Kisah Putri Ji Xia Lin

Kisah Putri Ji Xia Lin
Benar-benar Hitam


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi Ji Xia Lin meminta Lou Ri untuk mengantarkannya ke tempat cucian di mana para pelayan mencuci jubah miliknya.


"Lou Ri Di mana jubah kemarin di jemur?" Tanya Ji Xia Lin pada Lou Ri.


"Sebentar nona, Hamba akan menanyakannya kepada Jiali," jawab Lou Ri. Jiali adalah pelayan yang bertugas untuk mencuci pakaian milik Ji Xia Lin waktu itu.


"ouhh baiklah." Ujar Ji Xia Lin lalu Lou Ri pun pergi mencari Jiali.


"Hamba hormat kepada nona Ji Xia Lin." Ucap para pelayan yang berhenti untuk memberi hormat kepada Ji Xia Lin.


"Aae iya... Bangunlah,"


"Terima kasih nona." Sambung para pelayan lagi. Lalu para pelayan pun pergi untuk melanjutkan kembali tugas mereka.


Beberapa menit kemudian...


"Lou Ri kenapa lama sekali," gumam Ji Xia Lin karena Lou Ri juga tak kunjung datang.


"Apa aku cari saja ya," Sambungnya lagi.


"Nona..." Panggil Lou Ri saat Ji Xia Lin hendak meninggalkan tempat itu.


"Aa.... akhirnya kau datang juga Lou Ri. Kenapa lama sekali?" Tanya Ji Xia Lin.


"Benarkah, seperti langkah kaki hamba kurang cepat. maaf telah membuat nona menunggu." Ucap Lou Ri sambil menundukkan kepalanya.


"Heii.... kenapa dirimu menunduk. Kau bersikap seolah-olah aku sangat jahat dan menyeramkan." Ucap Ji Xia Lin saat melihat Lou Ri menunduk dan merasa bersalah.

__ADS_1


"aa.. tidak, tidak. Bukan begitu maksud hamba nona... nona tidak seperti itu. Hamba... hamba....."


"Aduh Lou Ri, maksudku dirimu tidak perlu seperti itu padaku. Itu membuat diriku merasa sangat jahat. kelak kau tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku.. Okhayy..." Jelas Ji Xia Lin kepada Lou Ri.


"Tapi nona bagaimanapun hamba hanya pelayan. Tidak pantas jika hamba bersikap seperti itu."


"Aishh Lou Ri kenapa kau susah sekali sihh." gerutu Ji Xia Lin. Jelas saja jika Ji Xia Lin merasa tidak nyaman jika ada seseorang merasa bersalah padanya hanya karena hal kecil. Bagaimanapun dulu dirinya tidak pernah mendapat perlakuan se terhormat ini.


"Begini saja, di saat tidak ada kakakku ataupun ayahku kau harus bersikap layaknya seorang teman. Dan menuruti apa yang aku katakan. Bagaimana.... Kau setuju,''


"Tapi nona...."


"Tidak ada penolakan, pokoknya harus Setuju. Lagi pula ini adalah perintah. Lou Ri, aku masih nonamu kan..." Kukuh Ji Xia Lin kali ini dengan mengatas namakan perintah.


"Baiklah nona.. Kalau begitu Lou Ri menerima perintah." pasrah Lou Ri sudah tidak berkutik lagi.


"Jiali bilang jubahnya sudah kering, dan baru saja di antar ke kediaman nona." Jawab Lou Ri.


"Ooo... Kalau begitu mari kita kembeli ke kediaman."


"Mari nona."


"Ayo..." Ji Xia Lin memimpin jalan dan Lou Ri mengikuti di belakangnya.


Setelah sampai di kediaman Ji Xia Lin menemukan jika jubahnya sudah berada di kediamannya.


"Lou Ri tolong ambilkan jubahnya?'' perintah Ji Xia Lin.

__ADS_1


"Baik nona."


"Ini nona jubahnya." Ucap Lou RI menyerahkan jubah tersebut kepada Ji Xia Lin.


"Ouhh Terima kasih Lou Ri." Ucap Ji Xia Lin sambil menerima jubah yang di serahkan oleh Lou Ri.


"Sama-sama nona."


"Kau yakin Lou Ri, jika jubahnya ini?" Tanya Ji Xia Lin kepada Lou Ri.


"hamba yakin nona, memang kenapa nona?" ucap Lou Ri bertanya balik.


"Kenapa seingat ku sulaman jubahnya berwarna warni." Ucap Ji Xia Lin saat melihat sulaman jubahnya berwarna putih polos tidak ada warna lain.


"Benar ini kok nona. hamba sangat ingat semalam Tuan muda kedua memberikan jubah ini." ucap Lou Ri.


"Mungkin saja aku yang salah ingat." Ucap Ji Xia Lin.


"Lou Ri maukah engkau menemaniku berjalan-jalan keluar kediaman?" Tanya Ji Xia Lin.


"Saya mau mau saja. Tapi saya rasa tuan besar tidak akan memberi izin pada nona. "


''Benar juga, padahal aku sudah sangat bosan."


"Lou Ri maukah kau membantuku." Tanya Ji Xia Lin sambil menaikkan kedua alisnya bergantian.


"Alis nona kenapa, Kedutan kah?" Lou Ri malah menanyakan alisnya.

__ADS_1


"Aish.. alisku tidak penting Lou Ri. Yang paling penting kau harus membantu aku. Hehehe...."


__ADS_2