Ketika

Ketika
9. Morikawa


__ADS_3

Malam hari dan tidak ada jadwal kerja paruh waktu, maka aku akan berada di rumah. Seperti saat ini, menghabiskan waktu makan malam bersama keluargaku.


Kami tinggal di kawasan perumahan di daerah Tokufuji. Sekitar 15 menit dengan sepeda dari restoran tempatku bekerja.


Rumah kami tidak besar, dua lantai, dengan tiga kamar. Namun, satu kamar yang dulu diisi kakak perempuanku, sudah lama kosong dan hanya ditinggali jika dia datang berkunjung ke Kyoto bersama keluarganya.


"Neechan (panggilan kami untuk kakak perempuan) telepon hari ini. 2 minggu lagi mereka akan datang dari Yokohama."


Ibu beralih dari kompor setelah menyiduk semangkuk sup untukku. Aku menerimanya, dan meletakkannya di samping ikan panggang yang sudah dihidangkan Ibu.


"Aah... untuk bertemu Minato?"


Ujar Ayah dengan suara datar. Ia menatapku sebentar lalu menyantap makanannya.


Kepergianku ke Jerman hanya dalam hitungan bulan. Awal Oktober ini aku sudah harus mulai berlatih dengan klub baruku.


Bulan lalu, setelah mengabarkan Tenchou mengenai hari terakhirku bekerja paruh waktu di restoran, aku juga sudah mengajukan permintaan pengunduran diri sebagai asisten pelatih klub handball milik sebuah SMP di Kyoto. Tentu saja, persatuan handball di Uji sudah kuberitahukan perihal yang sama pula. Aku akan mundur sebagai wasit pertandingan mereka.


"benar... Ayah kan tahu Shota-san sibuk sekali dengan pekerjaannya. Jadi waktu Neechan dengar kabar ini, mereka segera mengatur jadwal untuk pulang ke Kyoto."


Aku masih mendengarkan perbincangan keduanya. Neechan, kakak perempuanku, menikah dengan seorang insinyur, Arioka Shota, 3 tahun yang lalu saat aku masih di Jerman. Setelah menikah, mereka tinggal di sebuah apartemen di Yokohama. Suaminya bekerja di perusahaan mesin untuk kapal. Aku kurang tahu detilnya.


"Ibu akan sedia buah persik yang banyak nanti untuk Na-chan..."


Dan yang dimaksud Na-chan adalah Nana. Dia keponakanku. Umurnya kira-kira 2 tahun. Setiap saat Ibu rajin mengirimkan foto Nana yang dikirimkan oleh kakak perempuanku melalui Line.


"Akan Minato kosongkan jadwal. Mereka datang untuk akhir pekan?"


"Iya... besok Ibu akan mulai bereskan kamar di atas."


Kakakku jarang sekali kembali ke Kyoto setelah menikah. Ia menjelma menjadi ibu rumah tangga. Seperti Ibuku. Hidup barunya sebagai seorang Arioka, merubahnya. Dia pernah cerita kepadaku akan mulai bekerja paruh waktu nanti saat Nana memasuki usia sekolah. Hal seperti ini awam dilakukan oleh ibu rumah tangga di Jepang. Walau tidak untuk Ibuku. Beliau punya usaha rumahan sendiri.


"Shota cerita kepada ayah mengenai kenaikan jabatannya tahun ini. Dia pasti sedang banyak urusan. Biarkan dia beristirahat saat tiba nanti. Jangan diganggu."


Ayah menyesap supnya.


"Jam berapa mereka tiba di stasiun?"


Aku melirik ke arah Ayah. Sebelum Beliau melanjutkan kalimatnya, yang mana sudah aku pahami dengan jelas tujuannya,


"Aku akan jemput mereka di stasiun. Lagipula akan aku kosongkan jadwalku minggu depan."


Sepotong ikan panggang lalu kuambil dengan sumpitku. Ibu menyambut ucapanku dengan wajah berseri-seri.

__ADS_1


"Mereka sampai jam 1 siang. Ibu akan tutup toko akhir pekan nanti untuk siapkan makan siang."


Ibuku membuka toko kroket di samping rumah semenjak aku sekolah SMP. Buka selama waktu makan siang saja. Hanya di waktu itu Ibuku senggang. Aku dan Neechan pergi sekolah, sementara Ayah pergi bekerja. Beliau bekerja di perusahaan yang memproduksi alat-alat kesehatan.


Bagi Ayah, Shota adalah cerminan dirinya. Mapan, bekerja di sebuah perusahaan, pemasukan yang stabil. Semuanya lengkap dengan sebuah keluarga. Kakakku sangat beruntung bisa menikahi Shota.


Ayah tidak perlu mengatakan hal ini. Namun, semuanya terbaca jelas di mataku. Dan bagi Ibu, Shota adalah kebanggaan. Mungkin, ia pula sosok anak laki-laki yang tidak pernah Beliau bisa miliki.


Saat aku kembali dari Jerman 2 tahun yang lalu, kedua orang tuaku bersuka cita menyambutku. Namun cinta mereka untuk Shota tak terbantahkan. Jika aku tidak pernah pergi ke Jerman, kemungkinan besar aku akan melihat keadaan ini apa adanya. Tanpa tanda tanya di dalam benak. Tapi si teman Inggris di sekolah bahasaku, sedikit merubah caraku memandang keluarga ini. Keluarga Morikawa.


Dibandingkan dengan Shota, aku tidak memenuhi karakteristik yang diinginkan kedua orang tuaku. Terutama Ayah.


Shota mulai bekerja secara profesional setelah lulus kuliah. Sementara aku bergelut dengan aktivitas handball. Shota berpergian ke luar negeri untuk perjalanan bisnis pertamanya, seluruhnya dibiayai oleh kantor. Aku memilih tinggal di Jerman dengan biayaku sendiri demi masuk klub lokal di sana. Shota mendapat promosi pertamanya, dan aku kembali ke Jepang dengan masih harus meniti karir dari nol. Shota ini dan aku itu.


Ayah tidak pernah membandingkan, tetapi nama Shota selalu masuk di dalam perbincangan kami. Di situasi apapun.


Aku yang tidak pernah ke Jerman, mungkin benar-benar tidak akan menyadari, bahwa bagi kedua orang tuaku, aku adalah cikal bakal dari berakhirnya generasi ini.


"Ambil kuliah bisnis di Doshisha atau kampus manapun di Kyoto. Yang penting tidak jauh. Tapi nanti, Ayah akan bebaskan kamu untuk bekerja di perusahaan apapun, di manapun di Jepang."


Suara Ayah kala itu, terngiang di kepalaku. Tentu aku tidak pernah mengikuti suruhan itu.


"Ada kampus dengan jurusan olahraga di Osaka. Rekam jejak mereka bagus."


"Jurusan itu tidak bisa membawamu bekerja seperti Ayah, Minato."


Aku masih ingat ketegangan 9 tahun yang lalu ini. Ayah tidak pernah ingin aku pergi ke Osaka hanya untuk mengambil jurusan olahraga. Bagi Beliau, itu tidak ada gunanya.


Kami berdua duduk di ruang tatami di samping halaman belakang. Ibu dan Neechan tidak ada di sana. Ini adalah perbincanganku dengan Ayah. Namun, mereka berada di ruang makan, mendengarkan segalanya dengan jelas.


"Aku ingin Ayah ingat jika aku tidak pernah bercita-cita bekerja seperti Ayah."


Aku duduk dengan tegap. Pandanganku lurus ke arah Ayahku yang duduk di seberang meja. Suaraku berat, tapi tidak sedikitpun kunaikkan nadanya. Lagipula, dia adalah Ayahku. Aku hanya ingin Beliau mengerti jika keputusanku ini telah aku pikirkan dengan matang.


"Dan tidak ada yang bisa kamu lakukan dengan jurusan olahragamu itu."


"Tahun lalu Minato mengikuti seminar mengenai handball di sana. Aku akan ikut klub itu di kampus. Lalu setelah lulus, pergi ke luar negeri setahun atau 2 tahun untuk berlatih handball secara profesional. Antara Denmark, atau Jerman, kedua negara itu. Belum kuputuskan. Tapi Minato akan pergi."


Ayah menghela napas panjang. Beliau mungkin jengah dengan semua ini. Itu bukan tanpa alasan.


"kamu melepaskan baseballmu, dan lalu, ini? Handball? Minato..., sadar dan mulai ikuti apa yang Ayah katakan."


Aku diam. Di saat ini, apapun yang aku katakan akan menjadi salah. Apapun itu, tidak akan sejalan. Tidak akan sebanding dengan segala rencana Ayah.

__ADS_1


"Kuliah ini jalan terakhirmu. Kamu tidak ikut kata Ayah, maka kegagalan berikutnya pun mengikuti. Paham?"


"Minato tidak merasa mengambil jurusan olahraga dan memulai karir di handball ini adalah sebuah kegagalan. Walaupun kemungkinan untuk gagal selalu ada, gagal hanya muncul di akhir sebuah rencana. Minato bahkan belum memulainya."


Lalu aku perlahan bangkit dari posisi dudukku di atas tatami. Masih menatap ke arah Ayah, tidak ada wajah amarah di sana. Hanya ada sebersit kekecewaan. Tapi aku tidak menyesal.


Ayahku terbutakan dengan segala kemewahan bayangan masa depanku menurut versinya. Kecewa yang Beliau rasakan, adalah hasil dari imaginasinya. Keinginannya sendiri. Beliau tidak kecewa kepadaku. Beliau kecewa, telah terbuai hidup di dalam dunia rekaannya ini.


"Selamat malam. Aku akan kembali ke kamar."


Ujarku malam itu. Aku tidak pernah menyesalinya. Aku tahu apa yang kuputuskan malam itu adalah benar. Laju hidupku mungkin lambat. Karena hidupku bukan Shota. Tapi jika Ayah menempatkan Shota, di posisiku 9 tahun yang lalu, Shota bahkan masih belum tahu bagaimana masa depannya akan bergulir selepas SMA nanti.


"Selamat atas promosinya. Ayah tidak berhenti-henti bicara tentang kamu semenjak aku tiba dari Jerman."


Itulah percakapan langsung pertamaku dengan Shota. Tepat pada musim panas, 2 tahun yang lalu. Neechan dan keluarganya datang berkunjung, turut membawa Nana yang masih bayi. Mereka datang dalam rangka menyambut kepulanganku.


"Ini benar-benar bukan promosi... setelah selesai satu tugas kerja selama 2 tahun di luar negeri, sekembalinya ke kantor pusat, setidaknya pegawai akan naik satu tingkat jabatan. Semuanya pasti akan mendapatkannya. Ayah hanya terlalu senang saja."


Aku mengangguk-angguk pelan sembari tersenyum. Kami berdua duduk di teras kayu luar rumah. Menghadap taman kecil rumah kami di bagian belakang. Makan siang sedang disiapkan, dan di sinilah lokasi paling sejuk untuk menghilangkan rasa gerahnya musim panas Kyoto.


"Sudah lama ingin kerja di perusahaan ini?"


Tanyaku. Perusahaan ini tenar, layaknya Toyota di Aichi-ken (prefektur Aichi), atau Sony di Tokyo. Pasti dia berusaha keras sekali untuk bisa bekerja di sana. Shota menjawabnya dengan tawa renyah.


"Minato-kun... ternyata kamu benar-benar setipe dengan kakakmu. Kalian berpikir lurus, jauh sekali ke depan. Memang tidak capek?"


Aku menaikkan satu alisku.


"Aku bahkan tidak terpikir akan ambil jurusan apa saat masih SMA. Semuanya mengalir begitu saja. Hidup memang harus seperti itu, kan?"


Jelas, Shota jelas tidak akan lulus ujian lisan Ayahku jika ia diposisikan sebagai diriku 9 tahun yang lalu. Aku tahu, aku tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan Shota. Namun, Ayahku tidak akan pernah melihat kondisi ini. Bagi Beliau, aku tetaplah seorang Morikawa yang alih-alih melakukan segalanya sesuai buku petunjuknya, aku membelot, menjalani hidup ini dengan hatiku.


"Aku orang Jepang pertama yang bergabung dengan klub handball ini. Apakah Minato sudah cerita?"


Aku membelokkan perbincangan makan malam ini. Kedua orangtuaku butuh topik lain selain Arioka Shota dan promosi pekerjaannya.


"Seingat Ibu tidak. Benar begitu?"


Mata Ibu melebar, senyumnya pun demikian. Beliau menunggu ceritaku sembari melirik ke arah Ayah. Aku paham, Ibu diam-diam juga berharap akan ada waktu ketika Ayah bisa lebih menerima jalan karirku.


"Tentu. Aku sudah sering cerita kalau olahraga ini tidak mudah. Banyak teknik yang harus dikuasai. Mereka tidak asal mencari pemain untuk menjadi bagian dalam tim. Apalagi Jerman adalah salah satu negara dengan tim handball terkuat. Mereka menerimaku berdasarkan rekomendasi Klub Berlin, tempat aku berlatih 2 tahun yang lalu. Berlin dikenal ketat dalam mempromosikan anak didiknya. Apalagi seorang warga negara asing seperti Minato ini."


Jika Ayah bangga sekali dengan Shota mengenai promosi pekerjaannya, maka hal pertama yang Beliau juga harus tahu bahwa bekerja bukan hanya selalu pergi pagi buta, duduk di belakang meja menghadapi komputer, segala macam perihal bisnis dan masalahnya, lalu pulang di malam hari tepat sesaat sebelum makan malam disajikan.

__ADS_1


Apa yang aku lakukan juga suatu pekerjaan. Aku bekerja. Jika Beliau butuh Morikawanya mendapatkan promosi pekerjaan, maka kepergiaan keduaku ke Jerman juga merupakan promosi pekerjaanku. Semudah itu. Aku harap, dengan semudah itu pula Ayah akan memahaminya.


__ADS_2