KISMIS (Kisah-kisah Misteri)

KISMIS (Kisah-kisah Misteri)
Wanita Bergaun Merah


__ADS_3


"Nona Vanessa. Apa benar nona adalah selingkuhan Tuan Andy?"


"Apa benar, semalam kalian berdua baru saja, berduaan di hotel?"


*PRANG!


"Hiks... Dasar pria b*r*ngs*k!"



*Glek! glek!


"Hah!"


*Kring!


"Hiks...! Notifikasi bodoh lagi! Dasar para penghianat! mengaku sebagai para penggemar ku, tapi... hanya karena gosip yang belum terbukti benar... mereka... dengan bodohnya mempercayai semua gosip murahan itu!


Itu semua bukan salahku! Pria b*r*ngs*k! itu yang menjebak ku! dia menuduhku, dengan mengajak ku ke hotel! karena dia bilang... akan ada projek film baru dan dia menawarkan aku sebagai pemeran wanitanya.


HUAAA! ini tidak adil! kenapa hanya aku?! Kenapa aku yang malah disalahkan karena kebohongan laki-laki itu!"


Wanita yang bernama Vanessa itu, hanya bisa menangis sejadi-jadinya, melihat berita di televisi yang memberitakan dirinya sebagai kekasih gelap aktor bernama Andy yang juga merupakan temannya saat SMA.


Saat ia memeriksa ponselnya, pesan ancaman dan ujaran kebencian dari istri Andy pun muncul di notifikasi ponselnya, menambah emosinya semakin meningkat.


Vanessa yang baru saja memulai karirnya sebagai aktris, harus menerima kenyataan pahit tentang gosip yang beredar luas di masyarakat.


Vanessa sudah membintangi banyak film terkenal, meskipun baru memulai karirnya sebagai aktris dua tahun yang lalu.


Ia yang sebelumnya hanya berperan sebagai pemeran pembantu, kini sudah menjadi pemeran utama wanita di berbagai film.


Setelah film terakhir yang ia mainkan selesai ia belum mendapat ajakan untuk bermain film lagi.


Sambil menunggu waktu senggangnya, ia pun membuat konten resep makanan dan kue-kue di channel YouTube nya.


Tidak lama, Andy pun menghubungi Vanessa ke hotel dengan alasan ingin mengajaknya bermain film bersama dengannya.


Betapa terkejutnya Vanessa setelah mengetahui tema film yang akan ia dan Andy mainkan.


Film yang ia dan Andy akan mainkan ternyata adalah film dewasa. Tentu saja ajakan Andy tersebut ditolak oleh Vanessa mengingat Andy yang sudah memiliki istri.


Tidak terima ajakannya ditolak oleh Vanessa, ia pun menyebarkan berita palsu dengan memotret Vanessa di hotel secara diam-diam, dibantu oleh managernya Andy yang bernama Ricky.


Memanfaatkan kemajuan teknologi, Andy dan managernya mengedit foto-foto Vanessa yang mereka ambil secara diam-diam dan langsung menyebarkannya di media sosial.


Hanya karena foto-foto yang diedit, Vanessa harus menanggung hinaan yang begitu besar dari fans-nya.


Tidak tahan dengan semua hinaan yang ia terima, ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara mengiris lehernya di depan cermin dengan menggunakan pecahan botol kaca.


Pada saat itu ia menggunakan gaun merah, hadiah ulang tahun dari sahabatnya bernama Rafael.


*Sementara itu di kantor polisi.


*krieeet...


*Ctak!


"Fuuuh~ Rafael. Bagaimana?"


Ucap rekan polisi Rafael bernama Frodo.


"Aku sudah mengautopsi korban. Ada satu peluru yang bersarang di paru-paru korban. Ada di jantung, dan di kepala korban."


Ucap Rafael yang menunjukkan hasil pemeriksaannya kepada Frodo.


"Itu berarti sudah dipastikan jika korban tewas akibat ditembak oleh pelaku."


"Tidak. Korban sudah tewas sebelum ia ditembak."


"Apa katamu?! Mana mungkin begitu!"

__ADS_1


"Kau ini! Lihatlah aku sudah memotretnya untukmu. Ada bekas lilitan juga di leher korban. Seperti nya pelaku menggunakan benang yang sangat tipis, sehingga lukanya tidak terlalu terlihat, luka bekas lilitan itu tertutupi lipatan leher korban.


Pelaku memanfaatkan tubuh mayat yang gemuk dan sepertinya pelakunya tidak hanya satu. Aku dengar kau sudah berhasil menangkap pelakunya, itu artinya hanya satu orang yang berhasil kau tangkap."


Jelas Rafael.


"Begitu ya? dilihat dari lukanya sepertinya korban di serang lebih dari satu orang pada hari yang berbeda."


"Tepat sekali. Lagipula mayat korban baru ditemukan lima hari setelah dinyatakan hilang oleh keluarga korban."


"Baiklah kalau begitu. Aku harus memeriksanya lagi. Aku akan menginterogasi pelakunya lagi."


"Oh iya. Apa kau bisa memanggil Simon dan Trevor juga? Aku butuh bantuan mereka berdua untuk mengantarkan jenazah ke keluarga korban, karena korban sudah selesai di autopsi."


"Baiklah."


Ucap Frodo sambil berjalan keluar ruang autopsi.


Rafael yang sudah selesai mengautopsi jenazah, langsung menutup kembali jenazah dengan kain putih.


Sembari menunggu Simon dan Trevor, ia mencuci tangannya dan merapikan kembali peralatannya setelah melakukan autopsi.


Setelah selesai ia pun keluar dari kamar penyimpanan jenazah-jenazah yang belum diambil oleh keluarga mereka.


Saat hendak keluar dari kamar jenazah, sekilas ia melihat ada sebuah bayangan di depannya.


Rafael yang sudah terbiasa dengan pekerjaannya, memutuskan untuk mengabaikan apa yang ia lihat barusan.


"Simon dan Trevor lama sekali! Aduh! Aku meninggalkan ponselku di ruangan! Hah!~"


Ucap Rafael sambil merogoh kantung celananya.


Saat merogoh kantung celananya, dompetnya tiba-tiba terjatuh dari sakunya dan sebuah foto keluar dari dalam dompetnya.


Foto tersebut adalah foto kelulusannya yang ia ambil bersama kedua sahabatnya. Iya... kedua sahabatnya adalah Vanessa dan Andy.


Setelah kelulusan mereka bertiga memilih jalan mereka masing-masing. Vanessa dan Andy memilih profesi sebagai aktor dan aktris, sedangkan Rafael sebagai Tim Forensik Kepolisian.


"Hiks... hiks... hiks..."


"Siapa di sana!"


 Ucap Rafael terkejut.


Tiba-tiba saja foto tersebut mengalami kejanggalan. Potret Vanessa yang mengenakan seragam SMA tiba-tiba mengeluarkan darah di bagian lehernya disusul dengan suara tangis seorang wanita yang semakin dekat.


Tidak lama perhatian nya pun pecah, karena mendengar derap langkah kaki yang terburu-buru dan bunyi ranjang rumah sakit yang didorong dengan kencang.



*DRRRK!


"Rafael!"


Ucap Simon dan Trevor dengan kompak sambil mendorong ranjang rumah sakit dengan mayat yang ditutupi kain putih.


"Ada apa?"


"Rafael... Kenapa kau tidak menjawab telepon ku?"


Tanya Simon.


"Ah... itu... aku meninggalkannya di ruanganku."


"Rafael. Apa kau sudah melihat berita di televisi?"


Tanya Trevor.


"Apa yang kau bicarakan? Bagaimana aku ingin melihatnya? Aku baru saja mengautopsi mayat korban penembakan tadi pagi. Jadi, mayat siapa yang kalian bawa ini?!"


Simon dan Trevor seketika terdiam, mereka berdua saling bertatapan, karena bingung bagaimana memberitahu Rafael bahwa mayat yang mereka bawa adalah mayat sahabatnya, Vanessa.


"Kenapa kalian malah diam?! Aku sedang bertanya kepada kalian berdua! Kalau begitu biar aku lihat sendiri saja!"

__ADS_1


Ucap Rafael sambil membuka kain putih yang menutupi mayat itu.


"Tunggu Rafael!"


Cegah Simon dan Trevor.


Betapa terkejutnya Rafael saat melihat mayat yang ia lihat adalah mayat sahabatnya, Vanessa yang masih mengenakan gaun merah dengan luka sayatan di lehernya.


Rafael yang melihat tubuh Vanessa yang sudah terbujur kaku, tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia pun menggoyang-goyang tubuh Vanessa, mencoba untuk membangunkannya.


Tentu saja hal yang ia lakukan sia-sia, karena Vanessa sudah meninggal dunia.


"Vanessa! Bangun! Jangan tidur di sini! Jangan bercanda! Ayo bangun!"


Ucap Rafael sambil menangis tersedu-sedu.


"Rafael... Dia tidak akan bangun."


Ucap Trevor sambil memegang pundak Rafael.


"Aku turut berdukacita."


Ucap Simon.


"Aku... baru saja ingin melamar mu... setelah pekerjaan ku selesai! HUAAA!"



Rafael, Trevor, dan Simon mengautopsi mayat Vanessa untuk memastikan penyebab kematiannya.


Keesokan harinya... Rafael, Trevor, dan Simon membawa Jenazah Vanessa ke rumah orangtuanya.


Rekan sesama aktris, aktor dan para fans Vanessa yang masih mendukung Vanessa, berdatangan ke rumah duka, disusul dengan Andy dan istrinya.


Melihat kedatangan Andy yang melayat Vanessa ambil menyeringai, membuat Rafael naik pitam, ditambah setelah ia melihat berita di televisi tentang skandal Vanessa dan Andy.


Ia pun langsung melayangkan pukulan ke wajah Andy sampai membuat semua orang di sana terkejut.


*BUAGH!


"KYAAAK! Apa yang kau lakukan! Kenapa kau memukul suami ku? Apa kau tidak tahu siapa dia?!"


Ucap Istri Andy, Regina sambil menampar wajah Rafael.


"Ohok! Wah?! Apa ini Rafael?! Apa ini sambutan hangat untuk kawan lama?!"


Ucap Andy sambil menyeringai.


"Apa kau tidak malu?! Beraninya kau masih menganggap dirimu sebagai temanku dan Vanessa! Aku sungguh muak melihat wajahmu! Jika saja Simon dan Trevor tidak menahanku, aku pasti akan memukulmu sampai kau mati!"


"Dasar tidak tahu diri! Apa kau tidak takut? Jika aku akan menuntut mu? Apalagi kau seorang polisi! Bukankah pekerjaan mu sangat berharga?! Apa kau tidak takut akan kehilangan pekerjaan mu?!"


Ucap Andy.


"Aku tidak peduli! Aku hanya berharap kau dan semua orang yang terlibat dalam menyebarkan gosip buruk tentang Vanessa akan digentayangi sampai mati oleh arwah Vanessa yang mengenakan gaun merah!"


Ucap Rafael.


"Hah! Lucu sekali apa kau mengutukku? Apa kau percaya dengan hantu?! padahal kau ini seorang polisi! Heh!


Sepertinya kehadiran ku disini disambut dengan baik. Yah... lebih baik aku pergi."


Ucap Andy sambil beranjak pergi disusul oleh istri dan Managernya.


keesokan harinya terdengar berita kecelakaan mobil yang menimpa Andy dan Istrinya dengan sebuah jejak misterius spion mobil yang dililit seutas benang merah.


Tidak lama berselang... Ricky, manager Andy dinyatakan tewas dengan pita merah yang melilit di lehernya.


Saat CCTV di rumahnya diperiksa hanya terlihat pergerakan Ricky seorang yang tiba-tiba mengambil sebuah pita merah dan melilitkan pita merah tersebut di lehernya.


Kejadian-kejadian aneh pun menimpa para fans yang berkomentar buruk tentang Vanessa, mereka semua tewas dengan posisi tangan yang menggenggam kain merah.


...~Tamat~...

__ADS_1


__ADS_2