Kisah Kelam Seorang Janda

Kisah Kelam Seorang Janda
Bab 3


__ADS_3

Merlin yang sudah patah arang terhadap Adel dan memberi ancaman pada Adel. Agar tidak lagi menyalahkan anaknya walaupun Merlin tahu jika itu kesalahan Haris.


"Kamu harus ingat Adel , kalau saja Haris tidak menikahimu dulu hanya karena anakku menyukaimu , aku tidak akan menerimamu sebagai mantu ku ! kau sudah mengambil anakku dari hidupku , untung saja Haris tidak termakan oleh hasutanmu untuk terus melawanku ! ibu akan menyurug Haris untuk menceraikan mu , agar cepat jauh dari wanita parasit sepertimu , yang hanya bisa mengambil semua harta anakku ! " Gerutu Merlin yang tidak ada habis-habisnya.


" Dan asal kamu tahu , Haris sudah ibu jodohkan pada anak teman ibu yang lebih kaya bahkan mempunyai banyak cabang perusahaan , agar nanti hidup anakku susah seperti bersamamu , kau memang parasit dikerluargaku " tunjuk Merlin lagi dengan meluapkan semua kemarahannya pada Adel.


Adel yang mendengar semua ocehan Merlin ia pun segera berdiri dan lalu angkat suara " oke , jika itu mau ibu , aku akan tunggu surat cerai dari Haris , karena aku pun sudah tidak sanggup hidup bersama Haris " sahut Adel yang terpaksa bicara keras pada Merlin ibu mertua Adel.


" Baik , jangan pernah kamu berharap Haris akan memberimu harta sedikit pun , dan Erick akan ibu ambil , karena ibu tidak ingin cucu kesayangankku tidak makan jika tinggal bersamamu" imbuh Merlin.


Adel tercengang mendengar sedikit ancaman dari Merlin " jika Erick tinggal bersama Haris, aku tidak akan diberi nafkah sama sekali oleh Haris , aku harus memikirkan cara agar Erick tetap bersamaku " ucap batin Adel karena untuk saat ini Adel tidak punya uang simpanan sedikit pun seraya berdiri seperti patung.


Merlin yang melihat Adel terdiam seperti patung ia pun tersenyum jahat " kamu tidak akan ku biarkan mengambil cucuku dari tangan Haris , karena aku tahu kamu tidak akan bisa hidup tanpa uang , mulai sekarang kamu bekerja , cari uang sendiri tanpa harus membebani anak ku" Merllin bicara ketus pada Adel .


Adel mengernyit " Sial , ibu mertuaku sudah tahu rencana ku , baiklah untuk saat ini aku berpura-pura menuruti keinginan Haris dan mertuaku " ucap batin Adel lagi .


" Baik , jika itu memang keinginan ibu dan Haris , Erick akan ku serahkan pada kalian , tapi jika aku mendengar Erick tesakiti oleh mu bahkan Haris sekalipun , aku tidak akan mengampuni kalian " Ancam Adel kali ini.


Merlin kembali tersenyum jahat " Heuh , kamu tidak layak untuk mengancamku seperti ini , aku bahkan tahu niat jahat mu untuk mengambil Erick agar Haris terus memberi mu uang , tapi itu tidak akan terjadi di kemudian hari ,! ingat itu Adel " Ancam lagi Merlin seraya berlalu pergi meninggalkan Adel seorang diri dalam keadaan yang tidak karuan .


Adel melihat Merlin penuh dengan kekesalan " Dasar orang tua jahat , bisa-bisanya dia mengancam ku , aku akan buktikan jika aku akan lebih kaya dari mu bahkan Haris sekalipun" gerutu Adel seraya masih melihat punggung Merlin dengan berjalan yang sudah tertatih.


Adel menjatuhkan tubuhnya di sofa " Aku harus mencari pekerjaan untuk makan dan membeli rumah , pasti rumah ini tidak akan disewakan lagi padaku karena aku sungguh kehabisan uang karena sudah ku habiskan bersama kekasihku kemarin malam ! andai saja ku tahu kejadian ini akan terjadi dengan cepat , aku tidak akan pergi dengan kekasihku kemarin malam , Haris kurang ajar !! " gerutunya lagi seraya mengepalkan kedua lengannya yang berada di samping tubuhnya.


Adel melihat arah dinding untuk melihat jam , ternyata sudah pukul 11 siang " ternyata lama juga si tua Merlin berada di sini ! aku sungguh muak dengan ocehan nya bahkan berani mengancamku !" imbuhnya.


Adel bangkit dari duduknya dan berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya .


***


Merlin sudah sampai di rumah lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang lembut kemudian menarik bantal kecil untuk menjadi penyanggah lengannya. Haris yang melihat ibunya dengan wajah datar segera mengambilkan segelas air putih dingin dikulkas.


" ibu kenapa ? wajah ibu terlihat sedang meluapkan amarah? " tanya Haris penasaran seraya menghampiri Merlin yang sedang duduk di sofa serta memberikan segelas air puith yang baru saja ia ambil dari kulkas.


" terimakasih Haris ! " Sahut Merlin lalu meminumnya hingga tidak ada yang tersisa sedikitpun .

__ADS_1


Haris melihat ibunya aneh " ibu dari mana sepagi ini ibu tidak biasanya keluar rumah? lalu ibu terlihat sangat lelah sekali " tanya Haris pada Merlin seraya mengambil gelas kosong yang berada di tangan Merlin.


Merlin segera membenarkan posisi duduknya hingga terlihat sejajar dengan Haris lalu menatap wajah Haris " ibu sudah memberi ancaman pada Adel , agar Adel meninggalkan mu , aku tahu kamu bersalah telah berselingkuh dibelakang Adel tapi ibu tidak menyalahkan mu untuk ini , justru ibu sangat berterima kasih padamu karena kamu lepas dari wanita parasit itu ! sudah ibu katakan dulu , jika kamu menikah dengannya kamu akan terus menderita , sekarang kamu bisa menyadarinya jika Adel bukan wanita yang cocok untukmu " Keluh Merlin pada Haris seraya mengungkit kisah lama .


Haris tersenyum" Maafkan anakmu ini ibu ! karena dulu aku tidak mendengarkan mu bahkan aku selalu saja membantah ibu hanya karena Adel , tapi sekarangkan ibu sudah lihat dan senang kalau aku akan berpisah dengan Adel , lagipula aku dulu ingin menikahinya karena Adel orang kaya bu , aku bisa menjadi seperti berkat Adel dan keluarganya ! apakah ibu sudah lupa ?" Sahut Haris lembut dan berikan Merlin ingatan .


" iya , tapi ini semua berkat kerja kerasmu sayang , bukan hanya karena referensi keluarga Adel !" Seru Merlin yang tidak ingin dirinya disalahkan oleh Haris.


" Sudah - sudah , ibu jangan marah , ibu harus jaga kesehatan ibu , oke ! "


pinta Haris." oh iya besok aku akan ke pengadilan untuk mengurus gugatan cerai pada temanku " lapor Haris pada Merlin.


Merlin tersenyum lebar mendengar ucapan Haris" Ya sudah , ibu ke kamar ya !jangan lupa kamu ambil Banu dirumah tante mu ?" perintah Merlin seraya meninggalkan Haris di ruang tamu .


Haris mengangguk pelan dan menghela nafas dalam.


***


"Erick, mari makan sayang " Ajak Paula.


" Aku tidak mau tante, masakan tante tidak enak dan itu membuat ku ingin memuntahkannya " Tolak Erick seraya menutup mulutnya dengan kedua lengannya yang kecil dan imut.


Erick melihat Ken sedang asik menyantap sarapannya " Baik lah, Erick akan memakannya, tapi jika tante berbohong padaku, aku akan laporkan pada ayah agar tante di marahi oleh ayah " Ancam Erick pada Paula.


Paula memainkan bola matanya malas " Iya, jika masakan tante kali ini tidak membuat mu senang, Erick boleh melaporkan pada ayah, mari makan? " Bujuknya lagi.


Erick pun berlari menghampiri Paula yang sudah kembali duduk di kursi dan menemani suaminya Ken untuk sarapan bersama dengan Erick.


" Ini sarapan milik Erick, roti dengan selai coklat di tambah dengan sedikit selai strawberry, ini kesukaan Erick bukan? Dan ini segelas susu putih untuk Erick agar Erick cepat besar? " Kembali lagi membujuk Erick.


Erick memanyunkan sedikit bibirnya yang menggemaskan " Lalu, mana sayur untuk Erick tante, apa tante hanya memberi ku sepotong roti dan susu? Nenek bilang, jika aku bersama tante, tante akan memberimu banyak makanan? Walaupun masakan tante tidak enak dibandingkan dengan masakan ibu ku? " Ucapan Erick sedikit membandingkan masakan Paula dan Adel.


Paula kembali berubah dengan raut wajah kesalnya " Erick, tante dan ibu mu sangat berbeda? Tante mu ini adalah seorang model terkenal di banding dengan ibu mu yang hanya tinggal di rumah saja " Sahut Paula yang menyombongkan dirinya di hadapan Banu.


Ken yang mendengar percakapan mereka seolah saling serang hanya tersenyum" Sudah - sudah, kamu ini anak kecil saja di lawan " Keluh Ken yang tidak ingin mendapat masalah dengan Haris.

__ADS_1


" Sayang kamu itu sekarang sudah dipercaya oleh mama, jika kamu membantu mengurus Erick, sudah pasti ibu mu akan memberimu sebagian perusahaan milik ayah mu yang sudah mati itu " Lontar Ken pada Paula.


Seketika Paula terdiam dan berpikir " Jika aku seperti ini terus, aku akan mengambil alih perusahaan milik Haris sekaligus, aku pastikan akan mendendang Haris sebagai ahli waris di keluarga " Pikir Paula dengan senyum-senyum.


" Baiklah, untuk kali ini saja aku mengalah pada anak kecil yang sangat membuatku kesal dan mengeluarkan kerutan di wajahmu " Gumamnya.


"Erick sayang, mari sayang duduk dekat tante dan pamanmu " Ajak Paula kembali baik pada anak itu.


Erick pun berjalan ke arah Paula dan Ken dan duduk di kursi lalu ia memakan sepotong roti dan segelas susu yang sudah di sediakan oleh Paula.


Paula dan Ken saling bertatapan lalu melirik jahat ke arah Paula yang sedang asik menyantap sarapannya.


" Tante, aku boleh minta lagi? " Erick menyodorkan piring kosong pada Paula seraya menunjuk ke arah roti dengan bibir runcingnya.


Paula mengernyit melirik kearah roti yang hanya sisa lima potong roti saja lalu terpaksa untuk memberikan senyuman pada Erick " Hmm, boleh!! Tapi kamu harus habiskan roti yang ada didalam mulut mu ya, nanti tante akan buatkan lagi untuk Erick? " Sahut Paula .


" Baik, tante ,tapikan rotinya sudah habis tante dipiringku,coba tante lihat saja sendiri," Balas Erick kembali mengunyah roti lalu meminum sedikit susu untuk membantu mendorong roti yang ada di dalam mulutnya.


Erick mengangkat kedua tangannya " Tante - tante, roti ku sudah habis! Sekarang boleh tidak aku meminta nya lagi, aku masih lapar tante " Pinta Erick pada Paula.


Paula memainkan bola matanya malas lalu menghela nafas seraya mengambil beberapa potong roti tawar yang berada di atas meja lalu memberikan sedikit selai coklat dan strawberry" Ini milik Erick, habiskan ya ? Tante dan paman akan ke kamar dulu, kamu nanti main saja sendiri " Pesannya.


" Baik, tante " Sahut Erick yang sibuk dengan roti yang berada di tangannya.


Kemudian Paula dan Ken kembali ke dalam kamar dan meninggalkan Erick seorang diri.


" Sayang, apakah tidak apa-apa jika Erick kita tinggal kan sendiri, kamu tidak takut Erick diculik penjahat? " Ujar Ken seraya merangkul Paula.


" Tidak sayang, pintu sudah aku kunci, lalu pintu gerbang pun sudah kunci " Jawab Paula seraya memberi senyuman pada Ken.


Ken mengusap puncak kepala Paula " Kamu pintar sekali sayang, tidak sia - sia aku menikahi mu " Goda Ken.


Paula mencubit kecil pinggang milik Ken " Kamu bisa saja " Dengan senang hati Paula memberi kan ciuman hangat pada pipi sebelah kanan Ken.


Ken membalas kecupan di pipi kening Paula, mereka pun masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan Erick yang sedang menghabiskan sisa rotinya lalu menghabiskan segelas susu yang diberikan oleh Paula.


Erick cepat turun dari kursi dengan tubuhnya yang gemuk seperti bola dan pipi seperti kue bakpau kemerahan.


__ADS_2