Ketika Idolaku Menjadi Teman Hidupku

Ketika Idolaku Menjadi Teman Hidupku
BAB 1


__ADS_3

 BAB 1


 


Di sebuah kamar yang serba putih, terlihat seorang gadis berusia 17 tahun yang terkulai lemah. Wajahnya pucat, badannya kurus kering, rambutnya kusut. Baru beberapa jam yang lalu ia di larikan ke rumah sakit lagi. Ya, gadis yang bernama Nana itu memang sejak kecil sudah sering sakit-sakitan. Dia terlahir dengan tubuh yang lemah.


Di samping ranjang rumah sakit itu, berdiri kedua orang tua Nana. Mereka menatap sedih anak mereka satu-satunya yang tertidur di atas ranjang dengan selang infus memenuhi tubuhnya.


Walau keadaan ekonomi keluarga mereka sangat tercukupi tapi hidup keluarga itu tidaklah bahagia. Bu Dinda (40) serta Pak Shin (45) masih memikirkan perkataan dokter Riu yang menangani Nana tadi.


 


#Flashback beberapa jam yang lalu


 


Dokter Riu (25) adalah salah satu dokter termuda di rumah sakit tersebut. Walau usianya masih muda, Dokter Riu merupakan dokter spesialis jantung yang paling berbakat di antara dokter-dokter yang lain.

__ADS_1


Satu jam yang lalu, Dokter Riu baru saja menyelesaikan operasi ke-3nya di hari ini. Ia sedang bersantai menikmati waktu istirahatnya di ruang kerjanya. Saat akan meneguk secangkir kopi, tiba-tiba terdengar keributan di luar ruangannya. Dia pun segera bergegas keluar menuju keributan tersebut. Saat sampai di sana ia terkejut ketika mengetahui bahwa Nana (pasien tetapnya) telah terbaring lemas di atas brankar rumah sakit.


 


"Dokter Riu, tolong bantu selamatkan Nana." kata Bu Dinda dengan cemas.


"Iya, Bu Dinda. Ibu tenang dulu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan Nana." kata dokter Riu menenangkan Bu Dinda.


Tanpa basa-basi, Dokter Riu beserta para perawat segera mendorong brankar Nana menuju ke ruang UGD. Sedangkan Bu Dinda segera menghubungi suaminya, Pak Shin agar segera datang ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Nana, Dok? Apakah Nana baik-baik saja?" tanya Bu Dinda sambil menangis. Pak Shin memeluk bahu Bu Dinda.


"Penyakit jantung Nana saat ini sudah semakin serius, bu. Harap Bu Dinda dan Pak Shin selalu senantiasa memberi semangat kepadanya." ucap Dokter Riu.


"Memang penyakit jantung Nana sudah seserius apa, Dok?" Pak Shin bertanya.


Dokter Riu ragu untuk memberitahukan hal ini. 'Apa yang harus aku katakan, perlukan aku jujur? Tapi mereka orangtua Nana. Mereka berhak tahu keadaan Nana saat ini' batin Dokter Riu. Dengan nada sedih, Dokter Riu pun memberitahu yang sebenarnya.

__ADS_1


"Usia Nana tidak akan lama lagi pak, bu. Paling lama dia bisa bertahan sekitar 5 tahun lagi. Itupun kalau dia masih memiliki semangat untuk hidup. Harap Pak Shin dan Bu Dinda bersabar." Dokter Riu mengatakan semua itu dengan nada sedih. Ia pun segera kembali ke ruangannya.


#Back to story


 


Bu Dinda masih sesengukkan menangis mengingat perkataan Dokter Riu tadi. Pak Shin hanya bisa diam sambil menenangkan Bu Dinda di sampingnya.


 


"Pa, perusahaan Papa siapa yang ngurus? Bukannya tadi Papa pergi di tengah meeting?" tanya Bu Dinda dengan suara yang bergetar.


"Pak Bayu, Ma. Sekretaris kepercayaan Papa. Papa yakin Pak Bayu bisa di andalkan." jawab Pak Shin.


Bu Dinda menganggukkan kepalanya. Ia kemudian kembali menatap anaknya yang masih memejamkan mata.


Tak berama lama kemudian, Nana mulai menggerakkan jari tangan dan kemudian membuka kedua kelopak matanya. Bu Dinda secara spontan langsung menekan bel pemanggil dokter yang berada di samping ranjang Nana. Dokter Riu segera datang ke ruangan Nana beserta perawatnya.

__ADS_1


__ADS_2