
Ken nampak emosi mendengar laporan dari orang kepercayaannya. Dia telah mendapatkan bukti atas apa yang terjadi.
Dia nampak sangat marah kepada dirinya sendiri karena beberapa orang kepercayaannya telah menghianati kepercayaan darinya.
Beberapa anak buahnya terlibat dalam rencana percobaan pembunuhan terhadap Azzura. Ken yakin jika dia tidak mengikuti Azzura, maka rencananya mereka akan berjalan seratus persen.
"Cepat temukan di manapun Claudia, bawa dia ke markas jika bertemu." ucap Ken.
Dia heran kenapa wanita itu begitu jahat. Ken malah bersyukur tidak jadi menikahi wanita seperti Claudia.
"Dia di lindungi oleh seseorang pak."
"Seseorang? siapa yang melindungi dia?"
"Kabarnya saat ini dia sudah menikah sirih dengan seorang pengusaha negara tetangga yang baru setahun ini menjalankan usaha di negara ini pak, nah selama dia di sini, Claudia lah penghangat ranjangnya pak."
"Pengusaha baru?" Ken mencoba mengingat siapa yang baru naik di negaranya sendiri.
"Itu pak, dia pengusaha sawit pak, pak Beni."
"Beni?" tanya Ken baru mendengar nama tersebut.
Ken terlalu sibuk tiga tahun belakangan ini sampai tidak tau ada perkembangan info terbaru. Tiga tahun di habiskan membangun usahanya kembali. Lalu setelah sukses, dalam sebulan ini dia kembali mengejar Azzura yang masih sendiri.
"Pak Beni ini sebenarnya warga negara kita pak, namun dia pindah sekitar kurang lebih 20 tahun yang lalu ke Malaysia, dan di sana dia sukses mendirikan bisnisnya."
"Apa yang kamu ketahui tentang dia?" tanya Ken.
"Pak Beni ini sangat tertutup sekali tentang dia dan keluarganya, namun anak buah saya sudah mengikuti dia beberapa hari, jadi kita harus tunggu pak dalam beberapa hari."
"Cepat kamu selidiki agar kasus ini cepat selesai."
"Tapi selain kita juga ada yang menyelidiki kasus ini pak."
"Pasti suruhan Azzam atau pak Alan."
"Ada lagi pak selain itu."
"Maksudnya ada orang lain yang menyelidiki kasus ini."
"Sepertinya mereka orang-orangnya Arkarna group pak."
Ken lansung teringat keluarga Arkarna yang merupakan sahabat dekat keluarga Adha atau Kusuma. Dia yakin bahwa keluarga Azzam meminta bantuannya. Dia mengakui kekuasaan keluarga itu. Ken juga yakin bahwa dia bisa bangkrut bukan sepenuhnya oleh Azzam, tapi karna bantuan dari keluarga Arkarna dan Kusuma.
"Baik, pastikan kalian membawa Claudia sebelum di bawa oleh mereka atau polisi, dan cari tau siapa lelaki yang menikahi wanita itu."
"Baik pak, saya pamit dulu."
Ken masih mencoba memikirkan siapa yang melindungi Claudia kali ini. Dia tidak habis pikir dengan. wanita itu. Wanita yang tidak pernah bersyukur dengan hidupnya.
Ken keluar dari ruang kerjanya. Kepalanya cukup sakit jika memikirkan semuanya. Apalagi adiknya belum juga kunjung ditemukan.
Ken awalnya curiga mamanya yang melindungi adiknya. Namun mamanya menyangkal hal tersebut. Mamanya bahkan selalu menangis saat anak gadisnya menjadi buronan. Dan hal itu juga yang membuat Ken akhirnya percaya.
__ADS_1
Ken melajukan mobilnya menuju kediaman Arkarna. Dia ingin menanyakan siapa Beni pengusaha baru itu.
Namun dia ragu kediaman mana yang ia tuju. Untuk kediaman utama Arkarna begitu tidak terbuka untuk umum. Yang sering berkunjung adalah orang-orang terdekat.
Ken melajukan mobilnya menuju kediaman Daffin. Karena ia tau bahwa Daffin lah yang menyelidiki kasus ini.
"Mau ketemu siapa?" tanya penjaga rumah Daffin kepada Ken saat di pintu pagar.
"Saya ingin bertemu Daffin Arkarna, apakah ada?"
"Apakah sudah ada janji?"
"Belum, saya temannya dulu saat kuliah di Cambridge."
"Baik, tunggu sebentar, saya akan menghubungi beliau."
Sang penjaga nampak masuk ke pos yang sudah di sediakan. Dia nampak sedang menelpon.
Tidak lama kemudian dia keluar dari posnya. Lalu membukakan pintu gerbang. Ken bersyukur Daffin mau menerimanya. Dia tau betapa sulitnya bertemu orang seperti Daffin Arkarna.
Ken masuk ke dalam rumah. Pintu sudah di buka oleh penjaga rumah yang lain. Ken melihat penjagaan di rumah ini tidak seperti yang dia perkirakan.
Ken mengira bahwa rumah ini akan penuh dengan penjagaan. Akan tetapi rumah ini hanya di jaga oleh penjaga yang berdiri di bagian luar rumah. Sedangkan di dalam tidak sama sekali.
"Selamat datang Ken Mahesa." ucap Daffin tersenyum menyambut kedatangan Ken.
Ken memang pernah mengenal Daffin waktu kuliah. Dia adalah adik kelas Daffin Arkarna.
"Apakah saya boleh duduk?
"Ohw tentu saja, silahkan duduk, setelah sekian lama akhirnya kamu mengunjungi aku." ucap Daffin.
"Bagaimana aku mengunjungi kamu setelah apa yang kamu lakukan terhadap saya." jawab Ken tersenyum mengejek.
"Emang apa yang saya lakukan terhadap kamu?"
"Jangan pura - pura bertanyalah setelah membuat perusahaan keluarga aku bangkrut." ucap Ken.
"Aku tidak ikut campur dalam bangkrutnya usaha kamu, tapi aku tidak bisa melarang papa aku berbuat seperti itu, karena kamu menyakiti Azzura yang sudah di anggap anak oleh mama aku." ucap Daffin membuat Ken hanya diam.
"Baiklah, lupakan semua itu, ada yang aku mau bahas lebih penting dari pada itu." ucap Ken duduk di kursi empuk tuan rumah.
"Pas kamu kesini, aku juga ada yang mau aku sampaikan kepada kamu." ucap Daffin.
"Bang aku tau, bahwa kamu kenal dengan Beni pengusaha Sawit aku tau kamu banyak kenal dengan pengusaha." ucap Ken.
Daffin tersenyum ketika Ken memanggilnya dengan panggilan abang. Dia melihat lelaki ini seperti di masa lalu ketika datang bertanya kepadanya.
"Kamu sudah tau tentang dia?"
Ken hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak mengenal dia terlalu akrab, dia pebisnis baru, tapi papaku mengenalnya." ucap Daffin.
__ADS_1
"Tapi sebelumnya, aku akan memberi tau kamu sesuatu dulu sebelum membahas dia, papa akan ke sini sebentar lagi, karena tau kamu kesini." ucap Daffin.
"Om Abian tau?"
"Iya, papa ingin menghajar kamu karena lalai dalam menjaga Azzura, karena kelalaian kamu, Azzura hampir saja celaka." ucap Daffin ingin menakuti Ken.
"Yang serius bang?"
"Kamu pernah liat aku bercanda?" tanya Daffin memasang wajah serius.
Ken mengingat Daffin adalah tipe yang dingin sedingin es batu. Apalagi bapaknya itu, yang terkenal paling dingin.
"Tapi tenang aja, kamu ada pawangnya di sini." ucap Daffin.
Tidak lama kemudian keluarlah Mezza beserta Kaylin dan Abian Arkarna.
"Kaylin." ucap Ken kaget melihat adiknya ada di rumah itu.
"Abang menyandera adik saya?" tanya Ken lagi.
Daffin melempar bantal sofa yang ada di dekatnya ke lelaki itu. Dia kesal karena bisa - bisanya lelaki itu menuduhnya padahal dia menyelamatkan adiknya.
"Bang." ucap Kaylin berlari ke arah Ken.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ken.
"Aku nggak apa-apa, aku Menag sengaja meminta perlindungan kepada bang Daffin, aku nggak bersalah bang." ucap Kaylin menangis memeluk abangnya.
Ken baru ingat bahwa adiknya memang juga mengenal Daffin karena juga berkuliah di kampus yang sama. Ken juga baru ingat lagi bahwa Kaylin pernah bekerja dengan Daffin di kala ia terpuruk.
"Terima kasih bang atas bantuannya."
"Aku melakukannya demi Kaylin bukan karena kamu." jawab Daffin.
"Tidak masalah demi siapapun, yang penting terima kasih telah melindungi dia." ucap Ken.
"Om jika mau memukul saya, saya juga iklas, silakan om." ucap Ken lagi.
"Siapa yang mau memukul kamu? saya ini udah tua, ngapain memukul kamu, habisin tenaga." jawab Abian papa Daffin.
"Hahahahahaha, dia percaya." ucap Daffin tertawa.
Ken akhirnya sadar bahwa dia sudah di kerjain oleh Daffin lelaki dingin itu.
"Sialan kamu bang." ucap Ken.
"Kamu nggak mau tau siapa Beni itu?" tanya Daffin.
"Iya bang."
"Baik, tapi masih ada yang kita harus tunggu, jadi kita harus menunggu dulu." ucap Daffin lagi membuat Ken bingung.
^^^Jangan lupa like dan komen ya...^^^
__ADS_1