Ketika Idolaku Menjadi Teman Hidupku

Ketika Idolaku Menjadi Teman Hidupku
BAB 2


__ADS_3

BAB 2


Setelah memeriksa keadaan Nana, Dokter Riu berbalik badan menghadap kedua orangtua Nana sambil tersenyum. Karena tak ingin mengganggu Nana, Dokter Riu mengajak Pak Shin ke ruangannya.


"Pak Shin, mari ikut saya ke ruangan. Saya ingin membicarakan kondisi Nana saat ini."


"Baik, Dok."


Dokter Riu dan Pak Shin pun segera meninggalkan ruang perawatan Nana dan menuju ke ruangan Dokter Riu.


Sementara itu di dalam ruang perawatan, Bu Dinda segera memeluk Nana yang masih terbaring di atas bad hospital. Merasa ada air mata yang menetes di puncaknya, Nana pun memegang tangan Bu Dinda sambil menenangkannya.


"Udah Ma, Nana gak papa kok. Nana udah baikan. Mama jangan sedih terus dong entar Nana ikut sedih lo." kata Nana sambil tersenyum."


Mendengar perkataan anaknya Bu Dinda segera menghapus air matanya dan memandang Nana dengan bibir tersenyum. Nana tak mengetahui bahwa sebenarnya hati Bu Dinda saat ini sedang menangis pilu memikirkan masa depan anaknya.


"Bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Bu Dinda memastikan, walaupun sebetulnya ia mengetahui kondisi Nana yang sebenarnya.

__ADS_1


"Udah mendingan kok Ma, udah gak sakit lagi." jawab Nana tersenyum hangat.


'Maaf Ma, Nana bohong. Sebenarnya jantung Nana merasa lebih sakit dari sebelumnya. Maaf Ma, Nana hanya gak mau buat Mama sedih lagi.' batin Nana sambil tersenyum memandang mamanya.


#Di lain tempat


Sementara itu di rumah kerja, Dokter Riu sedang berbicara dengan Pak Shin mengenai kondisi Nana.


"Bagaimana Dok, kondisi Nana?" tanya Pak Shin dengan raut muka khawatir.


"Begini Pak, walaupun kondisi jantung Nana yang semakin parah tapi Nana memiliki tubuh yang kuat. Dia adalah gadis yang tegar. Saya yakin dia akan berjuang untuk kesembuhannya." Dokter Rui menjelaskan.


"Untuk saat ini lebih baik Nana tetap di rawat inap di sini pak, sampai kondisinya lebih baik lagi." lanjut Dokter Rui.


"Iya, Dok. Lebih baik seperti itu dulu saja." ujar Pak Shin.


"Terima kasih Pak atas waktunya semoga Bapak dan Ibuk bisa senantiasa mendukung Nana." Dokter Rui tersenyum sembari menjabat tangan Pak Shin.

__ADS_1


"Pasti itu, dok. Terima kasih banyak atas usaha dokter. Terima kasih juga atas kerjasamanya." Pak Shin pun tersenyum lalu meninggalkan ruangan Dokter Riu. Ia segera menuju ke ruangan di mana Nana di rawat. Ia ingin segera melihat anak satu-satunya itu. Ia ingin segera memeluk dan menenagkannya.


Sesampainya di ruangan Nana, Pak Shin segera memperlihatkan senyumannya. Dia segera menghampiri Nana yang sedang memakan apel yang di kupaskan oleh mamanya.


"Yooo cantik, lagi apa nih?" tanya Pak Shin sambil mencubit pipi Nana.


"Ih apaan sih Pa," Nana mengusap pipinya sambil tertawa. "Lagi sekolah Pa! Tau lagi makan gini kok masih aja nanya. Papa mah aneh." Tawa Nana meledak.


Melihat Nana yang tertawa lepas, Bu Dinda dan Pak Shin merasa senang. Bu Dinda mengusap rambut Nana sedangkan Pak Shin duduk sambil memakan apel yang telah di kupas tadi.


"Ihhh, Papa. Itu kan apel Nana. Kenapa di makan. Nana laper tau pa," celoteh Nana sembari memoncongkan bibirnya ke depan.


"Idih pelit banget deh. Papa kan juga mau. Masak minta sedikit aja gak boleh sih." kata Pak Shin dengan nada ngambek (walaupun sebenarnya cuma pura-pura ngambek sih😂)


"Yahhhh, ngambek. Papa mah kayak anak ABG aja. Ya udah deh ayok makan bareng-bareng. Pasti mama sama papa juga laper kan?" ajak Nana sambil menahan tawanya yang hampir meledak.


Tanpa babibu Pak Shin segera melanjutkan makan apelnya. Sedangkan Bu Dinda hanya tersenyum melihat tingkah laku suami dan anaknya barusan.

__ADS_1


__ADS_2