
Siang itu Vira dan Karin berkunjung ke rumah Rania dengan alasan mencemaskan keadaan Rania yang tak kunjung membaik.
"Rania sayang,, ada apa denganmu mengapa kamu seperti ini?" tanya tante Vira dengan lembut sambil mengelus rambut Rania.
"Aku tidak apa-apa, dan siapa yang mengizinkan tante masuk ke dalam rumahku? " ucap Rania dengan ketus sambil menyingkirkan tangan Vira.
"Rania,,,," panggil Karin sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kak Karin"Rania yang melihat Karin di depan pintu segera beranjak dan memeluk Karin.
"Mengapa kakak baru datang kemari, lama sekali mengunjungiku" cibir Rania.
"Maafkan kakak sayang, kamu tahu kakak sibuk di rumah sakit milik tante Nadya dan lagi kamu tidak mau membantuku" Karin memasang muka masamnya.
"Kak Karin ihhh" Rania memeluk Karin lagi.
"Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya dia berkata kasar denganku dan mengabaikanku begitu saja"batin Vira sambil melihat anak dan keponakannya tertawa bahagia.
"Sudah-sudah, ayo kita makan mama sudah lapar"ucap tante Vira mengakhiri candaan mereka.
***
Selama mereka makan hanya canda tawa Karin dan Rania yang terdengar, Sams yang memperhatikan hal itu pun tersenyum dia berfikir bahwa Karin lah yang mampu membuat Rania kembali tersenyum dan mau makan seperti saat ini.
"Hemmmm,,, masakan bi Inar emang sangat lezat, aku akan sering-sering datang kesini untuk menikmatinya"ucap Karin setelah makanan dalam piringnya habis.
"Nona Karin bisa saja" ucap bi Inar yang mendngar pujian Karin.
Setelah menyelesaikan makannya tante Vira dan Karin pamit pulang. Rania dan Sams mengabtar mereka sampai depan pintu.
"Rania, kakak pulang dulu ya"ucap Karin seraya merangkul Rania.
"Iya sayang, Karin dan tante pamit pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kamu boleh menghubungi tante"kata Vira berusaha bersikap manis di depan Rania dan Sams.
"Baiklah kak Karin, tante hati-hati di jalan dan sering-seringlah kemari aku butuh kak Karin" Rania bersikap manja.
"Baiklah adikku sayang kami pamit dulu, mari Sams"ucap Karin seraya tersenyum pada Sams, dan Sams pun membalas senyuman itu.
Tanpa menunggu Karin dan Vira pergi, Rania langsung masuk ke dalam dan menuju kamarnya.
Sams yang melihat tingkah Rania yang seperti mengabaikannya menghembuskan nafas kasar di udara.
"Ehh,, Karin"panggil Sams saat Karin akan masuk ke dalam mobilnya.
"Iya Sams ada apa? "tanya Karin setelah menoleh ke arah Sams.
__ADS_1
"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? "ucap Sams sedikit kikuk dengan permintaannya.
"Owh,, tentu boleh"ucap Karin seraya menyerahkan ponselnya.
Sams langsung menyalinnya, dan mengembalikan kembali ponsel Karin.
"Ini ponsel kamu makasih ya, nanti aku hubungi" ucap Sams.
"Iya,,, Byee" Karin melambaikan tangannya dan Sams hanya mengangguk senyum saja.
*********
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu? "tanya Vira pada putrinya Karin, karena sedari tadi setelah pulang dari kediaman Rania, Kaein nampak senyum-senyum sendiri.
"Hemmm,,, tidak apa-apa, aku hanya senang saja saat bertemu Rania, sepertinya dia sangat bahagia saat kita mengunjunginya"kata Karin.
"Hmmm yaa,, tapi mama sangat muak dengannya kamu tahu dia sangat menyebalkan andai saja aku bisa menamparnya sudah aku tampar pipinya habis-habisan" Vira meluapkan isi hatinya pada Karin yang sudah ia tahan sejak berada di rumah Rania.
"Sudahlah ma, wajar saja Rania tidak suka dengan mama mengingat sikap mama yng tidak baik padanya sejak dulu" Karin membela Rania.
"Kau membelanya, tidak peduli kah kamu pada mamamu ini yang tidak dianggap sama sekali? " Vira kesal.
"Bukan begitu ma, tapi,,, ya sudahlah kita tidak perlu membahas itu lagi" Karin memilih untuk mengalah daripada harus berdebat dengan mamanya, dan dia kembali tersenyum sambil memeluk ponselnya.
"Karin apa kamu sedang jatuh cinta? "tebak Vira.
"Sudahlah Karin, mama sudah lama mengenalmu mama yakin kamu pasti sedang jatuh cinta, pada siapa??"
"Rahasia, mama benar aku sedang jatuh cinta, tapi untuk namanya akan menjadi rahasia"
"Tidak ada rahasia sekalipun kamu tidak menyebutkan namanya, mama sudah tahu siapa lelaki yang membuat putri mama seperti ini, pasti Sams kan? "
Seketika mata Karin terbelalak dan membuang muka ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Vira.
"Ada apa karin, apa mama benar? "
"Tidak ma Karin tidak jatuh cinta padanya"sangkal Karin dengan terbata.
"Mama sudah tahu, karena semenjak dia datang ke rumah sakit mengantar Rania mama sudah melihat tatapanmu, bahkan saat pemakaman Zacson dan Nadya kamu tak sedikit pun berpaling menatapnya" jelas Vira yang merasakan keanehan sejak itu.
"Mama,, "
"Sudah, mama tidak melarangmu jika kamu menyukainya mama akan mendukung".
"Benarkah,,, terimakasih ma, mama sangat pengertian "Karin memeluk Vira dengan sangat senangnya.
__ADS_1
********×********
"Rania, bagaimana rencana hari ini, apakah kita jadi ke kantor" tanya Sams, saat Rania menghampirinya di meja makan.
"Tentu saja, aku sudah sangat ingin mengunjungi kantor papa, kak Sams bagaimana dengan penampilanku apakah sudah rapi?"tanya Rania sambil berputar di depan Sams.
"Ya perfect" ucap Sams singkat dan kembali fokus pada sarapannya.
"Kak Sams apakah aku sudah terlihat cantik?"tanya Rania lagi.
Sams terbatuk-batuk saat Rania menanyakan hal itu.
"Kak Sams ini airnya, makannya pelan-pelan saja"Rania menyodorkan air pada Sams.
"Ya kamu sudah sangat cantik, duduklah dan nikmati sarapanmu jika kamu tidak ingin terlambat" Sams tidak memandang Rania sama sekali.
"Huhhh menyebalkan, memang manusia sekarang sangat berbeda dengan yang aku harapkan, semua aneh" gerutu Rania sambil mendudukkan bikongnya di kursi yang berhadapan
"kenapa dia cantik sekali, padahal aku sudah berusaha menghapus perasaanku padanya, Sams tahan dirimu sadarlah dia bukan untukmu, dia adikmu bersikaplah biasa saja jangan grogi dan gugup seperti ini, please" batimn Sams yang salah tingkah saat Rania meliriknya.
"Makanlah, jangan memandangku kamu harus makan banyak, bukankah kamu sudah lama tidak makan" Sams berusaha menutupi rasa gugupnya saat mata indah Rania menatap matanya.
''Aku tidak lapar kak" Rania mengaduk-aduk makanannya.
"Makanlah kemarin kamu sangat lahap makannya" bujuk Sams.
"Ya sepertinya jika ada kak Karin aku akan makan dengan lahapnya, tapi tidak dengan tante" ucap Rania.
"Ada apa dengan tante Vira?"tanya Sams.
"Ntahlah aku sangat tidak menyukainya,berbeda dengan kak Karin aku senang jika ada dia".
"Baiklah nanti aku akan meminta Karin kemari, tapi sekarang kamu makan dulu, karena kita harus berangkat ke kantor"titah Sams.
"Hmm,,, tapi bolehkah kak Sams menyuapiku? "pinta Rania.
Mendengar permintaan Rania membuat Sams semakin salah tingkah, dia benar-benar ingin segera pergi dari Rania, sungguh dia tidak sanggup jika dekat dengannya.
"Kak Sams kenapa, kok diam apa kakak tidak mau? ya sudah aku tidak perlu makan, aku sangat malas"Rania hendak beranjak namun Sams menghentikannya.
"Kemarilah duduk di sebelah kakak, kakak akan menyuapimu"ntah keputusan apa yang diambil Sams dia benar-benar salah tingkah.
Rania beranjak dan duduk dekat Sams.
Sams menyuapi Rania dengan jantung yang berdegup kencang, seakan-akan ingin segera terbang dan berlalu dari hadapan Rania.
__ADS_1
"Sudah kakak tunggu kamu di mobil, kamu lqnjut makannya sendiri" ucap Sams setelah menyuapi Rania beberapa sendok makanan dan ia beranjak pergi meninggalkan Rania, karena dia sudah tidak kuat dengan perasaannya sendiri.