Klub Pemikat Hati

Klub Pemikat Hati
Ta'aruf dimulai


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya hampir saja mengagetkan aku. Dia tiba-tiba langsung berdiri dan menyodorkan tangannya padaku.


" Siti Sarah ya?"


" Ah, ya ya. Saya Siti Sarah '' Jawabku sembari mencium tangannya. Ku tebak ini pasti ibunya!


" Berapa usiamu nak?" tanya wanita itu sekali lagi.


" Dua puluh dua tahun buk"


" Muda sekali! Emh tapi nggak papa kau cocok sekali jika bersanding dengan Fastabi"


" Bu " Tegur tuan Muiz. Nyonya Muiz pun langsung menutup mulutnya menahan tawa.


" Maafkan saya ya pak kiai, bu nyai. Kadang saya terlalu terbawa-bawa"


" Nggak apa-apa bu. Saya juga sudah terbiasa melihat hal seperti itu. Ibu para santri kadang lebih dari itu" Jawab kiai Mukhsin sembari memberi intruksi kepadaku untuk duduk di samping bu nyai. Aku pun segera mematuhinya.


Hari itu tuan dan nyonya Muiz banyak bertanya tentang latar belakangku. Seperti pekerjaan orang tuaku apa? Berapa saudara? Kuliah dimana? Jurusan apa? Haaaah, dan banyak lagi rentetan pertanyaan lainnya yang ku coba jawab sebaik dan sesopan mungkin.


Selanjutnya aku merevisi dan menambah bagian yang perlu dalam tulisan riwayat hidupku di lembaran kertas.


" Maaf ya anak saya tidak bisa datang. Dia memang sering berada di luar rumah beberapa tahun terakhir ini. Oh iya, punya Fastabi yang ini. Nanti silakan dibaca-baca lagi" Nyonya Muiz menyodorkan sebuah amplop besar ke atas meja. Aku mengambilnya lalu menukarkannya dengan punyaku yang baru saja selesai ditulis.


" Fastabi pernah kuliah satu tahun di Kairo namun karena suatu kendala, dirinya berhenti lalu melanjutkan kuliah di universitas swasta di Jakarta " Tambah nyonya Muiz.


" Yaaa dia kadang melakukan sesuatu di luar nalar" Celetuk tuan Muiz.


Di luar nalar? Maksudnya. Aku mempertajamkan pendengaranku. Aku juga perlu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang pria itu.


" Yaa" Kali ini nyonya Muiz yang menegur tuan Muiz.


" Kan alangkah baiknya kalau kita jujur. Benar nggak, Sarah?"


" Ah? I, iya"


" Fastabi itu anaknya penurut. Oh iya, dia juga pemurah orangnya" Tambah nyonya Muiz sembari mendelik Tuan Muiz.


Alhamdulillah. Batinku.


Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya kedua pasangan suami istri itu mohon undur pamit. Sebelumnya, nyonya Muiz mengeluarkan dua kantung besar oleh-oleh dari dalam mobil.


" Saya tadi lupa mengeluarkannya bu nyai. Maaf ya" Nyonya Muiz menyodorkan satu kantung kepada bu nyai.


" Aduh malah terbalik bu. Seharusnya kami yang memberi oleh-oleh kepada kalian" Bu nyai meraih oleh-oleh yang disodorkan kepadanya.


" Nggak apa-apa bu nyai. Jarang-jarang juga. Dan ini untuk Sarah" Nyonya Muiz menyodorkan satu kantung lagi untukku.


" Wah bu. Nggak usah repot-repot buuu" Jawabku seramah mungkin meniru intonasi bu nyai.


" Ambil saja. Mau jadi calon mantu saya kan?" Ledek nyonya Muiz hingga membuatku tersipu.

__ADS_1


" Ya mau lah" Kini kiai dan bu nyai malah balas meledekku.


" Terima kasih banyak bu" Balasku sembari meraih kantung itu dan mengulum senyum tentunya.


" Iya sama-sama. Kami duluan ya pak kiai, bu nyai, Sarah. Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumussalam"


Setelah mereka pergi, pak kiai memintaku untuk ngobrol di ruang tamu ditemani bu nyai.


" Orang tuamu belum diberitahu?" Tanya kiai.


Aku menggeleng " belum kiai. Saya belum mau memberitahu mereka kalau belum pasti"


" Tidak apa-apa, beritahu saja. Minta bantu do'a dengan mereka semoga diberikan yang terbaik. Memutuskan iya atau tidakkan itu juga pilihan. Tidak baik juga menggantung harapan orang terlalu lama"


Aku pun mengangguk mendengar saran kiai. Malam nanti aku akan menghubungi orang tuaku.


" Kiai "


" Ya?"


" Emh. Sebenarnya saya sendiri masih ragu" Ungkapku sejujurnya.


" Kamu sudah istikhoro, Sarah?"


Aku mengangguk.


" Lantas ragu seperti apa misalnya? Coba jelaskan"


Aku menarik napas pelan.


"Hanya saja akhir-akhir ini saya takut jika saat menikah nanti dia akan bersikap kasar, semena-mena terhadap saya kiai. Apalagi belum mengenalnya terlalu dalam. Saya takut sekali hal-hal yang buruk akan menimpa saya saat saya menikah nanti"


" Wah, wah, waaaah! Kenapa bisa berpikiran seperti itu sih Sarah? Rasa khawatirmu jangan dilebih-lebihkan nak. Memang, tidak bisa dipungkiri masalah pasti ada namun alangkah baiknya kita berhusnuzon kepada Allah. Kita jangan mengada-ada terhadap suatu hal yang belum terjadi hingga menghalangi niat kita"


" Kita juga mesti bersyukur semenjak ribuan tahun Allah telah memberi kita sejarah yang begitu menggugah"


"Banyak wanita-wanita berjiwa perkasa yang masalahnya jauh lebih sulit ketimbang wanita-wanita masa kini yang sedikit-sedikit meminta cerai, yang curhat membeberkan aib keluarga sendiri di medsos seolah-olah dirinya adalah wanita termalang di dunia ini"


"Saya bicara begini bukan berarti saya hebat bukan. Lah Al-Qur'an dan hadits sendiri yang mengungkapkannya. Ada Siti Khadijah yang terus membela dan setia terhadap nabi Muhammad atas kekejaman kaum jahiliyah yang kejam bukan main"


"Ada banyak sekali tokoh wanita yang layak dijadikan contoh. Bahkan kita juga harus banyak belajar dengan Siti Maryam yang difitnah, dikucilkan saat mengandung nabi Isa. Dirinya bahkan tidak memiliki suami yang bisa dijadikan untuk tempat mengadu, memeluk, menangis"


"Tapi di hatinya selalu ada Allah. Ada Allah tempat curhat tanpa batas tanpa protes saat diri kita berulang-ulang meminta, mengeluh. Jadi wajar saja jika surga merindukan mereka. Istigfarlah Sarah. Kita jangan meragukan karunia dan nikmat Allah yang tanpa batas ini"


Aku mengangguk.


Astahirullahal adzim.


Air mataku jatuh. Sungguh kerdil pemikiranku ini. Batinku.

__ADS_1


...🌷🐝...


Aku membaca riwayat hidup pria itu saat jauh malam. Sehabis sholat magrib tadi masih ada kegiatan karena ada jadwal santri putri sholawat berjamaah diiringi hadroh.


Sehabis sholat isya, dilanjutkan dengan muhadhoroh atau latihan untuk mengasah kemampuan para santri seperti pidato tiga bahasa, tilawah Al-Qur'an, dan lain sebagainya.


Sehabis itu aku, Larisa, dan ibu asrama lainnya mengontrol ke kamar-kamar untuk memastikan para santri mengulang pelajaran sebelum tidur.


Jadi dengan terpaksa aku melakukannya saat larut malam. Selain tidak ingin diketahui orang, aku ingin lebih berkonsentrasi.


Saat lampu kamar dimatikan. Aku memastikan teman-temanku sudah tidur. Aku membuka lemariku perlahan mengambil amplop yang aku sembunyikan tadi.


Aku membawa amplop yang sebelumnya telahku lipat-lipat itu lalu membawanya ke teras mushola.


Ei, betapa menyiksanya saat kita penasaran ini. Aku membukanya dengan hati yang bergetar saking besarnya rasa penasaranku ini.


Bismillah ku buka.


Assalamu'alaikum.


Bang, tega sekali ya dirimu!


Mataku terbelalak.


Apa salah lihat aku ini, heh?


Ku pertajam lagi pengelihatanku. Tidak salah lagi, bacaannya memang seperti ini.


Assalamu'alaikum.


Bang, tega sekali ya dirimu!


Perempuan mana lagi yang kau bonceng waktu itu?


Kata cik Ilot, itu anak bik Rus kampung sebelah. Benarkah demikian bang?


Teganya kau bang, perempuan seperti itu yang kau pilih ketimbang aku.


Kata cik Ilot, bik Rus mamaknya itu kalau main arisan selalu minta kena pertama setelah itu tidak mau bayar lagi dia. Mana ayam cik Ilot diakuinya ayamnya.


Kata cik Ilot pula mengenai anaknya, si perempuan yang kau bonceng itu. Dia makan empek-empek lima ngaku makan tiga di warung cik Ilot.


Iiiih perangainya. Aku jadi teringat perangai teman-temanku waktu SMP yang nakal dan sundal-sundal.


Perempuan seperti itu ternyata level kau bang? Aku benar-benar benci dengan kau bang mulai detik ini.


Aku mendengus. Aku dikecoh dengan hal seperti ini. Sia-sia usahaku mengendap-endap selarut ini gara-gara ingin membaca riwayat hidup pria itu. Aku bahkan mengucapkan basmalah setiap menulis kata per kata di kertas yang ku berikan itu.


Dasar tukang main perasaan orang!


Nyaris saja aku meremas kertas itu jika saja aku tidak bisa menguasai diri. Besok akan ku tunjukkan ke kiai Mukhsin.

__ADS_1


Betapa main-mainnya ta'afuf ini karena ulah Fastabiqul Khoirot itu.


Bersambung.


__ADS_2