Ketulusan Cinta Sang Cassanova

Ketulusan Cinta Sang Cassanova
04.Ternyata Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Tringgggg....


Seketika Rania mengambil ponselnya dan melihat nama pemanggil yang ternyata asisten papanya.


"Tumben sekali kak Sams menelponku ada apa ya" batin Rania sambil mengeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo kak Sams ada apa?"tanya Rania penasaran


"Emmm,, tu-tuan dan nyo-nyonya..."


"Ada apa kak Sams sama papa dan mama? tenang saja aku sedang menuju lokasi yang sudah mama kirim padaku, apa mereka menanyakannya pada kak Sams, sebentar lagi aku akan sampai" ucap Rania memotong pembicaraan Sams.


"Hahhhh,,, bukan itu nona Rania, maafkan saya,, dimana nona sekarang berada biar saya jemput saja"Sams tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Rania Sams memilih untuk bertemu Rania terlebih dahulu.


"Saya sedang menuju tempat yang mama janjikan"jawab Rania dari seberang telepon.


"Baiklah sebaiknya nona kemari aku akan mengirimkan lokasinya"ucap Sams sedikit takut akan pertanyaan yang akan dilontarkan Rania dan langsung memutuskan panggilannya.


"Hahh?? kak Sams memutus panggilannya, dan mengapa dia mengubah tujuanku" gerutu Rania sambil menepikan mobilnya.


Kringgg..


Bunyi ponsel Rania kembali membuat Rania menatap layar ponselnya.


"Haahhh ini kan rumah sakit milik mama, kenapa kak Sams menyuruhku kesini,,, ahhh ya sudahlah mungkin ini sebagian dari kejutan mama" ucap Rania dalam hati setelah ia menerima pesan yang ternyata dari Sams.


Rania melajukan kembali mobil milik papanya menuju rumah sakit milik mamanya.


"Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini, apa ada sesuatu yang terjadi, kenapa semakin aku dekat dengan rumah sakit semakin aku gelisah, semakin aku tidak tenang,, baiklah aku harus berfikir positif" batin Rania sambil menarik nafas dan membuangnya guna untuk menenangkan dirinya.


"Kak Sams" panggil Rania setelah ia memarkirkan mobil dan ternyata Sams telah menunggunya di pintu masuk.


"Nona Rania" Sams sedikit takut dan panik, serta wajahnya terlihat pucat sepertinya sedang sedih.


"Kak, mama dan papa ada disini ya dimana mereka aku ingin menemuinya, kenapa mereka memberiku alamat lain tadi jika mereka ada disini, apa mereka menipuku" ucap Rania.


"Maaf nona memang sebenarnya nyonya dan tuan sedang menuju lokasi yang nona maksud namun..."


Tiba-tiba tante Vira dan Karin menghampiri dan memotong pembicaraan Sams.


"Sayang mama papa kamu,,,"ucap Vira memeluk Rania dan menangis, begitu juga dengan Karin memeluk Rania dan ikut menangis.


" Sebenarnya ada apa?" tanya Rania dan melepas pelukan mereka.


"Rania, dengarkan kakak tenangkan hatimu, kuatkan dirimu,,, sebenarnya tuan dan nyonya tidak menipumu, mereka tadi mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit ini dan... "


"Sekarang dimana papa dan mama, ayo kak antar aku kesana" ucap Rania memotong pembicaraan Sams, air matanya sudah mengucur deras dia sungguh tidak sanggup mendengar bahwa papa dan mamanya mengalami kecelakaan.


"Rania sayang, tante tau ini berat tapi,, "


"Kak Sams, ayo antar aku menemui papa dan mama" ucap Rania sambil menarik tangan Sams dan sama sekali tidak menghiraukan tante Vira dan Karin.

__ADS_1


Rania berjalan dengan cepat sambil menarik tangan Sams.


"Kak, dimana ruangannya kenapa kakak dari tadi diam saja, ayo beritahu aku apa kak Sams mau aku laporin sama papa? "ancam Rania dengan air matanya yang tiada henti.


"Baiklah berhenti menarikku seperti ini, ayo ikuti aku"ucap Sams.


Rania mengikuti langkah kaki Sams dari belakang, sesekali ia menyeka air matanya yang terus mengalir.


"Kak Sams, mengapa mengajakku ke ruangan ini? "Rania menghentikan langkahnya dan menarik tangan Sams.


"Bukannya nona Rania ingin bertemu dengan tuan dan nyonya? "tanya Sams dengan wajah sedih yang tidak dapat ia sembunyikan lagi.


"Iya tapi jangan mengajakku kesini, aku mau keruangan papa dan mama, diruang mana mereka dirawat?"tanya Rania lagi dengan suara gemetar.


"Ini ruangannya Rania" ucap Sams dan memanggil Rania dengan sebutan nama saja.


"Tidak kak, jangan mengajakku kesini ayo antar aku menemui papa dan mama" Rania menarik tangan Sams untuk menjauh dari ruangan itu, ruangan yang ditakuti Rania yang bertuliskan ruangan jenazah.


"Rania gak mau kak Sams berbohong, antarkan aku menemui mama dan papa"seketika tangis Rania pecah saat Sams mengatakan bahwa Zacson dan Nadya berada di ruang mayat.


"Rania dengarkan kakak, belajarlah ikhlas terimalah kenyataan, kakak tau ini berat tapi ini sudah takdir"Sams berbicara kepada Rania bagai seorang kakak dan adik, ia memeluk Rania untuk menenangkannya.


''Rania sayang,," tante Vira dan Karin menghampiri Rania dan Sams.


"Rania dengarkan tante, tante juga merasa sedih dengan ini semua, bagaimana pun Nadya itu adalah adik tante,tante benar-benar kehilangan, kita kehilangan sayang" Vira memeluk Rania setelah Sams melepas pelukannya dari Rania, begitu juga Karin langsung memeluk mama dan sepupunya.


Hikss,,,,hikssss,, hanya suara tangis yang terdengar dari mulut Rania dia tidak mampu berkata-kata, dan seketika dia berteriak dan berlari kedalam ruangan tersebut. Sams yang melihat Rania segera berlari mengejar Rania.


"Rania" Sams tidak tau harus berbuat apa lagi dia hanya mampu memeluk Rania.


"Kak Sams, inikah kejutan papa dan mama?? inikah yang dijanjikan padaku,,, inikah keanehan yang aku lihat pada papa dan mama dua hari belakangan ini? "tutur Rania dalam isaknya.


"Dokter,,, dimana dokter yang menangani mama"ucap Rania sambil melepas pelukan Sams dan berlari ke luar ruangan.


Vira dan Karin hanya diam saja menangisi Zacson dan Nadya, mereka tidak mampu untuk menenangkan Rania.


"Dokter,,, dokter,,, " Rania teriak-teriak memanggil dokter sambil terisak.


"Iya Nona Rania" jawab seorang dokter yang menghampiri Rania.


"Dokter mana yang menangani mama dan papaku? "tanya Rania dengan sedikit berteriak.


"Sa-saya nona"ucap dokter Pian yang merupakan dokter kepercayaan keluarga Zacson.


"Kenapa kamu tidak bisa menolong papa dan mamaku, apakah kamu sudah bosan bekerja disini?" Tangis Rania semakin menjadi-jadi.


"Maafkan saya nona, tuan dan nyonya tidak dapat saya selamatkan saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun takdir berkata lain Tuhan lebih sayang kepada tuan dan nyonya"ucap dokter Pian dengan sedih.


"Apa gunanya kamu seorang dokter hahh??? kamu tidak bisa menyelamatkan nyawa orang, bahkan kamu tidak bisa menyelamatkan nyawa mamaku, kamu membiarkannya meninggal, kamu membunuh papa dan mamaku, kamu tidak becus,,,sekarang pergilah tinggalkan rumah sakit ini kamu tidak pantas menjadi dokter"Rania terkulai lemas serasa lututnya tidak mampu menahannya untuk berdiri sehingga ia hampir saja terjatuh ke lantai, namun Sams langsung menangkapnya dan menggendongnya.


"Tuan Sams maafkan saya, saya tidak mau dipecat saya sangat membutuhkan pekerjaan ini"dokter Pian memohon pada Sams.

__ADS_1


"maaf dokter Pian sebenarnya bukan hak saya untuk memberi anda kesempatan, tetapi tenanglah bahwa nona Rania tidak bersungguh-sungguh mengatakan hal itu, nona Rania hanya merasa sedih dan terpukul saja karena kehilangan kedua orangtuanya secara bersamaan" ucap Sams pada dokter Pian.


"Dan saya juga paham ini bukan kesalahan dokter Pian, ini adalah takdir, Tuhan telah menggariskan takdir tuan dan nyonya sampai disi saja"ucap Sams sambil menatap Rania dalam gendongannya dan berlalu meninggalkan dokter Pian.


***


"Apakah kamu sudah merasa baikan? "tanya Sams saat Rania telah sadar.


Rania mengangguk dan menangis lagi.


"Rania dengarkan kakak, kakak tau ini sangat berat tapi kamu harus mampu menerimanya, kamu tau tuan dan nyonya sangat menyayangimu mereka tidak ingin kamu menangis. Tuan juga pernah berpesan agar aku tidak membiarkanmu menangis bila dia tidak dekat denganmu, lalu apakah kamu ingin dia kecewa karena melihatmu menangis, dan apakah kamu tidak kasihan pada kakakmu ini karena gagal menjagamu, dan satu lagi akankah kamu tetap bersedih sampai kita mengantarkan tuan dan nyonya ke tempat peristirahatan terakhirnya, tidak inginkah kamu tersenyum untuk mereka? " Sams berusaha membujuk Rania agar tidak menangis lagi.


"Ya kak, aku ingin teraenyum untuk papa dan mama" ucap Rania sambil menyeka air matanya dan tersenyum pada Sams.


"Bagus, inilah yang tuan Zacson inginkan" Sams membawa Rania kedalam pelukannya lagi.


"Papa, mama apakah ini nyata apakah aku benar-benar kehilangan kalain berdua,,, untuk selamanya


apakah kalian akan bahagia tanpa aku? kenapa kalian tidak mengajakku bahkan aku sangat ingin ikut dengan kalian, inikah alasan papa untuk menolakku satu mobil dengan kalian waktu itu, inikah kejutan itu" Rania melontarkan semua isi hatinya sambil memeluk nisan Zacson dan Nadya.


Sams yang melihat Rania benar-benar merasa sakit sungguh dia tidak ingin melihat Rania yang sekarang ini, Rania yang dulu selalu ceria tersenyum, swkarang terlihat sangat lemah dan sangat menyedihkan.


"Rania, sudahlah biarkan papa dan mamamu bahagia di alamnya ucap Vira dan mengelus punggung Rania.


"Iya Rania kakak juga sangat sedih dengan kepergian om dan tante, tapi walau bagaimana pun kita harus tetap kuat, kita harus menerima takdir" Karin memeluk Rania dan diikuti oleh Vira, kini mereka bertiga saling berpelukan.


"Ayo sayang kita pulang" ajak Vira.


"Tante dan kak Karin duluan saja, aku masih ingin disini"


"Baiklah tapi kamu jangan lama-lama ya"


"Iya tante"


"Pak Sams, tolong jaga keponakan saya"pinta Vira


Dan sams pun mengangguk.


Tante Vira dan Karin pun pergi meninggalkan Rania dan Sams.


"Papa, mama aku sendiri, dan aku tidak mampu hidup sendiri kembalilah mama papa" Rania kembali menangis di makam kedua orangtuanya.


"Rania sudahlah bukankah kamu tadi sudah berjanji untuk tidak menangis lagi, tersenyumlah untuk papa dan mamamu, mereka pasti akan sangat bahagia.


"Kak Sams, teman-teman aku bilang kalau akau sangat beruntung hidup dengan kemewahan, semua aku miliki, semua aku mampu untuk membelinya, bahkan mereka kadang iri denganku karena aku memiliki segalanya. Tetapi mereka tidak tau aku saat ini benar-benar kehilangan, Kak Sams bolehkag semua yang aku miliki saat ini di tukar dengan kedua orangtuaku? " Rania benar-benar sangat terpukul.


"Rania sudahlah ini sudah jalan Tuhan belajarlah menerima kenyataan dan tetaplah bersyukur atas apa yang kamu miliki, belajarlah untuk ikhlas.


"Iya kak, aku akan ikhlas papa dulu mengajarkan aku untuk ikhlas dan papa bilang ikhlas itu menyejukkan hati walau awal sangat sulit namun akhirnya akan menyenangkan, aku harus bisa berdamai dengan keadaan" ucap Rania dan memeluk Sams.


"Papa, mama ternyata hari ini adalah hari terakhir pertemuan kita,, selamat jalan mama, selamat jalan papa tenanglah di alam sana aku pasti sangat merindukan kalian, kalian juga akan merindukanku bukan, bahagialah disana aku juga akan bahagia disini Love you mama, papa"ucap Rania dan mengajak Sams untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2