
Fastabi mau tidak mau menepikan sepedanya dan berbalik arah. Gemuruh ombak terdengar hingga ke kupingnya. Rambutnya berantakan tertiup angin. Laut pasang dari semenjak minggu-minggu ini.
Dia berulang kali menoleh ke belakang melihat orang itu kesusahan menghidupi motornya.
Dia sebenarnya enggan menolong tapi akhirnya iba juga. Karena dia melihat orang itu dari saat pergi hingga dirinya pulang berolahraga masih saja berkutat dengan motornya di pinggir jalan.
Tidak ada yang menolongnya di jalan yang sesepi ini.
...🌷🐝...
Tiga puluh menit usai sholat subuh tadi, Fastabi mengeluarkan sepedanya. Dia juga sudah mengenakan pakaian olahraganya dan tidak lupa membawa sebotol air minum.
Dia berlalu begitu saja melewati ayahnya yang sedang duduk di teras rumah sembari menghirup kopi.
Fastabi segera mengayuh sepedanya. Dia kesal sekali dengan ayahnya. Sudah beberapa kali orang tuanya itu ikut campur dengan urusan pribadinya. Bahkan sampai menggeprak meja makan sehingga membuat ibunya nyaris menangis menyaksikan ketegangan malam tadi.
Kali ini malah memutuskan ingin menta'arufkan dengan seorang santri putri Al-Mukmin. Tanpa bertanya dulu atau apa dengannya. Ayahnya tahu-tahu sudah membuat janji dengan kiai. Setidaknya ayahnya memberi tahu terlebih dahulu idenya itu. Biar bagaimanapun dialah yang kelak akan menjalani semua ini.
Fastabi tahu kemarahan ayahnya itu berpuncak saat dirinya meminta restu untuk menikahi orang yang saat ini akan ditolongnya.
" Kenapa motornya?"
Orang yang ditanya itu menggerakkan bibirnya kaku.
" Tidak tau. Tidak hidup dari tadi" Jawab wanita itu sedikit terdengar gugup.
" Sini saya coba"
Wanita yang bernama Lasti itu hanya mangut. Fastabi tadi meliriknya sekilas. Dia menyembunyikan keterkejutannya melihat wajah wanita yang kini sudah memiliki dua orang anak itu ada lebam di pipinya.
Saat Lasti masih gadis, namanya banyak dikenal. Dia begitu ramah dengan orang-orang. Selain karena tubuhnya yang bahenol, mukanya putih meskipun bagian leher dan tangannya tidak berwarna senada.
Siapapun bergosip bahwa dia memakai krim pemutih wajah bermerkuri yang dijual dengan harga murah oleh mbak-mbak pendatang. Begitu sebutan pamor untuk mbak-mbak penjual kosmetik di kampung mereka.
Banyak pula kaum hawa yang membencinya karena pasal dia dan kawan-kawannya cekikikan melewati jalanan di sore hari sehabis mendulang timah. Ibu-ibu geram sekali. Tidak hanya anak bujang mereka yang menyapanya, suami mereka pun ikut bersiul saat rombongan itu lewat.
Rombongan itu sudah berganti pakaian yang bersih setelah mandi di air kolong sisa penambangan. Makanya mereka begitu percaya diri melewati perkampungan sembari riang menenteng hasil pencarian mereka menuju rumah pembeli timah.
__ADS_1
Fastabi mulai kenal dekat dengan Lasti saat wanita itu kabur dari rumah orang tuanya sambil mengumpat sumpah serapah yang kurang enak didengar.
Maka ditahannya mobil Fastabi yang saat itu sedang lewat. Dengan terpental-pental Lasti duduk di bak mobil saat melewati jalan yang berlobang.
" Aku belum mau kawin disuruh kawin! Duit timahku habis dimakan entah kemana! Adyayayayay! Hah! HAAAAH!" Teriak Lasti lalu mengumpat lagi hingga Fastabi memutuskan menurunkannya di simpang ujung kampung.
Lasti akhirnya berhasil disusul oleh ayahnya. Ayahnya bahkan telah membawa golok yang memutih karena terlalu lama diasah untuk mengancam anaknya yang berani-beraninya melawan perintahnya.
Seminggu setelahnya, Lasti dinikahkan dengan pria pilihan orang tuanya. Namun seminggu pula berselang terdengar kabar mereka bercerai. Suaminya tega-teganya menonjok mukanya hanya karena berebut makan jongkong.
Kaum hawa semakin gencar bergosip perihal janda kembang itu. Makanya lipstik, bedak, dan krim pemutih bermerkuri yang dijual mbak-mbak pendatang laris manis.
Mereka berencana akan memingit suami mereka. Tidak boleh kemana-mana kecuali nyari duit dan itupun harus diserbu dengan ribuan pertanyaan.
Fastabi sering kali memberi tumpangan di bak mobilnya saat melihat wanita malang itu berjalan kaki sendirian membawa peralatan timah. Dia dijauhi oleh teman-temannya sesama pencari timah. Mana tahan mereka lama-lama berteman dengan orang yang selalu digosip.
Hingga akhirnya Fastabi memutuskan untuk menemui orang tua Lasti untuk berniat menikahi janda itu. Tapi tanpa disangka orang tuanya murka.
Ayahnya malah mengancamnya tidak mengakui sebagai anak jika saja dirinya berani-berani menikahi wanita itu.
Bahkan ayahnya sendiri yang menemui orang tua Lasti untuk memberi kecaman pada keluarga itu.
...🌷🐝...
" Kau mau kemana?"
" Ah?" Lasti tersentak " Mau beli gula dan kopi. Tapi hari sudah siang begini gara-gara motor ini"
" Coba naik. Biar aku dorong"
" Apa? Aku tidak mendengarnya begitu jelas"
" Motornya coba pakai. Aku yang akan dorong. Nanti setelahku bilang pasang giginya. Kau segera pasang giginya. Oke?"
" Bbaiklah"
Lasti segera mengikuti intruksi dari Fastabi. Alhasil motornya bisa hidup lagi. Wajah wanita itu tiba-tiba terlihat cerah.
__ADS_1
" Terima kasih banyak" Ucap Lasti sembari melajukan motornya menuju toko di perkampungan sebelah.
Fastabi hanya mengangguk. Dia lalu menuntun sepedanya menyelusuri jalanan. Dirinya tidak ingin buru-buru sampai ke rumah.
Ilalang bergerak tersapu angin di bawah pepohonan kelapa.
Fastabi langsung menaiki sepedanya menyelusuri jalan setapak yang disembunyi oleh rumpun ilalang.
Dia melihat jam ditangannya. Sekitaran tiga puluhan menitlah kira-kira dirinya akan bersantai di bibir pantai.
Fastabi mengamati pulau dengan luas kurang lebih satu hektar yang dibelinya dua tahun yang lalu. Dia lebih cepat selangkah dari salah satu orang penting di pulau Bangka untuk mendapatkan pulau itu.
Dirinya sudah lama mengimpikan untuk tinggal di sebuah pulau pribadi dan mimpi itu kini akan jadi kenyataan. Dia menamai pulau itu dengan nama Al-Fath yang artinya kemenangan yang diambilnya dari nama salah satu suroh dalam Al-Qur'an.
Dirinya tidak akan membuat dermaga karena tidak mau kediamannya akan mempermudah akses untuk dikunjungi orang lain. Jadi dirinya hanya akan menyediakan speed boat pribadi.
Pembangunan tempat tinggalnya baru berjalan tiga puluh persen. Pembangunan dihentikan karena curah hujan yang tinggi dan angin kencang di tengah laut.
Bahkan para nelayan banyak yang libur melaut. Alhasil harga ikan naik hampir dua kali lipat dari harga biasanya.
Kini namanya tercatat sebagai salah satu dari bagian orang yang terkaya di kepulauan Bangka Belitung yang pernah diulas di sejumlah koran dan stasiun TV lokal.
Fastabi mendengus. Benar kata orang, orang akan melihat siapa diri kita sekarang tanpa mau melihat apa upaya kita untuk mewujudkannya.
Dia melihat jam tangannya. Setelah dirasakan cukup, dirinya memutuskan untuk pulang sembari memacu kencang sepedanya karena gerimis mulai turun. Akhirnya dirinya memutuskan untuk berhenti disebuah pondokan yang beratap daun rumbia di pinggir jalan saat hujan mulai meresap dingin tengkuknya.
...🌷🐝...
Aku keluar kamar dengan gugup. Kiai Mukhsin padahal sudah berpesan jam 10 rombongan pihak laki-laki akan datang. Kiai juga meminta salah satu santri putri untuk memberi tahuku berulang-ulang kali.
Ya mau bagaimana lagi kalau sedang gugup. Iya nggak sih?
Aku terpaksa mengenakan pelembab bibir. Karena kata Larisa salah satu teman sekamarku, mukaku pucat pasih.
Dengan mengucapkan bismillah. Aku melangkah menuju rumah kiai. Di depan pekarangan rumah kiai telah terparkir mobil mewah berwarna hitam.
Dengan gugup yang menjadi-jadi aku mengucapkan salam kepada mereka yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Tapi pria yang ku lihat di podium itu tidak ada diantara mereka.
Bersambung