Killing Murder

Killing Murder
37. Poirot Memberi Penjelasan III


__ADS_3

”Tenang dulu, Mademoiselle. Saya mencari kebe- naran! Saya sudah jemu dengan kebohongan. Misalnya, saya mengatakan bahwa ABC tidak melakukan pem­ bunuhan kedua. Ingat, kejadiannya berlangsung dini hari ketika mulai masuk tanggal 25 itu hari dia datang untuk membunuh. Mungkinkah seseorang datang mencegahnya? Dalam situasi demikian, apa yang akan dia lakukan? Melakukan pembunuhan kedua, atau mundur dan menganggap yang pertama sebagai sebentuk hadiah yang mengerikan?”


”Mr. Poirot!” kata Megan. ”Sungguh hebat pikiran Anda! Semua pembunuhan itu pasti dilakukan oleh orang yang sama!”


Poirot tidak memperhatikan gadis itu dan terus melanjutkan,


”Hipotesis itu bermanfaat untuk menjelaskan sebuah kenyataan ketidakcocokan antara kepribadian Ale­ander Bonaparte Cust (yang tidak akan pernah berhasil merayu gadis-gadis) dan kepribadian si pembunuh Betty Barnard. Dan sebelumnya sudah diketahui bahwa pembunuh itu telah mengambil untung dari pembunuhan yang dilakukan oleh orang lain. Tidak semua kejahatan Jack the Ripper dilakukan oleh Jack the Ripper sendiri, misalnya. Sejauh ini semua beres.


”Lalu saya benar-benar menghadapi sebuah kesulitan.


”Sampai pada pembunuhan Betty Barnard, tidak ada fakta mengenai pembunuhan­pembunuhan ABC yang dipublikasikan. Pembunuhan Andover tidak begitu menarik perhatian. Insiden buku panduan kereta api yang ditemukan dalam keadaan terbuka bahkan tidak disebut-sebut oleh pers.


Oleh sebab itu selanjutnya saya simpulkan siapa pun yang membunuh Betty Barnard pasti mengetahui fakta­-fakta yang hanya diketahui oleh orang­orang tertentu saya sendiri, polisi, serta kerabat tertentu dan tetangga Mrs. Ascher.


”Jalur penyelidikan itu tampaknya menggiring saya pada sebuah jalan buntu.”


Wajah-wajah yang menatapnya juga terlihat hampa.


Kosong dan bingung.


Donald Fraser berkata dengan serius, ”Bagaimanapun, polisi adalah manusia biasa. Dan mereka adalah lelaki-lelaki tampan”

__ADS_1


Dia terdiam, dan memandang Poirot dengan sorot bertanya.


Poirot menggeleng perlahan.


”Tidak ini lebih sederhana daripada itu. Sudah saya katakan, ada spekulasi kedua.


”Mungkinkah Cust tidak bertanggung jawab atas pembunuhan Betty Barnard? Mungkinkah orang lain yang membunuhnya? Mungkinkah orang lain itu juga bertanggung jawab atas pembunuhan­pembunuhan lain­ nya?”


”Tapi itu tidak masuk akal!” teriak Clarke. ”Benarkah? Kalau begitu saya sudah melakukan apa


yang seharusnya saya lakukan sejak awal. Saya mempelajari surat-surat yang saya terima dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Dan sejak semula saya merasa pasti ada yang tidak beres dengan surat- surat itu persis seperti si ahli lukisan yang mengetahui ada yang tidak beres dalam suatu lukisan...


”Semula saya menduga, tanpa pikir panjang lagi, bahwa yang tidak beres itu ialah kenyataan bahwa surat itu ditulis oleh orang gila.


”Apa?” seruku.


”Tapi memang benar persis begitu! Ada yang tak beres, sama dengan kalau kita tahu ada yang tak beres dalam sebuah lukisan sebab surat­surat itu palsu! Tampaknya seakan ditulis oleh orang gila pembunuh gila, namun kenyataannya tidak demikian.”


”Tidak masuk akal,” ulang Franklin Clarke.


”Mais si! Tapi memang begitu nyatanya. Orang harus mencari alasan menimbang-nimbang. Apa tujuan surat-surat itu ditulis? Supaya perhatian terpusat pada penulis, supaya perhatian terpusat pada pembunuhan-pembunuhan itu! En vérite benar, sepintas lalu tampaknya tidak masuk akal. Lalu saya melihat titik terang. Maksudnya supaya perhatian orang ter- pusat pada beberapa pembunuhan pada satu rentetan pembunuhan...

__ADS_1


Bukankah pujangga besar Shakespeare mengatakan,


’Kita tidak dapat melihat pohon dalam sebuah hutan’?”


Aku tidak mengoreksi ingatan Poirot akan kutipan sastranya, tetapi mencoba menangkap apa maksudnya sebenarnya. Samar-samar aku mulai mengerti.


Dia melanjutkan, ”Di mana kita sulit mengenali sebatang jarum tertentu? Bila jarum itu diletakkan pada bantalannya! Bilamana kita sulit mengenali adanya pembunuhan tunggal?


Apabila pembunuhan itu merupakan satu dari rentetan pembunuhan yang berhubungan satu sama lain.


”Saya menghadapi seorang pembunuh yang benar- benar cerdik dan banyak akal penjudi yang nekat, berani, tetapi cermat. Bukan Mr. Cust! Dia pasti tidak dapat melakukan pembunuhan-pembunuhan itu! Bukan, saya harus menghadapi orang yang sama sekali berbeda seorang laki-laki dengan perangai kekanak- kanakan (perhatikan surat-surat yang seakan ditulis oleh anak sekolahan dan juga buku panduan kereta api itu), seorang pria yang pandai menarik hati para wanita, dan seorang pria yang kejam serta tidak peduli akan nyawa orang lain, seorang pria yang mendapat keuntungan dari salah satu pembunuhan-pembunuhan tersebut!


”Perhatikan bila seorang lelaki atau wanita terbunuh, pertanyaan-pertanyaan apa yang dilontarkan oleh polisi? Kesempatan. Di mana semua orang pada saat kejahatan berlangsung? Motif. Siapa yang mengambil keuntungan dari kematian korban? Apabila motif dan kesempatannya jelas, apa yang akan diperbuat oleh seorang calon pembunuh? Memalsukan alibi yaitu memanipulasi waktu, dengan cara apa pun. Tetapi memang tindakan ini penuh risiko. Pembunuh kita memikirkan suatu langkah pengamanan yang lebih hebat. Menciptakan seorang pembunuh lain!


”Lalu saya tinggal meninjau kembali beberapa pembunuhan yang terjadi dan mencari kemungkinan siapa orangnya yang bersalah. Pembunuhan di Andover? Kemungkinan terdekat sebagai tertuduh adalah Franz Ascher, namun saya tidak dapat membayangkan Ascher mampu menciptakan dan melaksanakan sebuah rencana yang begitu rumit, atau merencanakan pembunuhan yang dipersiapkan terlebih dahulu. Pembunuhan di Bexhill? Kemungkinannya Donald Fraser. Dia memiliki akal dan kemampuan, dan jalan pikiran yang sistematis. Tetapi kemungkinan motifnya untuk membunuh kekasihnya hanyalah rasa cemburu dan rasa cemburu tidak mungkin bisa direncanakan. Saya juga tahu bahwa dia pergi berlibur di awal bulan Agustus, jadi tidak mungkin dia terlibat dalam pembunuhan di Churston. Berikutnya kita sampai pada pembunuhan di Churston dan segera kita sampai pada situasi yang menjanjikan kemungkinan yang tak terbatas.


”Sir Carmichael Clarke orang yang amat kaya. Siapa yang mewarisi uangnya? Istrinya yang hampir mati, yang selama masih hidup akan tetap mendapat jaminan, tetapi kemudian warisan akan jatuh pada saudara laki­ lakinya, Franklin.”


Poirot berputar pelan sampai matanya bertemu dengan mata Franklin Clarke.


”Lalu saya menjadi yakin. Lelaki yang sudah sejak lama saya kenal dalam lubuk hati saya adalah sama dengan orang yang saya kenal secara pribadi. ABC dan Franklin Clarke merupakan satu pribadi! Seorang petualang yang berani, dengan sikapnya yang mengagungkan Inggris, yang samar-samar terlihat dalam sikapnya yang meremehkan orang asing. Pribadinya yang menarik, terbuka dan simpatik tidak ada yang lebih mudah baginya dari mengajak kencan seorang gadis dari sebuah kafeteria. Otak yang sistematis dan rapi pada suatu hari dia membuat sebuah daftar, memberi tanda pada judul ABC dan akhirnya, pikiran yang kekanak-kanakan yang disebut-sebut oleh Lady Clarke dan bahkan terbukti pada seleranya membaca fiksi saya telah membuktikan bahwa ada sebuah buku di perpustakaan yang berjudul he Railway Children (Anak­ anak Kereta Api), karya E. Nesbit. Saya tidak ragu-ragu lagi ABC, orang yang menulis surat-surat itu dan melakukan pembunuhan-pembunuhan tersebut adalah Franklin Clarke.”

__ADS_1


Tiba-tiba Clarke tertawa terbahak-bahak. ”Sungguh cerdik! Dan bagaimana dengan teman kita Cust yang tertangkap basah? Bagaimana dengan darah di lengan mantelnya? Dan pisau yang disembunyikan dalam pondokannya? Dia bisa saja menyangkal telah melakukan pembunuhan-pembunuhan itu”


__ADS_2