
Pria itu segera menundukan pandangannya setelah sekilas menatapku. Benar kata Indah, dia terlihat tampan sekali memakai baju buatanku.
Tidak sia-sia aku menjahitnya sampai larut malam.
Yuk Jamilah dan Indah mengepit lenganku. Kami melangkah perlahan.
" Ayo kedua mempelai bersalaman" Kata penghulu saat aku hampir mendekati tempat prosesi akad yang baru saja berlangsung.
Aku berdiri canggung. Yuk Jamilah memutar tubuhku yang kaku menghadap kearah Fastabi.
Tapi Fastabi tampak kebingungan. Kami sama-sama menangkup tangan ke dada.
" Bersalaman seperti biasa, bersentuhan. Kalian sudah halal" Tegur Nyonya Muiz gemas.
Ya Allah. Malunya. Pekikku dalam hati.
Para tamu undangan yang kebanyakan keluarga dekat kedua mempelai menertawai kami.
Mereka menyoraki kami " Ayo Fastabi! Ayo Fastabi!"
Nyonya Muiz. Emh, maaf maksudku ibu mertuaku langsung menyatukan tangan kami berdua.
" Mau salaman kok susah sekali" Gerutunya.
Aku perlahan mencium tangan si pria. Emh, suamiku. Hehehe.
Begini rupanya rasanya bersentuhan dengan kulit laki-laki selain bak, dan saudara-saudaraku. Rasanya seperti menyeterum. Mengalir ke aliran darah hingga membuat dingin tengkukku.
Kami sama-sama melepaskan salaman kami secara bersamaan.
" Kaliankan sudah halal tidak usah malu-malu lagi" Ibu mertuaku mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyerahkan kepada Fastabi.
Pria itu membuka kotak kecil itu yang berisikan cincin dengan permata yang berkilau terterpa sinar mentari pagi.
Diambilnya cincin itu setelah mendapati kode dari ibunya.
" St!" Ibunya memberi kode lagi. Fastabi meraih tanganku perlahan. Menyeterum lagi rasanya. Aduuuuh!
Dia memakaikan cincin cantik itu di jari manisku.
" Ciuuuum!" Sorak beberapa orang di belakang. Mataku terbelalak. Mukaku pasti pucat sekali!
Tidak!
Jangan!
__ADS_1
Fastabi tidak menghiraukan sorakan itu. Dirinya malah mendengus melihat kearah orang-orang bersorak itu. Sepertinya itu teman-temannya.
Dirinya malah menyalami kedua orang tuanya, orang tuaku, dan akupun mengikuti seperti yang dilakukannya. Syukurlah tidak jadi!
Orang-orang yang bersorak tadi tampak kecewa.
Emakku menangis memelukku. Sembari menepuk-nepuk pungguku dirinya berpetuah.
" Mulai sekarang Sarah, surga ada di suamimu. Sebisa-bisa kau, sepintar-pintar kau untuk bersikap padanya. Anggap mertuamu seperti orang tua sendiri"
" Iya mak"
Bak ku juga memelukku dengan menyampaikan petuahnya yang hampir sama dengan apa yang disampaikan emak.
Ibu mertuaku mengusap air matanya setelah memeluk lama anaknya dengan nasehat dan ocehan yang panjang dan berulang-ulang. Dirinya juga menyampaikan pula padaku.
" Sarah, apapun yang akan terjadi kedepannya. Selalu berada disamping Abi ya? Dia anak yang penurut sekali jika kau tau. Tapi kadang hatinya juga bisa sedingin es. Rebut hatinya bagaimanapun caranya. Itu hak kamu. Lihatlah kalian pasangan yang serasi"
" Iya bu"
Kemudian kami bersalaman dengan bibik-bibik dan mamang-mamang dari sebelah aku dan dari sebelahnya.
Kami diiringi menuju ke pelaminan setelah memotong dan memakan kue yang menjulang sampai empat tingkat.
Tilawah Al-Qur'an dilantunkan oleh qori' terbaik alumni pesantren Al-Mukmin. Hadirin dibuat terdiam mendengar lantunan suroh Annisa ayat 1, dan Ar-Rum ayat 21.
Acaranya dibawa oleh MC kondang yang berasal dari kota Sungailiat.
Sedangkan hiburannya ialah qosidah modern dari Pangkalpinang dan kabarnya baru sekali ini masuk ke kecamatan kami.
Para tamu undangan tampak menikmati suara indah si pelantun sholawat dan lagu-lagu islami.
Ibu mertua melakukan pilihan yang tepat dimana sebelum-sebelumnya setiap ada pesta di kampung, hiburannya diisi dengan orkes ataupun orgen tunggal yang maaf menurutku pakaiannya kadang kurang sedap dipandang.
Acara terdiri dari dua sesi. Sesi pagi dan sore. Sesi pagi berakhir sampai jam 10.00 WIB. Dan sesi sore dimulai dari jam 14.00-16.00 WIB.
Nyonya Muiz dengan percaya diri melangkah menuju ke pelaminan. Dirinya memakai gamis biru muda di sesi kedua membuat kecantikannya semakin ketara.
Tapi kakinya terhenti saat melihat kedua anak bujangnya, Bilal dan Abdurrohman asik berbincang sembari menyantap hidangan.
Abdurrohman anak keduanya yang baru saja selesai koas di Jogja dimintanya untuk pulang agar bisa ikut serta merayakan resepsi kakak tertua mereka.
Nyonya Muiz juga sudah meminta Bilal untuk mengundang dua orang gadis yang disebut-sebut di dalam surat itu. Dirinya hanya ingin menghilang rasa penasarannya saja. Dan dirinya berharap Bilal juga mau memberi kode saat dua orang gadis itu nanti akan bersalaman dengannya.
Setidaknya kan dirinya tidak salah orang saat membesarkan mata untuk memberi gertakan. Kalian ya yang coba-coba ingin mengganggu pendidikan anakku?
__ADS_1
Begitulah kurang lebih artinya. Biasanya remaja sudah takut dengan kode seperti itu. Pikirnya.
Nyonya Muiz juga tidak lupa mengundang wanita-wanita yang dulunya pernah digosip ingin merebut hati Fastabi. Dirinya bermaksud untuk memperingatkan secara halus dan tersirat bahwa anaknya tidak usah dikejar-kejar lagi. Ahahaha.
Tapi tidak tahulah mereka mau datang atau tidak. Dengus nyonya Muiz.
Pesta pernikahan berlangsung sangat meriah.
Bau wangi hidangan tercium kala para panitia menyingkap tutup prasmanan.
Dan para tamu yang mengantri seolah menetes air liurnya menatap hidangan-hidangan yang menggugah selera tersebut.
Ada daging rendang dimasak oleh koki rumah makan Padang. Ayam sambal, ada jengkol sambal terasi, petai rebus sambal bakar, ikan tenggiri panggang, rendang jamur pelawan yang harganya selangit, sate ayam dan daging, sop iga, bakso, mie kuah ikan.
Belum lagi jus beraneka warna yang sudah dituang ke dalam gelas yang berjejeran di meja.
Dan buah pisang, anggur, rambutan bergelantungan. Sehingga membuat anak-anak merengek ingin diambilkan.
Perutku jadi lapar.
Sampai-sampai aku menelan ludah saat melihat tamu yang menggigit daging iga yang duduk tepat di depan pelaminan. Dia mengunyahnya tanpa malu hingga aku memastikan kami yang duduk di pelaminan memperhatikannya.
Ngomong-ngomong dia salah satu mamangku dari sebelah ayahku yang tinggalnya tidak jauh dari kampung kami.
Tuan Muiz mendelik saat melihat mamang si pemakan iga tadi dan bibik minta foto bersama. Mungkin katanya " Ooooh. Saudara mereka rupanya" Mungkin saja seperti itu. Hahaha.
Tapi entahlah, setelah tamu mulai berkurang, tuan Muiz ku lihat sudah menyendok sup iga satu mangkuk besar.
Oh iya, kau perlu tahu. Betapa menyiksanya selama sesi pemotretan tadi. Tangan Fastabi seolah seperti patung. Mengertikan maksudnya? Tangannya mengeras dengan jari-jari menyatu memegang pinggangku.
Wajahku sampai-sampai pucat pasih.
Ini semua gara-gara si tukang foto yang waktu itu ikut bersamanya ke pesantren. Terdengar gerutuan yang sedikit terdengar dari mulit Fastabi. Dari itu aku tau nama si tukang foto itu adalah Rifa'i. Dia tadi makan bersama Zubaidah, teman sekelasku sewaktu MTs di pesantren dulu.
Ditambah bibik-bibik dari sebelah Fastabi sewotnya bukan main saat kami enggan berpose menuruti keinginan mereka.
Mereka memaksa dan menggerutu. Hingga kami berdua sama-sama kaku. Mengeras seperti batu. Ujar mereka.
Bersambung
🍉🍓🍅
Pembacaku terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca karya ini.
Semoga karunia dan rahmat Allah selalu ada untuk kita.
__ADS_1
Wallahu A'lam Bishawwab