Klub Pemikat Hati

Klub Pemikat Hati
Fastabiqul Khoirot


__ADS_3

" Genggaman jemarimu terbuka


Debu tersibak angin dari pasir yang kau tumpahkan


Kudapan kemarin sore dimakan oleh lembu yang berlari di belukar ayahmu


Tapi kau malah menangis bukan karena itu sayang


Cepatlah pulang!


Adik-adikmu tidak tahu musuh baru yang kau ikrarkan


Jika bertanya pun kau jawab


'dia telah diseret Izroil' "


...🌷🐝...


Seorang pria berbadan jangkung berdiri di podium dan melipat secarik kertas yang ada di tangannya. Puisi yang dibacanya tadi terbilang banyak menyita waktu. Selain jeda menarik napas yang panjang, penghayatannya pun kurang mengena.


Dia sebenarnya tidak tahu apa yang harus disampaikan di podium selain ucapan terima kasih dan secarik kertas yang dirinya temukan di podium. Dirinya merasa benar-benar tertolong.


Disitu tertulis puisi tentang ibu yang ditulis oleh Ahmad Zain salah satu santri pesantren yang sedang mereka kunjungi.


Jadi dia pura-pura membaca puisi itu dengan mengubah seluruh isinya. Kelak dirinya akan berterima kasih dengan anak itu dengan mengirimkan tiket umroh untuk keluarganya.


Meskipun tuan Muiz, ayahnya semenjak tadi melototinya untuk memberi kode.


" Abi, bicara yang benar!" Gerutu ayahnya.


Pria itu tidak menghiraukan audiens yang tampak kebingungan mendengarkannya. Ditambah dirinya juga tidak menyadari ayahnya yang naik darah karena ulahnya.


Hanya seperti itu yang bisa dilakukannya. Sedangkan berbasa-basi sampai berbuih mulut bukanlah keahliannya.


Apalagi harus berbicara sembarangan dan kurang bermutu. Oh, tidak! Itu bukanlah tipikal dirinya apalagi di zaman yang serba viral ini.


Dia bahkan sudah bergidik ngeri membayangkan dirinya menjadi topik hangat di berbagai media dengan urusan yang kurang berkelas.


Oh ya! Ngomong-ngomong.


Pria ini!


Ya, pria yang sedang kita bicarakan ini.


Namanya Fastabiqul Khoirot yang artinya 'berlomba-lomba dalam kebaikan'


Dipanggil Fastabi atau bisa dipanggil Abi, Tabi, Tabiq, Khoir.

__ADS_1


Ada di dalam surat Al-Baqoroh ayat 148 jika kau penasaran. Sungguh nama yang indah bukan?


Usianya yang sudah melewati kepala tiga, harta yang berlimpah, tetapi belum menikah adalah hal yang paling menggelisahkan bagi kedua orang tuanya. Siapa juga yang mau jika keturunan mereka ada yang bakal jadi bujang tua alias bujang lapuk.


Padahal postur tubuhnya di mataku ideal sekali. Tinggi semampai dan tampak terurus.


Wajahnya juga menarik.


Meskipun hidungnya tidak begitu mancung. Tapi tidak juga dikatakan pesek. Standarlah istilah kalau kata orang.


Tapi dirinya sudah cukup tampan dengan kulit sawo matangnya itu.


Alisnya hitam laksana semut berbaris yang mempetajam bola matanya yang hitam pekat. Hingga membuat wajahnya selintas terlihat angkuh namun berpendirian teguh.


Aku dapat melihatnya saat mengantar beberapa gelas teh ke meja tamu dan tiga piring kue bugis serta beberapa ikat buah manggis.


Kebetulan aku salah satu pengurus di asrama putri jadi kiai mau tidak mau memintaku turun tangan untuk mengurus konsumsi para tamu membantu bu nyai.


...🌷🐝...


Fastabi mengucapkan salam penutup sebelum meninggalkan podium. Sementara itu, Rifa'i temannya sibuk membidiknya dengan kamera.


Acara dilanjutkan dengan pembacaan do'a selamat yang dipimpin oleh kiai Mukhsin, pimpinan pondok pesantren Al-Mukmin generasi ketiga.


Berselang beberapa jam P.T sawit milik Fastabi diresmikan, dirinya langsung mengadakan pengajian di pondok pesantren yang dulunya sempat dirinya kenyam selama tiga tahun.


Selain ingin memulihkan kondisi tubuhnya yang kurang fit akhir-akhir ini karena banyaknya persiapan yang harus disiapkan, dirinya juga merasa canggung karena lama tidak berkunjung ke pesantren itu.


Fastabi segera keluar dari ruangan itu setelah selesai acara. Dirinya memperhatikan wajah riang para santri yang dibagikan nasi kotak dan souvenir oleh para panitia.


Sementara itu tuan Muiz masih mengobrol dengan kiai Mukhsin di dalam.


" Pak kiai, umurnya sudah tiga puluh tiga tahun tapi belum menikah-menikah juga" Keluh tuan Muiz perihal anak sulungnya itu.


" Belum bertemu jodohnya pak. Dan sepertinya jika dilihat-lihat tampaknya Fastabi sangat selektif memilih pasangan"


" Selektif apanya kiai! Bahkan dia nyaris saja menikahi gadis yang membuka auratnya sekampung-kampung. Ya jelas saja saya tidak setuju" Tuan Muiz menarik nafas sejenak.


" Bagaimana kiai jika pak kiai mencari jodoh untuk anak saya? Sebenarnya saya sudah lama ingin minta bantuan pak kiai dan hari ini baru bisa saya utarakan maksud keinginan saya"


Kiai Mukhsin diam sejenak. Sementara itu tuan Muiz menunggu jawabannya dengan penuh tanda tanya.


" Apa bapak sudah memberitahu rencana ini dengannya?"


" Ah, mudahlah itu kiai"


" Emh. Baiklah. Kayak-kayaknya ada sih yang cocok untuk nak Fastabi menurut saya. Ini baru menurut saya loh" kiai Mukhsin memperhatikan Fastabi yang sedang tersenyum memperhatikan tingkah laku para santri.

__ADS_1


" Saya punya santri putri. Dia sudah beberapa tahun ini mengabdi disini dan baru saja lulus kuliah. Untuk prestasi selama mondok disini terbilang lumayan meski tidak sampai menonjol sekali. Tapi dia orangnya rajin dan tekun. Akhlaknya bagus. Tapi kembali lagi cocok bagi kita belum tentu cocok bagi mereka masalahnya"


" Wah tampaknya saya juga setuju pak kiai" Wajah tuan Muiz langsung berubah cerah.


" Sebentar dulu pak. Tapi kita harus menanyakan mereka terlebih dahulu. Mengadakan pertemuan keluarga misalkan"


" Maaf kiai kalau saya mau bertanya lebih. Bukan maksud apa-apa. Kan biasanya kita sebagai laki-laki inginnya pasangan kita kalau bisa tidak malu-maluinlah jika diajak kondangan istilahnya" tuan Muiz malah terkekeh mengungkapkannya.


" Oh iya, iya saya mengerti maksud bapak. Syukurlah kalau Siti Sarah ini. Nah saya perkenalkan nama santri putri ini namanya Siti Sarah. Orangnya alhamdulillah tidak mengecewakanlah pak. Tapi kembali lagi ke selera dan standar orang itu sendiri"


" Iya, kiai. Itu semua bukan berarti saya mematok fisik yang sempurna bukan tapi maklumlah orang tua juga ingin anaknya mendapatkan yang terbaik selain karena agama dan akhlaknya yang mulia" Ungkap tuan Muiz.


" Benar. Oh iya, nanti saya akan menanyakan dan berbincang kepada Siti Sarah"


" Baiklah pak kiai. Saya mohon undur diri. Nanti saya akan menghubungi kiai kapan akan datang kesini lagi. Masalah Fastabi itu urusan gampanglah"


" Iya pak. Terima kasih telah berkenan datang kemari. Semoga silaturrahmi kita tetap selalu terjaga"


" Assalamu'alaikum"


" Wa'alikumussalam"


Oh ya, Siti Sarah yang kiai Mukhsin maksud tadi tentulah aku orangnya. Iya, itu beneran aku!


Dan pria yang sudahku perbincangkan dan mereka perbincangkan padamu. Dialah yang menjadi alasan mengapa aku harus menjadi salah satu anggota klub ini. Klub pemikat hati.


Usia kami selisih sebelas tahun dan kami menjadi pasangan yang sah.


Aku akan bercerita dengan kalian bagaimana kisah kami ini bermula.


...🌷🐝...


Kala itu, aku mendengar kabar baik itu dari mulut kiai Mukhsin sendiri. Dalam hatiku memekik sekuat-kuatnya lafaz hamdalah. Siapa coba yang mau menolak pria sekelas Fastabiqul Khoirot? Batinku.


Jika saja saat itu aku tidak bisa menguasai diri. Aku ingin sekali menghambur memeluk bu nyai yang saat itu duduk bersebelahan dengan kiai saking bahagianya.


Kiai memilihku untuk dita'arufkan dengan pria itu. Mimpi apa aku semalam?


Aku segera mengambil wudhu, membaca Al-qur'an berulang-ulang. Setelah sholat malam, aku langsung melanjutkannya dengan sholat hajat dan istikhoro untuk memohon diberi petunjuk. Biar bagaimanapun Allah jauh lebih tahu siapa yang terbaik untukku.


Di dalam hati Rosulullah terdapat cinta syaidah Siti Khodijah.


Di dalam hati Siti Zulaikha terdapat


cinta nabi Yusuf.


Bersambung

__ADS_1


...🌷🐝...


__ADS_2