
”Betul, Pak.”
”Mungkin ada petunjuk di situ. Pada saat itu belum terlihat namun kemungkinan ide modus operandi akan kejahatan berikutnya ada pada orang itu. Kita punya nama dan alamat Hill, bukan? Keterangannya mengenai orang itu kabur, tetapi cukup mirip dengan penggambaran Mary Stroud dan Tom Hartigan...”
Ia mengangguk sambil berpikir-pikir.
”Kita mulai menghangat,” ujar Inspektur Crome agak kurang tepat karena dia sendiri selalu agak dingin, sikap dan kelakuannya.
”Ada instruksi, Pak?”
”Tempatkan dua petugas untuk mengawasi alamat di Camden Town, tetapi saya tak ingin membuat burung kita ketakutan. Saya harus berbicara dengan Asisten Komisaris. Lalu, sebaiknya Cust juga dibawa kemari dan ditanya apakah ia ingin membuat per- nyataan. Agaknya sudah pasti ia akan kebingungan.”
Di luar Tom Hartigan menjumpai Lily Marbury, yang menantinya di pelataran.
”Beres, Tom?” Tom mengangguk.
”Aku bertemu Inspektur Crome sendiri. Orang yang bertugas menangani kasus itu.”
”Bagaimana orangnya?”
”Agak pendiam dan angkuh tidak seperti gambaranku mengenai seorang detektif.”
”Itu gaya Lord Trenchard,” ujar Lily dengan rasa hormat. ”Ada di antara mereka yang begitu agung. Jadi, apa katanya?”
Tom menceritakan wawancaranya dengan singkat. ”Jadi mereka berpendapat benar dia orangnya?” ”Menurut mereka kemungkinan memang demikian.
Pokoknya, mereka akan datang dan menanyakan beberapa pertanyaan padanya.”
”Kasihan Mr. Cust.”
”Tak ada gunanya mengasihani Mr. Cust, Sayang. Apabila benar dia si ABC, maka dia telah melakukan empat pembunuhan keji.”
Lily mendesah dan menggeleng.
”Tampaknya memang mengerikan,” tukasnya.
”Ah, sekarang kau ikut aku makan siang, Sayang.
Coba bayangkan, bila kita benar aku berharap namaku akan dimuat di surat-surat kabar!”
”Oh, Tom, benarkah?”
”Agaknya begitu. Dan namamu juga. Dan nama ibumu. Dan aku yakin fotomu juga akan dimuat.”
”Oh, Tom.” Lily memijit lengan Tom dengan kegembiraan yang luar biasa.
”Dan sementara itu, bagaimana bila kita makan di Corner House?”
Lily memijit lengannya lebih keras. ”Ayolah!”
__ADS_1
”Baiklah tunggu sebentar, ya. Saya harus menelepon dari stasiun.”
”Menelepon siapa?”
”Seorang teman gadis yang akan kutemui.” Lily pergi menyeberangi jalan dan kembali lagi tiga menit kemudian, wajahnya bersemu merah. ”Ceritakanlah lagi tentang Scotland Yard. Kau tak melihat yang satunya lagi di sana?”
”Siapa?”
”Laki-laki Belgia itu, kepada siapa ABC selalu menulis surat-suratnya.”
”Tidak. Dia tak ada di sana.”
”Ceritakanlah semuanya. Apa yang terjadi waktu kau berada di dalam? Dengan siapa kau berbicara, dan apa yang kaukatakan?”
Mr. Cust menaruh kembali pesawat telepon dengan perlahan di tempatnya. Ia menoleh kepada Mrs. Marbury yang berdiri didepan pintu ruangan, yang jelas kelihatan penuh curiga.
”Anda tidak sering mendapat telepon, Mr. Cust.” ”Tidak hm tidak, Mrs. Marbury. Memang tidak.”
”Bukan kabar buruk, saya harap.”
”Bukan, bukan.” Betapa ngototnya wanita itu. Mata Mr. Cust menangkap tulisan di surat kabar yang dibawanya.
Kelahiran Perkawinan Kematian...
”Saudara perempuan saya baru saja melahirkan bayi laki-laki,” seru Mr. Cust.
Ia ia yang tak pernah mempunyai saudara perempuan!
”Satu-satunya,” ujar Mr. Cust. ”Satu-satunva yang pernah saya punyai atau tampaknya akan saya punyai, dan hm saya rasa saya harus segera pergi. Mereka-mereka ingin saya datang. Saya..... saya rasa saya takkan ketinggalan kereta api bila saya bergegas.”
”Apakah Anda akan pergi lama, Mr. Cust?” teriak Mrs. Marbury pada saat pria itu menaiki tangga.
”Oh, tidak hanya dua-tiga hari.”
Ia menghilang ke kamar tidurnya. Mrs. Marbury pergi ke dapur, membayangkan dengan perasaan senti-mentil ”bayi kecil yang manis”.
Kesadarannya membuatnya tersentak tiba-tiba. Semalam Tom dan Lily, serta semua percakapan mengenai tanggal. Mencoba menganalisis apakah benar Mr. Cust adalah monster yang mengerikan itu, ABC. Hanya karena singkatan namanya dan beberapa kebetulan.
”Kurasa mereka tidak bermaksud serius,” pikirnya senang. ”Dan kini kuharap mereka akan malu sendiri.”
Entah bagaimana ia tidak dapat menjelaskan, tetapi pernyataan Mr. Cust bahwa saudara perempuannya baru melahirkan telah menghilangkan keraguan Mrs. Marbury akan bonafiditas orang yang menumpang padanya.
”Kuharap wanita itu tidak terlalu menderita,” pikir Mrs. Marbury sambil menempelkan setrika pada pipinya, sebelum mulai menggosok baju sutra Lily.
Dalam pikirannya terus terbayang saat-saat persalinan, di masa lalu.
Diam-diam Mr. Cust turun dari tangga dengan tas ditangan. Matanya menoleh sejenak ke pesawat telepon.
Percakapan pendek tadi bergema lagi dalam pikirannya.
__ADS_1
”Andakah itu Mr. Cust? Saya rasa Anda perlu tahu bahwa seorang inspektur polisi dari Scotland Yard akan datang menemui Anda...”
Apa tadi yang dikatakannya? Dia tak ingat lagi.
”Terima kasih, terima kasih, Anak Manis... Kau sangat baik hati...”
Kira-kira begitu.
Mengapa gadis itu meneleponnya? Apakah mungkin gadis itu sudah menduga? Atau apakah Lily hanya ingin meyakinkan diri bahwa ia ada di rumah bila inspektur itu datang?
Tetapi bagaimana ia tahu inspektur itu akan datang?
Dan suaranya gadis itu menyembunyikan suara aslinya dari ibunya...
Tampaknya tampaknya Lily tahu... Tetapi meskipun tahu, ia pasti tidak...
Namun bisa jadi. Wanita memang aneh. Tanpa terduga ia bisa menjadi jahat, tetapi bisa juga baik. Sekali waktu ia pernah melihat Lily mengeluarkan tikus dari jeratnya.
Seorang gadis yang baik hati... Seorang gadis yang baik dan cantik...
Ia berhenti dekat gantungan mantel yang penuh payung dan mantel-mantel.
Haruskah ia?
Suara di dapur membuatnya cepat memutuskan... Tidak, tidak ada waktu lagi...
Mrs. Marbury akan muncul setiap saat...
Ia membuka pintu depan, melewatinya, dan menutupnya kembali...
Ke mana...?
Pertemuaan lagi.
Asisten Komisaris, Inspektur Crome, Poirot, dan aku sendiri.
Asisten Komisaris berkata, ”Petunjuk Anda benar, Mr. Poirot, untuk meneliti penjualan stocking dalam jumlah banyak.”
Poirot merentangkan tangan.
”Sudah kuduga. Orang itu pasti bukan agen biasa. Dia menjual seketika itu juga, dan tidak meneriakkan jualannya.”
”Sampai kini semuanya jelas, Inspektur?”
”Saya rasa begitu, Pak.” Crome mempelajari sebuah arsip. ”Bagaimana kalau saya kemukakan posisinya saat ini.”
”Ya, silakan.”
”Saya telah menghubungi Churston, Paignton, dan Torquay. Ada daftar orang-orang yang ditawarinya stocking. Dia melakukannya dengan teliti. Menginap di
__ADS_1
Pitt, sebuah hotel kecil dekat Stasiun Torre. Kembali ke hotel jam 22.30 di malam terjadinya pembunuhan. Mungkin naik kereta api dari Churston jam 22.05, sampai di Paignton jam 22.15. Tak ada seorang pun melihat orang seperti yang digambarkan di kereta api atau stasiun, akan tetapi hari Kamis itu adalah hari Dartmouth Regatta dan kereta api yang kembali dari Kingswear penuh sesak.
”Di Bexhill sama saja. Menginap di Globe dengan namanya sendiri. Menawarkan stocking kepada kira-kira selusin alamat, termasuk Mrs. Barnard dan Ginger Cat.