
Gw enggak pernah menyukai hidup ini. Bahkan gw sering bilang ke diri gw sendiri, betapa tidak bersyukurnya gw.
Entah, sudah berapa kali gw meyakini, hidup gw ini menyedihkan. Dosakah gw mempertanyakan mengapa gw dilahirkan di dunia ini? Ya, gw rasa itu salah satu dosa terbesar gw. Dosa pula saat gw mempertanyakan bagaimana Tuhan memutuskan menurunkan gw untuk menjalani hari-hari nestapa di dunia ini. Gw ini layaknya barang gagal, yang terseok-seok demi berpura-pura. Ada berapa orang yang terbutakan karenanya.
Hidup gw enggak semenyenangkan yang dilihat orang. Orang hanya melihat kulitnya saja. Mana tahu mereka dalamnya bagaimana. Tapi mereka sok bisa membaca nasib dengan segala komentarnya. Layaknya penerima nobel perdamaian dunia, mereka menawarkan segala kata-kata mutiara. Nyatanya, mereka tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Gw enggan berkomentar. Semuanya gw telan. Mulai dari masalah sepele, saat gw putus dari pacar gw kira-kira 2 tahun yang lalu. Gw enggak tahu bagaimana laki-laki itu melihat gw, tapi sebelum kejadian itu, gw merasa gw sudah berlaku loyal dan hubungan kita teramat baik. Lucunya, tiba di satu hari, dia hilang begitu saja. Ghosting. Dan selang satu minggu setelah kejadian itu, gw terima sms dari nomor enggak dikenal. Yang mana setelah gw baca, sms itu dikirim oleh calon istri cowok gw. Secara teknis kita enggak pernah putus karena laki-laki itu tiba-tiba menghilang. Pencundang ternyata. Entah sejak kapan dia punya pacar lain. Dan alih-alih dengan gw, dia memutuskan untuk menikahi pacarnya itu. Mereka menikah kira-kira 1 bulan dari hari sms itu gw terima. Sms itu menjelaskan semuanya.
Hidup gw rasanya hancur. Gw sedih, tentu saja. Lebih baik mati, terdengar lebai tapi sempat berpikir demikian. Tidak nafsu makan, sudah pasti. Hanya 3 hari 2 malam, gw masih ingat timbangan gw dengan cepatnya terjun bebas hilang 10 kilo begitu saja. Sering-sering saja gw patah hati kalau begini. Walau harus dihadapi dengan dirawat di rumah sakit selama 5 hari karena maag kronis. Belum lagi selama 2 minggu harus terus mengonsumi obat penenang, yang kalau lupa tidak terminum, gw bisa hilang kendali seperti orang kesetanan. Tapi enggak mau gw menjelaskannya panjang lebar lagi. Laki-laki itu tidak layak dikenang. Namun kejadian itu meninggalkan banyak komentar dari orang-orang di luar keluarga inti.
Kemudian naik ke masalah yang lebih berat. Ada banyak. Gw sebutkan beberapa. Misalnya waktu nyokap gw selingkuh sama teman sekolahnya. Gw tidak tahu siapa yang tidak berkeprimanusiaan di sini. Pilihannya hanya antara dua orang itu. Atau waktu gw diperlakukan secara tidak wajar sama guru ngaji gw sendiri saat gw masih SD. Untuk hal yang satu ini, sampai detik ini hanya gw, si guru ngaji, dan Tuhan yang tahu. Kejadian itu adalah satu-satunya hal yang memalukan, penuh nista, yang terjadi sama gw. Gw tidak pernah cerita hal ini kepada siapapun. Siapapun. Dan, butuh waktu bertahun-tahun lamanya sampai gw menyadari dan paham apa yang sebenarnya terjadi sama gw saat itu.
Saat gw duduk di di bangku pertama SMP, nyokap melahirkan lagi. Prematur. Kandungannya baru saja genap 7 bulan. Adik gw lahir dengan berat hanya 1 kilo. Gw masih ingat, rupanya hanya sebesar gula kiloan di pasar. Tiap jantungnya berdegup, dadanya mencelong. Tulang-tulang rusuknya terukir jelas di balik kulitnya yang kemerahan. Adik itu masih hidup tapi dokter sempat berbicara, yang kata-katanya masih gw ingat sampai saat ini, mungkin si adik tidak akan bertahan lama. Di saat itu, gw yang masih berumur mungkin 11 tahun, dengan arogannya bertanya kepada Tuhan. Kenapa Dia melakukan ini kepada gw. Kepada keluarga gw. Kenapa Dia mengambil setiap adik-adik yang dilahirkan oleh nyokap gw. Kenapa Dia memberikan jalan hidup gw yang seperti ini. Kenapa Dia jahat sekali sama gw. Itulah salah satu dosa terbesar gw lainnya kepada pencipta gw. Tapi kebesaranNya selalu nyata. Adik gw satu-satunya ini pada akhirnya bertahan hidup dan sekarang sedang menjalani kuliah S1nya di Jakarta.
__ADS_1
Tapi tidak sampai di situ, sepertinya kearoganan gw dibalaskan dengan masalah lain yang kembali hadir, saat gw baru saja menjalani tahun kedua kuliah master di Jepang. Ternyata bokap gw dilaporkan ke polisi dengan pasal penipuan. Masalah ini sebenarnya sudah lama bergulir dan gw tidak pernah tahu apa-apa. Kedua orang tua gw yang selama ini memutuskan untuk diam. Uang pensiun bokap gw habis untuk membiayai bisnis-bisnis kentang beliau lainnya yang tidak menghasilkan. Begitu pula dengan uang pensiun nyokap yang ikut dikuras dan sekarang hanya cukup untuk kuliah adik gw. Alih-alih mendapat untung, uang hilang karena ditipu rekan sendiri, tapi malah bokap yang dijadikan pesakitan. Nyokap nangis-nangis telepon gw malam itu. Sesunggukan cerita kalau bokap gw enggak bayar uang 50 juta, kasus bokap gw akan dijadikan kasus pidana. Lalu apa yang harus gw lakukan buat nyokap? Kuliah master gw mengenai arsitektur. Otak gw hanya jago di ranah itu, dan seluruh konsentrasi terfokus demi negara gw, setidaknya demi ibu kota negara ini yang semakin nelangsa. Maka mulia sekali tujuan gw mengambil gelar master ini, yang membuat gw harus tinggal 5000km jauhnya dari Indonesia.
Kembali lagi, sejak saat itu gw melihat bokap gw dengan cara yang berbeda. Ternyata orang tidak cukup hanya menjadi baik. Orang baik tapi tidak berotak, apalah artinya. Hanya jadi bulan-bulanan orang-orang jahat yang bekerja dengan otak bengisnya. Gw kehilangan rasa respek gw kepada bokap yang ternyata sampai momen gw kembali ke Indonesia, bokap masih melindungi si rekan kerja yang sudah terang-terangan menjerumuskan beliau. 'kamu enggak ngerti masalahnya apa', ucap beliau berkali-kali. Yang mana menggiring gw lebih baik menempelkan post-it di dahi bertuliskan 'terserah lo. Gw gak peduli'. Ingin berujar lebih kasar karena bokap masih sering menggerogoti remah-remah uang tabungan nyokap demi bisnis kacangan lainnya dengan si rekan yang sama.
Dan, gw pun stop bicara sama bokap kalau bukan hal-hal yang penting, seperti nyuruh dia turun dari kamar untuk makan malam. Salah satu dosa gw lainnya, mempertanyakan kenapa Tuhan memutuskan bokap gw adalah beliau. Dan kenapa Tuhan menakdirkan nyokap untuk menikah dengan bokap. Walaupun beliau sempat selingkuh dulu, selain gw, hidup nyokap teramat menyedihkan buat gw.
Jika gw melihat ke belakang, di umur gw yang menginjak angka 30 ini, gw masih sangat mengasihani hidup gw. Dan gw tidak pernah menarik pernyataan tentang betapa tidak mengenakkannya hidup gw. Di ulang tahun gw yang ke-30 ini, gw tidak berekspektasi banyak, apalagi dengan sejarah perjalanan hidup gw.
__ADS_1
Gw tidak pernah memasang rencana. Karena setiap rencana yang gw gantungkan, tidak pernah terjadi. Gw hanya membiarkan segalanya mengalir. Gw mencoba tidak memaksa, lebih berupaya berdamai pada kenyataan. Seperti saat gw tiba-tiba mendaftar beasiswa S2 berbekal sertifikat IELTS yang akan segera berakhir masa berlakunya. Hal-hal yang tidak direncanakan seperti itu, biasanya lebih berjalan dengan baik. Tuhan, nyatanya tidak jahat, tidak seperti yang pernah gw teriakkan dalam diam bertahun-tahun yang lalu.