
[ Itu yang ibu senang dan bahagia, ternyata Adel menyetujui keputusan Haris, Paula ]
Paula menyeringai saat mendengar kenyataan bahwa ini adalah ide bagus untuk mengarang cerita jika Erick telah di culik oleh Adelia.
[ Paula.. Paula.. kamu masih di sana, kan? kenapa tidak menjawab ibu, ]
[ Ah, Ia ibu maaf, aku sedang bicara dengan suamiku ]
[ Oh, seperti itu! ya sudah besok pagi, kalian singgah ke tempat ibu, ya! sekalian ajak cucu ibu ]
Paula terhentak karena ibunya menyuruhnya untuk datang serta membawa Erick, Paula menjadi bersikap panik dan bertingkah seolah akan kebakaran jenggot.
Ken melihat Paula seperti itu, menjadi ikut panik dan berusaha untuk mengoyak tubuhnya seakan ingin mengetahui apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya.
Tetapi, Paula masih kekeh dengan sikapnya yang tidak baik-baik saja.
Kemudian Paula melirik ke arah Ken, yang menginstruksikan agar lebih tenang, mengangkat kedua tangan nya lalu menarik nafas kemudian menurunkan nya secara perlahan, Paula mengikutinya dengan seksama.
Sesaat Paula kembali tenang dan meneruskan percakapan dengan Ibunya.
[ Baik, ibu! aku akan pergi besok pagi, kalau tidak ada lagi yang ibu katakan, aku tutup dulu telponnya ]
[ Ya sudah, kalian istirahat lah! ibu tidak menganggu mu lagi ]
[ Aku tutup telponnya, ibu ]
__ADS_1
[ Hm ]
Paula menutup panggilan nya lalu kembali bersikap panik, ia menatap mata Ken yang menyatu.
"Ken, apa yang akan kita katakan pada ibu dan Kakakku Harus jika tidak membawa Erick, " ucap Paula menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Ken terpaksa memegang kedua pundak Paula lalu menjawab "Paula.. hei Paula dengarkan aku! pertama-tama ini bukan salah kita sepenuhnya, andai saja ibu mu tidak menitipkan Erick pada kita, Erick tidak akan hilang seperti ini dan yang kedua ini memang keteledoran kita yang tidak bisa menjaga Erick, kita hanya sibuk dengan pribadi kau dan aku hingga tidak perhatikan Erick, " Jelas menatap wajah Paula tajam dan dalam.
Paula seketika meneteskan airmata, ia merasa panik dan tidak bisa berpikir jernih, ini bukan Paula yang sesungguhnya.
"Paula, apa kau tidak ingin membalas dendam pada Adelia, kakak iparmu itu! ini adalah kesempatan mu untuk membalasnya, " Saran Ken yang memanasi hati Paula yang sedang gelisah.
Paula terdiam lalu menatap wajah Ken yang menarik ujung pangkal bibirnya ke atas lalu menganggukkan kepalanya.
Dengan isyarat yang diberikan oleh Ken dan juga mendengar saran dari suami-nya yang masuk akal, Paula ikut tersenyum sini. Ia mulai memikirkan bagaimana cara untuk membuat Adelia merasa bersalah dan membuat dirinya hancur sehancur-hancurnya tanpa ada celah untuk Adelia bahagia sedikit pun.
Dengan membuat reaksi seperti itu, Ken mengerti apa yang telah dipikirkan oleh Paula "Pasti Paula menemukan ide cemerlang untuk membuat awal kehancuran pada Adelia selain perceraiannya dengan Haris, " ucap batinnya merasa sedikit puas sudah mempengaruhi akal sehat dan pikiran Paula.
"Kalau begitu kau mulai sekarang membuat cerita baru pada ibu-mu dan kakakmu, beritahu mereka jika Erick telah di culik oleh orang suruhan Adelia, " seketika Ken memberi saran pada Paula yang dimana rencana itu adalah rencana awal Paula .
Paula tertawa terbahak-bahak tanpa henti, Ken yang melihat ekspresi Paula seperti itu seakan-akan heran dan aneh "Paula, kenapa kamu tertawa, apakah saranku tidak masuk akal atau mungkin kamu punya saran yang lebih bagus lagi?, " tanya Ken penasaran lalu memasang posisi menghadap ke arah pintu luar.
"Tidak sayang, aku tertawa karena saran mu dan saran ku itu sama, aku sudah memikirkan cara itu tadi sebelum kau membicarakan soal ini, " tegas Paula yang merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ternyata benar, Paula sudah memikirkan rencana ini dan akan memakai cara licik nya untuk menjatuhkan Adelia, aku tidak salah untuk berpura-pura memberi saran seperti ini padanya, " Batin Ken bicara lalu tertawa dalam hati dan menyeringai tanpa diketahui oleh Paula.
__ADS_1
Paula yang masih tersenyum-senyum karena sudah menemukan cara, ia kini terbangun lalu mengajak Ken untuk keluar rumah berjalan-jalan, tanpa pikir panjang Ken menyetujui ajakan Paula.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah tidak lupa mengunci pintu dan pagar agar tidak ada yang memasuki seperti pagi tadi, yang membuat hilangnya Erick dari pandangan mereka.
"Sayang, kita pergi ke Mall Pelangi yuk! aku ingin membeli tas branded terbaru, " ungkap Paula sembari memeluk lengan kiri Ken yang sedang mengemudi.
Ken tersenyum kemudian mengacak lembut rambut Paula "Ia sayang, tapi belikan aku handphone terbaru, ya " pinta Ken merayu istrinya.
Karena Ken tahu jika Paula sangat mencintai nya, Ken selalu memanfaatkan Paula untuk keperluan pribadinya sendiri, tanpa memikirkan hati Paula.
"Ia tenang saja, aku pasti belikan untuk mu, " sahut Paula ringan.
"Yes, aku berhasil lagi! , " teriak Ken dalam hati sangat gembira.
Mereka menuju arah Mall Pelangi yang tidak jauh dari komplek rumah Paula.
Di perjalanan mereka berpapasan dengan Erick yang sedang berjalan ke arah mobil Jeep berwarna hitam bersama tiga orang pria dewasa yang menculik tadi pagi, tapi hanya sekilas melihatnya saat menoleh ke arah luar kaca mobilnya karena tiba-tiba terhalang oleh tubuh besar salah satu penculik itu.
Tapi Ken merasakan jika ia melihat sosok anak kecil yang mirip sekali dengan Erick yang memakai pakaian keras berwarna merah salur "Kenapa aku seakan melihat Erick bersama pria itu ya, apa mungkin karena aku terlalu memikirkan anak itu, " pikirnya.
Lalu Ken menoleh ke arah belakang untuk memastikan apakah benar anak kecil itu Erick atau bukan, tapi ia tidak melihat nya lagi karena mobil yang mereka kendarai sudah melaju tepat di depan mobil Ken.
Paula yang tersadar oleh sikap panik Ken merasa bingung dan heran "Kamu kenapa? seperti sudah melihat hantu saja, " tawa Paula sembari menyentuh pipi halus milik Ken.
Ken berlalu kembali untuk fokus menyetir laku menjawab "Tidak sayang, aku tadi seperti nya lihat Erick dengan pria dewasa, tapi aku tidak bisa memastikan itu Erick atau bukan karena baju yang dikenakan oleh anak kecil itu mirip dengan pakaian yang Erick pakai pagi tadi, " jelasnya Ken.
__ADS_1
Paula tersenyum tipis lalu menjawab "Itu hanya karena kamu banyak berpikir yang macam-macam atau bisa juga itu halusinasi kamu saja, Ken! sudah lah kau fokus saja untuk menyetir jangan memikirkan anak itu lagi! anak itu sudah membuat kita susah apa lagi stok makanan kita habis gara-gara dia, " ucap kesal Paula.