
”Kesempatanmu kini, Mr. Poirot,” ujarnya. ”Crome
menemui jalan buntu. Pergunakanlah sel-sel kelabumu, yang sudah banyak kudengar kehebatannya. Tunjukkanlah bagaimana cara pembunuh itu melakukannya.”
Japp beranjak pergi.
”Bagaimana, Poirot?” kataku. ”Apakah sel-sel kelabumu sepadan untuk tugas ini?”
Poirot menjawab pertanyaanku dengan melemparkan pertanyaan lain.
”Katakanlah, Hastings, apakah menurutmu kasusnya sudah selesai?”
”Hm ya, secara praktis sudah. Kita sudah menangkap pelakunya. Dan kita sudah memperoleh sebagian besar bukti. Kini tinggal menyeleksinya.”
Poirot menggeleng.
”Kasusnya selesai! Kasusnya! Kasusnya adalah manusianya, Hastings. Sebelum kita tahu tentang orang itu, misterinya tetap terpendam seperti semula. Bukanlah suatu kemenangan bila kita sudah berhasil memasukkannya ke dalam penjara!”
”Kita hanya tahu sedikit mengenai dia.”
”Kita tidak tahu apa-apa! Kita tahu, di mana dia dilahirkan. Kita tahu dia ikut bertempur di medan perang dan terluka di kepala, lalu dipecat dari ketentaraan karena mengidap epilepsi. Kita tahu dia tinggal di pondokan Mrs. Marbury hampir dua tahun lamanya. Kita tahu dia pendiam dan tertutup tipe orang yang tidak menarik perhatian. Kita tahu dia merencanakan dan melakukan pembunuhan yang begitu cerdik dan sistematis. Kita tahu bahwa dia telah mem- buat beberapa kesalahan yang tolol. Kita tahu dia membunuh tanpa rasa iba dan dengan keji. Kita juga tahu, dia cukup berbaik hati untuk tidak membebankan tuduhan kepada orang lain atas kejahatan yang dia lakukan. Bila dia ingin membunuh tanpa kesulitan mudah sekali untuk membiarkan orang lain menanggung akibat tindak kriminalnya. Tidakkah kaulihat, Hastings, bahwa orang ini penuh dengan kontradiksi? Bodoh dan licin, keji dan murah hati dan bahwa sudah pasti ada suatu faktor yang dominan yang dapat menjelaskan mengapa dia mempunyai dua kepribadian yang ber beda.”
”Tentu saja, bila kau menganggapnya sebagai objek penelitian psikologis,” tukasku.
”Jadi, bagaimana sebenarnya kasus ini sejak semula? Selama ini aku meraba-raba arah jalanku mencoba mengenali pembunuh ini. Dan kini aku sadar, Hastings, bahwa sebenarnya aku tidak mengenalnya sama sekali! Aku benar-benar tenggelam dalam lautan.”
”Keinginan untuk berkuasa” kataku. ”Ya mungkin itu dapat banyak memberi penjelasan...
Namun tetap tidak memberikan kepuasan kepadaku. Ada hal-hal yang ingin kuketahui. Mengapa dia melakukan semua pembunuhan ini? Mengapa dia memilih para korban tersebut?”
__ADS_1
”Menurut urutan abjad” kataku.
”Apakah Betty Barnard satu-satunya orang di Bexhill yang namanya dimulai dengan huruf B? Betty Barnard membuatku jadi berpikir...
Harus benar, harus benar. Namun, bila demikian”
Dia diam beberapa saat. Aku tak ingin mengusiknya.
Bahkan, kurasa aku tertidur.
Aku bangun dan merasakan tangan Poirot mengguncang bahuku.
”Moncher, Hastings,” ujarnya penuh kasih. ”Sahabatku yang genius.”
Aku amat bingung mendapat pujian tiba-tiba seperti itu.
”Benar,” tegas Poirot. ”Selalu selalu kau membantuku kau malaikat kemujuranku. Kau memberikan inspirasi padaku.”
”Pada saat aku bergumul sendiri dengan berbagai pertanyaan, aku ingat komentarmu—komentar yang jelas menerangi suatu gambaran. Bukankah pernah kukatakan bahwa kau genius dalam hal mengungkapkan sesuatu yang sudah jelas? Sebaliknya, aku justru mengabaikan yang sudah jelas itu.”
”Komentar hebat apa yang kucetuskan?” tanyaku. ”Membuat segalanya jernih bagai kristal. Aku menemukan jawaban semua pertanyaanku. Alasan bagi pembunuhan atas Mrs. Ascher (itu betul, aku sudah melihatnya sejak lama, walaupun masih samar-samar), alasan untuk membunuh Sir Carmichael Clarke, alasan untuk pembunuhan Doncaster, dan akhirnya, dan yang paling penting, alasan untuk menunjuk Hercule Poirot.”
”Maukah kau menjelaskannya padaku?”
”Tidak sekarang. Pertama aku membutuhkan sedikit informasi lagi, yang dapat kuminta dari ’Pasukan Khusus’ kita. Kemudian—kemudian, kalau aku sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan tertentu, aku akan menemui ABC. Akhirnya kami akan berhadapan muka ABC dan Hercule Poirot musuh bebuyutan.”
”Lalu?” tanyaku.
”Lalu,” kata Poirot, ”kami akan berbicara! Je vous assure aku yakin, Hastings tak ada yang lebih berbahaya bagi orang yang menyembunyikan sesuatu kecuali percakapan! Seorang Prancis tua yang bijak pernah berkata padaku, bahwa percakapan adalah penemuan manusia yang bisa digunakannya untuk mencegah pikiran bekerja. Percakapan juga merupakan alat untuk menemukan apa yang ingin disembunyikan seseorang. Manusia itu, Hastings, tidak dapat mengelakkan kesempatan untuk mengungkapkan dirinya sendiri dan kepribadiannya dalam pembicaraan. Setiap kali dia akan cenderung membuka rahasia pribadinya.”
__ADS_1
”Apa yang kauharapkan akan diungkapkan Cust?” Poirot tersenyum.
”Dusta,” ujarnya. ”Dan dengan demikian aku akan mengetahui kebenarannya!”
BEBERapa hari berikutnya Poirot amat sibuk. Dia menghindar secara misterius, sedikit berbicara, mengerutkan dahi, berpikir keras, dan terus menolak untuk menjawab keingintahuanku yang wajar mengenai kegeniusanku, yang menurutnya telah kutunjukkan.
Aku tidak diundang untuk menemani dalam kesibukannya yang misterius dan itu membuatku agak gusar.
Akan tetapi sebelum akhir minggu dia memberitahukan tentang rencananya berkunjung ke Bexhill dan sekitarnya, serta menyarankan agar aku ikut bersamanya. Tentu saja dengan serta-merta aku setuju.
Ternyata kemudian undangan itu tidak hanya ditujukan padaku. Para anggota ”Pasukan Khusus” juga diundang.
Seperti pada diriku, Poirot juga membangkitkan rasa ingin tahu pada mereka. Meskipun demikian, tak sedikit pun aku tahu ke mana arah pemikiran Poirot.
Pertama-tama dia mengunjungi Keluarga Barnard dan mendapatkan keterangan yang pasti mengenai kunjungan Mr. Cust dan apa yang telah dikatakannya. Lalu dia pergi ke hotel tempat Cust dulu menginap dan memperoleh gambaran waktu yang tepat kapan laki-laki itu meninggalkan hotel. Sejauh pengamatanku, tak ada fakta baru yang diperolehnya dengan pertanyaan-pertanyaannya, namun Poirot sendiri tampak puas.
Berikutnya, dia pergi ke pantai ke tempat tubuh Betty Barnard ditemukan. Di sini dia berjalan berkeliling selama beberapa menit sambil mengamati pasir dengan saksama. Menurutku hal ini tidak ada gunanya karena ombak pasang menyiram tempat itu dua kali sehari.
Namun sampai di sini aku mengerti bahwa tindakan Poirot biasanya didasarkan pada suatu ide walaupun ide yang tampaknya tidak berarti sama sekali.
Kemudian dia berjalan dari pantai ke tempat terdekat di mana mobil dapat diparkir. Lagi-lagi dari sana dia pergi ke tempat perhentian bus-bus jurusan Eastbourne, sebelum meninggalkan Bexhill.
Akhirnya dia membawa kami semua ke Kafeteria Ginger Cat, tempat kami minum teh yang agak basi, yang disajikan oleh si pelayan Milly Higley.
Poirot memuji bentuk betis gadis itu dengan gaya Prancisnya yang berlebihan.
”Betis orang Inggris, biasanya terlalu kurus! Tetapi Anda, Mademoiselle, memiliki betis yang sempurna. Ada bentuknya dan pergelangan kakinya nyata.”
Milly Higley terkikik-kikik dan berkata agar Poirot
__ADS_1
tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tahu kebiasaan orang Prancis.
Poirot tidak bersusah payah membantah kekeliruan gadis itu mengenai kebangsaannya. Dia malahan mengerling pada gadis itu dengan gaya yang membuatku terperangah serta shock.