
"Apa, kamu bilang?, " Intan pasang wajah terkejut kembali menoleh ke Wawan yang berdiri tepat di depan toko perhiasan yang sedang memandangi arah lantai bawa.
"Haris menceraikan mu atas dasar apa,? " sambung Intan kembali menatap Adelia bingung.
Adelia menoleh kearah Wawan lalu menggerakkan wajah nya "Sepertinya, cerita di sini sangat tidak enak bagiku, terlebih lagi ada Wawan disini, kau berikan nomor ponselmu, kita atur waktu untuk bahas masalah ku, " ucap Adelia sembari meraih ponselnya yang baca di dalam mini bag untuk mencatat nomor Intan
Intan pun langsung menurut, ia memberikan nomor ponselnya "08129887****, itu nomor baru ku, aku tunggu kabar dari mu! karena keluarga mu selalu menanyakan kabar dari mu lewat aku, sedangkan aku baru sampai dari luar kota, tidak sempat untuk pulang ke rumah, " sahut Intan yang memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas jinjing berwarna merah muda.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu, kasihan Wawan sudah menunggu lama, " pamit Adelia berlalu melangkah cepat meninggalkan Intan yang masih berada di belakangnya.
Sedangkan Intan berkacak pinggang menatap punggung kecil milik Adelia berlenggok seperti bebek menghampiri Wawan.
( Aku pun menoleh ke arah belakang untuk memastikan Intan masih ada, seperti dugaan ku, teman baikku masih menatapku tersenyum melambaikan tangannya, aku hanya membalas dengan senyuman terbaikku. Aku melanjutkan langkahku bersama Wawan menunggu basement untuk mengambil mobil yang terparkir di sana )
( Aku tidak menyangka jika Wawan bertanya padaku tentang wanita yang bersama ku tadi, Aku hanya menjawab seperlunya tidak dengan detail, karena ini bisa membuat ku terancam, justru Intan lah menjadi ancaman ku bukan Wawan, sudah terlalu banyak rahasia yang diketahui oleh Intan tentang baik buruk ku, sejauh ini pertemanan ku baik-baik saja tapi aku tidak tahu ke depannya seperti apa? aku hanya bisa menghindari dan menjaga jarak bukan untuk memutuskan tali pertemanan ku dengan Intan. )
"Sayang, pulang ke apartemen ku mau tidak? " Wawan menawarkan pada Adel.
"Ah, apartment mu? " Tanya Adelia bingung memainkan bola matanya ke sana kemari.
__ADS_1
"Iya sayang, aku mau lihat aja sih, siapa tau kamu suka dan nyaman di sana, jadi kamu tidak perlu bayar uang kost lagi, bagaimana? " Wawan sedikit memaksa sembari memegang telapak tangan Adel yang berada di pangkuannya.
Karena bingung dan tidak bisa menolak, akhirnya Adelia terpaksa menyetujui penawaran Wawan yang kerap kali mengajaknya untuk tinggal di sana.
"Entah apa yang di ada di pikiran Wawan, tapi aku harus melihat perkembangan laki-laki ini, jika Wawan berniat tulis untuk menjadi kan ku sebagai istrinya dan tidak bersikap kurang ajar padaku, aku akan menyetujui untuk bertemu dengan orang tuanya, "
"Aku harus menjaga harga diriku, walaupun aku sudah 1 tahun menjalin hubungan dengan nya, Wawan tidak sama sekali menyentuhku , walaupun hanya sekedar cium itu karena aku yang meminta nya. Entah kenapa aku sangat berjaga jarak pada nya sedangkan bersama laki-laki lain? aku sangat agresif sekali. Aku memang sudah mengkhianati Haris dan Wawan tapi ini semua memang salah Haris yang sudah bermain api padaku, hingga aku seperti ini " Batin Adelia bicara.
Sudahlah aku memang bersalah kepada mereka berdua, apa pun yang terjadi padaku nanti, itu memang semua sudah jalan takdir ku dan aku harus menerima konsekuensinya.
"Hei, sayang? kamu kenapa bingung gitu sih, ? kenapa kamu masih ragu sama ketulusan ku atau kamu berpikiran bahwa aku akan melakukan sesuatu padamu,? " Ledek Wawan tersenyum lebar.
"Nggak sayang, bukan itu, " sahut Adelia menyangkal.
"Aku cuma nggak sangka aja sayang, kamu baik sekali pada ku, aku tidak membalas budi baikmu, " Elak Adel yang berbohong pada Wawan.
"Ya Tuhan, sayang! Hei, aku sama sekali nggak minta balas budi dari kamu, loh! mana pernah aku seperti itu, " Wawan tertawa karena Adel yang mengira jika dirinya meminta sesuatu lebih.
"Come on, sayang! Jangan seperti ini lagi, oke! aku itu sayang kamu tulus, aku itu beda dengan laki-laki lain, coba deh kamu pikirkan? semenjak aku pacaran sama kamu, apa pernah aku berlaku yang tidak sopan padamu? justru kamu selalu paksa aku untuk berbuat yang tidak ingin aku lakukan? Sayang, aku akan menjagamu sampai nanti kita menikah! aku terima semua kekuranganmu, andai aku tahu laki-laki itu, sudah ku pastikan dia akan ku penjara kan? Tapi kamu selalu menutupi nya dariku,? aku hargai semua keputusan mu! Sudah ya sayang. kamu jangan lagi berpikir yang macam-macam lagi, Oke! , " Bujuk Wawan sembari mengacak puncak rambut milik Adelia.
__ADS_1
Adelia tersenyum manis mengarah Wawan , lalu membenarkan posisinya untuk menghadap ke arah depan.
Wawan yang melintasi jalan arah dimana tempat kejadian kecelakaan Erick, masih terpampang mobil Jeep itu.
"Ah, ada kecelakaan, pantas saja jalan raya macet sekali, " ucapnya sendiri sembari membuka kaca mobil milik nya.
Adelia pun penasaran ia menatap terus mobil Jeep yang berwarna hitam itu.
Tiba-tiba Wawan memberhentikan mobil dan menepi untuk bertanya pada salah satu warga di sana, karena memang sangat macet sekali, hingga membuat mobil tidak bisa berjalan lancar.
Wawan akhirnya membuka seltbelt kemudian turun, dan melangkah perlahan sembari melihat-melihat . Sedangkan Adelia hanya melihat dari dalam mobil dan memainkan ponsel barunya.
"Maaf, Pak! numpang tanya, ini ada apa ya? " Wawan yang bertanya pada pria tua yang kebetulan menjadi saksi kecelakaan itu.
"Oh, itu Mas! mobil hitam ini menerobos paksa, hingga mobil yang berada di belakang mereka itu menabrak tiang warga, tapi syukur nya mereka tidak apa-apa, tapi yang parah ada anak kecil di sini, Mas! keadaan nya memang parah dan lagi ketiga pria itu sudah kami antar ke kantor polisi untuk di minta keterangan, " ungkap pria tua itu pada Wawan.
"Oh, seperti itu, lalu anak kecil itu selamat atau ___, " Tanya lagi Wawan penasaran karena tidak melihat nya.
"Iya, Mas! anak kecil itu sudah kamu bawa ke Rumah Sakit, kalau masih hidup atau tidaknya kami tidak tahu? karena emang keadaannya parah, " ungkapnya lagi pria tua itu.
__ADS_1
"Terus kenapa mobilnya masih ada di sini, Pak? bukannya ini menghalangi pengguna jalan lainnya? memangnya warga di sini tidak ada yang memanggil mobil angkut,? " ucap Wawan lagi yang memberi saran pada pria itu.
"Wah, itu saya belum kepikiran,Mas! makasih ya, Mas,! saya akan beritahu warga dulu, " sahut pria tua itu sembari berjalan meninggalkan Wawan.