
" Wah.. Tubuhku menjadi tembus pandang begini " Ucap Xing Ma ketika medapati tubuhnya menjadi transparan dan terlihat tembus pandang.
" Benar. Formasi Pelindung milikku ini, melindungi kalian dari pandangan langsung musuh... "
" Sekarang kita sudah menjadi tak kasat mata. Kita akan menyusup dan masuk ke dalam benteng. Ayo! " Seru Adelfo kepada enam lainnya.
Zhao Feng benar-benar kagum dengan Formasi Pelindung itu. Dia bahkan sempat berpikir, jika dulu dia memiliki darah Elf dan menguasai jurus menghilang itu, dia tidak perlu terjun ke dalam Sumur Reinkarnasi.
Puluhan hela napas berlalu, mereka bertujuh akhirnya berhasil menyelinap masuk ke dalam benteng para Beast.
" Ini kah tempatnya? Apa ini bukan sebuah jebakan? " Tanya Wei Tanlun sembari berbisik kepada yang lainnya.
Di hadapan mereka ada sebuah panggung besar yang di atasnya terdapat sebuah kurungan besi segi empat yang mengurung seorang Elf. Elf yang terkurung itu bernama Adelian, istri Adelfo.
" Benar. Kenapa tidak ada satu pun Beast atau Kelompok Tang Qingchen yang berjaga di sini? " Sahut Xia Xiong.
*Snif Snif*
" Kalian mencium bau minyak tidak? " Tanya Xing Ma, saat dia mengendus-endus aroma minyak di sekitar tempat mereka berada.
*Snif Snif*
Keenam lainnya mengikuti apa yang dilakukan Xing Ma, mereka juga mengendus-endus aroma yang ada di sekitar mereka.
" Benar! Ini bau minyak " Ucap Wei Tanlun setelah memastikan aroma minyak tercium oleh hidungnya.
" Sepertinya tempat ini sudah direncanakan untuk dibakar " Ucap Zhao Feng menarik kesimpulan.
" Mereka mungkin berencana menjebak kita dan membakar kita semua di dalam benteng ini. Untung, Mereka masih belum menyadari kedatangan kita, kita bisa memanfaatkan situasi ini, untuk mencari jalan keluar... "
" Kita berpencar! " Seru Zhao Feng saat menginstruksikan kepada enam lainnya untuk mencari jalan keluar sebelum membebaskan Adelian.
Mereka bertujuh akhirnya berpencar. Mengendap-endap mencari jalan keluar terdekat dari sel kurungan Adelian.
Saat ini di luar bagian belakang benteng ada sembilan anggota kelompok Pemuda Tampan Cang'An sedang tertawa-tawa sembari menyantap makanan bersama dengan 21 orang Beast.
Mereka baru saja usai menaburkan minyak di seluruh benteng dan menunggu kemunculan Kelompok Lima untuk menyelamatkan Adelian.
" Aku tidak menyangka, yang akan kita hadapi adalah Kelompok Lima " Ucap seorang calon siswa bernama Kang Taego.
__ADS_1
" Benar. Kelompok lemah itu, hanya bisa mengandalkan Duan Meimei seorang... "
" Tapi kenapa Mereka belum muncul juga? " Sahut seorang Calon siswa lainnya yang bernama Ma Duchen.
" Sstt.... Diam! " Salah seorang Beast yang sebagian wajahnya berupa wajah Kelelawar tiba-tiba menyuruh semua orang yang berada di bagian belakang benteng.
" Duvel. Ada apa? " Tanya seorang Beast lainnya kepada Beast Kelelawar yang ternyata bernama Duvel.
" Aku mendengar gerakan di dalam Benteng. Tapi dari tadi tidak ada yang masuk. Apa itu mungkin? " Sahut Duvel.
" Sial. Itu mungkin mereka... Mereka mungkin sudah di dalam. Duvel segera nyalakan api dan kalian yang lain, pastikan semua jalan keluar dijaga dengan ketat! " Ucap pemimpin para Beast tersebut.
" Baik Ketua " Sahut Duvel dan para Beast lainnya.
" Leopard. Apa benar mereka sudah di dalam? " Tanya Tang Qingchen kepada pemimpin para Beast.
Pemimpin para Beast itu berbentuk manusia berwajah macan tutul, namanya Leopard. Dia lah yang merencanakan tipuan pembakaran Benteng itu untuk mengalahkan Kelompok Lima.
" Pendengaran Duvel tidak mungkin salah. Percayalah! " Leopard segera pergi ke pintu utama Benteng. Dia berjaga di sana, mencegah jika ada di antara Kelompok Lima yang berhasil menyelamatkan Adelian.
" Kita juga tidak boleh ketinggalan. Taego, Duchen, Kalian ikut aku, kita akan berjaga bersama Leopard. Untuk yang lain berpencarlah, jaga setiap jalan keluar yang ada! Ayo! " Seru Tang Qingchen usai melihat para Beast mulai melempar obor ke dalam Benteng.
*Byuur*
Puluhan hela napas mereka menunggu, mengamati apa yang terjadi di dalam Benteng. Tapi tidak ada tanda-tanda teriakan atau apa pun.
" Apa ini? Kenapa tidak ada teriakan atau apanpun yang terdengar? Jangan-jangan memang tidak ada siapa pun yang masuk ke dalam " Keluh Ma Duchen.
" Sabar. Aku yakin, para Beast ini tidak mungkin keliru. Mereka jelas mendengar suara di dalam Benteng. Meski kita tidak bisa melihat siapa yang masuk ke dalam Benteng, tapi aku yakin pasti telah terjadi sesuatu di dalam. Tunggu saja " Sahut Tang Qingchen.
Tang Qingchen berbicara seolah-olah memuji kemampuan para Beast. Dia mengatakannya dengan jelas di sebelah Leopard. Setelah mendengar keluhan Ma Duchen, tatapan mata Leopard sedikit berubah, oleh karena itu, Tang Qingchen segera menjawab dengan nada seakan-akan memuji kemampuan pendengaran Duvel.
Tidak berselang lama setelah Tang Qingchen menjawab keluhan Ma Duchen, terdengar jeritan kesakitan dari dalam Benteng.
" Aarrgghhh Panas... Panas... Tolong... Tolong kami! " Teriakan seperti itu terdengar beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar berhenti.
" Benar bukan. Aku bilang sabar " Ucap Tang Qingchen kepada Ma Duchen setelah terdengar jeritan dari dalam Benteng kecil tersebut.
Ma Duchen mengangguk dan tersenyum kecil, mendengar teriakan muncul, keraguannya menjadi benar-benar hilang.
__ADS_1
" Bagaimana ini? Apa kita sudah menang? " Tanya Kang Taego dengan senyum sumringah di wajahnya.
Setelah mendengar teriakan itu berhenti Kang Taego sudah berpikir bahwa Kelompoknya sudah bisa memenangkan Ujian terakhir tersebut.
" Belum. Sepertinya Ujian ini belum selesai " Sahut Leopard.
" Apa maksudmu, bukankah mereka jelas-jelas sudah mati terpanggang di dalam sana? Suara pun tidak terdengar lagi " Ucap Kang Taego.
" Taego tenanglah. Lihat Gelang Nyawamu... Seperti kata Leopard. Ujian ini belum usai " Tang Qingchen memperhatikan Gelang Nyawa miliknya. Jika ujian tersebut telah usai dan misi mereka menangkan, maka seharusnya Gelang Nyawa akan bersinar dan membawa mereka kembali ke Alam Nyata.
Kang Taego tidak membantah, dia akhirnya menyadari maksud perkataan Tang Qingchen.
" Lalu, apa yang kita lakukan sekarang? " Tanya Kang Taego.
" Kita tunggu sampai api di dalam benar-benar padam " Sahut Tang Qingchen yang dibalas anggukan oleh Kang Taego dan Ma Duchen.
' Aku tidak menyangka, kami hanya tinggal memasang jebakan seperti ini, dan mereka kalah, ini lebih mudah daripada yang aku bayangkan ' Batin Tang Qingchen.
Tang Qingchen ini adalah pemuda berusia 16 tahun. Seorang Tuan Muda dari Klan Tang. Salah satu dari Lima Klan Penguasa, yang disebut sebagai Familia Lima. Terdiri dari Klan Duan, Klan Tang, Klan Xia, Klan Ma, dan terakhir adalah Klan Song.
Familia Lima ini disebut sebagai poros kekuatan Pendekar Cang'An. Mereka adalah lima klan besar dengan banyak pendekar tingkat tinggi. Oleh karena itu, Teng Qingchen dipilih oleh kedelapan Calon siswa lainnya untuk menjadi Ketua Kelompok mereka.
Puluhan hela napas berikutnya, saat hari sudah menjelang malam, akhirnya api yang melalap Benteng kecil itu pun padam.
Kelompok Tang Qingchen dan ke-21 Beast itu masuk ke dalam Benteng untuk memeriksa apa yang sudah terjadi.
" Ketua! Aku menemukan seseorang! " Ucap salah satu anggota kelompok Tang Qingchen.
" Hahaha... Ini, bukankah ini Zhao Feng! " Tawa Ma Duchen saat melihat tubuh seorang Calon Siswa tertelungkup gosong di antara puing-puing batu penyusun panggung.
Ma Duchen mengenali tubuh gosong itu sebagai Zhao Feng dari Ikat Pinggang yang dikenakan tubuh gosong tersebut.
" Dia sudah mati. Sepertinya dia bersembunyi di bawah panggung ini, tapi tampaknya dia kehilangan Gelang Nyawa... Lihat! " Ucap seorang anggota Tang Qingchen yang bernama Duan Qishi.
Duan Qishi memeriksa tubuh gosong Zhao Feng dan tidak mendapati aliran napas ataupun tanda-tanda kehidupan lainnya.
' Hahaha... Zhao Feng... Ketua Kelompok apa yang kamu ikuti Duan Meimei?.. Sayang sekali Duan Meimei justru berkelompok dengan pecundang sepertinya ' Tang Qingchen tersenyum melihat mayat Zhao Feng tertelungkup di hadapannya.
Semua Calon Siswa lain sudah mengetahui nama Zhao Feng. Nama Zhao Feng mendadak menjadi terkenal setelah Duan Meimei menolak bergabung dengan Tuan Muda dari Lima Klan Besar dan memilih bergabung dengan Zhao Feng.
__ADS_1
' Tapi kenapa kami belum keluar dari Alam Ilusi? ' Batin Duan Qishi sembari masih memperhatikan mayat Zhao Feng.
Bersambung...