
MR. Leadbetter menggerutu kesal, karena orang yang duduk di sampingnya bangkit dan tersandung pada waktu melewatinya, topinya jatuh di kursi di depannya, dan orang itu membungkuk untuk mengambilnya.
Ini terjadi pada puncak cerita Not a Sparrow, sebuah film drama emosional yang penuh bintang-bintang terkenal dan cantik jelita, yang sudah seminggu penuh dinanti-nantikan Mr. Leadbetter.
Pahlawan wanita berambut keemasan yang diperankan oleh Katherine Royal (menurut Mr. Leadbetter seorang aktris film kaliber dunia), sedang melampiaskan kemarahannya dalam teriakan parau,
”Takkan pernah. Aku lebih baik kelaparan. Tetapi aku takkan kelaparan. Ingatlah kata-kata ini: tidak ada seekor burung pipit pun yang jatuh”
Mr. Leadbetter mencondongkan kepalanya dari kanan ke kiri dengan gusar. Orang-orang ini! Mengherankan, mereka tak dapat menunggu sampai akhir sebuah film... Dan meninggalkan adegan yang menggetarkan hati seperti ini.
Nah, sekarang lebih baik. Laki-laki yang menjengkelkan itu telah lewat dan terus keluar. Mr. Leadbetter bisa sepenuhnya memandang ke arah layar dan ke arah Katherine Royal yang berdiri dekat jendela, di rumah megah Van Schreiner di New York.
Dan kini wanita itu naik kereta api anak itu dalam pelukannya... Kereta api di Amerika begitu aneh sama sekali berbeda dengan kereta api Inggris.
Nah, itu Steve lagi di pondoknya di pegunungan...
Film itu terus berputar sampai pada bagian penutup yang emosional dan bersifat semi religious.
Mr. Leadbetter mendesah puas pada saat lampu-lampu dinyalakan.
Ia berdiri perlahan, sedikit mengerjap. Ia tak pernah meninggalkan gedung bioskop dengan tergesa-gesa. Ia selalu membutuhkan beberapa saat untuk kembali pada kenyataan hidup sehari-hari yang membosankan.
Ia memandang sekelilingnya. Tidak banyak orang sore ini tentu saja. Mereka semua berada di gelanggang pacuan. Mr. Leadbetter tidak suka pacuan kuda, atau main kartu, atau minum-minum, atau merokok. Dengan begitu ia punya lebih banyak tenaga untuk dapat menikmati pertunjukan film.
Semua orang tergesa-gesa menuju pintu keluar.
Mr. Leadbetter bersiap untuk keluar juga. Laki-laki yang duduk di depannya tertidur agak merosot ke bawah di tempat duduknya. Mr. Leadbetter sedikit kesal melihat seseorang bisa tidur di tengah berlangsungnya adegan-adegan dramatis seperti dalam Not a Sparrow. Seorang laki-laki yang berang berseru kepada orang yang tidur itu, yang kakinya terentang dan menutupi
jalan, ”Maaf, Pak.”
Mr. Leadbetter sampai di pintu keluar. Ia menengok kebelakang.
Tampaknya ada keributan. Seorang petugas gedung bioskop... kerumunan orang... Mungkin orang di depannya tadi mabuk kebanyakan minum dan bukannya tertidur...
Ia ragu sejenak, lalu keluar dan dengan demikian tidak mengetahui sensasi hari itu sensasi yang bahkan lebih besar daripada menang taruhan dalam St. Leger, pada angka 85 dan 1.
Petugas itu berkata, ”Saya rasa Anda benar, Pak...
Dia sakit... Kenapa, apa yang terjadi, Pak?”
Laki-laki itu menarik tangannya dan berseru, sambil memperhatikan bercak merah kental.
”Darah...”
Petugas gedung bioskop itu berseru, tercekat.
__ADS_1
Ia melihat ujung sebuah benda kuning di bawah kursi.
”Astaga!” serunya. ”Ini perbuatan a b.... ABC.”
MR. CUst keluar dari gedung bioskop dan menatap ke langit.
Senja yang indah... Benar-benar senja yang indah...
Sebuah petikan ungkapan Browning terlintas dalam pikirannya.
”Tuhan ada di surga. Damai di bumi.” Ia amat menyukai ungkapan itu.
Hanya ada saat-saat, bahkan amat sering, ketika ia merasa ungkapan itu tidak benar...
Ia melangkah ringan sepanjang jalan sambil tersenyum sendiri, sampai ia tiba di Black Swan, tempat ia menginap.
Ia menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya, sebuah ruang kecil yang penuh sesak di lantai tiga, yang menghadap ke kebun belakang yang disemen dan garasi.
Begitu memasuki ruangan, senyumnya seketika hilang. Ada noda di lengan bajunya, dekat manset. Ia menyentuhnya sekilas basah dan merah darah...
Tangannya meraba sakunya dan meraih sesuatu sebuah belati yang panjang dan ramping. Mata pisau itu juga lengket dan merah...
Mr. Cust duduk tertegun, lama.
Lidahnya terjulur, menjilati bibirnya dengan gelisah.
”Bukan salahku,” kata Mr. Cust. Kedengarannya seakan ia sedang berdebat dengan seseorang seperti seorang anak sekolah sedang membuat dalih kepada guru sekolahnya.
Ia menjulurkan lidahnya, menjilati bibirnya lagi...
Lagi-lagi ia meraba lengan bajunya sekilas. Matanya memandang ke seberang ruangan dan melihat baskom cuci.
Tak lama kemudian diisinya baskom itu dengan air dari guci model kuno. Ia melepas mantelnya lalu mencuci lengan bajunya dan memerasnya dengan hati-hati...
Uh! Air itu jadi merah sekarang... Ketukan di pintu.
Ia berdiri terpaku tak dapat bergerak matanya menatap nanar.
Pintu terbuka. Seorang wanita muda yang montok dengan guci air di tangannya.
”Oh, maaf, Tuan. Air panas Anda, Tuan.” Akhirnya ia berhasil mengucapkan kata-katanya. ”Terima kasih... Saya telah mencuci tangan dengan
air dingin…”
Mengapa ia mengatakannya? Segera mata itu memandang ke baskom.
__ADS_1
Dengan gugup ia menjelaskan, ”Saya tangan saya kena pisau...”
Hening sejenak ya, keheningan kikuk yang terlalu lama sebelum akhirnya gadis itu berkata, ”Ya, Tuan.”
Ia keluar sambil menutup pintu.
Mr. Cust berdiri seakan telah berubah jadi patung. Datang juga akhirnya...
Ia mendengarkan.
Apakah itu suara-suara, seruan-seruan kaki-kaki mendaki tangga menuju ke atas?
Ia tak dapat mendengar apa pun, kecuali degup jantungnya sendiri...
Lalu tiba-tiba, dari sikap mematung, ia meloncat dan bergerak dengan sigap.
Ia memakai mantelnya, berjingkat ke pintu dan membukanya. Tidak ada suara terdengar, kecuali suara gumam yang akrab di telinganya dari arah bar. Perlahan-lahan ia menuruni anak tangga.
Masih tidak ada seorang pun. Untung sekali. Ia berhenti di ujung tangga. Ke mana sekarang?
Ia segera menetapkan hatinya, melesat cepat di sepanjang lorong dan keluar lewat pintu yang menuju halaman belakang. Dua orang sopir ada di sana, sedang mengutak-atik mobil dan memperbincangkan mereka yang menang dan kalah taruhan.
Mr. Cust tergesa-gesa menyeberangi halaman dan keluar ke jalan.
Di belokan pertama ia membelok ke kanan lalu ke kiri dan ke kanan lagi...
Beranikah ia pergi ke stasiun?
Ya banyak orang di sana kereta api khusus apabila mujur ia akan berhasil melakukannya.
Apabila ia mujur...
InspektUr Crome sedang menyimak cerita Mr. Leadbetter yang amat bersemangat.
”Percayalah, Inspektur, jantung saya hampir copot bila saya memikirkannya. Pasti dia duduk di samping saya sampai film selesai!”
Tanpa sedikit pun mengacuhkan perasaan Mr. Leadbetter, Inspektur Crome berkata,
”Coba ceritakanlah dengan jelas. Orang ini keluar pada saat film hebat itu hampir selesai”
”Not a Sparrow Katherine Royal,” gumam Mr. Leadbetter otomatis.
”Dia melewati Anda dan tersandung”
”Sekarang saya mengerti, dia purapura tersandung. Lalu dia membungkuk ke kursi di depan untuk mengambil topinya. Pasti saat itulah dia menikam orang yang malang itu.”
__ADS_1