
*Wiu.... wiu.... wiu...
"Lapor senior Alan! Kami sudah menemukan beberapa barang bukti yang dipakai oleh pelaku saat melakukan kejahatan!"
"Apa saja barang bukti yang sudah ditemukan di rumah pelaku?"
"Kami sudah menemukan beberapa barang bukti diantaranya adalah alat kontrasepsi, pisau untuk mengancam korban, lakban, gulungan tali, beberapa helaian rambut korban, dan sprei kasur berlumuran darah."
"Begitu ya... bagaimana dengan jumlah korbannya, apakah sudah pasti?"
"Soal itu... pelaku masih belum mau mengaku."
"Hmmm... Baiklah begini saja. Bawa dia ke ruang interogasi terlebih dahulu. Kau tanya saja dulu tentang keberadaan mayat-mayat wanita yang masih belum diketahui keberadaannya itu."
"Bagaimana dengan anda senior?"
"Masih ada yang harus aku periksa terlebih dahulu di TKP. Kau pergi saja dulu ke kantor polisi. Aku akan menyusul, jika sudah ada petunjuk tentang keberadaan mayat-mayat korban, segera hubungi aku."
"Baik! Senior! Ayo semuanya!"
*Wiu... wiu... wiu...
"Nah. Mereka semua sudah pergi. Apa kau yakin bahwa dia adalah pelaku yang sudah membunuhmu?"
"Iya..."
"Apa kau tahu dimana ia menyembunyikan tubuhmu?"
"(Geleng-geleng)"
"Begitu ya... Kalau begitu. Ayo kita buat kesepakatan. Aku akan membantumu menemukan tubuhmu yang ia sembunyikan. Jika aku sudah berhasil menemukan tubuhmu, kau harus membunuhnya untukku.
Aku tidak terima, pacarku juga menjadi korbannya! Aku ingin dia membayar semua perbuatannya, yang sudah ia lakukan kepada pacarku dan wanita lainnya.
Aku ingin dia mendapatkan balasan yang setimpal! Aku ingin dia mati dengan cara yang sangat mengenaskan, melebihi saat ia membunuh pacarku!"
"Baik..."
...****************...
"Alan. Aku ingin kita putus."
Ucap seorang wanita bernama Karen.
"APA?! Teganya kau mengatakan hal itu kepadaku hari ini Karen! Apa kau tidak tahu alasanku mengajak mu ke restoran ini, tempat pertama kali kita berkencan? Hari ini aku berniat untuk melamar mu!"
"Apa?"
"Karen. Kita sudah berpacaran lebih dari lima tahun. Aku berniat ingin menseriuskan hubungan kita dengan mengajakmu menikah!"
"A... Aku... Aku tidak bisa...!"
Ucap Karen dengan bibir gemetar.
"Apa? Apa alasanmu Karen? Jelaskan padaku...!"
Bentak Alan.
"AKU TIDAK BISA! Tidakkah kau mengerti? Aku tidak bisa! Aku jelaskan padamu juga... kau tidak akan mengerti!"
Pertengkaran keduanya membuat mata orang-orang yang juga berada di restoran, semuanya tertuju kepada mereka berdua.
Tidak ingin menjadi pusat perhatian, Karen pun akhirnya keluar dari restoran itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa sepengetahuannya, ternyata ada seorang pria yang memakai Hoodie hitam, sudah mengintainya dari sebelum ia masuk restoran dengan Alan.
Saat Karen sedang berjalan di sebuah gang sendirian, barulah pria yang sudah mengintainya dari kejauhan itu, melancarkan aksinya.
Pria itu langsung membungkam mulut Karen dari belakang menggunakan sebuah sapu tangan yang sudah diteteskan cairan kloroform.
Alan yang masih syok dengan jawaban Karen masih merenung di restoran itu sambil memegangi cincin untuk melamar Karen, tanpa tahu bahwa pacarnya sudah diculik oleh seseorang tak dikenal.
Setelah beberapa menit, ia pun pergi dari restoran ketika hujan turun dengan lesu. Saat hendak menyimpan cincin di sakunya, tiba-tiba cincinnya lepas dari genggamannya karena tangannya yang licin.
Cincin itu pun menggelinding sampai ke jalan. Alan yang panik, langsung mengejar cincin tersebut.
Karena jarak pandang yang terhalang air hujan, ia sampai tidak melihat mobil melaju di depannya dengan cepat, karena terlalu fokus untuk mengejar cincinnya yang menggelinding.
__ADS_1
Tabrakan pun tidak terhindarkan. Alan terpental cukup jauh saat tertabrak, mengakibatkan dirinya terjatuh dan kepalanya terbentur keras hingga mengeluarkan banyak darah.
.
.
.
*Sementara itu di kantor polisi.
"Johnny!"
"Iya senior. Gabriel. Ada apa?"
"Dimana Alan? Aku belum melihatnya dari jam 7 malam tadi! Apa kau tau dia ada dimana sekarang?"
"Ah. Itu... tadi senior bilang kepada ku untuk pergi sebentar. Aku tadi tidak sengaja melihat ia menyembunyikan cincin di saku celananya. Aku rasa hari ini dia berniat melamar pacarnya."
"Ah... Pacarnya yang bernama Karen itu ya..."
"Iya. Ngomong-ngomong. Senior ada perlu apa dengan Senior Alan?"
Tanya Johnny.
"Ah. Itu! Pak kepala bilang ada laporan pembunuhan! Tadinya Pak kepala menugaskan aku, kau, dan Alan, tapi karena Alan sedang tidak ada dan ponselnya tidak bisa dihubungi, sementara ini kita berdua saja dulu ke TKP.
Sudah ada Richard dan Harry yang sudah berhasil meringkus pelaku. Kita tinggal menyelidiki TKP. Ayo!"
"Baiklah. Biar aku yang mengemudikan mobilnya."
"Ah. Tidak usah! Biar aku saja! Skill mengemudi mu payah! Kau selalu hampir membuat aku dan Alan celaka."
"Ah... Ba... baiklah..."
...****************...
*Beralih ke rumah sakit.
Alan yang baru saja tertabrak mobil, akhirnya dibawa ke rumah sakit. Beruntung saat ia pingsan, ada temannya yang sesama polisi melihatnya dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Untungnya Alan tidak mengalami luka serius. Ia hanya mengalami gegar otak ringan. Saat tersadar dari pingsannya, ia tiba-tiba melihat sosok menyeramkan di depan matanya.
"AKH!"
"Alan! Kau sudah sadar! Ada apa? Apa yang terjadi? Baru tersadar kau langsung membuat ku kaget! Ada apa? Kau seperti habis melihat hantu?"
Ucap rekan kerja Alan bernama Earl.
"Earl? Kau kah itu?"
"Iya. Ini aku. Ada apa sobat?"
"Apa kau tidak lihat pria di depan ku ini? Dia berada di depanku! Matanya semuanya hitam?"
"Hah? Apa maksudmu? Aku tidak melihat apapun. Disini hanya ada aku dan kau. Tenanglah Alan. Itu mungkin saja efek dari luka di kepala mu akibat benturan dan membuatmu berhalusinasi."
"Benarkah?"
"Iya. Oh iya. Dokter bilang agar kau istirahat sebentar disini. Sebelum pulang. Tunggulah disini aku ingin membeli kopi agar aku tidak mengantuk. Ini kau menonton tv dulu.
Sewaktu Earl pergi, Alan terus melihat makhluk menyeramkan di ruangannya tempat ia dirawat. Ia sadar, kecelakaan tadi membuatnya bisa melihat makhluk tak kasat mata. Ia pun semakin yakin dengan apa yang ia lihat adalah hantu.
.
.
.
*di TKP.
Gabriel dan Johnny yang sudah sampai di lokasi kejadian, terkejut melihat mayat yang mereka lihat.
Mayat wanita yang mereka berdua lihat ternyata adalah Karen pacarnya Alan.
Pada saat yang bersamaan. Earl menghubungi Gabriel untuk memberitahukan Gabriel bahwa Alan berada di rumah sakit setelah, terlibat kecelakaan.
Setelah mengetahui sebab Alan tidak bisa datang, Gabriel pun meminta Earl untuk mencegah Alan menonton berita agar ia tidak melihat berita tentang kematian pacarnya, karena ia baru saja kecelakaan, dikhawatirkan akan pingsan karena syok.
__ADS_1
"Berita terkini. Pelaku korban penculikan disertai dengan pembunuhan yang sudah menghabisi nyawa seorang wanita yang berprofesi sebagai karyawan swasta, akhirnya ditemukan, yang paling mengejutkan adalah karyawati tersebut ternyata bukanlah korban pertama si pelaku.
Pelaku yang berinisial R ini, mengaku ia sudah pernah membunuh tiga orang wanita, pada saat lima tahun yang lalu. Pelaku juga mengaku jika ia sudah menghabisi nyawa setidaknya lima orang wanita dan ia mengatakan ada beberapa mayat wanita lagi yang sudah ia kubur sebelumnya.
Sayangnya, pelaku mengatakan bahwa ia lupa dengan letak dan jumlah dari mayat-mayat wanita yang sudah ia kuburkan sebelumnya, karena mayat-mayat tersebut, sudah ia kuburkan lebih dari lima tahun yang lalu dan karyawati tersebut adalah korban terbarunya.
Beberapa mayat yang sudah berhasil ditemukan, langsung diautopsi dan diidentifikasi oleh tim forensik untuk mengetahui identitas korban. Setelah mayat-mayat wanita berhasil diautopsi dan diidentifikasi barulah terdapat hasil laporan yang mengejutkan dari tim forensik. Rata-rata korban dari si pelaku adalah pegawai, karyawati minimarket dan ada juga yang merupakan SPG (Sales Promotion Girl).
Ternyata pelaku tidak hanya menghabisi nyawa korban, tetapi pelaku juga sempat melakukan kekerasan seksual terhadap korban-korbannya sebelum akhirnya ia habisi.
Hal itu terbukti dari luka sobekan yang terdapat pada alat kelamin korban, menandakan pelaku memaksa korbannya untuk bersetubuh. Tidak hanya itu, pelaku juga sempat memukuli korbannya, karena berusaha melawan. Hal itu terbukti dari luka memar yang terdapat di sekujur tubuh korban.
Terdapat juga beberapa barang bukti yang sudah ditemukan di rumah pelaku. Barang bukti tersebut ialah berupa alat kontrasepsi, pisau untuk mengancam korban, lakban, gulungan tali, beberapa helaian rambut korban, dan sprei kasur berlumuran darah.
Saat ini polisi masih menyelidiki TKP lebih lanjut untuk mencari keberadaan beberapa barang bukti lainnya yang disembunyikan oleh pelaku dan menelusuri lokasi penyembunyian mayat-mayat korban mulai dari halaman belakang rumah si pelaku.
Saya Stacy Lawrence, melaporkan dari lokasi kejadian, kembali ke studio."
Sayangnya rencana Gabriel pun gagal. Alan sudah menonton berita dan melihat pakaian yang dikenakan oleh mayat seorang wanita tersebut yang ada di TV.
Alan pun meminta Earl untuk membawanya ke lokasi kejadian untuk memastikan bahwa korban pembunuhan yang ia lihat di tv adalah pakaian yang dikenakan oleh Karen.
Earl pun terpaksa menuruti permintaan Alan dan membawanya ke lokasi. Saat sudah sampai, Alan pun melihat sendiri tubuh Karen yang sudah terbujur kaku.
Setelah mayat Karen dibawa untuk diautopsi, tiba-tiba saja Alan melihat sesosok wanita pucat tiba-tiba muncul dihadapannya.
Sosok wanita itu mengetahui bahwa Alan bisa melihat hantu dan meminta bantuan Alan untuk menemukan tubuhnya yang dikubur si pelaku.
Alan pun setuju dan membuat kesepakatan dengan sosok wanita yang meminta bantuannya itu.
"Lapor senior Alan! Kami sudah menemukan beberapa barang bukti yang dipakai oleh pelaku saat melakukan kejahatan!"
"Apa saja barang bukti yang sudah ditemukan di rumah pelaku?"
"Kami sudah menemukan beberapa barang bukti diantaranya adalah alat kontrasepsi, pisau untuk mengancam korban, lakban, gulungan tali, beberapa helaian rambut korban, dan sprei kasur berlumuran darah."
"Begitu ya... bagaimana dengan jumlah korbannya, apakah sudah pasti?"
"Soal itu... pelaku masih belum mau mengaku."
"Hmmm... Baiklah begini saja. Bawa dia ke ruang interogasi terlebih dahulu. Kau tanya saja dulu tentang keberadaan mayat-mayat wanita yang masih belum diketahui keberadaannya itu."
"Bagaimana dengan anda senior?"
"Masih ada yang harus aku periksa terlebih dahulu di TKP. Kau pergi saja dulu ke kantor polisi. Aku akan menyusul, jika sudah ada petunjuk tentang keberadaan mayat-mayat korban, segera hubungi aku."
"Baik! Senior! Ayo semuanya!"
*Wiu... wiu... wiu...
"Nah. Mereka semua sudah pergi. Apa kau yakin bahwa dia adalah pelaku yang sudah membunuhmu?"
"Iya..."
"Apa kau tahu dimana ia menyembunyikan tubuhmu?"
"(Geleng-geleng)"
"Begitu ya... Kalau begitu. Ayo kita buat kesepakatan. Aku akan membantumu menemukan tubuhmu yang ia sembunyikan. Jika aku sudah berhasil menemukan tubuhmu, kau harus membunuhnya untukku.
Aku tidak terima, pacarku juga menjadi korbannya! Aku ingin dia membayar semua perbuatannya, yang sudah ia lakukan kepada pacarku dan wanita lainnya.
Aku ingin dia mendapatkan balasan yang setimpal! Aku ingin dia mati dengan cara yang sangat mengenaskan, melebihi saat ia membunuh pacarku!"
"Baik..."
Sesuai janji Alan. Ia melakukan pencarian mayat wanita itu dengan melakukan penggalian di belakang halaman rumah si pelaku dibantu dengan polisi lain dan tim forensik yang masih berada di TKP.
Sesuai dugaan polisi. Mayat-mayat wanita itu banyak yang dikubur di halaman pelaku. Hal itu terbukti dari temuan tulang belulang manusia yang ditemukan setelah penggalian.
Setelah tubuhnya ditemukan, sosok wanita itu langsung menghilang dari pandangan Alan.
Arwah wanita itu langsung berpindah ke sel tahanan si pelaku pembunuhan.
Tidak hanya arwah wanita itu, melainkan arwah-arwah wanita lainnya dan arwah Karen yang sudah dihabisi nyawanya oleh si pelaku.
Keesokan harinya, saat hendak mengecek sel tahanan si pelaku, para polisi terkejut melihat kondisi pelaku yang sudah mati secara mengenaskan dengan keadaan leher yang patah. Serta mata berlubang mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
...~Bersambung~...