Ketika

Ketika
7. Morikawa


__ADS_3


Musim panas terakhirku adalah musim panas pertamanya di Kyoto. Tahun pertamanya di restoran ini, merupakan tahun terakhirku. Ia datang dan aku pergi. Pada satu titik, ini adalah mulanya, sementara ini pula akhirku. Mungkin hanya satu persamaan kami. Kami sama-sama mencoba menyesuaikan diri pada kehidupan yang baru. Hanya saja, di jalan yang berbeda.


Hari ini, akhir pekan, aku meninggalkan rumah teramat pagi. Kukatakan pada Ibuku, aku akan berada di tiga kota yang berbeda dalam satu hari ini.


Pagi hari di Osaka, mengunjungi kampus tempatku berkuliah dulu. Kampus ini tempat aku mulai menekuni handball selepas menanggalkan tongkat baseball ketika SMA. Lalu siang hari menuju Uji. Secara rutin, diadakan pertandingan handball antar SMP di sana. Aku bekerja sebagai wasitnya. Pekerjaan yang sudah aku lakukan kira-kira 1,5 tahun yang lalu. Pekerjaan lepas, tapi menjanjikan. Sore kembali ke Kyoto, menghabiskan malam bekerja di restoran.


Secara tidak sengaja, jadwal ini aku bagi kepada Riya seminggu yang lalu. Ada perasaan asing yang menggerayang di tengkukku. Membagi jadwal personalku untuk pertama kalinya kepada orang di luar keluargaku ataupun mereka yang ada hubungan di dalamnya, itu sangat jarang terjadi.


"Jadi, kenapa Jerman?"


Tanyanya minggu lalu. Hari itu, mengejutkan sekali restoran tidak sesibuk biasanya. Aku tidak punya alasan untuk menyibukkan diri dan berakhir berdiri di belakang konter, dekat penanak nasi. Sementara Riya baru saja meninggalkan setumpuk piring kotor di bak cucian. Posisi kedua tempatnya, kebetulan bersebelahan.


"Aku main handball di sana."


"Ooh... kamu professional atlet rupanya."


Mata Riya membulat. Ini kabar baru untuknya. Kami jarang bercakap-cakap. Jadi sulit dikatakan kami adalah teman. Aku menempatkan diriku hanya sebatas kenalan untuknya. Tapi yang aku lakukan malam itu, secara tidak sengaja menggeser pion mendekati kuda, tepat di jalur yang akan ia ambil selanjutnya. Aku tidak membacanya. Ini gerakan bunuh diri dan terang sekali aku sudah salah langkah.


"Masih semi-pro. Tapi aku jago olahraga. Macam-macam. Waktu SMA aku main baseball."


Ada sedikit rasa menyenangkan menceritakan kepandaianku dalam bidang olahraga kepadanya. Aku terbutakan hanya dengan satu pertanyaan 'jadi, kenapa Jerman?'-nya. Aku tidak pernah menyadarinya. Alih-alih memutus percakapan, Riya adalah contoh nyata dari turis asing yang baru pertama kali melihat bunga sakura. Ia tidak akan berhenti mengambil gambarnya. Maka si pohon sakura, dengan segala keindahannya, membiarkan dirinya menjadi objek.


"Bisa bulu tangkis juga? Di Indonesia terkenal sekali loh kalau itu."


Wajahnya seketika mulai cerah. Mungkin dia menunggu momen seperti ini tiba. Bercakap-cakap denganku sebagaimana yang biasa ia lakukan dengan yang lain.

__ADS_1


"Eh? Bulu tangkis?"


Aku tertawa kecil.


"Itu di Jepang tidak terlalu terkenal. Aku lebih jago main basket, sepak bola, renang... baseball,"


"Na... (eh) Sasaki, lalu kamu ikut pertandingan untuk Koshien juga?"


Ternyata dia cukup tahu juga mengenai baseball, pikirku. Aku lirik dia dan matanya tak putus-putusnya memandangiku. Ia menunggu kelanjutan dari percakapan ini.


"Riya bisa olahraga juga?"


Tanyaku sembari buru-buru membuka tutup penanak nasi, dan mengaduk nasi di dalamnya perlahan. Ini hanya sekedar untuk mengalihkan perhatianku darinya. Jarangnya aku berbicara dengannya ternyata membuat kesempatan itu teramat canggung.


"Kalau nonton, bisa."


Jawabnya sambil tertawa lebar. Itu tawa lepas pertamanya. Tawa yang aku irikan sedari lama. Dia tidak pernah tertawa seperti itu kepadaku. Tawanya seakan membawa kebahagiaan untukku.


"Jadi?"


Suaranya mengecil. Ia menunggu responku. Menunggu kelanjutan ceritaku.


"Waktu SMA, harus ambil satu bunkatsu (ekstrakurikuler). Bunkatsu tahu?"


Tanyaku memastikan. Riya membalasnya dengan anggukan cepat.


"Jadi aku ambil baseball waktu itu. Tapi baseball latihannya panjang, berat dan saingannya ketat. Apalagi untuk ke Koshien. Jadi waktu kuliah aku putuskan ikut klub handball. Dulu jadi pemain saja, tapi sekarang juga sudah belajar jadi wasit. Sabtu siang minggu depan, aku jadi wasit pertandingan handball antar SMP di Uji. Pagi ke Osaka dulu untuk lihat latihan klub handball semasa kuliah, baru siangnya ke Uji."

__ADS_1


Terlalu banyak informasi yang aku bagi. Dan reaksi si pemilik mata indah ini adalah,


"wow, ternyata kamu hebat sekali, ya. Di Uji jam berapa?"


Reaksi itu yang aku harapkan darinya. Ia memuji kemampuan olahragaku. Walau pertanyaan yang mengikutinya, tidak kuharapkan.


"Jam 1 siang."


Kujawab cepat.


"Sepertinya seru. Aku akan menghubungimu kalau aku bisa datang."


Ia lantas pergi. Aku tidak ingat bagaimana aku menjawab ucapannya. Tapi aku ingat bagaimana aku menunggu pesan darinya sepanjang minggu. Aku tidak ingin dia datang. Tapi aku ingin dia berencana untuk datang. Nyatanya pesan itu tidak pernah ada. Dia tidak akan datang.


Seharusnya aku senang. Hanya saja aku masih membayangkan bagaimana jika ia duduk di tribun penonton kala aku bertindak sebagai wasit. Apakah kehadirannya dari kejauhan juga akan mengintimidasiku?


Namun, karena dia benar-benar tidak datang, setidaknya aku bisa bertemu dengannya Selasa nanti, pikirku. Walau sayangnya tidak begitu.


"Mau menu bahasa Inggris atau bahasa Jepang? Sebentar lagi giliran kalian dipanggil masuk."


Ternyata, Sabtu sore itu Riya datang bersama 3 teman laki-lakinya untuk makan di restoran tempat kami bekerja. Dia datang mengenakan kaos merah tak berlengan dengan motif bunga-bunga, celana pendek gelap dan sepatu tinggi. Cara berpakaiannya sangat bergaya musim panas.


Lalu selintas terpikir olehku. Bukannya ia lebih baik mengenakan baju sedikit sporty dan datang menonton pertandingan handball hari ini? Jadi ini alasan kenapa dia tidak datang. Riya sudah ada rencana lain rupanya. Oh ya... tapi aku juga yang tidak ingin dia datang. Aku mendengus pelan.


Maka, saat akan tiba gilirannya untuk dipanggil masuk mengisi salah satu meja yang sudah kosong, aku menghampirinya yang sedang menunggu. Ia berkumpul bersama 3 teman laki-laki itu, di jembatan kecil di seberang restoran. Aku bisa mendengar mereka berbicara dalam bahasa yang tidak kukenal. Mungkin bahasa Indonesia.


"O... Inggris saja. Terima kasih."

__ADS_1


Ucapnya cepat menjawab pertanyaanku tadi. Ia tersenyum sebentar melepas kepergianku, lalu kembali mengobrol dengan 3 temannya. Aku bisa mendengar tawanya saat aku berbalik kembali menuju restoran.


Lagi-lagi aku iri dengan 3 orang teman laki-lakinya itu. Lagi-lagi Riya adalah sosok yang berbeda di hadapan orang lain. Siapapun, kecuali aku. Aku yang menjadikannya demikian. Aku menjauhkannya demi rencana hidupku.


__ADS_2