
"Hhh... Hah... MUNDUR! JANGAN MENDEKAT!
JIKA TIDAK, AKU AKAN MENUSUKMU DENGAN TUSUK RAMBUT INI!"
"Audry... Dasar pembunuh! Tidak cukup hanya dengan membunuhku, kau juga mau membunuh putraku?! AAAAA!!! KAU HARUS MATI!"
"TIDAAAK!!!"
.
.
.
"Meilani. Maaf ya... aku ngerepotin..."
"Ah. Iya gak papa kok. Kamu butuh dupanya berapa banyak lagi? Aku siapin banyak sih dari rumah."
"Cuman tiga lagi kok. Soalnya hari ini, papah aku bilang mau ngedoain nenek aku Nenek Siu Yu."
"Oh... Tapi... Aku agak heran loh Tao Pao. Bukan maksud apa-apa, tapi wajah oriental kamu ini... apa memang dari nenek kamu ya?
Soalnya pas aku lihat sekilas di foto keluarga kamu, papah sama mamah kamu gak ada wajah orientalnya."
Tanya Meilani penasaran.
"Iya. Aku juga sebenernya agak penasaran, aku pernah sampai berpikir, jika aku ini... jangan-jangan bukan anak mamah sama papah..." Ucap Tao Pao.
"Loh? kok gitu?"
"Soalnya... Mamah aku gak mau aku panggil dengan sebutan 'mamah' Dia bahkan malah nunjukin raut wajah gak suka.
Udah gitu, kalo mau pergi-pergi, aku selalu dilarang ikut sama mamah. Dia bilang, mau jalan berduaan terus sama papah!"
"Eh? Jadi sekarang juga?"
"Iya nih. Makanya, waktu mamah udah naik mobil duluan, papah aku langsung nyuruh aku ambil guci abu di gudang, tusuk rambut, sama dupa, tapi dupanya kurang tiga lagi. Makanya aku minta tolong kamu. Mei.
Papah juga ngomong sesuatu agak aneh tadi sebelum berangkat, tanpa sepengetahuan mamah."
"Hm? Ngomong apa?"
"Kata papah...
"*Tao Pao. Kamu tolong berdoa untuk Nenek Siu Yu. Minta bantuan Meilani dan tolong baca buku diary papah.
Papah sembunyikan buku diarinya, di loteng*.
Gitu katanya."
Ucap Tao Pao secara rinci.
"Apa Maksudnya?"
Ucap Meilani terheran-heran.
"Gak tau. Papah mulai nunjukin tingkah aneh, semenjak aku masuk SMP. Biasanya papah selalu terlihat akur dengan mamah, tapi sekarang yang aku lihat... Papah seperti menjaga jarak dengan mamah."
"Hm... Udah yuk. Kita langsung mulai aja. Ambil guci abunya, tusuk rambut, sama dupa. Ayo. Kamu jalan di depan. Ini kan rumah kamu. Aku gak tahu gudang dimana."
"Oke ayo."
Tao Pao dan Meilani pun kemudian berjalan ke arah gudang.
Gudang Tao Pao berada di kebun belakang rumah.
Keduanya mengambil guci abu, tusuk rambut, dan dupa sesuai arahan ayah Tao Pao
Saat keduanya masuk ke dalam gudang, mereka berdua malah dibuat kebingungan, karena guci abu tersebut, malah terdapat dua buah dan pada kedua tutup guci abu tersebut, terdapat sebuah kertas mantra misterius.
*Krieeet.
"Meilani. Sini deh."
"Ada apa? Eh? Loh?! Kok guci abunya ada dua? Yang mana yang punya Nenek Siu Yu?
Apa yang satunya punya kakek kamu?"
Ucap Meilani menduga-duga.
"Waduh. Kalo itu, aku gak tau! Gimana dong... Apa kita bawa dua-duanya aja?"
"Yaudah kita bawa dua-duanya aja ke ruang tamu."
Ucap Meilani sepakat.
__ADS_1
"Oke. Kalo gitu, aku bawa dua guci abunya, kamu bawa tusuk rambut sama dupanya ya. Kita bawa ke ruang tamu. Kalo sudah... Kita ambil buku diary papah dari loteng."
"Siap! Engkong... Hehehe."
"Ih! Meilani!"
Mereka berdua pun, membawa barang-barang yang diminta oleh Ayah Tao Pao ke ruang tamu.
Sebelumnya, di ruang tamu, mereka berdua sudah menyiapkan untuk berdoa.
Setelah sampai di ruang tamu, keduanya menyusun dengan rapi, kedua guci abu tersebut dan meletakkan tusuk rambut di tengah-tengah guci abu.
"Oke. Udah beres. Sembari nunggu papah pulang, kita ambil buku diarinya yuk!"
Ajak Tao Pao.
"Oke. Ayo."
Mereka berdua pun meninggalkan ruang tamu, setelah menata meja untuk berdoa, tanpa sadar, setelah keduanya pergi, salah satu kertas mantra yang menutup bibir guci, terlepas begitu saja, karena tertiup kipas angin, yang belum dimatikan sebelumnya.
*Wush~
Setelah terbuka, seketika saja sesosok bayangan hitam, muncul dari guci yang terbuka tersebut.
"Uhuk! Uhuk!"
"Meilani maaf ya... lotengnya agak berdebu. Kamu sampai batuk-batuk."
Sesal Tao Pao.
"Gak papa."
"Ayo kita baca."
Ucap Tao Pao sambil membuka halaman pertama buku diarinya.
Baru saja mereka berdua ingin membaca buku diary Ayah Tao Pao, mereka berdua tiba-tiba mendengar bunyi klakson mobil Ayahnya Tao Pao.
*Tin! Tin.
"Itu suara mobil papah! Ayo Mei."
Mereka berdua pun mengurungkan niat untuk membaca buku diary itu dan langsung bergegas keluar untuk menyambut Ayah Tao Pao dan Ibunya.
"Ah~ Akhirnya aku punya baju baru lagi... Makasih ya Ryan sayang~"
Ucap Ibu Tao Pao.
Ucap Tao Pao riang.
"Selamat datang om, tante."
"Ih. Apa sih! Lebay banget! Tao Pao! Kenapa kamu bawa temen kamu kesini! Ngeliat muka kalian berdua bikin aku muak. Minggir! Jangan ngalangin jalan!"
Bentak Ibu Tao Pao.
Tentu saja melihat sikap ibunya Tao Pao makin membuat Meliani terheran-heran. Apalagi melihat raut wajah Tao Pao yang menjadi sedih.
"Tao Pao. Kamu udah ngebaca buku diary papah?"
bisik Ayah Tao Pao.
Tiba-tiba saja dari arah ruang tamu, terdengar jeritan Ibunya Tao Pao.
"AAAAAH!"
"Mamah ada apa?!"
Ucap Tao Pao khawatir.
Saat mereka bertiga berlari ke arah ruang tamu, mereka langsung dikejutkan dengan sesosok wanita menyeramkan memakai pakaian Tionghoa.
...
...
"PERGI! PERGI KAMU UDAH MATI!"
Ucap Ibu Tao Pao yang ketakutan sambil meraih tusuk rambut yang sebelumnya ada di atas meja.
"Zi... Yuan?"
Ucap Ayah Tao pelan.
"Ryan..."
Ucap sosok yang bernama Zi Yuan itu memanggil nama Ayah Tao Pao.
Sosok hantu wanita Tionghoa yang bernama Zi Yuan itu pun, berjalan mendekat ke arah Ryan.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Jika tidak aku akan membunuh anakmu!"
Ucap Audry.
Seketika saja, Audry langsung meraih Tubuh Tao Pao dan mengarahkan tusuk rambut tadi ke arah leher Tao Pao dan membuat Meilani dan Ayah Tao Pao menjadi panik.
"TAO PAO! Jangan Tante! Lepasin Tao Pao!"
Ucap Meilani panik.
"Heuk... Mah... Jangan mah..."
Ucap Tao Pao dengan nada sesak.
"JANGAN PANGGIL AKU MAMAH! AKU BUKAN IBUMU!"
"Audry... Tolong...."
Melihat situasi yang mencekam tersebut, membuat Hantu Zi Yuan marah.
"Audry... Jangan sakiti anakku..."
"Hah! Coba saja! Aku tidak takut denganmu! Suami mu sudah menjadi milikku! Jadi aku tidak membutuhkan anak ini!"
Audry langsung mengayunkan tusuk rambut tersebut dan mencoba menusuk Tao Pao.
Melihat nyawa Tao Pao yang terancam, membuat Ayah Tao Pao menjadi panik, dengan cepat, Ayah Tao Pao berusaha mengambil tusuk rambut tersebut dengan paksa.
Saat mencoba menjauhkan Tao Pao dari cengkeraman Audry, tanpa sengaja, perut Ryan tertusuk tusuk rambut tersebut setelah mencoba merebut tusuk rambut tersebut dari tangan Audry.
*Jrep!
"Uhuk!"
"PAPAH!!!"
Teriak Tao Pao panik.
Arwah Zi Yuan, langsung merasuki tubuh Meilani dan mencoba membunuh Audry melalui tubuh Meilani.
"Hhh... Hah... MUNDUR! JANGAN MENDEKAT!
JIKA TIDAK, AKU AKAN MENUSUKMU DENGAN TUSUK RAMBUT INI!"
"Audry... Dasar pembunuh! Tidak cukup hanya dengan membunuhku, kau juga mau membunuh putraku?! AAAAA!!! KAU HARUS MATI!"
"TIDAAAK!!!"
"JANGAN MEILANI."
Tao Pao yang melihat Meilani ingin mencekik leher Audry, langsung mengambil kertas mantra yang terjatuh di lantai, dan langsung menempelkan kertas mantra tersebut di kening Meilani.
"AAAAA!!!"
Arwah Zi Yuan langsung keluar dari tubuh Meilani dengan cepat dan membuat Meilani pingsan Seketika arwah Zi Yuan langsung merasuki tubuh Audry.
Setelah merasuki Audry, Zi Yuan langsung mengayunkan tusuk rambut tersebut ke arah dada kiri Audry, dengan sangat dalam dan membuat Audry langsung meninggal seketika setelah tertusuk tusuk rambut.
Tao Pao langsung menelpon ambulan untuk membawa ayahnya ke rumah sakit, sedangkan Meilani yang sudah sadar dari pingsan langsung menelpon polisi.
Keduanya pun memberi kesaksian kepada polisi. Keduanya mengatakan Audry mencoba membunuh Ryan dan setelah membunuh Ryan, ia memutuskan untuk bunuh diri.
Saat di rumah sakit, keduanya mendapat kabar dari dokter, jika luka tusukan pada perut Ayah Tao Pao tidak terlalu dalam, sehingga tidak menyebabkan luka yang serius.
Selagi mereka menunggu Ayah Tao Pao di rumah sakit, keduanya pun membaca buku diary Ayah Tao Pao.
Di dalam buku diary tersebut. Ayah Tao menceritakan, Zi Yuan yang dibunuh oleh Audry, dengan tusuk rambut Zi Yuan saat Tao Pao masih bayi.
Ryan, Zi Yuan, dan Audry sebelumnya adalah sahabat saat SMA.
Audry yang tidak terima Zi Yuan yang menikah dengan Ryan, menjadi benci kepada Zi Yuan.
Ia selalu mencoba cara untuk memisahkan keduanya dan merebut Ryan dari Zi Yuan sampai akhirnya rencananya benar-benar berhasil di hari ulangtahun pernikahan Ryan dan Zi Yuan.
Setelah membunuh Zi Yuan, Audry dengan licik mengancam akan membunuh Tao Pao juga jika, Ryan tidak mau menikahinya.
Tidak ingin, anaknya celaka, Ryan pun memutuskan menikah dengan Audry meskipun tanpa cinta demi menjaga putranya tetap selamat.
Setelah membaca buku Diary ayahnya, Tao Pao pun akhirnya mengetahui yang sebenarnya, mengenai ibu kandungnya yang asli.
Beberapa minggu kemudian, setelah luka Ayah Tao Pao benar-benar pulih, mereka pun
pergi ke Rumah Tao Pao dan mendoakan Arwah Zi Yuan dan Nenek Siu Yu.
Meilani pun ikut ke Rumah Tao Pao dan ikut mendoakan Ibu Tao Pao dan Neneknya.
Saat sedang berdoa, Meilani sekilas melihat arwah Ibu Tao Pao dan Nenek Tao Pao yang berpamitan.
...~TAMAT~...
__ADS_1