Ketika Idolaku Menjadi Teman Hidupku

Ketika Idolaku Menjadi Teman Hidupku
BAB 4


__ADS_3

BAB 4


Tepat pukul 19.25 wib Bu Dinda pun kembali ke kamar Nana dengan menentang sekantong plastik penuh makanan. Mata Nana menjadi berbinar-binar seketika. Melihat reaksi anaknya, Bu Dinda pun langsung menyiapkan makan malam untuk mereka di meja kecil depan sofa kamar Nana.


Tak lama menunggu, akhirnya makan malam pun siap. Mereka pun makan malam dengan nikmatnya.


Setelah makan, Bu Dinda menyuruh Nana untuk segera tidur. Nana pun segera menuruti perkataan mamanya. Perlahan-lahan kedua kelopak mata Nana mulai terpejam. Ia mulai berkelana ke alam bawah sadarnya.


***


Keesokan harinya.


Cuit... Cuit... Cuit...


Suara kicauan burung yang sangat merdu menggiringi mentari pagi yang mulai menampakkan sinarnya. Harum bunga dari taman rumah sakit masuk ke dalam ruang perawatan Nana melalui jendela samping. Terlihat Nana masih tertidur pulas di atas ranjang rumah sakitnya. Merasa terusik dengan adanya sinar matahari yang menerobos masuk ke kamarnya dan menyinari wajahnya, Nana perlahan-lahan membuka kelopak matanya.


Engggggggh...


Nana mengangkat kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot tangannya. Saat Nana beranjak turun dari ranjang untuk ke kamar kecil, ia melihat kedua orangtuanya masih tertidur pulas di atas sofa. Nyuuut.. Dalam lumbuk hatinya, Nana merasa bersalah kepada kedua orangtuanya. Seandainya kemarin sore penyakitnya tak kambuh, maka ia tak akan merepotkan kedua orangtuanya. Nana pun melangkahkan kakinya ke kamar kecil.

__ADS_1


Saat Nana masih di dalam kamar kecil, Bu Dinda terbangun. Melihat ranjang Nana kosong, ia sontak membangunkan suaminya.


"Pa, bangun pa. Ranjang Nana kosong. Nana ke mana pa?" tanya Bu Dinda dengan cemas seraya menggoyang-goyangkan lengan suaminya untuk membangunkannya. Mendengar suara istinya, Pak Shin pun terbangun.


Sebelum Pak Shin menanggapi perkataan Bu Dinda, tiba-tiba dari dalam kamar kecil keluarlah Nana dengan senyum manisnya. Dari dalam kamar kecil, ia tadi mendengar keributan yang di buat oleh mamanya. Melihat Nana baik-baik saja, Bu Dinda langsung menghampiri Nana yang masih berdiri di depan kamar kecil. Ia membimbing Nana menuju ranjangnya.


"Na, kenapa kamu tidak membangunkan mama dulu. Kamu kan tadi bisa membangunkan mama kalau mau ke kamar kecil" kata Bu Dinda.


"Hehehe, maaf ma. Habis tadi Nana liat mama sama papa masih pulas tertidur sih. Jadi Nana gak enak buat ngebanguninnya" balas Nana sambil mengangkat kedua jarinya(✌) ️sambil tersenyum. Melihat Nana tak apa-apa, Bu Dinda pun menghela nafasnya lega. Ia merasa anaknya mulai sehat kembali.


"Pa, Na, mama mau cari sarapan dulu ya. Kalian mau sarapan sama apa?" tanya Bu Dinda.


"Nana juga terserah mama aja" balas Nana.


"Hemmm, ya udah kalau gitu. Mama pergi dulu ya" pamit Bu Dinda kepada Nana dan Pak Shin.


Bu Dinda pun segera pergi mencari makanan.


***

__ADS_1


Tak berapa lama setelah Bu Dinda keluar, Dokter Riu pun datang bersama seorang perawat. Sekarang waktunya Dokter Riu mengecek kondisi terbaru Nana. Dokter Riu secara hati-hati memeriksa Nana, mulai dari mata, lidah, sampai detak jantung Nana. Melihat kondisi Nana yang mulai membaik, Dokter Riu pun tersenyum kepada Nana sembari mengusap kepala Nana perlahan.


Dokter Riu berbalik, ia mengatakan kepada Pak Shin dan Nana bahwa kondisi Nana sudah membaik. Mungkin hari ini Nana sudah bisa pulang.


Mendengar kondisinya yang membaik, Nana merasa senang. Ia tak sabar untuk segera pulang ke rumah dan bisa kembali bersekolah serta berkumpul bersama para sahabatnya seperti biasanya.


Pak Shin juga merasa seneng akan membaiknya kondisi Nana.


Dokter Riu pun pamit untuk meneruskan pekerjaan memeriksa pasien lainnya.


***


Saat keluar, Dokter Riu berpapasan dengan Bu Dinda. Ia pun menyapa Bu Dinda sembari tersenyum. Bu Dinda mengangguk sambil membalas sapaan dokter yang menangani anaknya itu. Baik Bu Dinda maupun Dokter Riu kembali meneruskan langkah mereka masing-masing.


Saat sampai di dalam, Bu Dinda di sambut dengan pelukan Pak Shin. Merasa Pak Shin terlihat sangat gembira, Bu Dinda pun bertanya,


"Pa, apa yang terjadi? Kok kalian kelihatan girang gitu sih?" tanya Bu Dinda sambil memandang suami dan anaknya bergantian.


"Mamaaaa, Nana hari ini udah boleh pulang ma" seru Nana mendahului Pak Shin berbicara.

__ADS_1


Mendengar perkataan anaknya barusan, Bu Dinda tak kuasa menahan rasa senangnya. Ia pun segera menaruh makanan yang di belinya tadi di meja kemudian berlari memeluk anaknya. Tak mau ketinggalan, Pak Shin pun ikut-ikutan memeluk istri dan anaknya. Kebahagiaan menyelimuti pelukan keluarga itu. Sehingga menyebabkan atmosfer di ruangan itu terasa sangat hangat.


__ADS_2