Klub Pemikat Hati

Klub Pemikat Hati
Do'a Ibu


__ADS_3

Daun sawit berbunyi berisik tertiup angin. Burung-burung membuat sangkar di pelepahnya.


Kadang anak buah pengurus kebun sawit menangkapnya dengan menggunakan pukat. Katanya untuk digoreng selepas pulang nanti.


Fastabi membeli tanah yang sebelumnya bekas penambangan timah dengan luas kurang lebih 60 hektar itu dengan harga murah. 10 hektar dibuatnya penghijaun dengan kolong biru buatan yang dijadikan tempat rekreasi yang akhir-akhir ini tren.


Fastabi terbahak mendengar celetukan Rifa'i tentang Lasti.


" Aku baru-baru ini pernah bertemu dengannya"


" Issss" Seringai Rifa'i.


" Ya mau bagaimana lagi. Motornya mogok di jalan. Tidak ada yang menolongnya. Jadi aku tolong karena kasihan juga melihatnya yang kepayahan"


" Kau cinta dengannya?"


Fastabi menarik napas. Rifa'i meringis.


" Ya Allah, yang benar saja? Maaf ya Fas, bukannya aku mau menghasut atau apa. Apa sih yang kau lihat dari dia? Aku mau berkata jujur ya. Lasti itu wajahnya standar, sudah menikah, dua kali malah. Kalau aku ngomong kasarnya, dia tidak level dengan kau Fas"


" Sudahlah ngegosip orang. Ngomong-ngomong paket umroh keluarga anak pondok kemarin sudah diurus?"


" Alhamdulillah sudah. Hari ini saya akan menemui keluarganya lagi untuk melengkapi berkas yang kurang. Mereka akan berangkat dua bulan kedepan kalau tidak ada halangan"


...🌷🐝...


Tuan Muiz meraih amplop yang aku sodorkan. Mataku membelalak saat dirinya yang penuh rasa penasaran itu membuka isi amplop itu.


Apa kira-kira reaksinya? Aku menerka-nerka. Kalau aku jadi tuan Muiz pasti malu sekali dengan surat cinta yang kekanak-kanakan itu.


Tuan Muiz mendehem lalu mengusap mukanya. Dilipatnya segera kertas itu dan memasukkan lagi ke dalam amplop.


" Oh iya, ini daftar riwayat hidup Fastabi yang tertukar dengan tugas adiknya. Bilal anak bungsu kami itu kadang teledor bukan main" Tuan Muiz menyerahkan lembaran kertas itu kepadaku.


Owh, jadi tertukar ya?


Aku mengangguk-angguk sendiri. Entah mengapa hatiku lega sekali.


Kali ini nampaknya sudah benar. Aku sekilas mengintip ke ke kertas itu dan mendapati nama Fastabiqul Khoirot tertulis disitu.


Aku menelan ludah.


Tuan Muiz tidak lama itu pamit. Dan aku pun dengan rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi dengan lembaran kertas itu, terpaksa ku tolak tawaran bu nyai untuk bersantai meminum teh bersamanya.


...🌷🐝...


Nyonya Muiz keluar dari dapur dengan tergopoh saat mendengar suaminya menyeru. Kini tugas di dapur diambil alih olehnya semenjak Bik Ina pulang kampung karena merayakan kawinan anaknya.


" Bu, kok ada hal semacam ini sih di dalam amplop yang dikasih ke Sarah?" Tuan Muiz melemparkan amplop itu ke atas meja " Aku yakin itu bukan tugasnya Bilal!"


" Emangnya apaan sih isinya?" Tanya nyonya Muiz yang saat itu penasaran dengan isinya. Hatinya berdebar. Takut terjadi masalah baru lagi. Dirinya segera meraih amplop itu.


Raut nyonya muiz seketika berubah saat membaca kertas itu.

__ADS_1


" BILAL! BILAL! Cepat panggil Bilal bu. Bikin malu saja!"


" Wah, kelewatan sekali si Bilal ini! Ampun deh punya anak bungsu yang baru semester empat tapi sukanya pacaran. Mana anak sulung pengennya jadi bujang lapuk lagi" Nyonya Muiz menaiki tangga dengan menghentakkan kakinya dengan kuat " Mana si Bilal itu yang memberi malu keluarga"


Bilal membuka pintu kamarnya saat mendengar ketukan kasar di pintunya. Dia sudah bisa menebak saat mendapati muka masam ibunya yang melototinya di depan pintu.


Nyonya Muiz sempat memelintir kupingnya sebelum dirinya menuruni tangga. Ayahnya sudah berkacak pinggang menunggunya di bawah.


Mati aku! Lirih Bilal dalam hati.


Ayahnya menghempaskan amplop itu sekali lagi ke atas meja.


" Aku minta maaf yah"


Napas tuan Muiz memburu.


" Siapa orang yang ngirim surat itu?" Nyonya Muiz menyela.


" Lina"


" Lina mana? Anak siapa?"


" Lina kampung Beringin sini lah. Anak Bik Jum"


" Si Jum tukang urut itu?"


" Iya bu. Tapi kami tidak pacaran. Lagian aku tidak mau sama dia"


" Kau mau sama siapa? Sama yang kau bonceng itu yang dimaksud oleh si Lina itu? Siapa namanya?"


" Benar kau mau sama dia, Bilal? Namanya saja sudah bikin aku merinding!" Cerca ibunya.


" Nama lengkapnya Evita bu"


" Aku tidak nanya nama lengkapnya! Anak Rus kampung Kelipan itu ya?"


" Iya bu"


" Ya ampun Bilal! Kau mau sama dia?"


" Enggak bu. Dia numpang motorku sewaktu aku lewat. Dia mau ngantar buah petai ke buk kades kampung kita"


" Kalau si Lina pengirim surat itu bisa cemburu berarti kau dekat dengan dia!" Rundung nyonya Muiz.


" Isss dia termakan olokan teman-temannya sewaktu aku tepuk tangan waktu dia berhasil memukul balik bola volly lawan"


" Kau ya Bilal. Kalau mengabaikan pendidikanmu karena perempuan, ibu akan nelpon pihak kampus untuk menonaktifkan kau. Muhammad Bilal bin Abdul Muiz, di-non-ak-tif-kan! Biar ibu bisa mengadakan pesta pernikahan kau dengan abang kau sama-sama"


" Mau kau Bilal?" Sambung ayahnya.


" Nggak yah"


...🌷🐝...

__ADS_1


Sama halnya dengan malam kemarin, aku mengendap-endap keluar kamar saat memastikan teman kamarku sudah lelap tertidur.


Aku membuka kertas itu terburu-buru. Hatiku berdebar seolah akan membaca surat cinta dari kekasih.


Aku menarik napas. Bismillah.


Aku membaca dengan seksama.


Tidak ada yang istimewa di daftar riwayat hidup itu. Tulisan tangannya tidak begitu pula bagus ternyata. Serta ditambah sedikit coretan.


Di pojok kiri kertas tertempel fotonya yang menggunakan jas hitam dasi biru. Ekspresinya datar.


Dia juga menambahkan Beberapa paragraf di akhir daftar riwayat hidupnya.


Hai Siti Sarah! Apa kabar? Hanya sekian daftar riwayat hidupku yang bisaku tulis. Aku sebenarnya sudah lama ingin menikah. Tapi berhubung aktifitasku padat jadi aku tidak banyak memiliki kesempatan untuk mencari pasangan.


Tapi jujur setiap kali orang menyebutku bakal atau calon jadi bujang lapuk. Hatiku luka sekali.


Aku sangat berterima kasih kamu sudah berkenan untuk ta'arufan denganku. Semoga Allah melimpahkan kuasanya yang jauh jadi dekat dan yang dekat merapat.


Wassalam.


Aku nyaris terpingkal sekaligus senang membacanya. Ah, masak sih seorang Fastabiqul Khoirot menulis seperti ini? Ya Allah aku mengira dia pria yang kaku. Dia ternyata seasik ini orangnya.


Aku melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Aku rasanya ingin sekali mengulang membacanya jika saja hari tidak selarut ini.


Besok aku akan pulang menemui orang tuaku. Minta dido'akan.


Kebetulan kampungku tidak jauh dari pesantren. Sedangkan jarak kampungku dengan kampung Beringin, kampung si pria itu hanya tiga kampung saja.


Dan tentunya nama pria itu juga seringku dengar hingga ke kampungku. Kenapa tidak, kaum hawa sering bercerita tentangnya di pemandian umum, di warung-warung, dan tangga rumah.


Dan kini malah mengajukan ta'aruf denganku. Ya Allah, seistimewa apa diriku ini?


Aku melangkah pelan menuju kamar. Mataku sedikitpun tidak kantuk.


...🌷🐝...


Aku memamerkan foto Fastabiqul Khoirot di daftar riwayat hidup itu kepada kedua orang tuaku. Emakku bukan main senangnya. Sedangkan Bakku langsung menyalakan daun rokoknya di teras rumah.


" Mak, ajari aku masak ya. Masak lempah kuning, lempah darat" Bisikku malu.


" Itulah Sarah, belajarlah masak dari dulu!"


" Iya mak. Tapi Sarah kan sudah bisa masak tapi tidak enak seperi emak"


" Jadi, kau mau menerimanya?" Tanya emakku hingga membuatku terdiam dan tersipu.


" Jawabnya kalau dia sudah jawab. Biar kau tidak malu. Tunggu keputusan si pria itu mau atau tidak baru kau jawab. Biar kau tidak malu kalau ternyata dirinya tidak mau sama kau" Sambung emakku.


" Emak ini, bukannya mau ngedo'a"


" Emak tetap berdo'a semoga kau diberikan yang terbaik. Tapi ini untuk jaga-jaga juga kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk. Benar juga kata emak.


πŸƒBersambung


__ADS_2