Killing Murder

Killing Murder
30. Di Scotland Yard II


__ADS_3

Ada daftar orang-orang yang ditawarinya stocking. Dia melakukannya dengan teliti. Menginap di Pitt, sebuah hotel kecil dekat Stasiun Torre. Kembali ke hotel jam 22.30 di malam terjadinya pembunuhan. Mungkin naik kereta api dari Churston jam 22.05, sampai di Paignton jam 22.15. Tak ada seorang pun melihat orang seperti yang digambarkan di kereta api atau stasiun, akan tetapi hari Kamis itu adalah hari Dartmouth Regatta dan kereta api yang kembali dari Kingswear penuh sesak.


”Di Bexhill sama saja. Menginap di Globe dengan namanya sendiri. Menawarkan stocking kepada kira-kira selusin alamat, termasuk Mrs. Barnard dan Ginger Cat.


Meninggalkan hotel sebelum malam. Tiba kembali di London kira-kira pukul 11.30 keesokan harinya. Akan halnya Andover, caranya juga sama. Menginap di Feathers. Menawarkan stocking kepada Mrs. Fowler, tetangga dekat Mrs. Ascher, dan kepada setengah lusin orang-orang lain di jalan tersebut. Sepasang stocking kepunyaan Mrs. Ascher yang saya dapatkan dari ke- ponakannya (bernama Drower) identik dengan barang yang dijual Cust.”


”Sampai kini semuanya beres,” ujar Asisten Komi-saris.


”Bertindak sesuai dengan informasi yang diterima,” kata Inspektur, ”saya mendatangi alamat yang diberikan pada saya oleh Hartigan, tetapi Cust sudah meninggalkan rumah kira-kira setengah jam sebelumnya. Saya diberitahu bahwa dia menerima telepon. Pertama kalinya dia menerima telepon sejak dia tinggal di rumah itu, begitu kata pemilik pondokan kepada saya.”


”Ada kaki-tangannya?” Asisten Komisaris menduga.


”Pasti tidak,” ujar Poirot. ”Sungguh aneh kecuali”


Kami semua memandangnya penuh tanda tanya pada saat dia berdiam diri.


Tetapi dia menggeleng, dan inspektur itu melanjutkan, ”Saya meneliti dengan cermat ruang yang dia pakai. Penggeledahan itu menghilangkan keraguan. Saya menemukan setumpuk kertas yang mirip dengan kertas tulis yang dipakai untuk surat-surat itu, kaus kaki dalam jumlah banyak dan di belakang lemari tempat kaus kaki itu disimpan sebuah bungkusan yang hampir sama bentuk dan besarnya, tetapi ternyata isinya bukan kaus kaki, melainkan delapan buku pan­ duan kereta api ABC yang masih baru!”


”Terbukti benar,” kata Asisten Komisaris.


”Saya menemukan barang lain juga,” kata inspektur itu suaranya tiba-tiba menjadi bangga penuh kemenangan. ”Baru menemukannya pagi ini, Pak. Belum sempat melaporkannya. Tak ada belati diketemukan dalam kamarnya”


”Suatu perbuatan tolol bila dia membawanya pulang,” tukas Poirot.


”Tapi dia adalah seorang pria yang tidak waras,” tukas inspektur itu. ”Tetapi menurut saya, mungkin dia telah membawanya pulang, tetapi menyadari bahayanya jika dia menyimpan benda itu (seperti yang dikatakan Mr. Poirot), lalu mencari tempat lain untuk menyembunyikannya. Di mana kemungkinan dia menyimpannya? Saya langsung tahu. Gantungan mantel di kamar depan tak seorang pun memindahkan gantungan mantel. Agak sulit, tetapi saya berhasil mengambilnya dari tembok dan benda itu ada di sana!”


”Pisaunya?”


”Ya, pisau. Darah kering masih menempel.”


”Kerja bagus, Crome,” kata Asisten Komisaris puas. ”Kurang satu lagi tugas kita.”


”Apa itu?”


”Orang itu sendiri.”


”Kita akan menangkapnya, Pak. Jangan khawatir.” Nada suara inspektur itu meyakinkan. ”Bagaimana, Mr. Poirot?”


Poirot tersentak dari lamunannya. ”Maaf?”

__ADS_1


”Kami mengatakan hanya soal waktu saja. Kita pasti akan berhasil menangkap orang itu. Anda setuju?”


”Oh, itu ya. Tidak ragu lagi.”


Nada suaranya begitu kabur sehingga orang-orang yang lain memperhatikannya dengan heran.


”Ada yang mengganggu pikiran Anda, Mr. Poirot?” ”Ada sesuatu yang amat saya khawatirkan. Soal


mengapa? Motifnya.”


”Tapi, Kawan, orang itu gila,” kata Asisten Komisaris tidak sabar.


”Saya mengerti maksud Mr. Poirot,” kata Crome membantu dengan ramah. ”Dia benar. Pasti ada suatu obsesi. Saya rasa kita akan menemukan akar persoalan, yaitu rasa rendah diri yang kuat. Mungkin juga ada kelainan jiwa, suka dengan penganiayaan, dan bila demikian mungkin dia menghubungkan Mr. Poirot dengan hal itu. Mungkin dia berkhayal bahwa Mr. Poirot adalah seorang detektif yang dibayar untuk memburunya.”


”Hm,” kata Asisten Komisaris. ”Itu istilah yang dipakai masa kini. Pada zaman saya, bila seseorang gila, dia benar-benar gila dan kita tidak mencari istilah-istilah ilmiah untuk menghaluskannya. Saya rasa dokter modern yang teliti akan menyarankan agar seseorang seperti ABC ditempatkan dalam rumah perawatan, dan selama empat puluh lima hari memujinya sebagai orang baik-baik, lalu melepaskannya sebagai seorang anggota masyarakat yang bertanggung jawab.”


Poirot tersenyum, tetapi tidak menjawab. Pertemuan itu bubar.


”Nah,” ujar Asisten Komisaris, ”menurut Anda, Crome, hanya soal waktu saja untuk menangkapnya.” ”Kita pasti sudah berhasil menangkapnya sekarang,” kata inspektur itu, ”kalau saja dia tidak tampak begitu biasa. Kita telah membuat cemas warga masyarakat biasa selama ini.”


”Saya sedang berpikir, di mana dia saat ini,” ujar Asisten Komisaris.


Ia memandang ke seberang jalan. Ya, itu dia. Mrs. Ascher. Agen surat kabar dan penjual temba­kau...


Pada jendela yang kosong ada tanda. Disewakan.


Kosong... Tidak hidup... ”Permisi, Pak.”


Istri penjual sayur mau mengambil jeruk.


Mr. Cust minta maaf dan pindah ke samping.


Perlahan ia berjalan menyeret kakinya kembali ke jalan utama kota...


Sulit amat sulit sebab sekarang ia sama sekali tak punya uang...


Jika tidak makan seharian orang bisa merasa aneh dan pusing kepala...


Ia melihat pada poster di luar toko agen surat kabar.

__ADS_1


Kasus ABC. Pembunuh Masih Merajalela. Wawan­ cara dengan Mr. Hercule Poirot.


Mr. Cust berkata pada dirinya sendiri, ”Hercule Poirot. Tahukah dia...”


Ia berjalan lagi.


Tidak ada gunanya berdiri memandangi poster itu... Pikirnya, ”Aku tidak dapat berjalan lebih lama lagi...”


Kaki melangkah di depan kaki... Berjalan itu aneh...


Kaki di depan kaki aneh. Amat aneh...


Namun manusia itu adalah binatang aneh...


Dan dia sendiri, Alexander Bonaparte Cust, lebih aneh lagi...


Ia selalu...


Orang-orang selalu menertawakannya... Ia tidak bisa menyalahkan mereka...


Ke mana ia akan pergi? Ia tak tahu. Ia akan tiba pada satu titik akhir. Ia tidak lagi melihat ke mana- mana kecuali pada kakinya.


Kaki di depan kaki.


Ia menengadah. Lampu di depannya. Dan huruf- huruf...


Kantor Polisi.


”Lucu,” ujar Mr. Cust. Ia terkekeh.


Lalu ia melangkah masuk. Tiba-tiba ia terhuyung dan ambruk ke depan.


Hari yang cerah di bulan November. Dr. hompson dan Inspektur Kepala Japp singgah untuk memberitahukan kepada Poirot hasil pemeriksaan pengadilan kasus Rex. V. Alexander Bonaparte Cust.


Poirot pribadi mengalami gangguan pada tenggorokannya sehingga dia tidak dapat hadir. Untungnya dia tidak mendesak agar aku menemaninya.


”Ditahan dengan masa percobaan,” ujar Japp. ”Begitulah.”


”Tidakkah agak aneh,” tanyaku, ”untuk menawarkan pembelaan pada tahap ini? Kupikir para tahanan selalu memilih pembelanya terlebih dahulu.”

__ADS_1


__ADS_2