buat gw. Mengenai maksud pertanyaan Sasaki dan sebenarnya ada satu hal lainnya lagi. Mengenai namanya. Atau setidaknya, nama yang gw pakai untuk memanggil laki-laki itu sampai saat ini.
Sesaat sebelum meninggalkan restoran, absen keluar adalah hal yang wajib. Restoran kami masih menggunakan sistem lama, dengan kartu absen. Kami baru saja menggunakan kartu baru untuk periode Juli. Seperti biasa, gw buru-buru mengembalikan kartu di raknya, saat tidak sengaja melihat kartu absen baru miliknya. Milik Sasaki.
Di sana tertulis, Morikawa Minato. Gw mematung, menahan napas gw cukup lama. Waktu pun seakan berhenti. Mata gw tidak lepas-lepasnya melihat ke arah si kartu.
__ADS_1
Berulang kali gw memutar otak, membacanya ulang. Apakah gw salah baca? Tapi gw bisa baca kanji namanya. Semudah itu. Dan tidak ada orang lain yang bernama Morikawa di restoran ini selain dia. Selama ini, bahkan gw berpikir bahwa namanya adalah Morikawa Sasaki. Walau Sasaki sebenarnya lebih awam menjadi nama keluarga, ketimbang sebagai nama depan orang Jepang.
He lied to me? Pikir gw langsung. But why? Gw menoleh ke belakang. Dari kejauhan gw mendapati Morikawa masih sedang sibuk membersihkan meja. Dia orang yang sama. Wajah dingin dan kakunya. Gelagatnya. Nada suaranya. Cara berjalannya. Tapi, kenapa?