Ketika

Ketika
6. Riya


__ADS_3


Gw membuka jejeran pesan masuk di HP, salah satunya ajakan mengambil kelas bahasa Jepang dasar untuk mahasiswa asing. Dia, seorang mahasiswa Indonesia, yang turut datang bersama gw tahun ini, mengatakan jadwalnya kosong di hari Rabu. Gw lalu beralih memeriksa jadwal semester gw.


Sebenarnya tidak ada masalah juga jika gw ambil kelas itu. Tapi gw hanya tidak mau. Gw sudah ada kelas bahasa Jepang di hari Selasa dan Kamis setiap weekday. Itu sudah cukup. Belum lagi jika nanti gw iseng ambil kelas di akhir pekan, kalau-kalau tidak sibuk dengan tugas. Kelas bahasa Jepang yang dimaksud adalah jadwal kerja paruh waktu gw di restoran tempo hari.


Jadi gw balas saja ajakannya itu, 'sorry banget, semester ini jadwal penuh'. Beberapa minggu setelahnya, gw dengar langsung darinya kalau dia tetap ambil kelas bahasa Jepang itu walau hanya sendiri. Good for her then. Selalu ada pilihan.


Kisah gw yang akhirnya dapat bekerja paruh waktu di restoran itu, penuh dengan kejutan. Seperti halnya gw baru tahu kalau restoran itu adalah semacam restoran BBQ. Karena gw lihat sendiri keadaannya saat datang untuk wawancara.


Disusul lagi dengan gw enggak menemukan teman perempuan sesama pekerja paruh waktu sama sekali. Bayangan gw bekerja paruh waktu seperti di drama-drama Jepang seketika pupus. Gw berakhir bergaul dengan para pekerja laki-laki, yang nyaris seluruhnya berasal dari kampus sebelah. Doshisha.


Berteman dengan mereka, mulai menghapuskan pemikiran gw tentang betapa tidak asyiknya orang Jepang. Gw berusaha mengorek ingatan kembali, sejak kapan gw selalu memiliki sentimen negatif mengenai orang-orang Jepang. Unattractive, kaku, enggak asyik, dan... Sasaki.


Laki-laki yang membuka pintu kaca restoran kala gw ketuk dulu adalah Sasaki. Si orang yang dari pertemuan pertama sudah gw cap dengan berbagai kata negatif. Seakan menyalahkannya sebagai orang Jepang, di luar kenyataan bahwa memang ketika itu dia sedikit bertingkah tidak mengenakkan.

__ADS_1


Tidak seperti teman paruh waktu lainnya, gw tidak dekat dengan Sasaki. Dan sepertinya, tidak ada sedikitpun kemungkinan untuk gw bisa bergaul lebih dekat dengan dia. Karena walau satu gesturenya yang gw persamakan dengan hangatnya mentari di pukul 5 sore, Sasaki ini memang sekaku dan sedingin yang gw kira. Mungkin karena dia senior. Bisa jadi. Tidak ada yang lebih tua darinya di sini, selain tentu saja si Tenchou, manajer restoran.


Gw masih bisa ingat jelas rentetan percakapan yang terjadi antara gw dan Sasaki dalam satu bulan pertama gw bekerja. Karena mudah saja, gw jarang berbicara dengan dia. Tepatnya hanya ada 2 percakapan. Yang pertama, perkenalan.


"Sudah kenal dia? Dia paling senior di sini..."


Itu kata-kata pembuka saat gw ditarik oleh salah seorang teman pekerja untuk berkenalan dengan Sasaki.


"Hai, namanya siapa?"


"Sasaki. My name is, Sasaki..."


"Oh, hai... nama aku Riya."


"Sudah tahu."

__ADS_1


Sasaki ini menoleh sebentar, tersenyum sedikit. Di momen itu gw seperti, 'hah?' sembari mengerutkan dahi. Tanggapan yang sangat di luar ekspektasi. Apakah mungkin gw memang bisa menilai orang hanya dari pertemuan pertama? Kalau dia benar-benar sedingin ini.


Dan percakapan yang kedua, saat gw bertanya harga salah satu menu makanan. Tidak mungkin bagi gw untuk menghafal seluruh harga tiap makanan di dalam menu dalam waktu singkat. Jadi pada saat itu, dialah orang yang berada paling dekat dari gw untuk ditanya.


"Yang putih itu... hoso (nama menunya), harganya 600yen?"


"O..."


Dia mengangguk dan selesai, singkat saja seperti itu. Gw pikir, kalau saat itu ada dua orang yang berdiri di dekat gw, enggak akan gw beralih kepada Sasaki untuk bertanya.


Menarik. Selalu kecil kemungkinan bagi gw untuk membuat satu percakapan panjang dengannya. Atau, ini hanya pilihan gw saja untuk tidak banyak berhubungan dengan Sasaki? Karena seakan seluruh auranya mengatakan untuk tidak terlalu dekat dengannya. Gw punya pilihan untuk melanggarnya, tapi gw memilih untuk menuruti.


Sasaki membangun benteng tinggi tak terlihat. Bukan karena dia tidak bersahabat, tapi tidak ingin didekati. Ada baliho besar di kepalanya, 'jangan dekat-dekat sama gw'.


Kadang jahat, tapi setiap orang punya hak untuk menentukannya, dan gw tidak mempermasalahkannya. Gw enggak mengurus hal-hal sepele seperti itu lagi. Biar saja kalau dia enggak mau. Kejadian tentang pacar gw yang tiba-tiba menikah dengan perempuan lain memang mengajarkan banyak hal. Semakin cepat gw bertindak masa bodo, semakin cepat pula rasa kecewa akan terhapus.

__ADS_1


Walau sebergulirnya waktu, nyatanya, hanya sebidang punggungnya saja yang bisa gw tatapi lebih lama. Lebih lama dari setiap percakapan yang bisa gw bangun dengan dia.


Sejak saat itu, perlahan sering kali muncul kata 'kalau saja' di dalam benak gw. Kalau saja Sasaki lebih terbuka. Kalau saja Sasaki semenyenangkan teman-teman paruh waktu gw yang lainnya. Kalau saja gw bisa lebih tahu banyak hal tentangnya.


__ADS_2