
Azzura terbangun dari tidurnya. Akan tetapi dia tetap berpura-pura tidur karena mendengar papa dan kembarannya.
"Jadi ada yang berniat mencelakai Wawa gitu?" tanya papanya kepada Azzam.
"Iya pa, dan orang yang membawa truk itu sudah ketangkap."
"Siapa pelakunya."
"Dia anak buah dari keluarga Mahesa."
"Apa ini kelakuan Ken?" tanya Azzura lansung duduk.
Azzura yakin bahwa ini adalah ulah Ken. Ken sangat ingin mengakhiri hidupnya karena Ken pernah gagal bersama wanita dicintainya karena dia. Dan Ken juga pernah jatuh miskin karena keluarganya.
"Kenapa kamu menuduh Ken?" tanya papanya.
"Karena hanya Ken yang benci sama aku."
"Ini nggak mungkin Ken yang melakukan." jawab Azzam.
"Bela terus dia, mentang-mentang teman."
"Tapi apa alasan Ken melakukan itu? kalian udah lama bercerai, Ken bahkan mengejar kamu dia tahun belakangan ini." ucap papanya dengan jelas.
"Pa, tapi bisa jadi karena aku memilih Rey, gara - gara dia Rey pergi meninggalkan aku pa." ucap Azzura bersedih mengingat Rey sudah pergi.
"Tapi kamu tidak tau siapa yang menolong kamu? jika kamu tahu aku tidak akan pernah berpikir dia pelakunya." jawab Azzam.
"Nolong apa?"
"Kamu tadi katanya mau liat yang menolong kamu, ayo kita liat." ajak papanya.
__ADS_1
"Ayoklah pa, daripada membicarakan lelaki yang itu, mending lihat orang yang membantu aku, jangan lupa Zam cari tau siapa pelaku utamanya." ucap Azzura kepada Azzam sebelum pergi.
Azzura berjalan bersama dengan sang Papa menuju ruang di mana lelaki yang menyelamatkannya dirawat.
Azzura agak merasa bersalah ketika melihat lelaki itu masih di rawat di rumah intensif. Mereka masuk secara bergantian.
Azzura masuk ke ruangan tersebut sendiri. Dia berjalan menuju ranjang pasien yang dirawat memakai infus dan beberapa selang yang terpasang di tubuhnya.
Azzura membelalakkan matanya, dan jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat siapa yang berbaring di ranjang tersebut.
"Ken." ucapnya tercekat sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Jadi kamu yang menyelamatkan aku?" tanya Azzura lansung menangis.
Dia yang tadinya menyalahkan lelaki itu sebagai pembunuhnya, namun ternyata lelaki itu merelakan nyawanya untuk dirinya. Lelaki yang melindunginya dari bahaya.
"Kenapa kamu lakukan itu Ken? atau itu hanya pura - pura aja Ken, agar kamu bisa mengambil hati aku?" tanya Azzura menangis.
Wanita itu terduduk di kursi yang ada di dekat ranjang. Dia memegang tangan Ken.
Dan dia menatap lelaki itu yang nampak kurang terurus. Dia nampak kurang gagah seperti dulu.
"Ayo bangun Ken, jangan buat aku merasa bersalah." ucap Azzura.
"Tidak usah mendekati anak saya lagi, karena kamu anak saya sensara." ucap mama Ken yang baru saja datang dari luar.
"Tante."
"Lebih baik kamu jauhi anak saya, saya sudah nggak Sudi lagi melihat kamu di sekitar anak saya."
"Maaf Tante, saya hanya menjenguk."
__ADS_1
"Kamu udah liat kan? dah kamu bisa pulang."
"Maaf Tan jika saya akan kembali lagi, saya akan kembali sampai Ken sembuh."
"Nggak perlu, Ken nggak butuh kamu, kamu hanya membuat Ken menjadi sial."
"Kamu nggak bisa berkata seperti itu jeng, semua awalnya juga salah anak kamu." ucap mama Azzura yang baru datang.
"Ma." ucap papa Azzura mencoba menarik istrinya.
"Ma, ayo pergi, ini rumah sakit." ajak papanya.
"Jika dia nggak ngotot minta cerai maka ini semua nggak terjadi, Ken menyadari kesalahannya waktu itu, namun dia ngotot, bahkan saking kejamnya kalian, kalian buat perusahaan kami hancur dan akibatnya suami saya pergi." ucap mama Ken.
"Mbak itu semua takdir, takdir Allah yang membuat semua terjadi." ucap Alan Adha mencoba menenangkan mama Ken.
Alan tau tidak pantas beradu mulut di ruang dimana Ken sedang berusaha untuk bangun.
"Ayo pergi Wa." ajak papanya.
Azzura berjalan mengikuti langkah kaki sang papa dan mama. Ia tidak mungkin bersitegang dengan mama mertuanya di depan Ken yang sedang koma.
"Jangan pergi Azzura."
Langkah kaki Azzura terhenti mendengar suara Ken memanggil namanya.
"Azzura......."
Azzura kembali membalikkan badannya dan berlari ke ranjang rumah sakit. Dia melihat Ken masih belum membuka matanya.
"Azzura...."
__ADS_1
"Ken ayo bangun, ini aku." ucap Azzura mencoba membisikkan sesuatu kepada sang lelaki itu.
Mama Ken hanya membiarkan Azzura di sana karena anaknya sendiri yang memanggil wanita itu.