Ketua OSIS Tiba-tiba Merekrut Ku

Ketua OSIS Tiba-tiba Merekrut Ku
keita


__ADS_3

dalam sunyi yang gelap aku tidur diatas ranjang yang berantakan, sendiri tak ada yang menemani.


dengan pakaian lusuh dan bau aku memikirkan apa yang harus kulakukan, sudah 1 Minggu aku makan mie terus menerus demi menghemat.


hampir semua uangku telah habis kupakai, bahkan uang untuk daftar kuliah ku telah habis separuh kupakai.


uang sekolah,les,air, listrik,dan apartemen semuanya belum ada yang kubayar alias nunggak.


sial, kalau begini saja aku bisa mati.


aku menendang dan memukul semua benda yang didekatku lalu berteriak tak jelas.


keringat dingin membasahi wajahku, perutku yang lapar berbunyi begitu keras.


aku mengambil jaketku lalu pergi keluar untuk membeli makanan ,maksudku mie.


aku memasak mie yang kubeli tadi.


sial, mungkin tak lama lagi aku akan usus buntu.


aku menatap mie ku, melihat kuah dan mie yang kenyal di mangkok dan meratapi nasibku.


kenapa ini semua terjadi padaku? ditinggal orang tua, harus hidup mandiri, tak punya teman dan harus menanggungnya sendiri? kenapa itu semua terjadi padaku?


aku mengibaskan tanganku dimeja yang membuat semua benda diatasnya jatuh berantakan,termasuk mie mu.


aku terdiam sejenak lalu membersihkan kekacauan yang telah kulakan.


aku berbaring lagi dikasur menatap langit-langit kosong yang hanya ada lampu diatas.


"andai ada seseorang yang dapat membantuku"


gumamku dengan tangan yang mencoba menggapai sesuatu.


aku memejamkan mataku dan tertidur pulas di kasurku.


hanya dengan tidur aku dapat menghilangkan semua beban hidupku, hanya dengan tidur aku dapat meringankan pikiran.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


hah........aku terbangun karena mendengar ketukan pintu yang cukup keras dipintu depan apartemen ku.


aku melihat jam dihp ku, ternyata masih jam 5 sore.


aku berjalan menuju pintu untuk membukanya


"hai"


sudah kuduga, itu hikari-san.


aku menatap datar padanya dan menutup pintu.


"tu-tunggu"


dia menahan pintu dengan tangannya.


"ada apa lagi?!"


aku sedikit membentak nya.


"aku jauh-jauh kesini untuk melihatmu, tapi kau tak menghargai nya?"

__ADS_1


"huh....."


aku menghela nafas lalu membukakan pintu untuknya.


wangi, bau nya begitu wangi , dia pakai shampoo apa? kenapa begitu wangi?, apa semua wanita beraroma wangi seperti ini? tidak tidak tidak ini pasti hanya aromanya.


bukan hanya aromanya yang wangi, tapi wajahnya begitu menawan dan mempesona, kalau dia tak memperlihatkan sifat aslinya mungkin aku sudah jatuh cinta setengah mati padanya.


Hikari-san masuk ke apartemen ku dan duduk dikursi tengah, dia meletakkan Kantong plastik hitam di atas meja, lalu dia mengeluarkan yang ada dalam kantong plastik itu.


"nih"


hikari-san memberiku sebuah daging mentah.


"apa ini?"


"daging"


"maksudku, untuk apa ini?"


"dimakan"


"..... maksudnya"


"kau lapar bukan? ayo bantu aku memasaknya"


hikari-san mengikat rambutnya jadi ponytail dan memakai celemek yang dia bawa.


sial, kenapa dia begitu manis? dengan penampilan biasa saja dia sangat manis, apalagi dengan penampilan ponytail nya, dia seperti bidadari.


"kau masak nasi, urusan daging serahkan padaku"


"b-baiklah"


aku langsung memasak nasi seperti yang diperintahkannya.


kenapa hikari-san begitu baik padaku? padahal aku sudah menolaknya beberapa kali, kenapa dia terus menerus berbuat baik padaku?


"ini kamar atau kandang kuda?"


hikari-san menunjuk kearah kamarku yang berantakan seperti kandang kuda.


"ayo bantu membersihkan kamarmu"


kami berdua membersihkan kamarku, mulai dari buku yang tergeletak dimana-mana sampai noda tinta dan debu dibersihkan semua olehnya.


aku melihat sebuah kertas tergeletak diatas lantai dan aku ingin membuangnya tapi aku tak sengaja memegang tangan hikari-san yang juga ingin mengambil kertas itu.


heh? apa ini tangan seorang wanita?tangannya begitu lebut dan mungil, apa ini yang dinamakan tangan wanita? tapi ini seperti tangan bidadari.


aku melihat pada hikari-san, wajahnya berubah jadi merah padam. seketika aku melepaskan tangannya dan meloncat mundur.


"ma-maaf"


nada bicara ku terdengar aneh karena grogi.


tapi sepertinya hikari-san tidak terlihat marah, hikari-san pergi ke dapur memeriksa masakannya tadi.


setelah beberapa menit menunggu nasi yang kumasak sudah matang, kami berdua makan bersama diatas meja yang sama.


rasanya seperti mempunyai keluarga, apa kelak aku bisa punya kelurga sendiri?


"bagaimana?"


hikari-san menanyakan rasa masakannya, dia melihatku seperti orang ketakutan.


aku mengambil satu sendok masakannya lalu memakannya.


untuk beberapa saat aku terdiam menatap kosong kedepan, masakannya begitu lezat sampai membuatku terdiam.


"bagaimana?"


tanya hikari-san.


"i-ini enak"


aku mengambil lagi, lagi, lagi dan lagi makanan yang dia masak.


kenapa bisa selezat ini?apa dia memasukkan sesuatu ke dalam nya?ah siapa peduli yang penting ini enak.


aku menyantap makanannya hingga habis, hikari-san melihatku dengan senyum.

__ADS_1


"kau sangat hebat dalam memasak, hikari-san"


mungkin dengan memujinya tidak akan cukup, kurasa aku juga harus membalasnya tapi bukan sekarang.


"yosh waktunya aku pulang"


hikari-san mengambil barang-barangnya dan pamit pulang.


saat dia ingin keluar dari pintu aku memegang tangannya, dengan malu aku menundukkan kepalaku.


"apa tak bisa lebih lama?"


gumamku dan melepaskan tangannya.


aku tak berani menatap wajahnya ,rasa Malu ku mengalahkan keinginanku.


hikari-san berjalan pergi pulang, dengan lambat dia berbalik dan melambaikan tangannya padaku.


"kau bisa memanggilku miya, Keita!"


setelah mengatakan itu dia menutup wajahnya dengan tas lalu berlari pergi.


hoi hoi, apaan itu tadi? itu seperti pengakuan cinta.


jantungku rasa ingin lepas mendengar perkataannya.


dengan senyum aku kembali masuk dan menghayalkan sesuatu.


...XXX...


hari ini adalah hari pertama ulangan semester, aku sama sekali tidak belajar karena sibuk bekerja.


kami sekelas menunggu guru yang akan jadi pengawas kami.


guru pengawas kami masuk membawa lembar soal.


lembaran itu dibagikan pada tiap-tiap murid.


"hmm, sebelum dimulai yang bernama Yuki Keita tolong keluar"


apa? dengan panik aku berdiri dan bertanya kenapa aku disuruh keluar.


"kenapa aku disuruh keluar?"


"disini tertulis kau belum bayar SPP ,jadi kau tak bisa ikut ujian, silahkan temui wali kelas"


hah? alasan macam apa itu? apa harus membayar SPP dulu agar bisa ujian?


dengan pasrah aku keluar dari kelas, murid-murid didalam semuanya men teriaki dan menertawakan ku.


setelah berunding dengan wali kelasku, akhirnya aku bisa ikut ujian, tapi dengan syarat aku harus bayar SPP secepat mungkin.


marah ,sedih, pasrah, bercampur aduk dalam satu.


aku kembali ke kelas dan semuanya telah selesai, aku akan ikut ujian susulan.


salah satu murid yang duduk disampingku menatap jijik padaku, dengan emosi saat ini aku tak perduli.


melihatku yang tak peduli dengannya, pria itu berjalan kedepanku lalu memukul mejaku dengan kedua tangannya.


"kau ini, padahal kau miskin kenapa kau punya pacar yang cantik? oh apa jangan-jangan kau memakai pelet. ya ya kau pasti memakai nya"


pria itu menertawai ku lalu meretakkan satu kakinya diatas mejaku.


sebisa mungkin aku menahan emosi ku tapi pria ini terus-menerus mengoceh didepanku.


diluar aku melihat hikari-san berdiri melihat ku.


"lebih baik kau mati saja"


pria itu berdiri diatas kursi dan menginjak kepala ku. tidak, ini sudah sampai batasnya


aku memegang kaki pria yang menginjak kepalaku lalu menariknya jatuh.


pria itu terjatuh cukup keras, kepalanya terbentur kekursi yang dinaikinya, dengan emosi aku memukul wajahnya.


orang-orang disekitar mencoba melerai kami.


tak sengaja aku melihat hikari-san berdiri didepan pintu kelasku, aku berjalan mendekati nya lalu berkata


"izinkan aku bergabung"

__ADS_1


aku menatap marah padanya


...TBC...


__ADS_2