Killing Murder

Killing Murder
35. Poirot Memberi Penjelasan I


__ADS_3

”Sebab saya memutuskan untuk mulai dengan mengunjunginya. Bukankah kita harus memulai sesuatu dari suatu tempat.”


”Ya, itu betul. Kita harus memulai sesuatu dari suatu tempat.”


”Maksud saya bukan begitu!” ujar Mr. Cust. ”Maksud saya tidak seperti apa yang Anda maksud!”


”Tetapi Anda tahu maksud saya?” Mr. Cust diam saja. Dia gemetar.


”Saya tidak melakukannya!” katanya. ”Saya sama sekali tidak bersalah! Ini kekeliruan. Mengapa? Lihat saja pembunuhan kedua pembunuhan Bexhill. Saya sedang main domino di Eastbourne. Anda harus melihat fakta itu!”


Suaranya terdengar penuh kemenangan.


”Ya,” kata Poirot. Suaranya seakan sedang bermeditasi lembut. ”Tetapi bukankah mudah sekali untuk membuat kekeliruan suatu saat. Dan bila Anda seorang yang berpendirian teguh dan penuh percaya diri seperti Mr. Strange, Anda takkan pernah meng- anggap diri Anda akan membuat suatu kekeliruan...


Anda akan terus mempertahankan apa yang sudah Anda katakan...


Dia jenis orang semacam itu. Dan bu-ku registrasi hotel itu mudah sekali untuk menuliskan tanggal yang salah pada saat Anda menandatanganinya kemungkinan tak ada orang yang memperhatikannya pada waktu itu.”


”Saya bermain domino malam itu!” ”Anda jagoan main domino, saya rasa.” Mr. Cust agak bingung.


”Saya saya hm, saya rasa saya memang jagoan.”


”Suatu permainan yang mengasyikkan, bukan, dan memerlukan kecakapan tersendiri?”


”Oh, ada banyak permainan dalam domino banyak permainan! Kami sering bermain di kota, pada jam-jam makan siang. Anda akan heran melihat orang-orang yang tidak saling kenal berkumpul bersama untuk main domino.”


Dia terkekeh.


”Saya teringat seorang laki-laki saya takkan pernah bisa melupakannya karena sesuatu yang dikatakannya kami berbincang-bincang sambil minum kopi, lalu kami main domino. Dan... setelah dua puluh menit, saya merasa seakan-akan telah mengenalnya bertahun-tahun.”

__ADS_1


”Apa yang dikatakannya?” tanya Poirot. Wajah Mr. Cust jadi muram.


”Itu membuatku bingung—sangat bingung. Berbicara mengenai nasib yang tertulis di garis tangan. Dan dia menunjukkan tangannya pada saya, dan garis- garisnya yang menunjukkan bahwa dia nyaris terbenam dua kali dan dia juga terhindar dari dua bahaya yang lain. Lalu dia memperhatikan garis tangan saya dan mengatakan hal-hal yang menakjubkan. Katanya saya akan menjadi orang yang paling ternama di Inggris sebelum saya mati. Bahwa seluruh negeri akan membicarakan diri saya. Tetapi katanya-katanya...”


Mr. Cust terhenti bimbang... ”Ya?”


Tatapan Poirot diam-diam mengandung magnet. Mr. Cust memandang kepadanya, membuang muka,


lalu kembali memandangnya lagi seperti seekor kelinci yang takjub.


”Katanya, katanya tampaknya saya akan menemui kematian yang mengerikan dan dia tertawa sambil menambahkan, ’Kelihatannya Anda akan mati di tiang gantungan,’ kemudian dia terbahak-bahak sambil mengatakan bahwa itu hanya sekadar lelucon...”


Tiba-tiba dia terdiam. Matanya beralih dari wajah Poirot dan berputar-putar gelisah ke kiri dan ke kanan...


”Kepala saya, saya amat menderita karena kepala saya... sakitnya kadang-kadang begitu menusuk. Lalu, kadang-kadang ada saat-saat di mana saya tidak tahu di mana saya tidak tahu...”


Dia terhenti.


”Namun Anda tahu, bukan,” ujarnya, ”bahwa Anda telah melakukan pembunuhan­pembunuhan itu?”


Mr. Cust mengangkat wajahnya. Tatapannya begitu wajar dan lurus. Semua pertentangan telah hilang. Anehnya kini dia kelihatan tenang dan damai.


”Ya,” katanya. ”Saya tahu.”


”Tetapi bukankah saya benar? Bahwa Anda tidak tahu mengapa Anda melakukan pembunuhan­pem­ bunuhan itu?”


Mr. Cust menggeleng.


”Tidak,” katanya. ”Saya tidak tahu.”

__ADS_1


KamI duduk dengan perhatian terpusat untuk mendengarkan penjelasan akhir Poirot mengenai kasus ini.


”Selama ini,” ujarnya, ”saya selalu memikirkan pertanyaan mengapa dalam kasus ini. Dua hari yang lalu Hastings mengatakan kepada saya bahwa kasusnya sudah selesai. Saya menjawab bahwa kasus sebenarnya adalah manusianya! Misterinya bukanlah misteri pembu­ nuhan, namun misteri ABC.


Mengapa dia merasa perlu melakukan pembunuhan-pembunuhan itu?


Mengapa dia memilih saya sebagai musuhnya?


”Jawabannya bukan karena orang itu mempunyai kelainan mental. Sungguh bodoh kalau kita berpikir bahwa seseorang melakukan tindakan gila karena dia gila. Orang gila melakukan tindakan yang beralasan dan masuk akal, sama seperti orang normal hanya saja harus kita lihat dari sudut pandangannya yang memang ganjil. Misalnya, bila seseorang ingin jalan- jalan atau berjongkok di sembarang tempat tanpa busana kecuali hanya sepotong cawat saja, tindakannya akan dianggap amat eksentrik. Namun, sekali Anda tahu bahwa orang itu sendiri betul­betul yakin dirinya adalah Mahatma Gandhi, maka tindakannya menjadi beralasan dan masuk akal.


”Yang penting dalam kasus ini adalah memba- yangkan suatu otak yang begitu cerdik, bahwa adalah wajar dan masuk akal untuk melakukan empat pem­ bunuhan atau lebih dan sebelumnya memberitahu terlebih dulu melalui surat-surat yang ditujukan kepada Hercule Poirot.


”Sahabat saya, Hastings, dapat menceritakan pada Anda bagaimana gusar dan terganggunya pikiran saya pada saat saya menerima surat yang pertama. Saya segera merasa ada sesuatu yang tidak beres mengenai surat tersebut.”


”Anda benar,” ujar Franklin Clarke acuh tak acuh. ”Ya. Tetapi sudah sejak semula saya membuat


kesalahan besar. Saya mengabaikan firasat saya firasat saya yang kuat mengenai surat itu dan hanya menganggapnya sekadar kesan biasa. Saya menganggapnya seakan itu cuma intuisi. Di dalam pikiran yang jernih dan penuh pertimbangan tidak ada apa yang namanya intuisi suatu dugaan karena ilham! Anda dapat men- duga, tentu saja dan dugaan bisa benar atau bisa salah. Bila itu benar, Anda menyebutnya intuisi. Bila salah, biasanya Anda tidak membicarakannya lagi. Namun apa yang sering disebut sebagai intuisi sebenar- nya adalah suatu kesan yang didasarkan pada deduksi logis atau pengalaman. Bila seorang ahli merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam sebuah lukisan atau


perabot rumah tangga atau tanda tangan check, sebenarnya dia mendasarkan perasaannya itu pada beberapa tanda atau detail. Dia tidak perlu menelitinya dengan saksama pengalamannya jelas menunjukkan bahwa hasil akhirnya merupakan suatu kesan yang pasti bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun itu bukan dugaan, melainkan kesan berdasarkan pengalaman.


”Eh bien, saya akui saya tidak menanggapi surat pertama itu seperti yang seharusnya. Surat itu hanya membuat saya amat terganggu. Polisi menganggapnya sekadar olok-olok. Saya pribadi menganggapnya serius. Saya yakin pembunuhan akan terjadi di Andover seperti yang dinyatakan dalam surat itu. Seperti Anda ketahui, pembunuhan benar­benar terjadi.


”Pada waktu itu tidak ada petunjuk sama sekali, seperti yang telah saya sadari, untuk bisa mengetahui siapa orang yang melakukan tindakan tersebut. Satu- satunya langkah yang dapat saya ambil adalah mencoba mengerti bagaimana kira-kira pribadi orang yang telah melakukannya.


”Saya memiliki petunjuk-petunjuk tertentu. Surat itu cara-cara yang dipakai dalam tindak kriminalnya orang yang dibunuh. Yang harus saya ketahui adalah: motif kejahatan dan motif surat itu.”


”Publikasi,” tukas Clarke.


”Pasti itu untuk menutupi rasa rendah dirinya,” ujar hora Grey.

__ADS_1


”Tentu itu tindakan yang wajar. Tetapi mengapa saya? Mengapa Hercule Poirot?


Tentu publikasi yang lebih luas akan diperoleh bila surat-surat itu dikirimkan ke Scotland Yard. Apalagi bila dikirimkan ke redaksi surat kabar. Mungkin surat kabar tidak akan memuat surat pertama itu, namun setelah pembunuhan kedua terjadi, ABC pasti memperoleh publikasi terbesar yang dapat diberikan oleh pers. Jadi, mengapa Hercule Poirot? Apakah karena ada alasan pribadi?


__ADS_2