
Tidak ada literatur yang mengajarkan bagaimana seseorang menjadi dirinya. Ia terIahir dan sekelilingnyalah yang membuatnya belajar. Bayi yang mengedip, jemari tangan yang menjadi kipas alami saat cuaca panas, atau air mata yang seketika mengalir saat merasa sedih. semuanya natural.
Saat aku tiba di Jerman, aku adalah satu-satunya orang Jepang yang bergabung dalam sekolah bahasa Jerman itu. Aku seperti alien diantara siswa yang lain. Tidak ada yang menyerupaiku. Dan aku teringat satu pertanyaannya dari seorang teman. Dia bercerita bahwa aku adalah teman Jepang pertamanya, dan terucaplah satu pertanyaan pada suatu waktu senggang kami.
"Profesorku pernah menjelaskan tentang menjadi anak laki-laki pertama di keluarga Jepang. It's quite troublesome, isn't it?"
Dia adalah seorang Inggris. Mengambil jurusan sejarah semasa kuliahnya dulu. Pertanyaannya itu, menimbulkan satu tanda tanya besar. Apa masalahnya menjadi anak laki-laki pertama di keluarga Jepang? Aku memang bukan anak pertama di dalam keluarga, tapi aku adalah anak laki-laki pertama yang dilahirkan oleh ibuku.
Karena aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, ia pun menceritakan panjang lebar tentang kuliah professornya kepadaku. Sebagian besar mengenai tanggung jawab dan beban yang harus dipikul oleh seorang anak laki-laki pertama di dalam keluarga Jepang.
Menurutnya, sudah ada banyak tulisan mengenai topik itu. Bahkan ia menawarkanku untuk membaca salah satu di antaranya. Keadaan ini sedikit ganjil bagiku. Ditawari membaca sebuah buku yang membahas tentang bagaimana dunia luar melihat manusia Jepang. Diriku sendiri.
Aku terlahir sebagai Jepang. Dalam keluarga Jepang. Aku tumbuh menjadi seorang Jepang. Aku dan dunia di sekelilingku yang membentuk diriku. Aku tidak membaca dari buku untuk menjadi seorang Morikawa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka walau aku tertarik membacanya, tapi tak kulanjutkan.
Namun, kesempatan untuk bermukim pertama kalinya di luar negeri, membuka mataku. Aku tidak sendiri. Dan jika ada kalanya aku merasa benar, ternyata ada berbagai argumen di luar sana yang menyatakan bahwa tidak semua hal sepenuhnya benar dan itu masuk akal. Aku tidak marah dengan situasi ini. Menerima perbedaan adalah baik.
Bagaimana jadinya jika aku tidak berada di sini. Aku masih Morikawa. Tapi menurut perspektifku, kini aku adalah Morikawa yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Morikawa ini, mengatur perjalanan hidupnya dengan sangat akurat. Menurut teman Inggrisku, ada sejarah mengenai nama keluarga orang Jepang. Ia diambil dari keadaan di sekitar si pemilik nama, saat mereka diperintahkan untuk mulai memiliki satu nama keluarga.
Nama keluargaku Morikawa. Mori berarti hutan dan Kawa yang berarti sungai. Besar kemungkinan bahwa leluhurku adalah bagian dari masyarakat tingkat menengah yang bekerja di sawah atau ladang. Aku mengangguk-angguk, cerita itu masuk akal.
Namun, jika ada hutan yang membutuhkan perlindungan dari penjarahan liar, aku akan menjadi hutan yang tetap hidup tak tersentuh meski ratusan dekade berlalu. Dan jika ada aliran sungai dangkal di antara bebatuan besar, aku adalah sungai beraliran deras dan menjadikannya air terjun di ujung tebing.
Aku dan segala keputusanku. Seperti pergi ke Jerman. Laju pertamaku untuk merintis karir. Dua tahun berlalu cepat di sana, sebagai seorang pelajar internasional dan juga atlet olahraga handball di sebuah klub lokal Berlin.
"Apa lagi kata profesormu tentang anak laki-laki pertama?"
Tanyaku kepada si teman Inggris.
Aku mengawang. Apakah aku bagian dari pendapat itu? Menyadari aku hanya terampil di bidang olahraga dan habis-habisan memolesnya agar terlihat lebih baik di mata keluargaku, daripada mulai bekerja sebagai pegawai kantoran yang setiap hari beranjak keluar rumah dengan baju kerjanya yang rapi. Jalan hidup yang lebih diinginkan oleh keluargaku. Apakah aku nyaris menjadi akhir dari sebuah generasi?
"Aku dengar kamu akan pergi ke Jerman tahun ini. Sasaki mau hadiah perpisahan apa dariku?"
Sebuah gelas nyaris tergelincir jatuh dari peganganku. Aliran air dari kran membuatnya licin tetapi bukan itu penyebabnya. Riya berdiri menghadapku. Di sisi kananku. Ia sudah ada di sana mungkin dari 10 menit yang lalu.
Ia mencuci piring, sementara aku mencuci gelas. Tugas bersih-bersih kami setelah restoran tutup. Namun, tidak ada satupun percakapan terlontar. Pertanyaan tadi, adalah yang pertama.
__ADS_1
"Aku terbiasa menyiapkan hadiah untuk teman yang pergi. Jadi kamu mau apa?"
Riya sudah tahu mengenai kepergianku ke Jerman. Tentang hari terakhirku bekerja di restoran ini. Aku tidak mengatakan kepadanya langsung. Aku memilih untuk tidak melakukannya. Toh dia akan tahu juga. Karena aku sudah memilih orang yang tepat untuk menjadi perantaraku. Walau tanggapan Riya tidak setepat prediksiku.
Aku masih belum melupakan bagaimana ekspresi wajahnya. Tidak ada sedikitpun senyuman terukir di bibirnya. Mengapa berita ini tidak membahagiakannya? Semua orang senang saat mengetahuinya. Mengapa dia tidak? Kabar ini merusakan seluruh suasana hatinya malam itu. Untuk pertama kalinya kami benar-benar tidak saling berbicara dalam shift kami. Hingga ia pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa ya... sepatu? Sepatu olahraga yang mahal?"
Candaku sambil tertawa dan Riya tersenyum lebar. Tapi tidak dengan matanya. Mata indahnya menyiratkan duka. Dan tawaku pun hilang. Mungkin aku penyebabnya. Dan begitulah manusia mampu membaca suasana. Sejalan waktu, ada masa saat ia terkesiap, sadar bahwa ia ternyata mampu melakukannya.
"Ki ni shinasanna... (enggak perlu dipikirin)"
Ucapku pelan mengembalikan suasana agar menjadi lebih baik. Kedua tanganku menggapai jejeran gelas yang telah tercuci bersih, membawanya kembali masuk ke dalam mesin pendingin untuk disimpan.
"Akan aku pikirkan hadiah perpisahan untukmu, karena aku sudah janji akan memberikannya."
Kata-kata itu adalah ucapan terakhirnya malam itu. Segera setelahnya, ia berpamitan dengan Tenchou untuk mengakhiri shift, duduk di pojok konter untuk memakan makan malamnya, kemudian pulang.
Dari sudut ruangan yang lain, aku sekilas melempar pandang kepadanya. Riya memang tidak ada di dalam rencana hidupku saat ini. Tapi apakah dia juga terlarang untuk berada di dalam hidupku selamanya? Setidaknya dari kacamata keluargaku. Morikawa.
__ADS_1