
Poirot menengok arlojinya. Kami menangkap isyaratnya. Sudah disetujui bersama bahwa kami akan berjaga sehari penuh, pagi hari mengawasi sebanyak mungkin jalan, dan setelah itu menempatkan diri kami di berbagai tempat di dalam gelanggang pacuan.
Aku menyebut ”kami”. Tentu saja, bagiku peng- awasan itu tidak akan berarti banyak sebab aku sendiri belum pernah melihat ABC. Namun demikian, karena maksudnya adalah untuk berpencar dan mengawasi daerah seluas-luasnya, aku menyarankan agar sebaiknya aku menemani salah satu dari gadis-gadis itu.
Poirot setuju kurasa, dengan kedipan mata yang mengisyaratkan sesuatu.
Gadis-gadis itu pergi untuk memakai topi mereka. Donald Fraser berdiri di dekat jendela sambil menatap ke luar, jelas sekali dia sedang terpaku pada pikirannya.
Franklin Clarke menoleh kepadanya, nyata sekali dia menyadari bahwa Donald Fraser terlalu bingung untuk diajak ngobrol, lalu dengan sedikit merendahkan suara dia berbicara kepada Poirot.
”Maaf, Mr. Poirot. Saya tahu Anda pergi ke Churston dan bertemu ipar saya. Apakah dia mengatakan, atau mengisyaratkan maksud saya apakah dia sama sekali tidak menyebutkan?”
Dia diam, kelihatan malu.
Poirot menjawab dengan wajah polos tak berdosa, sehingga justru membangkitkan kecurigaanku.
”Comment? Apa? Ipar Anda mengatakan atau mengisyaratkan apa maksud Anda?”
Wajah Franklin Clarke memerah.
”Mungkin Anda merasa ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal-hal pribadi”
”Du tout sama sekali tidak!”
”Namun saya kira sebaiknya saya berterus terang mengungkapkan semuanya.”
”Tindakan yang pantas dihargai.”
Kurasa kali ini Clarke mulai mencurigai wajah polos Poirot yang agaknya menyembunyikan sesuatu di baliknya. Dia meneruskan dengan susah payah.
”Ipar saya seorang wanita yang amat baik hati. Saya selalu sayang padanya. Tetapi tentu saja dengan sakitnya yang agak lama dan penyakit semacam itu terlalu banyak diberi obat-obatan dan sebagainya, seseorang cenderung untuk yah, membayangkan berbagai hal tentang orang lain!”
”Ah?”
Kini tak salah lagi, ada sinar di mata Poirot.
Tetapi Franklin Clarke yang terlalu sibuk memilih kata-kata tidak memperhatikan hal itu. ”Ini mengenai hora Miss Grey,” ujarnya.
__ADS_1
”Oh, jadi Anda berbicara mengenai Miss Grey?” nada bicara Poirot menunjukkan seolah-olah dia benar- benar kaget.
”Ya. Lady Clarke mempunyai dugaan-dugaan dalam benaknya. Anda tahu hora Miss Grey, hm, adalah seorang gadis yang cukup cantik”
”Mungkin ya,” Poirot mengakui.
”Dan wanita, yang terbaik sekalipun, selalu agak bawel mengenai wanita lain. Tentu saja hora amat berarti bagi saudara saya. Dia selalu berkata bahwa hora adalah sekretaris terbaik yang pernah membantunya dan ia juga amat menyukainya. Tetapi benar- benar hanya kepolosan semata dan ketulusan hati yang murni. Maksud saya, hora bukanlah jenis gadis”
”Bukan?” kata Poirot membantu.
”Tetapi dalam pikiran ipar saya yah ada rasa cemburu, saya rasa. Memang dia tidak pernah menunjukkan hal itu. Tetapi setelah kematian Car, bila mana sampai pada percakapan mengenai Miss Grey apakah dia boleh terus tinggal hm, Charlotte dengan kasar memotongnya. Tentu sebagian karena penyakitnya, pengaruh morfin, dan sebagainya Suster Capstick mengatakan begitu, katanya kami tidak boleh menyalahkan Charlotte karena berpikir yang tidak-tidak”
Dia diam sejenak. ”Lalu?”
”Saya ingin Anda mengerti, Mr. Poirot, bahwa tidak ada apa-apa di balik itu semua. Cuma sekadar angan-angan seorang wanita yang sakit. Cobalah lihat” Dia meraih kedalam sakunya, ”ini surat yang saya terima dari saudara saya pada waktu saya berada di Malaya. Saya ingin Anda membacanya karena ini menunjukkan bagaimana hubungan mereka sebenarnya.”
Poirot mengambilnya. Franklin mendekat ke sisinya dan sambil menunjuk dengan jarinya dia membaca sebagian kutipan dengan suara keras.
..."semuanya berjalan seperti biasa. Charlotte sudah cukup baik tak begitu sakit lagi. Aku berharap dapat lebih banyak mengungkapkannya. Kau mungkin ingat hora Grey?...
...Dia seorang gadis yang baik dan banyak memberikan ketenangan padaku lebih daripada apa yang dapat kukatakan padamu. Aku pasti tidak tahu apa yang akan kulakukan dalam masa-masa sulit ini bila tidak ada dia. Dia terus memberikan simpati dan perhatian. Selera nya tinggi dan dia memiliki pengamatan tajam akan barang-barang bagus dan dia juga menyukai barang barang kesenian Cina. Aku memang mujur menemu kannya. Anak perempuan pun belum tentu bisa menjadi teman yang begitu dekat dan penuh perhatian. Hidupnya sulit dan tidak selalu bahagia, namun aku senang bahwa dia seakan memiliki rumah sendiri, juga kasih sayang"....
”Ingat, ipar Anda sedang sakit dan menderita.” ”Saya tahu. Itulah yang selalu saya katakan pada diri
saya sendiri. Kita tidak boleh menyalahkannya. Namun demikian, saya pikir saya harus menunjukkannya pada Anda. Saya tak ingin Anda mempunyai kesan yang salah tentang hora melalui apa pun yang telah dikatakan Lady Clarke.”
Poirot mengembalikan surat itu.
”Saya jamin,” katanya tersenyum, ”saya takkan mempunyai kesan yang salah atas apa yang dikatakan orang. Saya punya pertimbangan-pertimbangan sendiri.”
”Baiklah,” ujar Clarke sambil menyimpan surat itu, ”saya senang telah menunjukkannya pada Anda. Gadis-gadis itu sudah datang. Sebaiknya kita berangkat.”
Pada saat kami meninggalkan ruangan, Poirot memanggilku kembali.
”Kau tetap berkeinginan untuk ikut dalam ekspedisi ini, Hastings?”
”Oh, ya. Aku pasti tidak suka duduk di sini berpangku tangan saja.”
__ADS_1
”Ada kegiatan otak selain kegiatan badan, Hastings.” ”Ah, kau lebih ahli dalam hal itu daripada aku,”
kataku.
”Memang betul begitu, Hastings. Benarkah kau ingin menjadi pengawal salah satu gadis-gadis itu?”
”Memang itu maksudnya.”
”Dan gadis mana yang kaucalonkan untuk mendapatkan kehormatan kautemani?”
”Wah aku hm belum memikirkannya.” ”Bagaimana kalau Miss Barnard?”
”Tampaknya dia gadis yang mandiri,” kataku berkeberatan.
”Miss Grey?”
”Ya. Lebih baik dia.”
”Kurasa, Hastings, kau benar-benar jujur, meskipun terlalu kentara! Dari semula kau sudah memutuskan untuk melewatkan harimu bersama malaikat pirangmu!”
”Oh, benarkah, Poirot?”
”Maaf kalau aku mengacaukan rencanamu, namun aku terpaksa memintamu mengawal yang lain.”
”Oh, baiklah. Kurasa kau pun jatuh hati pada si gadis boneka Belanda itu.”
”Orang yang harus kau kawal adalah Mary Drower dan kuminta kau tidak meninggalkannya.”
”Tetapi mengapa, Poirot?”
”Sebab, Kawan, namanya dimulai dengan huruf D. Kita tidak boleh mengambil risiko.”
Kurasa pernyataannya masuk akal. Semula tampaknya sukar dimengerti. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa apabila ABC membenci Poirot dengan begitu fanatik, dia pasti mengawasi semua gerak-gerik Poirot. Dan dalam hal ini pembunuhan atas Mary Drower bisa merupakan pukulan keempat yang berhasil.
Aku berjanji untuk setia pada kepercayaan yang diberikan kepadaku.
Aku pergi meninggalkan Poirot yang duduk di kursi dekat jendela.
__ADS_1
Di depannya ada alat permainan rolet. Dia memutarnya pada saat aku melewati pintu dan dia berteriak kepadaku,
”Merah pertanda baik, Hastings. Kemujuran berbalik!”