
Kringgg...
Suara jam weker membangunkan Nana dari tidur nyenyaknya. Dengan mata masih terpejam Nana mencoba meraih jam yang ada di atas nakas samping ranjangnya. Kelopak matanya mulai membuka perlahan, ia melihat jarum di jamnya sudah menunjukkan pukul 05.30 wib. Dengan malasnya ia segera meletakkan jam kembali ke atas nakas dan langsung menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi Nana untuk membersihkan tubuhnya yang penuh keringat, setelah merasa tubuhnya telah bersih dan wangi ia segera memakai jubah mandinya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi untuk mengenakkan seragam putih abu-abunya yang tergantung rapi di dalam lemari. Tak lupa ia menyisir rambut pendek sebahunya, serta memakai bedak bayi di mukanya dan lipblam di bibirnya.
Setelah merasa siap, Nana segera turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama kedua orangtuanya. Terlihat di meja makan Pak Shin sedang duduk membaca koran menunggu kedatangan Nana sambil menikmati secangkir kopi. Sedangkan Bu Dinda sedang mengambilkan sarapan untuk anaknya.
"Good morning ma, pa" sapa Nana sembari menarik kursi untuk di dudukinya.
"Morning juga sayang" balas Bu Dinda sambil tersenyum.
"Kamu sekolah hari ini Na? Mending istirahat aja sana. Nanti papa mintakan izin ke wali kelasmu" bujuk Pak Shin. Ia masih khawatir akan keadaan anaknya.
"Ih gak usah pa. Nana udah baikan kok. Nana bisa jaga diri. Jadi papa sama mama jangan khawatir ya, percaya deh sama Nana" balas Nana tersenyum. Ia segera menyantap sarapan yang telah di siapkan oleh mamanya.
"Ya sudah kalau kamu maunya sekolah, tapi ingat ya, kalau ada apa-apa segera menghubungi mama atau papa" kata Pak Shin.
Nana mengangguk tanda mengerti.
Setelah sarapan, Nana pun berangkat ke sekolah dengan di antara oleh papanya. Kebetulan perusahaan Pak Shin satu arah dengan sekolah Nana sehingga mereka bisa satu kali jalan tanpa menghabiskan waktu. Mobil toyota biru itu pun segera melaju menuju ke sekolah Nana.
Cittt, suara rem berbunyi dan dengan perlahan laju mobil mulai melambat. Kini mobil mereka sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah Nana.
"Pa, Nana sekolah dulu ya" kata Nana sambil mencium tangan papanya.
"Iya, sekolah yang bener, dengerin baik-baik apa yang di katakan gurumu. Nih uang sakumu hari ini" kata Pak Shin sambil memberikan uang lima puluh ribu ke Nana.
"Iya pa, siap" kata Nana sambil mengangkat tangannya seperti sedang hormat. "ngomong-ngomong makasih ya pa uangnya" lanjut Nana kemudian.
Nana segera membuka pintu mobil dan melambaikan tangannya ke arah mobil papanya yang mulai melaju lagi menuju perusahaannya.
Setelah mobil papanya sudah tak nampak, Nana pun melangkahkan kakinya kembali menuju ke kelasnya.
Ia berjalan dengan santai menyusuri lorong sekolahan sambil memainkan ponselnya, sesekali ia mendapat sapaan dari siswa maupun siswi yang di temuinya. Ya, Nana memang lumayan terkenal di sana. Karena sosoknya yang baik hati banyak orang yang ingin dekat dengannya, bahkan ia dinobatkan menjadi seorang primadona sekolah.
__ADS_1
Saat sedang asyik memainkan ponselnya, tiba-tiba... Brakkk. Ia tak sengaja menabrak seorang cowok yang sedang berjalan membawa setumpuk buku. Karena mendapat tabrakan mendadak, si cowok tak mampu menahan buku yang di bawanya sehingga membuat tumpukan buku yang di bawanya jatuh berhamburan. Karena merasa bersalah Nana pun membantu cowok itu membereskan buku-bukunya.
"Emm maaf, maaf" kata Nana sambil meletakkan buku-buku itu di tangan si cowok.
"Iya santai aja, gak papa kok. Btw, thank ya udah bantuin gue mungutin tu buku" balas si cowok
"Emm iya. Emng lo mau bawa semua buku itu ke mana?" tanya Nana
"Ke ruang guru. Tadi guru gue WhatsApp gue dia minta tolong suruh bawain buku-buku yang ketinggalan di kelas"
"Oh, boleh gue bantuin? Kayaknya lo kesusahan deh" tawar Nana
"Aih, gak usah. Gue bisa sendiri ko.." kata-kata si cowok terputus karena ia kaget melihat si primadona sekolah langsung merebut sebagian buku yang di bawanya.
"Ayok cepet jalan. Entar keburu bel lo" ajak Nana. "Oh ya kenalin gue Nana dari kelas 12 IPA 1. Kalau lo?" kata Nana memperkenalkan dirinya.
"Nama gue Naufal dan kelas gue ada di samping kelas lo. Tepatnya kelas 12 IPA 2"
"Ouh, salam kenal ya Naufal" kata Nana sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Hemm iya, salam kenal juga" jawab Naufal dengan nada sok cool padahal mukanya sudah memerah bak kepiting rebus.
Mereka pun kembali melajukan langkahnya menuju ke ruangan paling pojok tempat di mana ruang guru berada. Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di depan ruang guru. Naufal dengan sopan mengetuk pintu dan masuk menuju salah satu meja di mana gurunya sudah duduk menunggu. Nana pun mengikuti dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.
"Ini bu, bukunya" kata Naufal sambil meletakkan tumpukan buku yang di bawanya. Nana pun dengan refleks juga meletakkan buku yang di bawanya dan segera mencium tangan guru yang tengah duduk itu.
"Selamat pagi Bu Dewi" sapa Nana pada gurunya yang ternyata bernama Dewi itu.
"Selamat pagi juga Na" balas Bu Dewi sambil tersenyum.
"Oh iya, terima kasih ya Naufal sudah mau ibu repotkan"
"Iya bu, gak papa kok. Lagian saya juga dapat bantuan kok" kata Naufal sambil menatap Nana dengan tersenyum.
__ADS_1
"Hemm, ya sudah. Sekarang sana kalian kembali ke kelas. Bel sudah mau berbunyi" kata Bu Dewi.
"Iya bu" balas Nana dan Naufal bersama.
Mereka pun segera keluar dari ruang guru dan berjalan bersama menuju kelas mereka dalam diam.
"Makasih Na bantuannya, dan maaf juga gara-gara bantu gue lo malah telat ke kelasnya" kata Naufal memecah keheningan.
"Santai aja Naufal. Lagian gue malas datang cepat ke kelas. Pasti di sana udah ada Kurnia yang nunggu hanya buat liat pr gue" kata Nana sambil tertawa.
Saat akan sampai di depan kelas 12 IPA 1, Naufal menghentikan langkahnya. Ia berkata,
"Na, sana lo duluan aja. Gue masih nunggu temen gue" kata Naufal beralasan. Sebenarnya ia merasa takut jika harus berjalan bersama Nana. Ia takut apabila salah satu dari cowok yang menyukai Nana mempergokkinya maka ia akan menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan rasa kesel mereka lantaran cinta mereka terhadap Nana yang tak pernah terbataskan.
"Okai deh, sampai jumpa lagi Naufal" kata Nana sambil berjalan.
Melihat Nana yang mulai menjauh, Naufal pun menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Hufttttt, untung gue nemu alesan, gak kuat banget jantung gue di deket dia lama-lama." kata Naufal sambil mengelus-ulus dadanya. Tanpa sepengetahuannya, Denandra sahabatnya pun menangapi,
"Dia? Dia siapa Fal?" tanya Denandra penasaran.
"Eh buset, setan lo Nda. Gak tau datengnya tiba-tiba udah di sini aja" kata Naufal terkejut. Ia pun memukul sahabatnya itu pelan.
"Elah, gue mah udah di sini sejak lo ngomong sendiri tadi. Kebanyakan ngalamun sih lo" pukul Denandra balik.
"Ya maaf, ya udah yok ke kelas sekarang" ajak Naufal sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
"Iye, iye. Tapi 'dia' yang lo maksud tadi siapa dah?" tanya Denandra lagi.
"Ishhh jangan kepo dah lo. Entar juga lo tau sendiri" jawab Naufal sambil tersenyum.
"Nyenyenye, dasar pelit lo Fa" kata Denandra sambil memoncongkan bibirnya.
Naufal tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia pun menumpuk bibir sahabatnya sambil berkata, "Gak usah di moncong-moncongin juga napa tu bibir."
__ADS_1
"Sakit Fal!" seru Denandra memegangi bibirnya. Melihat Denandra yang akan memukulnya, Naufal pun segera berlari menuju kelasnya meninggalkan Denandra di belakang yang masih manyun-manyun sendiri.