
BAB 3
Jam telah menunjukkan pukul 19.00 wib. Saat suasana ruangan sedang ramai akan canda tawa mereka, tiba-tiba..... "KRUYUUUUUUUK" muncul suara yang lumayan keras. Sontak dua pasang mata milik Pak Shin dan Bu Dinda memandang ke satu arah, yaitu ke tempat di mana Nana duduk di atas ranjangnya. Awalnya mereka bertiga terdiam, namun tak lama kemudian tawa Pak Shin dan Bu Dinda pun pecah di karenakan suara cacing di perut Nana yang mulai berdemo. Untuk menutupi rasa malunya, Nana pun berkata,
"Ih Papa, Mama kenapa ketawa sih. Nana kan malu. Lagian juga manusiawi kan kalo perut bunyi. Yang bikin takut tu malah kalo perutnya gak bisa bunyi tau. Baa Haa Yaa (nada menegaskan). Jadi jangan ketawain Nana lagi dong." Sunggut Nana cemberut karena di ketawain orangtuanya.
Mendengar argumen anaknya, Pak Shin pun menanggapi,
__ADS_1
"Iya emang manusiawi. Tapi kan kamu cewek harus bisa kontrol perut kamu dong. Untung aja di ruangan ini cuma ada mama sama papa. Gimana coba kalo tadi Dokter Riu sama perawatnya masih ada di sini. Malu kan pasti kamu." Pak Shin kembali terkekeh.
"Udah pa udah. Jangan di teruskan lagi" Bu Dinda ikut-ikutan tertawa. Melihat kedua orangtua yang menertawakannya, Nana pun semakin mencontongkan bibirnya dan melipat kedua tangan di depan perutnya.
Akhirnya Bu Dinda pun berinisiatif untuk membeli makanan di kantin. Karena memang sejak tadi sore mereka belum makan apa-apa.
Sepeninggalan Bu Dinda, Pak Shin dan Nana pun bercakap-cakap santai sembari menunggu makan malam yang di beli Bu Dinda datang.
__ADS_1
Nana :"Alhamdulillah lancar Pa. Nilai Nana juga bagus. Oh iya, kan papa tau sendiri kalau Nana mah anaknya rajin, tekun, teladan, dan tentu saja pintar, " kata Nana mulai menyombongkan dirinya di depan papanya.
Pak Shin :" Nah kan anak papa mulai terbang gitu. Tau gitu papa gak usah tanya dah:v"
Nana :"Aihh papa, gitu aja di sesalin. Sekali-kali puji anaknya dong biar anaknya gak muji diri sendiri kayak gini" Sontak Pak Shin segera mengacak-acak rambut Nana sembari tertawa.
Ya walaupun sejak kecil tubuhnya lemah serta sering sakit-sakitan, tapi itu semua tidak membuat Nana pantang menyerah. Bahkan Nana adalah salah satu siswi terpintar di sekolahnya. Nana sering mendapatkan nilai sempurna di setiap ujiannya. Bahkan ia tak jarang mendapatkan peringkat pertama paralel di saat ujian kenaikan kelas.
__ADS_1
Tak hanya di sekolah saja, bahkan Nana sering mengikuti lomba di luar kegiatan sekolahnya. Nana merupakan salah satu siswi yang sempurna, dia memiliki paras yang cantik, tubuh yang ideal, otak yang cerdas, anak orang kaya. Selain itu Nana juga jago menyanyi serta jago mengcover dance. Walau kehidupan luar Nana yang tampak glamor serta sempurna itu, tapi Nana setiap hari harus berjuang untuk kesembuhannya. Dia harus bisa melawan sakit jantung yang sudah di deritanya sedari kecil itu.
Tak banyak yang tahu tentang penyakit Nana, karena dia selalu menunjukkan sisi dirinya yang selalu terlihat riang, tersenyum lebar, kuat, tegar serta bersemangat. Bahkan para sahabatnya pun tak ada yang tahu tentang penyakit jantung Nana. Padahal mereka sudah bersahabat lebih dari 3 tahun.