
*Hu... hu... hu... hu...
Suara burung hantu di malam hari. Malam itu, di sebuah komplek perumahan, ada dua orang pria yang sedang bertugas ronda mengelilingi area sekitaran perumahan itu.
Pukul 12 malam, mereka berdua masih berkeliling di sekitar perumahan itu, untuk mencegah terjadinya kejadian pencurian dan hal-hal lain yang tidak diinginkan.
Suasana malam yang sepi, ditambah tidak ada lagi kendaraan warga sekitar yang lalu lalang melewati gang-gang di perumahan itu.
Rasa sepi yang mereka rasakan saat berkeliling, hanya diiringi suara burung hantu dan suara jangkrik saja.
Karena sudah menjadi kewajiban mereka, mau tidak mau petugas yang sedang bergiliran ronda malam ini, harus menahan rasa takut yang dirasakan oleh mereka saat sedang berkeliling di sekitar perumahan itu.
*Krik krik krik krik.
"Psst... Pak Edi..." Bisik Pak Rahmat yang sedang bertugas bersama Pak Edi.
"Ada apa? Udah jangan ngobrol dulu, nanti aja istirahatnya sekitar jam 1 lewat aja. Nanti kita ke pos ronda dulu bikin kopi biar gak ngantuk." Ucap Pak Edi dengan logat Jawa yang kental.
"Iya pak saya tau, tapi hawa-hawanya udah mulai ngerasa gak enak." Ucap Pak Rahmat yang memegang senter dengan tangan gemetar.
"Udah toh pak! Jangan diomongin kayak gitu! Nanti saya jadi ikut merinding!" Ucap Pak Edi sambil menyentuh lehernya yang mulai terasa dingin.
Pak Edi dan Pak Rahmat melanjutkan berkeliling di sekitar perumahan itu, sembari berjalan, Pak Rahmat kembali mengeluhkan tugasnya kepada Pak Edi.
"Duh Pak! Kalo tau kita berdua doang yang keliling, saya mah ogah!" Keluh Pak Rahmat.
"Berdua gimana pak? Orang kan, ditugasin nya sesuai RT. Kita berdua kebagian di RT 01. Ucap Pak Edi sambil terus berjalan.
"Iya sih pak, tapi kan jarak RT nya kan jauh-jauhan!" Keluh Pak Rahmat lagi.
"Udah toh Pak Rahmat, jangan kebanyakan omong dulu! Nanti keburu capek!" Ucap Pak Edi.
Pak Rahmat dan Pak Edi pun kembali berjalan lagi. Pak Rahmat yang sedari tadi mengeluh, mulai diam dan mencoba untuk fokus pada tugasnya.
Saat sedang berjalan lagi, tiba-tiba saja Pak Rahmat merasa mengingat sesuatu, akan tetapi ingatan Pak Rahmat agak samar-samar dikarenakan ia yang sedang fokus menjalankan tugasnya.
Rumah demi rumah, dilewati oleh Pak Edi dan Pak Rahmat yang terus berkeliling sambil menyoroti sekitar rumah dengan senter, untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigakan masuk ke dalam perumahan itu.
Saat melewati lapangan bola kecil, tempat anak-anak di sekitar perumahan itu bermain, tiba-tiba saja Pak Edi dan Pak Rahmat berpapasan dengan seorang wanita yang sedang menyapu di depan rumahnya.
"Permisi Bu. Numpang lewat." Ucap Pak Edi sambil mengangguk untuk menyapa wanita itu.
"Oh! Iya pak. Silahkan." Ucap Wanita itu sambil terus menyapu
"Maaf sebelumnya bu, ini kan sudah malam, kenapa ibu masih nyapu halaman ya bu? Bukan maksud saya untuk melarang ibu menyapu, tapi udah dini hari gini, gak ada siapa-siapa yang lewat, takutnya orang gak tau, amit-amit takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bu." Ucap Pak Edi pelan.
Pak Rahmat yang ingin menambahkan ucapan Pak Edi, langsung mengurungkan niatnya, karena saat melihat wanita itu, tiba-tiba saja ia merasa merinding dan mengingat sesuatu tentang wanita itu.
"Oh gitu ya Pak. Iya pak maaf, tapi kalo pagi-pagi saya gak bakalan bisa. Jadi, saya cuma ada waktu pas malem-malem begini." Ucap Wanita itu.
Ucapan wanita itu yang terasa janggal, sama sekali tidak disadari oleh Pak Edi dan juga Pak Rahmat.
Wanita yang tadi sedang menyapu halaman rumahnya, langsung menghentikan aktivitasnya itu, karena merasa tidak enak dengan Pak Edi dan juga Pak Rahmat.
"Aduh Pak makasih banyak udah lewat rumah saya. Maaf sebelumnya, saya jadi gak enak sama bapak. Oh iya! Mumpung bapak-bapak lagi disini, gimana kalo bapak masuk dulu. Kebetulan saya lagi masak banyak. Soalnya sayanya ngerasa gak enak sama bapak-bapak." Ucap wanita itu yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Aduh bu gak usah, makasih kita mau langsung lanjut aja." Ucap Pak Rahmat yang tiba-tiba merasa merinding lagi.
Sayangnya Pak Rahmat masih tidak mengingat siapa wanita yang sedang ia ajak bicara itu.
"Loh pak? Ada rezeki kayak gini, kok malah ditolak? Kebetulan banget kan, kita lagi laper ada yang nawarin makan." Bisik Pak Edi.
"Bukannya gitu pak. Saya ngerasa ada yang aneh sama ibu ini." Bisik Pak Rahmat sambil terus berusaha keras untuk mengingat wanita itu.
"Pak Rahmat ini gimana toh? Emangnya bapak kenal siapa ibu itu?" Tanya Pak Edi sambil berbisik.
"Enggak sih pak. Cuma, saya kayak pernah ngeliat ibu ini, tapi saya lupa dimana." Ucap Pak Rahmat yang mencoba mengingat lagi.
"Lah. Gimana toh pak? Udahlah pak Rahmat! Mungkin aja bapak salah liat. Orang saya sendiri aja baru ketemu ibu ini. Mungkin aja ibu ini baru pindah!" Bisik Pak Edi lagi.
Pak Rahmat pun tidak mengatakan apa-apa lagi, setelah mendengar perkataan Pak Edi tadi, bahwa wanita itu mungkin baru saja pindah ke perumahan itu.
"(Iya kali ya? Mungkin aja ini cuma perasaan ku aja.)" Ucap Pak Rahmat dalam hati.
"Iya deh bu boleh. Mumpung lagi lewat rumah ibu, saya sama Pak Rahmat sekalian mampir aja lah." Ucap Pak Edi sambil nyengir malu-malu.
"Yaudah. Silahkan masuk pak." Ucap Wanita itu ramah sambil berjalan masuk ke rumahnya untuk menyiapkan makanan di meja makan.
Wanita itu pun mengantarkan Pak Edi Pak Rahmat ke arah ruang makan.
"Ayo pak silakan duduk. Saya akan siapkan makanannya dulu. Sebentar ya pak." Ucap Wanita itu.
"Iya bu makasih." Ucap Pak Edi dan Pak Rahmat kompak.
Setelah beberapa menit menunggu, wanita itu pun membawa beberapa makanan yang sudah ia masak dan ia letakkan di atas meja makan.
"Maaf lama pak. Silahkan dimakan pak." Ucap wanita itu ramah.
"Aduh bapak, bisa aja. Saya justru yang gak enak. Oh iya maaf pak saya mau ke dapur dulu, mau nyuci piring dulu. Nikmatin aja makanannya, anggap aja rumah sendiri." Ucap wanita itu sambil menata makanan di atas meja.
"Iya bu makasih." Ucap Pak Edi lagi.
Wanita itu pun berjalan ke arah dapur rumahnya. Pak edi yang sudah melihat banyak makanan di depan matanya, sangat bersemangat untuk mencicipi semua makanan yang sudah disiapkan oleh wanita itu.
Lain halnya dengan Pak Rahmat yang hanya duduk terpaku melihat banyak makanan di depannya. Pak Rahmat masih ragu dengan wanita yang sudah menjamu mereka berdua itu.
Pak Rahmat merasa ada hal yang ia lupakan. Ia tiba-tiba menjadi tidak fokus karena sudah melihat banyak makanan di depan matanya. Hal itu diperparah dengan Pak Edi yang memaksanya untuk memakan makanan yang sudah dibuat wanita itu.
"Udah lah Pak Rahmat! Bapak kok malah bengong? Makanan udah tersedia di atas meja, kenapa gak dimakan? Kalo gak dimakan, bisa-bisa ibu itu nanti tersinggung." Ucap Pak Edi yang sudah mulai makan.
"(Aman gak ya?)" Ucap Pak Rahmat dalam hati.
Pak Rahmat pun mencoba sedikit makanan yang sudah disiapkan oleh wanita itu. Untuk berjaga-jaga jika ada hal aneh terjadi setelah ia menyantap masakan milik wanita itu.
Saat makanan itu menyentuh lidahnya, ia merasa makanan itu sangat-sangat enak.
"Wah ternyata enak pak!" Ucap Pak Rahmat dengan wajah ceria.
"Bener kan pak? Makanya kata saya juga jangan asal curiga gitu." Ucap Pak Edi sambil terus makan.
Semakin Pak Edi dan Pak Rahmat memakan makanan dari wanita itu, keduanya menjadi lupa tugas mereka untuk ronda malam.
Pak Rahmat yang semula fokus untuk mengingat siapa wanita itu itu pun juga, menjadi semakin lupa apa yang tadi ia ingin coba ingat-ingat.
__ADS_1
Setelah sudah menghabiskan semua makanan di atas meja itu, tiba-tiba saja mereka berdua merasa mengantuk.
Rasa kantuk itu sama sekali tidak bisa mereka tahan, mereka berdua akhirnya langsung tertidur dengan posisi wajah yang menempel di meja makan.
Saking mengantuk nya, mereka berdua tidur di rumah wanita itu sampai pagi. Sayangnya hal itu sama sekali tidak dirasa dan tidak disadari oleh keduanya.
Lima menit sebelum mereka berdua terbangun, tiba-tiba saja mereka mendengar suara keramaian yang seolah-olah sedang mengerubungi mereka.
Saat sudah hampir terbangun, tiba-tiba saja ada seseorang yang menggoyang-goyangkan tubuh mereka berdua untuk membuat keduanya terbangun.
"Pak Edi! Pak Rahmat! Ayo bangun." Ucap salah satu warga.
Saat mencoba membuka kedua matanya, keduanya langsung terkaget-kaget setelah melihat puluhan mata memandangi mereka berdua.
"Hah? Udah Pagi? Loh bapak-bapak ibu-ibu kok pada disini?" Ucap Pak Edi yang masih kebingungan.
"Lah. Gimana sih pak? Justru kita yang harusnya nanya ke kalian berdua. Kenapa kalian malah tidur di atas pasir? Pos ronda kan ada." Sambung warga yang lainnya.
"Di atas pasir...? Lah kok?" Ucap Pak Edi yang kebingungan.
"Haduh. Pak Rahmat! Kok bapak gak ngasih tau Pak Edi? Bapak malah ikutan tiduran di atas pasir!" Ucap salah satu warga yang lain.
"Ngasih tau? Ngasih tau apa pak?" Tanya Pak Rahmat yang kebingungan.
"Lah?! Bapak Rahmat juga gak inget? Ini kan Rumah Bu Lia yang udah meninggal? Rumahnya kan udah dirobohin pak." Sambung salah satu warga yang lain.
"Bu... Lia...?!" Ucap Pak Rahmat yang syok.
Ingatan Pak Rahmat tentang Bu Lia langsung melintas dipikirannya. Ia langsung mengingat soal Bu Lia.
"Bu Lia? Siapa itu pak?" Ucap Pak Edi yang kebingungan.
Pak Edi memang tidak mengenal sama sekali Bu Lia, karena Pak Edi baru pertama kali ditugaskan untuk melakukan ronda malam di RT 01.
"Yah wajar sih kalo Pak Edi gak kenal Bu Lia. Seharusnya bapak kan ngeronda di RT 03. Karena disuruh bergantian, bapak lagi disuruh ngeronda di RT 01." Ucap salah satu warga lagi.
"Gini loh Pak Edi. Bu Lia itu warga di RT 01 Jalan Melati 1. Bu Lia udah lama meninggal, semenjak ada kejadian pencurian di rumahnya.
Kebiasaan yang suka nyapu malem-malem itu dimanfaatin sama orang jahat, pas barang-barangnya dicuri, Bu Lia sempet melakukan perlawanan. Saat mau diancam sama pisau, Bu Lia itu gak sengaja ketusuk perutnya. Sampai kehilangan banyak darah.
Itu kata Polisi. Pelakunya udah ketangkep dan pelakunya udah ngakuin semua kejahatannya ke Polisi." Jelas salah satu warga.
"Me... meninggal?!!! Gak mungkin kan? Orang semalem saya sama Pak Rahmat ditawarin makan sama Bu Lia. Iya kan Pak Rahmat." Ucap Pak Edi sambil bertanya pada Pak Rahmat untuk memastikan ingatannya benar.
"Iya bener..." Ucap Pak Rahmat yang lemas.
"Kalo soal itu, udah sering kejadian pak. Memang kebiasaan Bu Lia itu selalu nawarin tetangga-tetangga sama orang sekitar yang lewat ke rumahnya, untuk makan di rumahnya.
Kata orang-orang yang pernah makan di Rumah Bu Lia, selalu aja langsung ngantuk dan pagi-pagi nya udah tidur di atas pasir. Makanya kalo pagi-pagi kita biasanya langsung ke sini buat mastiin orang-orang yang udah ketemu Bu Lia, takutnya terjadi apa-apa." Tambah salah satu warga yang lainnya.
Sontak saja hal itu membuat Pak Edi dan Pak Rahmat menjadi syok berat setelah mengalami kejadian mistis itu.
Sayangnya, kejadian itu terus-menerus terjadi kepada siapapun yang melewati Rumah Bu Lia.
Kebiasaan Bu Lia yang ia lakukan selama masih hidup, masih terus ia lakukan bahkan setelah ia meninggal.
Karena sudah banyak orang yang mengalami hal serupa, warga-warga di sekitar perumahan itu, berinisiatif untuk selalu mendatangi bekas Rumah Bu Lia pagi-pagi sekali untuk mengawasi orang-orang yang diundang ke Rumah Bu Lia dan memastikan mereka aman.
__ADS_1
*Tamat.....