
Sepanjang perjalanan mereka membahas tentang rumah dan masa depan. Wawan sangat mencintai Adel berniat ingin membawa hubungan menjadi ke arah lebih serius, namun Adel belum siap untuk menempuh jalan ke arah keseriusan.
Rasa trauma yang Adel rasakan masih melekat di pikiran nya. Ia terdiam hanya ingin memikirkan anaknya yang jauh darinya.
Tiba-tiba niat jahat Adel pun muncul, ia mulai ingin memanfaatkan harta Wawan saja, hanya untuk bersenang-senang bersama laki-laki lain selain Wawan.
"Sayang, " panggilku sembari mengatur posisi nya hingga menjadi lebih mudah untuk bicara pada Wawan.
"Hm , iya ada apa sayang ?," Tanya Wawan lembut yang masih dengan kemudinya.
"Aku mau beli ponsel keluaran terbaru,!" Sahut Adel manja tak lupa berikan senyuman pada kekasihnya.
Wawan terdiam sejenak tak menjawabnya .
"Sayang , kamu dengar aku tidak ? Aku ingin ponsel terbaru , ponsel yang ku punya sudah tidak berfungsi dengan baik , " Ucap Adel sedikit membentak manja.
Wawan pun tersenyum lalu menjawab "Iya sayang , aku minta maaf ya , tadi aku fokus melihat arah depan karena ada lampu merah," Sahutnya lembut sembari menoleh kearah Adel.
"Jadi , bagaimana kamu mau belikan aku ponsel terbaru atau tidak ?" Kembali menagih.
"iya , kita pergi Mall Pelangi sekarang , ya ! Pacar aku ini kalau sudah ada maunya harus selalu diturutin, " cubit kecil mendarat di hidung mancung milik Adel.
Adel tertawa kegirangan "Mm, sayang kamu baik sekali ! Aku jadi semakin cinta sama kamu " yang merayu kekasih hatinya.
Wawan tertawa kecil lalu mengerucutkan bibirnya seolah-olah menciumnya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh , Adel pun melakukan hal yang sama apa yang Wawan lakukan padanya.
Mereka pun bermesraan di dalam mobil.
*
"Paula, bangun sudah jam 4 sore , kenapa hingga sekarang Erick tidak terdengar suaranya , ya ?" Tanya Ken mengoyak tubuh Paula yang tertidur di dekapannya, Ken merasa heran karena biasanya setiap jam Erick selalu berteriak meminta makan , namun kali ini begitu berbeda.
__ADS_1
Paula pun tersadar dari tidurnya lalu mengucek ke dua mata dengan satu tangan kanannya "Mungkin , Erick tidur sayang , karena lelah bermain ," Sahut Paula yang sembari membuka matanya secara perlahan-lahan dan mulai mengumpulkan rohnya yang terbang-terbang entah kemana.
Ken beranjak turun dari ranjangnya lalu melangkah ke arah pintu untuk mencari Erick karena ia penasaran tidak mendengar suaranya.
Ken mulai mencari dari ruang tamu lalu dapur bahkan kamarnya pun kosong tidak ada Erick dimana pun.
Karena panik Ken berteriak memanggil Paula yang masih berada di dalam kamarnya.
"Paula.. Paula ..," Panggil Ken keras.
Paula pun mendengar teriak Ken yang memanggilnya dengan keras , namun itu membuat Paula kesal karena sudah mengganggu aktifitas Paula untuk berdiam diri selama 15 menit .
"Ih , aku punya suami kenapa selalu suka berteriak di dalam rumah , bukankah itu tidak baik, jika terdengar oleh tetangga , itu bisa menurunkan harga diriku sebagai model tercantik di komplek ini, " Gerutu Paula yang melangkah ke arah suaminya yang berada di luar kamar.
"Ada apa sih , kenapa kamu teriak-teriak didalam rumah , apa kamu tidak merasa malu jika ada orang tau ," tegur Paula yang berjalan ke arah dapur untuk meminum segelas air putih.
Tanpa jeda Ken pun memberitahu Paula jika Erick hilang.
"Apa, kamu bilang , hilang ! Yang benar saja , seingat ku, aku sudah mengunci semua akses pintu dari gerbang hingga dapur loh , bagaimana mungkin bisa Erick hilang ? Walaupun ada penculik , ia pasti berteriak Ken , ! Paula yang tidak ingin disalahkan atas Keteledorannya.
Paula mulai mencari alasan untuk bicara pada Merlin jika tiba-tiba bertanya tentang Erick.
"Aku sudah memikirkan cara agar kita tidak dimarahi oleh kakakku dna ibuku ," Ucap Paula yang segera duduk disamping Ken dengan wajah panik dan cemas.
Ken tidak mau jika istrinya merencanakan hal bodoh lagi tapi untuk kali ini adalah pengecualian , karena otak licik Paula selalu ada bahkan sudah mendarah daging di tubuh Paula.
"Kau punya rencana apa , memangnya ? Tapi aku tekankan , agar punya rencana yang tidka masuk akal , itu akan membuat kita terpojokkan oleh kesalahanmu," Ken mengingatkan Paula sekaligus untuk mengingatkannya.
"Tenang saja , sayang ! Aku punya solusi cemerlang, " Sahut Paula menarik ujung bibirnya lalu tersenyum.
Ken terdiam lalu berpikir "Sudah ku duga, pasti Paula mengeluarkan jurusnya lagi agar Merlin percaya padanya, ini bisa menguntungkan aku , jika terus seperti ini ! Ternyata aku punya istri yang licik , kakak ipar yang selalu bersikap manja pada Merlin walaupun sudah beristri dan punya seorang anak laki-laki dan ibu mertua yang selalu membela anaknya walaupun mereka bersalah sekalipun, bahkan jika aku melakukan perbuatan tanpa kesalahan itu selalu menjadi santapan ibu mertuaku,"
__ADS_1
"Baiklah , terserah kau saja , yang penting aku tidak mau disalahkan atas hilangnya Erick , " Pesan Ken pada Paula.
Paula tertawa lalu memeluk erat tubuh Ken yang bersandar di pangkal sofa.
Tidak lama mereka membahas masalah hilangnya Erick , Merlin menghubungi Paula dengan panggilan video call.
Paula seketika menjadi gugup dengan tubuh yang gemetar, ia menoleh ke arah Ken lalu menunjukkan ke layar ponselnya pada Ken.
Dengan berbisik "ini bagaimana ?," Tanyanya Paula yang belum menyiapkan kata-kata agar Merlin percaya padanya.
Paula mulai mencari posisi yang mudah dan merangkai kata-kata yang tepat untuk memulai obrolan.
Ponsel pun berdering sebanyak 2 kali, Paula masih belum menemukan obrolan pembuka. Itu yang membuat nya gelisah hingga tidak mengangkat panggilan masuk dari Merlin.
Merlin pun mengirim pesan singkat padanya yang berisikan.
( Paula , angkat telpon ibu sayang , ibu ingin bicara padamu )
Paula yang melihat notifikasi whatsapp nya yang paling teratas, dengan berat hati ia mengangkatnya.
[ Paula , kenapa kamu sekali mengangkat telpon dari , ibu ]
[ maaf ibu , aku habis dari kamar mandi ? Ada apa ibu menelpon ku ]
[ ibu , mau beritahukan pada mu jika kakakmu sudah mengajukan cerai ke pengadilan tadi pagi ]
Paula yang mendengar berita itu sangat terkejut , dengan mata melebar tidak percaya.
Ken yang melihat ekspresi istrinya seperti itu , mulai ingin tahu apa yang Merin katakan padanya.
"Ada apa ?"bisik Ken pelan tanpa mengeluarkan suara hanya gerakan bibir saja.
__ADS_1
Paula mengangkat jari telunjuknya menyatu dengan bibirnya mengisyaratkan untuk tidak memotong pembicaraannya dengan Merlin.
[ Lalu , bagaimana dengan Adelia , apakah dia menerima keputusan Haris ]