
Fastabi melihat lembaran kertas yang terselip dibawah pintu kamarnya saat dirinya pulang.
Dipungutnya kertas itu.
Daftar Riwayat Hidup
Dia ingin sekali meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah kalau saja tidak mengingat wajah ibunya yang tersenyum ceria saat menyerahkan kertas itu kepadanya.
Namun pada akhirnya Fastabi melakukannya juga.
Dia meneguk segelas air yang disediakan di sebuah meja kamarnya. Setelah itu segera membersihkan diri dan bersiap untuk sholat ashar.
Ibunya mengetuk pintu kamarnya setelah dirinya menuntaskan wiridnya. Nyonya Muiz menyembulkan kepalanya.
" Bagaimana? Sudah baca?"
" Emh, baru akan dibaca bu"
" Baiklah. Ibu akan bantu do'a semoga pilihannya tepat. Pokoknya ibu pengen segera mendengar jawabannya. Oke?"
" Oke bu"
Fastabi menutup pintu kamarnya. Namun terdengar ketukan lagi.
" Abi, kau tidak marah lagi kan?" Tanya nonya Muiz dari balik pintu.
" Tidak bu"
Tidak lama itu dirinya mendengar langkah kaki menuruni tangga. Fastabi memungut kertas yang telah dibuangnya ke kotak sampah.
Dibukanya perlahan agar tidak sobek kertas yang sudah diremas-remasnya tadi.
Fastabi mendesah lalu meletakkan kertas itu di atas meja setelah membacanya.
Dia hanya mengingat dua poin saja. Namanya Siti Sarah dan usianya saat ini masih 22 tahun. Jadi beda 11 tahun dengannya.
Mengenai ciri-ciri fisik yang dijabarkan dalam tulisan itu tidak membuat dirinya ingin membayangkannya. Ditambah tidak ada foto yang dilampirkan.
Malam ini mau tidak mau dirinya harus hajat dan beristikhoro. Sekaligus untuk menenangkan hatinya.
...🌷🐝...
Aku masih di kampung halaman saat kiai Mukhsin menghubungiku mengenai jawabanku.
Aku mengikuti saran emak untuk tidak menjawab terlebih dahulu.
Kau pasti tau apa jawaban dari pihak pria?
Iya!
Iya!
Iya!
" Kamu bagaimana Sarah? Mau dilanjut ke tahap yang selanjutnya?"
" Ma, mau kiai" Air mataku tumpah.
" Alhamdulillah" "Lah kamu kenapa, Sarah?"
__ADS_1
" Tidak apa-apa kiai"
" Baiklah. Tadi kata pak Muiz, kalau misalkan kedua-duanya nerima, lamaran akan dilakukan Jum'at depan. Bagaimana sudah siap lahir batin kan?"
" Siap kiai"
Hatiku berdebar. Sudah tersusun momen apa saja yang akan terjadi kedepannya dalam benakku. Aku menyembunyikan senyum kecilku kepada emak yang menatapku dengan wajah yang bahagia tentunya.
" Kapan mereka akan kesini untuk lamarannya?" Kali ini bakku yang bertanya.
" Jum'at depan insya Allah, bak"
Hari Jum'at di daerah kampung kami adalah hari besar. Jadi kebanyakan pesta-pesta akan banyak digelar pada hari itu.
Pasar Parittiga kecamatan kami ramai sekali saat hari Jum'at. Jadi sebagian orang menghindari untuk menjual sahang atau lada pada hari itu, toke-toke akan membelinya dengan harga murah karena banyak yang menjualnya juga.
Aku dan emak nyaris terpingkal melihat bak segera mengaduk cat. Katanya, rumah kami sudah waktunya berubah warna.
Dan aku semakin semangat berlatih masak. Tugas memasak emak diambil alih olehku semuanya. Aku juga membuat empek-empek ikan campur singkong, otak-otak, empiang, jongkong, keroket.
Sebenarnya bukannya aku tidak tahu secara total hanya saja aku ingin sekali masakanku dinilai dan dikasih masukan oleh emakku yang jago masak.
Nanti apa kata mertua?
Aku geli sendiri.
Menu saat lamaran nanti kata emak, bikin lakso, kue serabi.
Asik! Pengetahuan baru lagi.
Sedangkan emakku sibuk menjahit baju seragam keluarga. Bang Fauzan dan yuk Jamilah, istrinya dibuatkan juga agar sama semuanya.
Astaga!
Ditambah berita akan adanya lamaran itu ternyata tersebar juga ke kuping orang di kampung.
Siapa lagi tukangnya kalau bukan ulah bibik-bibikku dari sebelah emak.
Bibik Rofi'ah itu apalagi, ayuk dari emakku. Dirinya beberapa kali terlibat adu mulut dengan ace-ace, wanita Cina penjaga toko karena terlalu rendah menawar barang saat berbelanja di pasar. Dia bahkan tidak mau membeli barang tawarannya itu walau hanya berbanding lima ribu, dua ribu!
Begitulah kalau berurusan dengan dia.
Wajar saja pas di pasar malam, gadis-gadis kampung menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terasa dikuliti aku.
Untung saja mereka tidak menanyakan kepadaku apa resep memikat bujangan kaya itu.
Tapi tidak urung bibikku, bibik Rofi'ah melapor kembali padaku. Bahwa ada yang bertanya padanya di kampung mana si Sarah mengambil pelet.
...🌷🐝...
Fastabi sudah mengira keputusan apa yang diambil oleh orang tuanya sebelum dirinya menjawab.
" Abi, kau tidak marah kan kalau sudah kami jawab iya?" Tanya tuan Muiz saat menuntaskan makan malamnya.
Fastabi tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Mungkin itulah jawaban istikhoro semalam. Batinnya pasrah.
" Kita akan lamaran. Kau jangan kabur lagi. Nanti calon mertua kau malah ngiranya nolak" Nyonya Muiz menyela.
" Aku tidak bisa ikut bu kalau Jum'at ini. Lagiankan baru lamaran. Bukan bermaksud ingin kabur tapi aku memang tidak bisa. Mungkin bisa diatur ke Jum'at depannya lagi"
__ADS_1
" Halaaah! Nanti malah gagal lagi kalau nunda-nunda!" Sahut tuan Muiz.
" Besok kita pergi beli perlengkapan lamaran yah"
" Baiklah, lebih cepat lebih baik"
" Emangnya kau mau kemana?" Tanya nyonya Muiz curiga.
" Aku ingin ngecek pembangunan rumah yang sudah mulai berlanjut lagi. Dan ada wawancara dari koran lokal"
" Nggak penasaran apa dengan calon kau?" Tanya nyonya Muiz kepada Fastabi.
" Sudah lah bu, kayak nggak tau aja standarnya seperti apa. Palingan kayak si mantan janda itu. Siapa namanya, lupa! Yang kalau berpas-pasan dengan saya mukanya masam"
" Eh, bi. Kabar-kabarnya anak pak kades yang dokter itu naksir kau ya?" Tanya nyonya Muiz.
Fastabi mengangkat bahunya.
" Dokter loh padahal. Dianya terlambat selangkah" Tuan Muiz berujar " Tapi, sudahlah! Jangan didekat-dekati keluarga kades itu. Dia lain sekali melihatku karena tidak menjadi pendukungnya saat pemilihan kades tadi" Tambahnya.
" Nggak usah ngelirik yang lain lagi bang. Kan abang sudah punya calon"
" Nah denger tuh adikmu si Epat Epot, Lina Linot ini bi"
" Nah ibu malah ngeledek. Perkataan adalah do'a bu" Balas Bilal.
Fastabi menuntaskan makan malamnya.
...🌷🐝...
Sebuah mobil mewah dan dua mobil pickup terparkir di halaman rumah. Mamang-mamangku membantu kernet mobil tersebut menurunkan lemari kaca dan satu buah tempat tidur ukuran besar.
Kebanyakan di daerah kami, acara lamaran sudah langsung membawa barang-barang seperti itu.
Menyertakan hantaran perlengkapan wanita juga seperti perlengkapan mandi, perlengkapan make up, mukenah, baju, sandal, tas, perlengkapan jahit menjahit tangan, seperai, payung.
Nggak kebayang misalkan nikahnya batal. Aduh!
Tapi ada juga yang tidak langsung seperti itu.
Tuan dan nyonya Muiz turun dari mobil. Masing-masing membawa seserahan yang sudah dibungkus di keranjang rotan. Bibik Rofi'ah dan Bibik Jumaili ikut membantu membawakannya.
" Mana calonnyaaa buuu?" Tanya bibik Rofi'ah sambil mengiring menuju rumah.
" Masih ada kerjaan yuk jadi tidak bisa hadir" Jawab nyonya Muiz.
Bibik Rofi'ah menelan ludah.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya acara nikah sekaligus resepsi akan diadakan bulan depan. Itupun semulanya pihak pria ngotot ingin diadakan minggu depan.
Aku berencana membuat khusus baju nikahan sendiri termasuk untuk calon mempelai pria juga. Nyonya Muiz akhirnya mengiyakan meskipun wajahnya tampak ragu saat aku mengatakan niatku itu.
Dirinya sudah berencana untuk menyewa wedding organizer ternama dari Pangkalpinang. Termasuk baju ganti pengantinnya yang masih bersegel yang otomatis harganya jauh lebih mahal.
Acaranya akan diadakan di pinggir pantai Marbei. Dan tentu saja kita bisa melihat pulau pribadi miliknya.
Bersambung...
🍇🍇🍇🍇 🍇
__ADS_1