
Ken telah beberapa hari pulang dari rumah sakit. Setelah pulang rumah sakit dia segera mencari tau di mana keberadaan adiknya.
Ken juga sudah memutuskan untuk mengejar cintanya. Apapun rintangannya akan ia tempuh. Karena dia tidak mau perjuangannya yang 3 tahun ini sia-sia.
Mama Ken marah kepadanya karena tekadnya tersebut. Mereka malah adu mulut karena bagi Ken adiknya Kaylin memang salah.
"Aku dengar lansung ma, anak buahku sedang menelepon dengan Kaylin, makanya aku lansung mengikuti Azzura, namun aku tidak tau bahwa mereka punya plant B." ucap Ken menjelaskan
"Kamu yakin bahwa mereka sedang menelpon dengan ke adikmu? bisa ajakan mereka berpura-pura."
"Nggak mungkin ma mereka bermain berpura-pura ma, lagian mereka tidak tau aku mendengarnya, lagian Kaylin memang tidak menyukai Azzura ma."
"Tidak menyukai bukan berarti adik kamu sanggup melakukan hal sekeji itu."
"Baik ma, aku akan selidiki masalah ini, tapi jika terbukti Kaylin yang melakukannya, aku tetap akan kembali mengejar Azzura ma, aku sangat mencintai dia." ucap Ken kepada mamanya.
"Ah kamu, saat di tangan kamu selingkuhi, sekarang malah ingin dia kembali." ucap mamanya.
"Itulah hidup ma, penyesalan selalu terjadi belakangan, aku serius dengan Azzura ma, aku harap mama bisa menjaga sikap kepadanya." ucap Ken menasehati mamanya.
"Menjaga sikap apa maksud kamu haaaa?" tanya mamanya nada tinggi.
"Ya jangan marahin dia, dia nggak pernah salah, Ken yang salah ma telah menyakiti hati dia terlalu dalam." ucap Ken bicara dengan sebaik mungkin dengan mamanya.
Setelah selesai mengobrol, Ken lansung mencari tau dalang sebenarnya.
Ditempat lain Daffin nampak sedang membaca laporannya bersama dengan anak buahnya. Di sana juga ada Kaylin.
__ADS_1
Selama ini Daffin sengaja menyembunyikan Kaylin. Dia kaget saat di tuduh sebagai wanita yang merencanakan pembunuhan.
Kaylin mendatangi Daffin saat di rumahnya. Wanita itu datang tengah malam sambil menangis minta tolong perlindungan. Wanita itu juga menjelaskan semuanya kepada Daffin.
"Jadi ini ulah Claudia?" tanya Daffin kepada anak buahnya.
"Apakah bukti - bukti sudah lengkap?" tanya Daffin.
"Sudah bos." jawab lelaki itu sambil memberikan Map kelas bosnya.
Daffin membaca semua laporan dengan teliti. Dia membaca dengan tidak terburu-buru.
Kaylin agak kaget ketika tau siapa dalang di balik semua ini. Dia tidak terima dengan fitnah yang di kirim kan oleh wanita Claudia.
"Kalian serahkan kepada Hendri, sisanya biar dia yang menyelesaikannya."perintah Daffin anak buahnya.
"Baik tuan."
"Terima kasih bang Daffin, aku nggak tau tanpa Abang." ucap Kaylin kepada Daffin.
"Sama - sama, setelah polisi menetapkan dia, maka kamu akan bisa hidup bebas lagi." ucap Daffin.
"Iya bang, aku Janji akan membalas amal kebaikan Abang." ucap Kaylin.
"Cukup kamu menjadi anak yang baik aja, jangan resek dengan Azzura nanti."
"Baik bang."
__ADS_1
"Mas, liat siapa yang datang." terdengar suara Mezza memanggil suaminya di ruang kerja.
Daffin lansung keluar dari ruang kerja. Dia melihat istrinya dan anaknya yang kedua sedang bermain bersama pamannya Zahran.
"Mama, papa." ucap Daffin mencium papa dan mama mertuanya bergantian.
"Kami kangen sama yang kecil." ucap mama Siska.
"Jadi sama aku nggak kangen ma?" tanya Mezza kepada sang mama.
"Kamu biar di kangen sama suami aja." jawab mamanya sambil tersenyum.
Tidak lama setelah mereka duduk, Siska melihat seorang wanita yang keluar dari ruang kerja menantunya.
"Siapa itu? itu bukannya Kaylin yang sedang jadi buronan polisi.?" tanya mama Siska.
"Bukan dia pelaku utamanya, aku sudah ketemu dalang sebenarnya ma." ucap Daffin.
"Kaylin sini." panggil Mezza.
Sebelum sampai di kursi ruang
tamu, dia melihat sosok Zahran yang sangat gagah di matanya. Lelaki yang sedang sibuk bermain bersama dengan keponakannyya itu.
"Ma ini Kaylin Mahesa, anaknya baik kok ma." ucap Mezza memperkenalkan Kaylin.
"Ohw, semoga nama kamu cepat bersih kembali ." ucap mama Mezza.
__ADS_1
Sesekali mama Siska melihat arah pandangan Kaylin yang menatap anak bujang kembarnya, yaitu Zahran.
"Kamu suka Zahran?" tanya Mama Siska lansung aja membuat Kaylin lansung terbatuk-batuk, sedangkan Zahran hanya diam tanpa peduli apa yang mamanya bicarakan.