Kisah Kelam Seorang Janda

Kisah Kelam Seorang Janda
Bab 4


__ADS_3

Erick yang sedang berada diruang tamu menonton Televisi sendiri sahabat tanpa adanya yang menemani, ia tidak mendengar suara-suara yang berada di samping rumah tante dan pamannya.


"Bos, kita seperti ini apakah aman? aku takut jika ada penghuni yang tersisa di rumah ini?, " ucap salah satu pria bertopeng warna hitam itu sembari berjalan ke arah jendela untuk menyelinap ke dalam.


"Tidak, aku sudah survei tempat ini, aku jamin ini aman?, " sahutnya percaya diri.


Sedangkan yang satunya sibuk dengan mencari celah untuk mencongkel jendela.


Namun usaha gagal karena memang sudah terkunci dari dalam.


"Bos, jendelanya terkunci, bagaimana kita coba lewat pintu samping, ? " usulnya.


"Ah, oke! yang penting kita bisa geledah isi rumah ini, " sahutnya menurut pada anak buahnya.


Mereka bertiga pun berjalan ke arah pintu samping.


Salah satu pria itu pun mencoba membuka pintu itu ternyata benar sesuai dengan dugaannya, pintunya tidak terkunci dan ini adalah kesempatan u untuk mereka beraksi.


Pria itu memberi ajakan pada Bos dan temannya untuk cepat masuk ke dalam agar tidak ada yang melihat nya dari luar.


Mereka melihat-lihat sekitar ruangan, dan mulai berpencar mencari barang berharga untuk mereka jual dan dijadikan uang.


Erick yang tersadar oleh suara-suara dari dapur, ia pun bangkit dari duduk nya dan mulai berjalan mencari sumber suara tersebut.


"Bos, aku menemukan ini, " katanya membawa guci kecil yang memang sangat mahal lalu mengantonginya tanpa ragu.


Sedangkan dia orang pria lainnya sibuk dengan pencarian yang belum mereka temukan.


Tiga orang bertopeng dengan berpakaian warna serba hitam, dikagetkan dengan seorang anak laki-laki gembul sedang menatapnya tanpa ada rasa takut.


"Bos, ada anak kecil, bagaimana ini? " tanyanya panik dan takut jika anak itu berteriak.


"Paman, sedang apa kalian di rumah ku? apakah paman ingin bermain dengan ku? kebetulan sekali tante ku tidak ada dan paman ku juga tidak ada," Lapor nya pada pria bertopeng itu.


"Paman, pakai topeng seperti itu sangat terlihat keren sekali! aku pun mau punya topeng seperti itu, apakah paman punya untuk ku? " tanya nya polos.


Pria tersebut saling menatap dan terlihat bingung .


"Bos, bagaimana kita bawa saja anak ini, kita jadikan sandera,? " usul anak buahnya.

__ADS_1


Lalu pria itu pun melangkah ke arah Erick dan berjongkok untuk sejajar dengan anak itu.


"Hei, anak kecil! paman akan mengajakmu jalan-jalan, apa kamu mau ikut bersama kami?, " bujuknya.


Erick terdiam dan mendongak kearah kedua pria yang berdiri tegak ,tepat di belakang pria itu.


Mereka mengangguk ke arah Erick.


Erick merasa ada dukungan dari yang lain, ia pun bersorak gembira "Hore, " sembari melompat-lompat .


Mereka merasa senang karena ibarat mendapatkan berlian dengan mudah.


Erick pun diboyong oleh ketiga pria bertopeng itu, menuju keluar rumah.


Mereka mengindik-indik melihat situasi diluar apakah ada orang atau tidak?, Merasa aman mereka pun berjalan seperti biasa dan melepaskan topeng mereka lalu menuju ke arah mobil yang sudah terparkir didepan gerbang rumahnya.


Mereka berempat pun masuk kedalam mobil.


Salah satu diantara mereka membuka pintu mobil depan untuk menyetir dan dua orang pria duduk di belakang bersama Erick.


Erick duduk ditengah diapit oleh dua orang pria bertubuh kekar.


Di lajukanlah mobil itu dengan cepat.


"Hei, anak kecil kau diam lah jika ingin tetap bermain bersama kami,! Duduk manis lah dan ingat jangan berteriak, " pesannya salah satu pria yang berada disamping kanannya.


"Ah, paman! kenapa kau terlihat garang sekali pada anak kecil? apa kau tidak punya anak kecil menggemaskan seperti aku di rumah kalian, " sahutnya Erick dengan pintar.


"Kau sangat cerewet sekali anak kecil, aku tidak tidur pulas karena ocehan mu itu, " celetuk pria itu yang sedikit memarahi Erick.


"Hei, paman bukankah kau berjanji akan mengajakku bermain, mengapa kau tiba-tiba menjadi garang sekali padaku, " Seru Erick melipat kedua tangan nya tepat berada di dadanya.


"Sudah-sudah, anak kecil saja kau lawan, " Timpal Bos penjahat itu.


"Bos, bukankah kau sudah dengar percakapan kami, bukankah anak kecil ini sangat membuat kita pecah telinga, " Seru pria itu lagi yang tak mau kalah.


"Bukankah kau yang mengusulkan tadi agar membawa anak kecil ini, sekarang kau tanggung lah akibatnya, " Tampiknya.


"Huh, aku salah membawa anak kecil, " pria itu merasa menyesal sekali dan memalingkan wajahnya ke arah kaca.

__ADS_1


Mereka keluar lah dari komplek rumah Paula dan Ken, kini mereka sudah berada di jalan raya dan merasa aman.


Erick terlihat merasa telah dibohongi oleh ketiga pria itu, ia merasa sedikit merasa takut dan menjadi murung.


Namun ia tidak kehilangan akal untuk melarikan diri dari pria-pria itu.


"Paman, " panggil Erick yang entah siapa mereka panggil.


Namun tidak ada yang menjawab panggilan nya.


"Paman, aku merasa lapar! " Katanya Erick.


"Paman saja belum makan sejak tadi pagi, " sahut salah satu pria yang berada di samping kanan.


"Ah, kalau begitu mari kita makan bersama bukankah itu ide yang bagus, " usulnya cepat .


"Aku yakin paman ini akan setuju dengan usulan ku barusan, " ucap batin Erick yang percaya diri.


"Dasar anak kecil, pikiran mu hanya makan dan makan saja, tidak memikirkan isi Dompetku, " sahutnya.


"Paman, bukan kah kau sangat kaya, buktinya kau bisa punya mobil sebagus ini, " puji Erick.


"Kau memang anak kecil yang pintar sekali , tapi sayangnya ini bukan mobilku, tapi ini mobil Bos ku, " Tampiknya.


Erick pun tertawa lepas dan renyah merasa sangat puas sudah mengelabui para penjahat itu dengan ejekannya.


"Bisa diam tidak, kalau tidak aku akan membuang mu disini, " ancam laki-laki itu pada Erick.


"Kalau paman ingin membuangku, kenapa kau mengajak aku bermain tadi, bukankah kau sangat plin-plan sekali paman, " kembali ejeknya Erick.


Bos dan temannya ikut tertawa lepas dan kencang karena ia bisa ajalah dengan anak kecil yang belum genap lima tahun.


"Bos, apa kau cukup puas menertawakan aku,? " tanya nya kesal.


"Dan kau, tidak cukup kah kau menertawakan aku karena kebodohan mu karena telah membawanya bersama kita, " Temannya mengingat kan nya.


"Aku bahkan tidak tahu jika anak kecil ini sangat pintar sekali dan terlalu jujur, " sahutnya.


"Sudah lah, mari kita makan, Bos! aku pun sudah merasa lapar sekali, " ajak nya.

__ADS_1


"Baiklah, aku tahu tempat makan di daerah sini, setelah turun kau jaga baik-baik anak ini, dia sangat licik dan picik, " pesannya.


"Siap, Bos, " sahutnya bersamaan.


__ADS_2