
Surat undangan disebar ke saudara-saudara, teman, kenalan, termasuk ke kampung-kampung tetangga. Dan orang penting kenalan keluarga si pria itu.
Pihak mereka yang menawarkan untuk mengurus segalanya. Surat undanganpun dicetak sebanyak mungkin dan kami juga mendapatkan bagian undangan sesuai permintaan yang kami inginkan.
...Assalamu'alaikum, WR.WB...
Dengan hormat kami bermaksud untuk mengundang saudara/i dalam rangka pernikahan anak kami:
...FASTABIQUL KHOIROT...
...Anak pertama dari bapak Abdul Muiz dan ibu Sulistia Fadilah...
...Dengan...
...SITI SARAH...
...Anak kedua dari bapak Abdul Aziz dan ibu Saribut....
Tempat: Pantai Marbei
Hari : Jum'at, 20 November 2020
Pukul: 08.00 WIB - Selesai
Demikian undangan ini disampaikan. Dengan senang hati jika Saudara/i berkenan hadir dalam acara kami.
...Wassalamu'alaiku, WR. WB...
...🌷🐝...
' Puk, puk, puk!'
Mix dipukul-pukul dengan telunjuk.
" Cek, satu! satu! Cek satu. Satu!"
Suaranya tidak tertelan dengan gemuruh gelombang laut " Cek, satu! Satu! Karpetnya silakan digelar. Awas jangan diinjak dulu nanti kotor. Cek, satu, satu!"
Aku masih berada di dalam tenda untuk bermake up. Maklumlah pantainya masih perawan jadi tidak ada villa apalagi hotel yang dibangun disini.
Tapi tenang saja tenda tempatku dirias ini bahkan muat untuk sepuluh orang untuk bersenam.
Kau tahu jam berapa kami tiba di pantai ini? Pukul 03.30 WIB! La hawla wala quwwata illa billah.
Saking takutnya kami terlambat. Padahal acara akan dimulai jam 08.00 WIB.
Kami serombongan naik mobil bang Fauzan. Sesampainya disana kami hanya mendapati panggung pemain musik dengan tumpukan peralatan yang tertutup terpal. sebuah tenda besar tempatku untuk bermake up, meja-meja, dan kursi yang belum disusun. Serta Pelaminan yang juga tertutup terpal.
Beberapa truk dan mobil kecil terparkir disana.
Menjelang subuh hari tadi kru wedding organizer keluar dari mobil-mobil itu. Mengatur meja dan kursi.
Dan saat usai subuh akupun digiring menuju tenda.
' Puk, puk, puk!'
" Cek, satu. Satu! Kain renda-renda itu segera ikat di tiang-tiang. Taplak meja juga segera dipasang. Itu, yang itu. Bunga di gerbang masuk salah warna. Padankan dengan warna bunga di pelaminan"
Kata si perias yang sekaligus satu tim dengan wedding organizer yang nyonya Muiz sewa, bunga-bunga, karpet, dan kain renda-renda sengaja tidak dipasang saat malam hari karena dikhawatirkan ada badai malam dan akan membuat rancangannya menjadi berantakan.
Aku dipakaikan kebaya putih buatanku sendiri. Bagian leher ku kelim setengah lingkaran dan ku buat sesederhana mungkin karena ku pikir akan tertutup jilbab juga.
__ADS_1
Jilbabku berwarna senada dengan kebaya dengan panjang melewati dada dan dilapisi dengan selendang. Aku tidak menambahkan aksesoris apapun seperti mutiara ataupun manik-manik. Aku hanya bermain di mode.
Bagian siku ku buat lipatan-lipatan hingga ke pergelangan tangan yang ditambah dengan karet. Dan dibagian pinggang berenda dengan lapisan brukat yang dibuat 15 CM lebih pendek dari kain lapisan inti.
Aku ingin sekali rasa-rasanya cekikikan melihat riasan wajahku di kaca.
Maksudku.
Aku suka sekali!
Ahahahaha!
Sekitar pukul 07.00 WIB, calon pengantin pria datang. Aku mendengarnya dari sepupuku Indah, anaknya bibik Jumaili saat suaranya yang berisik menyibak tenda.
Dia malah memekik saat melihat tubuhku berputar kearahnya.
" Astaga Sarah! Kau cantik sekali!"
Pujinya yang langsung menyentuh lenganku.
" Ini adalah pengantin yang tercantik yang pernahku lihat seumur hidupku"
Setelah itu dirinya meminta asisten si perias untuk menjepret kami berdua melalui ponselnya.
" Sarah, dia juga ganteng sekali memakai baju jahitan kau" Bisiknya " Dan ada dua cowok ganteng mengikutinya dan sepertinya itu adiknya"
" Dan kau minta kirim salam?"
" Nggak usahlah. Aku bukan level mereka"
Aku melafazkan zikir. Dari tadi jantungku berdebar. Aku gugup, aku takut, aku bahagia, dan aku tidak mengerti apa yang ku rasakan saat ini.
Yuk Jamilah iparku dan Indah menemaniku di dalam tenda sampai ijab qobul selesai dan untuk mengiringiku kesana tentunya.
...🌷🐝...
Bak menemuiku di tenda. Aku, yuk Jamilah dan Indah juga kaget melihat kehadirannya. Mata bak sedikit memerah. Dengan suara bergetar dirinya menyalamiku.
" Nak, bersediakah engkau bak nikahkan dengan Fastabiqul Khoirot?" Bakku mengelap matanya.
Aku terguguh.
" Aku bersedia bak. Aku ridho bak"
Yuk Jamilah dan Indah menyembunyikan muka sembari sesenggukan.
Si perias dan asistennya tampak meringis melihat air mataku tumpah dan ingus yang siap-siap meleleh.
Dengan beribu maaf ku ucapkan kepada mereka yang nantinya akan memperbaiki make upku.
Tidak lama setelah bak keluar. Sound system dibunyikan lagi.
" Bagaimana sudah siap mempelai pria?" "Baiklah. Mempelai pria sudah siap. Mempelai wanitanya bagaimana sudah siap?"
Yuk Jamilah menyibak sedikit kain pintu tenda dan mengeluarkan jempolnya.
" Baiklah kalau begitu, kedua mempelai sudah sama-sama siap, saksi sudah siap. Kita sudah bisa memulai ijab qobulnya sekarang"
Yang menjadi saksi nikah ialah kiai Mukhsin dan ustadz Salahuddin Al-Ayubi, seorang guru tafsir hadits yang mengajar di beberapa pesantren di Bangka dan beliau lulusan Yaman.
Aku meminta mahar berupa uang yang senilai 555.500,00. Aku sengaja tidak meminta banyak karena di dalam Islam sendiri tidak diperkenankan memberatkan pihak pria.
__ADS_1
Prosesi akad nikah sedang berlangsung. Aku sudah berdiri dengan didampingi yuk Jamilah dan Indah di pintu tenda.
Jantungku berdetak kencang.
Ya Allah lancarkanlah kami yang berusaha mencari ridhoMu ini Ya Allah.
Samar-samar terdengar suara menjawab kata-kata bakku.
" Qobiltu Nikahaha Wa Tazwijaha Bi Mahril Madzkur Haalan!" Ku terima nikah dan kawinnya (Siti Sarah binti Abdul Aziz) dengan maskawin tersebut dibayar tunai.
" Bagaimana saksi? Sah?"
" SAAAAAAAAH!"
Yuk Jamilah dan Indah mengiringiku keluar dari tenda.
Hadroh ditabuh. Sholawat badar dilantukan oleh sang vokalis yang bersuara indah. Kabarnya para santri Al-Mukmin yang memainkannya.
Air mataku berkaca-kaca mendengar
lirik indah puji-pujian terhadap baginda nabi dan para pejuang di perang badar.
Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif
Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Ya AIlah semoga Engkau selamatkan kami dari segala yang menyakitkan, dan semoga Engkau menjauhkan dari berbagai tipu daya musuh-musuh.
Dan semoga Engkau mengasihi kami, karena berkahnya ahli badar ya Allah.
Para hadirin berdiri menyambut kehadiranku. Kain-kain menjuntai dan tertiup angin dari tiang-tiang yang tersisip bunga di atasnya.
Pria itu yang kini sah menjadj suamiku beranjak dari duduknya dan perlahan menoleh mengikuti pandangan bak yang menatapku haru.
Dadaku bergetar.
Bahagianya Siti Fatimah
saat mendapatkan cintanya
Sayyidina Ali
Bahagianya Sayyidana Ali
mendapatkan cintanya
Siti Fatimah
Keduanya memendam rasa
Hanya Allah yang tahu
Hanya hati yang tahu.
Bersambung
Kamus:
📕📖📗📗📔📑📙
Bak 👉 Orang tua laki-laki
__ADS_1
Namun panggilan bak kini sudah semakin jarang terdengar karena mulai banyak yang memanggil panggilan pak, bapak, ayah, dan lain-lainnya.
(Terima kasih buat yang sudah bertanya)