
Anak-anak dikenal memiliki daya imajinasi tinggi. Imajinasi yang dimiliki oleh anak, tidak jarang merupakan sebuah benda atau sebuah wujud yang pernah dilihat oleh anak dan mereka menyimpan sebuah gambaran itu ke dalam memori mereka.
Sayangnya, karena luasnya dunia imajinasi mereka, anak-anak bisa sampai menciptakan sebuah gambaran imajinasi yang mereka anggap sebagai teman mereka atau biasa dikenal dengan 'Imaginary Friends'
Penciptaan Imaginary Friends dalam dunia anak bisa disebabkan, karena anak tersebut melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang dewasa atau bisa jadi penciptaan Imaginary Friends ini, disebabkan karena anak tersebut mengalami kesepian.
.
.
.
Seorang wanita mendaftarkan diri menjadi guru pendamping di TK Ceria. Wanita tersebut bernama Maya.
Ia pun diwawancarai oleh Kepala Sekolah dan bisa langsung mengamati proses belajar anak-anak di TK Ceria itu.
"Namanya Maya ya... Usia 20 tahun. Maya ini lulusan SMA ya...?" Tanya Bu Melati, Kepala Sekolah TK Ceria itu.
"Ah. Iya bu..."
"Udah pernah ngajar sebelumnya?"
"Sudah. Saya pernah ngajar di PAUD." Ucap Maya.
"Oh. Begitu... Berarti sudah terbiasa ya dengan anak-anak. Baiklah... Karena masih muda, panggilan untuk anak-anak Miss ya...
Oh. ya... sembari menunggu Bu Siska datang, Miss Maya, bisa langsung masuk ke kelas.
Boleh mengamati anak-anak dulu. Miss Maya saya tempatkan di Kelas Kepompong ya... Anak-anak Kelas Kepompong, usianya 4 Tahun. Mari saya antar." Ucap Bu Melati.
"Ah. Baik bu."
Maya pun mengikuti langkah Bu Melati ke Kelas Kepompong tempat ia akan mengajar.
Bu Melati pun mengenalkan Maya kepada anak-anak sebagai guru pendamping.
"Nah Miss Maya. Bisa diamati dulu anak-anak ya. Tadi, Bu Siska udah pesen anak-anak disuruh menggambar yang mereka suka...
__ADS_1
Karena Bu Siska belum datang, Miss Maya disini dulu mendampingi anak-anak. Saya tinggal sebentar, soalnya tadi ada orang tua yang mau daftar lagi ke TK." Ucap Bu Melati.
"Oh. Iya bu..." Ucap Maya dengan semangat.
Maya pun mulai mendampingi anak Kelas Kepompong, selagi Bu Melati pergi ke ruangannya.
Ia pun melihat-lihat gambar-gambar yang sedang digambar oleh anak-anak.
Anak-anak pun mulai mendekati Maya untuk mengajaknya berbicara dan menceritakan, apa yang sedang mereka gambar.
"Miss Maya. Lihat deh gambar aku!" Ucap seorang anak bernama Vito.
"Wah! Gambarnya bagus sekali... Ah.... di Name Tagnya namanya Vito... ya...?" Ucap Maya sembari membaca name tag yang berada di kantung sebelah kiri.
"Fyuh... Untung aja. Anak-anak semuanya memakai name tag, aku jadi bisa mengajak mereka berbicara dengan mudah." Ucap Maya dengan semangat.
Di tengah-tengah anak-anak yang sedang tertawa riang menggambar, ada satu anak perempuan duduk paling belakang, sedang menggambar dengan posisi menunduk.
Tidak ada anak yang duduk disampingnya, anehnya lagi, anak perempuan itu, hanya menggunakan krayon berwarna merah dan hitam, berbeda dengan anak-anak lain yang menggunakan banyak warna untuk mereka menggambar.
"Kok dia duduknya jauh sekali ya...? Kira-kira apa yang sedang ia gambar?" Gumam Maya.
"Wah... Adek gambar apa sayang... Emmm... Dinda ya...?" Ucap Maya sambil membaca name tag anak itu.
Anak perempuan itu pun merespon, saat dilihat, anak itu berekspresi sangat senang, setelah ditanya oleh Maya.
"Ah Miss! Lihat Deh. Gambar Dinda!" Ucap Dinda girang sambil menunjukkan hasil gambarnya kepada Maya.
"Wah... Coba Miss lihat ya..."
Saat Maya melihat gambar yang digambar oleh Dinda, Maya terkejut bukan main, setelah melihat gambar Dinda.
pada gambar itu, terlihat anak perempuan diikat dua, dan ada gambar seorang wanita berpakaian putih, dengan rambut panjang dan bermata merah.
Maya pun bertanya kepada Dinda apa yang sudah digambar olehnya.
"Dinda sayang... ini gambar Dinda sama siapa ya...?" Tanya Maya.
"Oh ini? Ini gambar Dinda sama Kakak Susan!" Ucap Dinda girang.
__ADS_1
Tidak lama ada teman sekelas Dinda yang menyebut gambar Dinda seram.
"Ih! Teman-teman Liat deh! Dinda gambar serem lagi!" Ucap anak yang bernama Dimas.
Setelah ucapan Dimas, semua teman-teman sekelas Dinda berteriak dan lari ke depan, dekat papan tulis.
Tentu saja hal itu membuat Dinda menangis, Maya pun jadi mengetahui, jika Dinda sering menggambar sosok yang ia sebut dengan Susan itu.
"Tidak apa-apa anak-anak semuanya tenang ya... Duduk ke tempat masing-masing. Semua gambar yang sudah selesai, akan Miss tempel di dinding kelas..." Ucap Maya menenangkan anak-anak yang menjerit ketakutan.
"Jangan Miss Maya! Nanti gambar Dinda, bisa luntur terus... bisa bikin gambar kita semua kotor!" Ucap seorang anak bernama Jenny.
"Tidak. Kok... Kan semuanya menggambar yang kalian suka! Pasti akan bagus jika dipasang, biar teman-teman dari kelas lain bisa melihat." Bujuk Maya pelan.
Tidak lama datanglah Bu Siska. Anak-anak yang melihat Bu Siska datang, langsung mendekat ke arah Bu Siska dan memeluknya.
"Selamat Pagi anak-anak. Maaf ibu terlambat... Tadi ban motor ibu... sempat kempes." Ucap Bu Siska.
"Bu Siska!~ Huaaa!!!"Ucap anak-anak sambil menangis.
"Loh. Kok pada nangis, kan tidak sendiri di kelas, ada guru baru Miss Maya." Ucap Bu Siska.
"Bu Siska. Selamat datang. Maaf anak-anak jadi ribut...." Ucap Maya.
"Ah. Iya... Justru saya yang minta maaf... Saya terlambat... Gimana anak-anak gambarnya sudah selesai. Mari sini kumpulkan di meja, mau ibu nilai. Besok setelah dinilai, akan ibu kembalikan untuk dibawa pulang ya..." Ucap Bu Siska menenangkan anak-anak.
Waktu pulang pun tiba-tiba, semua anak-anak langsung dijemput orang tua mereka, termasuk Dinda.
Setelah memastikan semua anak dijemput oleh orang tua mereka, para guru kembali ke kelas untuk merapikan kelas.
Di sela-sela merapihkan kelas, Maya pun bertanya kepada Bu Siska tentang anak yang bernama Dinda dan apa yang sudah Dinda gambar.
"Ah... Soal gambarnya Dinda ya... Guru-guru lama disini memang sudah tidak aneh. Maaf ya Miss saya tidak bermaksud menakut-nakuti, sebenarnya Kak Susan, yang digambar oleh Dinda itu... adalah Kakak perempuan Dinda yang meninggal karena kecelakaan.
Waktu itu juga, orang tua Dinda, pernah ke sekolah, untuk meminta tolong agar menyediakan guru terapi untuk Dinda yang sangat kehilangan Kakak perempuannya itu... Tapi sampai saat ini belum ada... Jadi, Bu Melati pesan ke kita, agar kita membuat Dinda fokus, supaya Dinda gak bisa melihat 'hal itu' lagi.
Karena mungkin sampai sekarang... Dinda masih belum menerima Kakaknya pergi. Jadi kita sebagai guru hanya bisa mendampingi Dinda, agar Dinda tidak merasa kesepian. Pokoknya kita usahakan agar Dinda bisa berinteraksi sama teman-temannya." Ucap Bu Siska.
Tentu saja, jawaban Bu Siska benar-benar membuat Maya menjadi tercengang. Kejadian yang ia alami itu adalah pengalaman menyeramkan pertama yang ia alami selama mengajar.
__ADS_1
...~TAMAT~...