Ketika

Ketika
4. Riya


__ADS_3


Secara garis besar, hari-hari gw di Kyoto, adalah masa ketika gw jauh dari hingar bingar memori kelam gw di Indonesia. Ini mungkin yang dinamakan sedesir angin dari surga. Gw seperti hidup kembali, mendapat kesempatan menarik satu tarikan napas yang terasa ringan. Apakah ini hidup yang selama ini gw dambakan?


Kesibukan yang menggunung selama perkuliahan, menumpuk tekanan di dalam kepala. Tetapi gw menjalaninya dengan bahagia. Bangun tidur mendengar kicauan burung, menyambut sinar mentari tak sabarkan diri. Kebahagiaan ini gw artikan dengan berkurangnya koneksi gw dengan orang-orang yang mengingatkan gw dengan Indonesia.


Hanya ada nyokap atau adik gw yang secara berkala menghubungi dan sekumpulan teman lama yang sudah lama pula bermukim di Jepang. Selain itu, kebetulan yang sangat menyenangkan saat tidak ada satupun mahasiswa Indonesia lainnya di jurusan yang gw ambil.


Gw pun tidak mengambil inisiatif untuk berperan aktif pada kegiatan perkumpulan mahasiswa di Kyoto. Mereka jumlahnya sudah terlalu banyak. Mereka bisa berdiri sendiri tanpa gw. Bukan berarti gw tidak mengapresiasi keberadaan mereka. Gw hanya butuh satu masa di mana gw benar-benar merasa sendiri. Hidup menjadi satu individu di tengah-tengah aktivitas sang mayoritas.


Lagipula, apalah artinya ketika gw lagi-lagi memaksakan menyesakkan diri ke dalam sesuatu yang telah familiar, saat Tuhan yang bertahun-tahun gw pertanyakan keadilannya atas hidup gw, memberikan gw anugerah untuk mencicipi dunia yang baru ini.


Sehingga, di tahun pertama gw berkuliah, daripada menghabiskan waktu berlama-lama berkumpul dengan persatuan mahasiswa Kyoto, sebuah acara makan-makan yang diselenggarakan untuk menyambut kami para pendatang baru, gw mengundurkan diri untuk pergi lebih awal. Toh kami sudah selesai makan-makan, berfoto bersama, dan gw sudah cukup menyerap informasi penting yang dinarasikan, seputar hidup sebagai minoritas dan seterusnya.


Meninggalkan pinggiran sungai Kamo, lokasi acara tersebut diselenggarakan, gw memilih jalan lurus menyusuri jalanan kecil yang kanan kirinya dipenuhi toko-toko. Langit biru dan pepohonan berwarna merah muda. Inilah musim semi di Jepang, yang santer diperjualbelikan oleh perusahaan pariwisata seluruh Indonesia. Ataupun seluruh dunia.

__ADS_1


Alam Jepang lebih memiliki harga sepadan daripada manusianya. Ini adalah pemikiran sarkastik yang gw duga sangat subjektif; Orang Jepang simply unattractive.


Langkah kaki membawa gw jauh meninggalkan zona nyaman, memasuki kawasan yang tidak gw kenali. Terang saja, baru sekitar 2 minggu gw tinggal di negara asing ini kala itu. Negara yang selain gw kenal di buku sejarah dan program TV di hari minggu, gw mengenalnya sedikit lebih dalam saat duduk di bangku SMA. Lagi-lagi, melakukan sesuatu tanpa rencana, nyatanya lebih baik untuk gw.


Kala itu, gw diajak mengikuti kelas bahasa Jepang oleh seorang teman. Tanpa pikir panjang, gw iyakan. Berjibaku menghafal aksara baru adalah hal yang unik ternyata. Menyenangkan tapi aneh. Namun, satu alasan mengapa gw urung menyerah, adalah belajar tidak hanya melalui buku. 3 tahun di SMA, sudah tidak terhitung berapa judul drama Jepang yang telah gw tonton. Sudah berapa artis Jepang yang telah gw hafal nama dan sejarah kehidupannya.


Begitupula saat gw terjangkiti virus yang ketika itu efeknya melanda seluruh dunia. K-POP. Masa kuliah gw diwarnai oleh wajah-wajah mereka. Nyaris sulit merangkak keluar, beruntung gw masih bisa lolos dari jeratan maut itu dan diwisuda setidaknya masih dalam kurun waktu yang masuk akal. Masa-masa itu tidak gw jadikan garis kelam, malah merupakan setitik warna benderang dalam sekuali hidup suram gw. Dan masa itu pula yang menggiring gw terus ke dalam penilaian subjektif mengenai betapa tidak menariknya orang-orang Jepang yang bukan hadir dalam tampilan artis televisi.


"Arubaito... (paruh waktu)"


Gw berhenti di depan sebuah gedung berbentuk kotak. Beberapa kali gw lemparkan pandangan pada sebuah papan kecil dan gedung itu. Tempat apa ini? Papan kecil bertuliskan 'arubaito' itu berwarna putih, dihiasi garis merah yang membingkai seluruh sudut papan, tergantung di jendela. Jendela itu ditutupi tralis besi hitam. Sewarna dengan tulisan 'arubaito' di dalam si papan kecil.


Tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan konsekuensinya, seperti saat gw mengiyakan ajakan untuk ikut kelas bahasa Jepang, gw mengetuk pintu gedungnya. Sebuah pintu tua, setengahnya terbuat dari kaca. Gw pikir, bisa jadi ini juga sebuah keputusan bodoh. Gw bahkan enggak akan paham dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang Jepang ini nanti. Pintu masih belum dibuka. Mungkin gw masih ada waktu untuk kabur. Ya, gw kabur saja.


Sayangnya, terdengarlah suara pintu digeser. Ok, waktu gw sudah habis ternyata. Seorang laki-laki berdiri tepat di depan gw. Ia tinggi walau tidak menjulang. Kaosnya berwarna abu-abu, dengan celana pendek gelap sebatas lututnya.

__ADS_1


Gw lihat wajahnya. Nyatanya gw harus menelan ludah gw sendiri. Orang ini tidak seharusnya keluar dari balik pintu geser tua. Ia lebih sepadan keluar dari layar TV. Gw terdiam. Lupa setiap padanan bahasa Jepang yang sempat gw pelajari.


Tangan kirinya bertahan di daun pintu, sementara tangan kanan bertolak di pinggulnya. Bagi gw, gesturenya seperti menantang. Tidak terbuka. Kedua alis yang mendampingi sepasang mata kecilnya, kemudian tertarik naik. Ini ketika gw sadar bahwa gw harus mulai berbicara sesuatu. Satu kalimat saja. Mungkin di dalam kepalanya, ia sudah mempersiapkan kata-kata untuk bersumpah serapah. Walaupun tidak akan dibaginya kepada gw.


"maaf, ini... apa masih mencari pekerja paruh waktu?"


Raut wajahnya berubah. Gw tahu perangainya terlihat tidak terlalu baik. Tapi penilaian pertama gw tentang kerupawanannya, tidak akan terkoreksi. Sepasang lesungnya menambah estetika wajah laki-laki ini. Jika kecil kemungkinan gw bisa bekerja di sini, akan selalu ada kesempatan untuk datang dan makan di restoran ini. Kesempatan gw untuk bisa melihat laki-laki itu lagi.


Waktu berlalu, dengan gerakan santai dan wajah dingin yang datar, si laki-laki itu kembali datang, menghampiri gw yang masih menunggu di pintu restoran. Sebelumnya, gw lihat dia masuk ke dalam gedung untuk mengantarkan pertanyaan gw tadi.


Ia membuka pintu lebih lebar. Sembari agak menggeser posisi tubuhnya, ia sedikit membungkuk. Lalu, melalui satu gerakan tangannya, yang gw pikir hanya dilakukan oleh bule-bule Inggris di di film-film, lantas dia mempersilahkan gw untuk masuk.


Rasanya mau tertawa. Laki-laki macam apa ini? Di satu masa yang singkat tapi penuh dengan kejutan. Dingin, sudah pasti. Kaku, mungkin saja. Tipikal orang Jepang, sangat stereotip, tapi memang dia orang Jepang.


Hanya saja, ada pula perasaan ia laksana hangatnya seberkas mentari di pukul 5 sore. Yang membuat seseorang rela untuk duduk di bawah pohon yang tak terlalu rindang, kemudian pelan-pelan melirik ke arah silaunya dibalik dedaunan. Lalu angin sore semilir berhembus. Cahaya itu pun membentuk bayangan ranting di permukaan telapak tangan. Bergerak perlahan lalu diam. Sebuah keadaan yang sangat biasa, hanya menarik baginya saja. Tapi perlahan muncul suara di dalam kepalanya. Itu suaranya sendiri. Suara itu berucap, 'mengapa ini tidak selamanya?'

__ADS_1


Gw berjalan pulang ke arah asrama gw. Hp gw mati karena lupa dichanger sejak pagi. Tanpa peta di HP untuk memeriksa bus apa yang seharusnya gw naiki untuk pulang, satu-satunya cara untuk pulang adalah menyusuri kembali jalanan di mana gw memulai. Sudah cukup lama waktu berlalu semenjak gw meninggalkan restoran tadi.


Ternyata anggapan gw masih benar. Jangan berencana, maka segalanya akan lebih mudah. Panggilan wawancara kerja paruh waktu gw yang pertama adalah hari kamis di minggu yang sama, jam 9 malam. Lia, ucap gw dalam hati. Jangan berharap, maka Tuhan akan membawa lo lagi kepada laki-laki itu. Pasti.


__ADS_2