
Azzura baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah beberapa jam menemani Ken di sana.
Sesampainya di rumah dia mendapati Azzam dan Papanya sedang menerima laporan dari anak buah Azzam.
Azzura hanya dia mendengarkan laporan dari anak buah Azzam. Dia tidak kaget karena adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya.
Dia sangat paham banyaknya lawan bisnis keluarganya. Dan apalagi ia pernah bersitegang dengan keluarga Mahesa.
"Jadi sudah tau siapa orangnya?" tanya Azzam.
"Menurut data yang kami selidiki, mereka memang anak buah keluarganya Mahesa akan tetapi bukan atas perintah Ken melainkan nona Kaylin."
"Kaylin?" tanya Azzam dan Azzura kaget.
"Iya, polisi sedang mengejar nona Kaylin."
"Lalu?" tanya Alan Adha.
"Tuan Ken terlambat saat mengetahui rencana adiknya ini,makanya tuan Ken ketika tau lansung mengikuti Azzura, dan belum sempat mencegat anak buahnya namun mereka sudah mencelakai nona Azzura dan tuan Rey."
"Karena tuan Ken tidak dapat menghentikan apa yang terjadi, maka dia melakukan apa yang dia bisa, dia sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil tuan Rey,agar mobil tuan Rey tidak masuk ke danau, akan tetapi mobil tuan Ken sendiri yang jatuh ke danau." lapor anak buah Azzam.
Azzura tidak percaya bahwa Ken rela mengorbankan nyawanya sendiri. Dia merasa terharu dengan apa yang di lakukan Ken terhadap dirinya.
Namun dia tidak akan pernah bisa memaafkan Kaylin adiknya Ken. Sampai kapanpun dia akan menuntut wanita itu karena telah menghilangkan nyawa Rey sahabatnya.
"Kamu bantu polisi mencari wanita itu, karena dia harus membayar apa yang dia perbuat." ucap Azzura dengan tegas.
"Kamu yakin wa?" tanya Azzam.
"Kamu nanya, kamu bertanya - tanya? aku jawab ya, iyalah yakin banget." ucap Azzura.
Azzam yang sedang marah terpaksa tertawa melihat tingkah kembarannya. Begitu juga sang papa. Namun tidak dengan anak buah Azzam. Mereka sekuat mungkin tidak tertawa di depan bosnya.
"Kalian ini lagi serius masih bisa bercanda." kata mamanya yang baru datang.
"Kalian boleh pergi, cari tau di mana wanita itu bersembunyi." perintah Azzam.
"Baik bos."
Anak buah Azzam meninggalkan ruang tamu. Sedangkan Azzam tersenyum melihat istrinya turun menggendong Shena.
"Anak papa, sini nak." ucap Azzam mengambil anaknya dari gendongan sang istri.
Azzam membawa Fatih duduk bersamanya sedangkan Shena duduk di sebelah kiri Azzam.
"Jadi gimana dengan Ken?" tanya Shena yang belum tau apa-apa.
"Dia masih belum sadarkan diri, tapi dia menyebut nama Wawa terus." jawab Azzam.
"Sepertinya Ken begitu mencintai kamu wa." ucap papanya.
"Aku nggak tau pa, tapi aku berterima kasih banget sama dia karena telah menyelamatkan aku."
"Tapi dia memang harus bertanggung jawab begitu, karena semua ulah adiknya sendiri." ucap mama Bella.
Dari semua yang ada di ruang tamu itu, nampak sekali bahwa mama mereka masih belum terima dengan perbuatan adik Ken meskipun Ken menyelamatkan anaknya.
__ADS_1
"Untuk hal itu biarkan kaylin yang bertanggung jawab ma." ucap Azzam.
"Pasti nanti mama Ken nggak terima, dan malah menyalahkan adik kamu, karena itu pembunuhan berencana, hukuman jika nggak di hukum mati ya seumur hidup." ucap mama Bella.
"Biar ajalah ma, orang anaknya memang salah."jawab Azzura.
"Kamu nggak usah berpikir untuk kembali bersama Ken lagi ya, takut mama kamu kenapa - Napa pula." ucap mama Bella.
Alan Adha hany diam mendengar ucapan sang istri. Dia tidak menyalakan sang istri sepenuhnya karena wajar sebagai orang tua takut jika nyawa anaknya terancam.
"Biar saja Wawa yang menentukan hidupnya ma, dia tau yang terbaik, lagian ini demi Syifa." ucap Azzam.
"Aku tidak ada niat untuk kembali bersama Ken, aku memang akan sering menjenguknya dan itu sebagai simbol terima kasih." ucap Azzura.
"Bagus, lebih baik begitu wa." jawab mamanya.
"Ting tong tong tong." Terdengar suara bel berbunyi.
"Kayaknya ada tamu, aku buka dulu."
"Kok Pak Tono nggak ada nelpon jika ada tamu?" tanya Azzam.
"Mungkin ini keluarga kita atau teman dekat." jawab Alan Adha.
Benar saja ucapan sang papa mereka. Nampak yang datang berombongan. Pertama masuk adalah Dita Arkarna bersama dengan Abian Arkarna. Lalu di susul oleh Aya Arkarna dan suami Alfa yang menggendong anak mereka.
Di belakang mereka ada Mezza Dazzuri Kusuma yang merupakan sepupu Azzam dan Azzura. Lalu menyusul Daffin Arkarna yang merupakan suami Mezza bersama dengan empat anaknya.
"Wah ramai." ucap mama Bella nampak senang.
Walaupun Azzam telah memilihnya tiga tahun yang lalu, Namun tetap ada kecemburuan ketika melihat Aya Arkarna. Kenapa kecemburuan terlalu besar karena dia tau bagaimana Azzam mengejar cinta Aya.
Aya yang merupakan sahabatnya itu, memang sangat cantik. Dan Shena juga tau apa yang Azzam lakukan untuk Aya Arkarna.
"Kami datang mau melihat keadaan Azzura, maaf kami baru sempat menjenguk karena baru kembali." ucap mama Dita mengulurkan tangannya.
"Iya, nggak apa-apa kok mama Daffin, Alhamdulillah Azzura nggak apa-apa, mungkin cuma shock." ucap mama Bella membalas uluran tangan mama Dita.
Mereka bersalaman lalu berpelukan. Begitu juga yang lainnya.
Shena sekali - kali melirik ke arah Azzam yang nampak tersenyum sejak kedatangan keluarga itu.
Shena nggak tau apa penyebab suaminya itu tersenyum tanpa henti. Dia juga melihat bagaimana Azzam bersalaman dengan Aya.
"Sehat ya?" tanya Azzam.
"Alhamdulillah sehat, kamu gimana ?" tanya Aya.
"Alhamdulillah sehat juga." jawab Azzam.
"Sayang, tolong ambil Moana dulu, aku mau angkat telpon dulu." ucap Alfa nampak mendekat ke arah Aya.
Aya pun mengambil anak ke tiganya yang masih berumur 6 bulan.
"Biar sama Omata aja, Aya itu lagi hamil jadi jangan menggendong bayi dulu." ucap mama Dita.
Shena dan Azzam nampak kaget mendengar ucapan mama Dita. Keduanya masih belum di karuniai anak kedua, namun Aya sahabat mereka sudah hamil anak ke empat.
__ADS_1
"Kok kayak kejar setoran sih Ya, aku baru satu kamu sudah mau empat aja." ucap Azzam.
"Memang kami semoga kejar setoran, target mau sebelas." jawab Alfa.
"Kesebelasan dong." Jawab Azzak sambil tertawa.
"Nggak apa-apa, Tante malah senang Zam, biar rumah ramai, soalnya dulu Tante anak tunggal, tau gimana sepinya rumah." ucap mama Dita.
"Iya, kalian jika bisa harus begitu juga, biar rumah ini ramai." ucap Alan Adha sambil tersenyum.
"Om ngomong gampang, kami yang melahirkannya yang nggak enak, emang kami kucing yang tiap tahun melahirkan." ucap Aya protes.
Semua tertawa mendengar ucapan Aya yang prootes. Termasuk Shena yang dari tadi hanya murung.
Sang anak - anak dari keluarga Arkarna nampak sedang main di ruang keluarga bersama - sama.
"Kenapa nggak ngabarin dulu, biar masak yang banyak, makan malam di sini nantikan?" tanya mama Bella.
"Kayaknya nggak bisa, lain kali kita kumpul lagi." jawab mama Dita.
"Jadi udah ketemu yang mencelakakan Azzura?" tanya Abian akhirnya bersuara.
"Sudah bang, namun ini kayaknya kita agak susah." jawab Alan Adha.
"Kenapa?" tanya Dita.
"Karena yang melakukan perencanaan ini adalah adiknya Ken sendiri, aku agak bingung."
"Tapi tetap aja di tuntut karena telah menghilangkan nyawa seseorang." jawab Abian lagi.
"Tapi apakah om yakin Kaylin terlihat di di sini?" tanya Daffin kali ini.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Abian kepada anaknya.
"Karena aku kenal dengan Kaylin pa, dia memang manja dan semaunya namun dia baik." jawab Daffin.
"Bang kenal dia?" kali ini Azzura yang bertanya.
"Iya, waktu perusahaannya bangkrut dia datang melamar pekerjaan, sebenarnya aku dan Kaylin itu pernah sama-sama di Cambridge,jadi waktu aku mengambil S2,dia baru menjadi mahasiswa baru." cerita Daffin.
"Tapi selama ini dia sangat membenci aku bang." ucap Azzura.
"Kamu tau atas dasar apa? Kaylin ini memang pemikirannya seperti anak kecil, gampang ngambek, emosian tapi sebenarnya anaknya baik." ucap Daffin.
"Mungkin aja dia tidak terima karena keluarganya aku buat miskin bang" ucap Azzam.
"Awalnya dia memang marah, namun pada akhirnya dia bisa menerima semua, dia bahkan berkerja dengan sungguh-sungguh membiayai keluarganya saat Ken terpuruk." cerita Daffin.
"Aku bukan membela siapa - siapa, namun ada baiknya memang di selidiki lagi, karena jangan sampai salah orang,aku bisa menjamin bahwa bukan Kaylin yang melakukannya." ucap Daffin dengan sangat yakin.
"Ada baiknya kita selidiki lagi." ujar Abian.
"Nanti saya akan bantu menyelidikinya, karena saya sangat yakin bukan dia pelakunya." ucap Daffin.
"Semoga begitu." ucap Mama Bella.
Setelah itu mereka membahas keluarga masing-masing. Pertemanan keluarga mereka memang sudah seperti keluarga besar.
__ADS_1