Killing Murder

Killing Murder
33. Menangkap Seekor Rubah II


__ADS_3

Poirot tidak bersusah payah membantah kekeliruan gadis itu mengenai kebangsaannya. Dia malahan mengerling pada gadis itu dengan gaya yang membuatku terperangah serta shock.


”Voila,” ujar Poirot, ”saya sudah selesai dengan Bexhill. Saya akan ke Eastbourne. Ada satu pertanyaan kecil setelah itu selesai. Anda semua tidak perlu menemani saya. Kini, mari kita kembali ke hotel dan menikmati cocktail. Teh Carltonnya tadi payah!”


Sambil kami menikmati cocktail, Franklin Clarke berkata penuh rasa ingin tahu, ”Saya rasa kami dapat menduga apa yang Anda cari. Anda ingin menyangkal alibi itu. Tetapi saya tidak mengerti mengapa Anda begitu bergembira. Anda belum memperoleh fakta baru apa pun.”


”Belum memang benar.” ”Jadi?”


”Sabar. Segalanya akan jelas dengan sendirinya, hanya membutuhkan waktu.”


”Anda tampaknya menyimpan kegembiraan untuk Anda sendiri.”


”Sejauh ini tidak ada hal yang bertentangan dengan pemikiran saya yang sederhana itulah alasannya.”


Wajahnya berubah serius.


”Teman saya Hastings pernah mengatakan pada saya bahwa waktu dia muda dia suka memainkan permainan yang disebut Kejujuran. Suatu permainan di mana secara bergiliran tiap-tiap orang mendapat tiga pertanyaan dua di antaranya harus dijawab dengan jujur. Pertanyaan ketiga boleh dikecualikan. Pertanyaan-pertanyaannya boleh tentang apa saja. Namun, untuk memulai, setiap orang harus bersumpah bahwa mereka akan menjawab dengan jujur, sepenuhnya hanya kejujuran, dan hanya kejujuran saja.”


Dia diam.


”Bagaimana?” ujar Megan.


”Eh bien saya, saya ingin memainkan permainan itu. Namun, tidak perlu sampai tiga pertanyaan. Satu sudah cukup. Satu pertanyaan untuk Anda masing- masing.”


”Baiklah,” ujar Clarke tidak sabar. ”Kami akan menjawabnya.”


”Ah, tetapi saya ingin lebih serius dari itu. Apakah Anda semua bersumpah akan jujur?”


Dia begitu serius akan hal ini sehingga meski dengan penuh tanda tanya, yang lain pun ikut bersungguh-sungguh. Mereka semua bersumpah seperti yang dituntut Poirot.


”Bon,” kata Poirot tegas. ”Bagus, mari kita mulai” ”Saya sudah siap,” ujar hora Grey.


”Ah, wanita biasanya dipersilakan terlebih dahulu tapi kali ini kita tidak mempertimbangkan sopan santun. Kita akan mulai dengan siapa saja.”


Dia menoleh kepada Franklin Clarke.


”Mon cher, Mr. Clarke, bagaimana pendapat Anda mengenai topi yang dipakai para wanita di Ascot tahun ini?”


Franklin Clarke memandangnya. ”Apakah ini lelucon?”


”Tentu saja tidak.”


”Apakah pertanyaan Anda ini serius?” ”Ya.”


Clarke menyeringai.


”Baiklah, Mr. Poirot, saya sebenarnya tidak pergi ke Ascot, tetapi dari yang saya lihat waktu mereka mengendarai mobil, topi wanita yang pergi ke Ascot jauh lebih konyol daripada topi yang mereka pakai sehari- hari.”


”Luar biasa?” ”Sungguh luar biasa.”

__ADS_1


Poirot tersenyum dan menoleh kepada Donald Fraser.


”Kapan Anda mengambil cuti tahun ini, Monsieur?” Kini giliran Donald Fraser untuk terheran-heran. ”Cuti? Dua minggu pertama bulan Agustus.”


Wajahnya bergetar sejenak. Kurasa pertanyaan itu mengingatkannya kembali akan kematian gadis yang dicintainya.


Namun Poirot tampaknya tidak begitu memperhatikan jawabannya. Dia menoleh kepada hora Grey dan aku mendengar sedikit perubahan dalam suaranya yang semakin berwibawa. Pertanyaannya terlontar tajam dan jelas, ”Mademoiselle, seandainya Lady Clarke meninggal terlebih dahulu, apakah Anda mau menikah dengan Sir Carmichael bila dia melamar Anda?”


Gadis itu terloncat.


”Sungguh tega Anda melontarkan pertanyaan semacam itu. Itu, itu penghinaan!”


”Mungkin. Tetapi Anda telah bersumpah untuk menjawab dengan jujur. Eh bien ya atau tidak?”


”Sir Carmichael amat baik kepada saya. Dia menganggap saya hampir seperti anak kandungnya. Dan begitulah perasaan saya padanya hanya ada rasa sayang dan rasa terima kasih.”


”Maafkan saya, tetapi Anda belum menjawab ya atau tidak, Mademoiselle.”


Dia ragu-ragu.


”Jawabannya, tentu saja, tidak!” Poirot memberi komentar. ”Terima kasih, Mademoiselle.”


Dia menoleh kepada Megan Barnard. Wajah gadis itu amat pucat. Dia mengembuskan napas dalam-dalam, seakan sedang menahan cobaan berat.


Suara Poirot terdengar seperti bunyi lecutan cemeti. ”Mademoiselle, apa yang Anda harapkan sebagai hasil penyelidikan saya? Anda ingin agar saya dapat


Kepala gadis itu mendongak angkuh. Aku sudah yakin akan jawabannya. Aku tahu, Megan amat fanatik terhadap kebenaran.


Jawabannya jelas dan membuatku terheran-heran. ”Tidak!”


Kami semua tercengang. Poirot mencondongkan tubuh ke depan, mengamati wajah gadis itu.


”Mademoiselle Megan,” ujarnya, ”Anda mungkin tidak menghendaki kebenaran, tetapi mafoi, demi sumpah Anda, Anda dapat mengatakan kebenaran!”


Dia berjalan ke pintu, lalu mengingat-ingat, dan menghampiri Mary Drower.


”Katakanlah, mon enfant, apakah Anda punya teman laki-laki?”


Mary, yang terlihat gelisah, menatap kaget dan pipinya memerah.


”Oh, Mr. Poirot. Saya, saya hm, saya tidak yakin. ”


Dia tersenyum.


”Alors c’est bien, mon enfant begitu lebih baik, anak ku.”


Dia menoleh berkeliling mencariku.


”Ayo, Hastings, kita harus berangkat ke East- bourne.”

__ADS_1


Mobil sudah menunggu dan sebentar kemudian kami menyusuri pantai, melalui Pevensey menuju East- bourne.


”Apakah ada gunanya bila aku menanyakan sesuatu, Poirot?”


”Saat ini tidak. Buatlah kesimpulan sendiri atas apa yang kulakukan.”


Aku kembali berdiam diri.


Poirot, yang tampaknya menyimpan kegembiraan, menyenandungkan sebuah lagu. Pada saat melewati Pevensey, dia mengusulkan agar kami berhenti dan melihat-lihat istana.


Pada saat kembali ke mobil, kami berhenti sebentar memperhatikan anak-anak, yang berdiri dalam lingkaran pandu-pandu kecil, kurasa, kalau melihat seragam mereka—mereka menyanyikan sebuah lagu pendek sederhana dengan suara melengking yang tak keruan...


”Apa yang mereka nyanyikan, Hastings? Aku tidak


dapat menangkap kata-katanya.”


Aku mendengarkan sampai menangkap refrainnya.


”Dan menangkap seekor rubah Dan memasukkannya ke dalam kotak Serta tidak melepaskannya lagi.”


”Dan menangkap seekor rubah dan memasukkannya ke dalam kotak serta tidak melepaskannya lagi!” ulang Poirot.


Wajahnya tiba-tiba berubah muram dan tegang. ”Sungguh mengerikan, Hastings.” Dia diam sejenak.


”Kau berburu rubah di sini?”


”Tidak. Aku tak pernah tahan berburu. Dan kurasa tidak banyak perburuan dilakukan di daerah ini.”


”Maksudmu di Inggris pada umumnya. Olahraga aneh. Menunggu dalam persembunyian, lalu mereka meneriakkan isyarat pemburu, bukan? Lalu perburuan dimulai menyeberangi padang rumput melompati pagar dan parit dan rubah itu lari kadang-kadang dia kembali ke jalan yang sama namun anjing-anjing”


”Mengejarnya!”


”anjing-anjing memburunya, mencium jejaknya, dan akhirnya mereka berhasil menangkapnya dan dia mati cepat dan mengerikan.”


”Kedengarannya begitu kejam, tetapi sebenarnya”


”Rubah itu menikmatinya? Jangan katakan itu tolol, Kawan. Les bêtises. Tout de même lebih baik kematian yang cepat dan keji daripada seperti apa yang


dinyanyikan anak-anak itu...”


”Untuk disekap di dalam kotak selamanya...


Tidak, itu tidak baik.”


Dia menggeleng. Lalu dia berkata dengan nada yang berbeda,


”Besok aku akan mengunjungi Cust,” lalu menambahkan kepada sopir, ”Kembali ke London.”


”Bukankah kau mau ke Eastbourne?” teriakku. ”Apa gunanya? Aku tahu ini sudah cukup untuk tujuanku.”

__ADS_1


__ADS_2