
Kakasenai mono adalah frase dalam bahasa Jepang, yang mampu mengubah satu hal biasa, menjadi sangat esensial pada momen tertentu. Seperti menenggak bir ketika memakan daging bakar. Ia tak tergantikan.
Begitu pula dengan tiap pagi hariku bersama semangkuk nasi panas, natto, dan kecap asin. Bagaimana bisa ada hari terlewatkan tanpanya. Bagiku, jawabannya hanya satu. Itu bisa saja. Itu terjadi padaku 4 tahun yang lalu. Kondisi yang datang dengan prediksi yang tepat, tetapi tetap mengejutkan. 4 tahun yang lalu, sarapanku dimulai dengan roti, susu, dan kacang. Namun, hal ini menjadikan separuh hidupku terasa memudar perlahan.
Kini 4 tahun setelahnya, aku berada di Kyoto, kota kelahiranku. Sudah 2 tahun berlalu dan aku kembali kepada kebiasaan lamaku, nasi panas, natto, dan kecap asin. Hidupku bagai kembali kepada porosnya.
Lalu bagaimana awalnya suatu hal menjadi begitu penting pada satu momen tertentu? Seperti bagaimana orang-orang membutuhkan setempat popcorn saat menonton di bioskop. Seperti kebiasaanku berendam air panas di malam hari sebelum tidur. Seperti setiap hari Selasa dan Kamis di restoran kerja paruh waktuku bersama si pemilik mata indah itu.
Ini adalah bulan ketiga kami bekerja bersama. Hari ini, hari Selasa, selepas kepergian pelanggan terakhir, aku baru saja meletakkan krat botol minuman terakhir di bagian depan restoran, saat ia datang menghampiriku. Pelan-pelan ia berkata,
"Sasaki, Jumat ini aku ada presentasi. Aku pikir bagus juga untuk kenalkan tempat kerja paruh waktuku. Jadi aku butuh satu foto bersama untuk dipasang di slideshow. Boleh?"
Wajahku merah padam. Mungkin. Aku tidak menjawab dan dia menunggu jawaban itu. Kami saling bertukar pandang. Sudah 3 bulan, dan aku masih tidak terbiasa dengan sorot matanya. Mata indahnya yang membulat, dengan bulu mata panjang yang melengkung sempurna, membingkainya. Bola mata hitamnya yang selegam langit di malam hari, memikat. Aku hanya mengangguk-angguk. Apa salahnya foto bersama?
__ADS_1
"Kita... bersama-sama."
Ia menambahkan, sambil menunjuk teman-teman lainnya yang masih sibuk dengan pekerjaan bersih-bersih mereka. Ditunjuk pula tenchou kami yang sudah lebih santai, bersandar pada dinding di belakang konter, kepalanya sedikit meneleng ke kiri untuk melihat siaran dari TV yang dipasang di dinding seberang. Dan aku tersadar. Oh! Tentu saja bukan foto berdua. Tapi bersama-sama. Bersama dengan yang lainnya.
Aku ingin dia paham bahwa aku sepenuhnya memahami maksudnya. Kembali aku mengangguk-angguk cepat. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku sempat salah sangka. Jika ada cermin saat itu, aku hanya ingin tahu bagaimana ekspresi wajahku. Betapa bodohnya kau, Morikawa.
Ia pun perlahan tersenyum. Sudut bibirnya sedikit membentuk lengkungan. Tetapi mata indahnya, tidak pernah jauh berubah. Sering kali aku iri, betapa ia bisa lebih banyak berekspresi ketika bersama teman-teman yang lain.
Seperti dengan yang lain, aku ingin ia tertawa lepas saat bercanda denganku. Aku ingin melihat matanya menyipit, sembari menaikkan satu alisnya saat membicarakan satu hal yang serius denganku. Aku ingin ia tersenyum manis, lalu sedikit memiringkan kepalanya sambil melihat ke arahku. Tapi aku tidak pernah mendapatkannya. Aku menginginkannya, tapi memutuskan untuk tidak memintanya.
Satu jam yang lalu, ia akhirnya pulang. Ada jadwal kereta terakhir yang harus ia kejar. Jika tidak, ia akan pulang jalan kaki sampai ke tempat tinggalnya. Mencari waktu, aku datang menghampiri tenchou. Makan malamku sudah habis dan mangkuk nasi sudah aku cuci.
"Tahun ini saya berencana kembali ke Jerman."
Ucapku memulai percakapan serius ini. Mata tenchou terbelalak. Beliau sedikit terkaget, yang mana sudah kuduga, lalu tersenyum lebar.
__ADS_1
"Saya baru saja menerima tawaran bermain untuk club semi professional handball di salah satu kota di Jerman. Saya akan bermain dengan mereka mulai musim gugur ini."
Sudah dua tahun lebih aku bekerja bersama beliau. Yang mana sejauh ini, menempatkanku sebagai pekerja paruh waktu paling senior, dari sisi waktu dan dari sisi umur.
"Jadi Morikawa-kun akan sampai bulan berapa di sini?"
Sesungguhnya ini adalah berita membahagiakan bagiku. Salah satu rencana hidupku yang terwujud. Tapi pertanyaan mengenai sampai kapan aku akan bekerja di sini, memudarkan senyuman di wajahku.
"25 Agustus."
Dua bulan lagi. Dan kata itu berat terucap. Serupa dengan beratnya membiarkan satu jarak terbentuk antara aku dan perempuan itu. Mungkin sekarang ia telah terlelap di kamar asramanya.
Tenchou membungkukkan badannya, mengatakan terima kasih atas seluruh kerja kerasku selama ini.
Perpisahan selalu menyedihkan. Hal ini, layaknya sarapanku di Jerman 4 tahun yang lalu. Terprediksi, tetapi tetap mengejutkan. Dan aku tidak berharap setiap bagian dari kenangan 2 tahunku di sini menjadi semangkuk nasi panas, natto, dan kecap asin itu. Riya, nama perempuan itu, termasuk pula di dalamnya.
__ADS_1
Kehidupanku penuh dengan keteraturan dan rencana. Dan pada satu momen ini, Riya tidak pernah tercantum di dalamnya. Maka, tidak menjadikannya kakasenai mono dalam hidupku, di tengah pertemuan kami yang teramat singkat ini, bagiku adalah keputusan terbijaksana yang aku buat. Dengan berat hati. Karena jujur, aku tidak bisa pergi dengan meninggalkan satu buah perasaan. Perasaan yang mengatakan bahwa tanpa dirinya, akan membuat separuh hidupku terasa memudar perlahan.