
Pesta usai. Sebenarnya hari ini sangat melelahkan tapi segera tertutup dengan kebahagiaan yang sedangku rasakan.
Tuan Muiz sudah memarkirkan mobil jeep di bawah pohon kelapa dan menyerahkan kuncinya dengan Fastabi.
Aku keluar dari tenda setelah berganti baju biasa.
Suara cekikikan terdengar saat sunset menyepuh pasir pantai. Mereka ternyata asik mengabadikan momen mereka dengan meminta bantuan si Rifa'i tadi.
Fastabi sedang berbincang dengan ayahnya di samping mobil jeepnya. Aku sama sekali tidak bernyali untuk menemuinya. Apalagi mengganggu perbincangan mereka.
Kemudian seseorang pria berbadan semampai keluar dari mobil Xenia putih yang baru saja tiba. Dirinya menyalami tuan Muiz dan Fastabi. Tidak berapa lama itu tuan Muiz meninggalkan mereka berdua.
" Selamat atas pernikahanmu maaf terlambat dan aku terlambat ternyata memang tidak kena undang! Hehehe. Semoga malam ini menjadi awal kebahagiaan yang belum pernah kau temukan" Kata orang itu.
Fastabi tersenyum kecut.
" Yang mana istrimu?" Pria itu mengedarkan pandangannya kesana kemari. Mencari sendiri karena orang yang ditanyanya sama sekali tidak menjawab. Dirinya sepertinya bisa menduganya sendiri.
Aku mendapati seseorang pria sedang melihat kearahku dari jauh dan sepertinya sedang membicarakanku dengan Fastabi.
Merasa tidak enak, akhirnya dengan terpaksa aku bergabung dengan gerombolan yang tadi cekikikan meminta difoto. Mereka kerabat Fastabi yang datang dari Pangkalpinang. Sedangkan Keluargaku sendiri sudah pulang setelah pesta ini berakhir.
Zubaidah menghampiriku sebelum aku bergabung dengan kerabat baruku.
" Bagaimana hari ini? Menyenangkan? Bagaimana menikah dengan cowok ganteng terkenal?" Tanyanya sembari membidikku dengan kamera.
" Sudahlah Zubai aku malas sekali difoto" Aku menutup mukaku dengan telapak tangan " Tapi kau akan segera menyusul kan?"
" Apanya?"
" Issss. Aku tidak menyangka kau kekasih teman suamiku" Lurusku.
Zubaidah terpingkal " Nantilah ku cerita pada kau. Aku juga tidak menyangka kau akan berjodoh dengannya. Padahal banyak yang suka dengannya dan dia kabarnya pemilih sekali. Aku malah nyangka dia akan jadi bujang lapuk"
" Maksudnya, dia banyak pacar ya?"
" Bukan seperti itu. Kan aku bilang tadi banyak yang suka bukan banyak pacar"
" Oh"
" Baiklah Sarah, aku tinggal dulu untuk berkemas-kemas ya. Walau bagaimanapun aku salah satu panitia disini. Tuh, suamimu yang tercinta sudah menunggu"
Aku melihat kearah Fastabi. Tapi pria itu malah melipat tangannya dan bersandar di depan jeepnya sembari menatap kearah pulau pribadinya.
Pria yang ngobrol dengannya tadi sudah pergi ternyata.
Aku masih saja ragu untuk menemuinya. Lagi pula sepertinya dirinya jauh lebih canggung daripadaku.
" Eh, Sarah kok masih disini? Ayo langsung ke mobil. Ayah sudah menyewa sopir untuk mengantar kalian" Tegur tuan Muiz. Disampingnya sudah berdiri seorang pria yang umurnya kurang lebih setara dengannya. Mungkin itu sopir yang dirinya maksud tadi.
Aku mengikuti kedua pria paru baya itu. Sembari mengepit tasku.
Ya Allaaah aku sudah punya suami, ya Allah!
__ADS_1
Fastabi segera membetulkan posisinya saat melihat kami datang menemuinya.
" Bi, kunci mobilmu mana? Pak Sukir ini yang akan mengantar kalian"
Alis Fastabi mengerut. Dirinya kebingungan dan merogok cepat kantung celananya untuk mencari benda yang dimaksud. Fastabi memberikan kunci tersebut kepada si sopir.
" Ayo Sarah. Silakan naik"
" Ayah tidak ikut?" Tanyaku.
" Loh! Buat apa saya ikut. Ayah kan mau pulang"
" Oh"
Kami akhirnya berangkat. Fastabi duduk di depan menemani pak Sukir. Sedangkan aku duduk di belakang sendirian. Baguslah!
" Loh pak rumah orang tuaku sudah lewat" Tegurku.
Pak Sukir nyengir sembari melirikku dari kaca.
" Pak bos mintanya saya untuk mengantar ke hotel mbak"
Mataku terbelalak. Aku diam seribu bahasa. Jadi malu jika melanjutkan omongan.
" Oh ya, saya tinggal di Pangkalpinang jadi tugas saya hanya mengantar saja. Nanti mbak sama mas bisa menggunakan mobil ini lagi. Tadi saya ketinggalan bis rombongan tamu"
Aku nyaris terpingkal.
Kami sampai ke kota Pangkalpinang hampir tiga jam perjalanan yang terbilang santai. Pak Sukir membawa kami ke sebuah hotel berbintang yang tidak perlu ku sebutkan namanya tapi yang jelas aku belum pernah kesini.
Aku masuk ke lobi tapi Fastabi tidak ku temukan disitu. Kemana dia?
Aku duduk dan syukurlah seorang karyawan hotel datang dan memberikanku sebuah kunci.
" Ini kuncinya yuk. Bang Fastabi menitipkannya padaku tadi"
" Emangnya dia kemana?"
" Hah?" " Apa yuk?"
" Dia dimana?"
" Oh, dia di kamar sekarang. Biar saya antar ya yuk"
" Ng, nggak usah. Biar saya aja sendiri. Terima kasih Kesi" Jawabku sembari melirik sekilas name tag yang tersemat di dadanya.
Aku pergi ke kamar nomor 201 yang tertera di gantungan kunci. Aku tentu saja memperlambat langkah sembari menimang-nimang kunci di tanganku.
Badanku jadi panas dingin. Aduuuh, kenapa harus jadi begini sih? Jeritku.
Mana ponselku dari tadi berbunyi lagi. Banyak pesan dari teman-temanku yang mengolok dan menanyakan hal yang fulgar dan membuatku bergidik.
Aku semakin gugup saja.
__ADS_1
Aku berbelok ke mushola yang kebetulan tidak jauh dari kamar yang aku cari. Aku harus menjamak sholat Isya-Magrib dulu baru kemudian ke kamar.
Setelah selesai sholat aku memberanikan diri untuk ke kamar. Dengan mengucapkan bismillah aku membuka pintu.
Hidungku langsung mencium bau harum.
Waaaah besarnya ruangaaan!
Aku celingukan mencari sosok itu. Sama sekali tidak ada sahutan saat aku mengucapkan salam.
Apa dia kabur ya?
Aku cekikikan ngebayang kejadian yang sama seperti di film-film saat pasangan kabur setelah menikah.
Eh.
Astagfirullah aku ini! Amit-amit cabang bayi.
Berperasangkalah yang baik-baik.
Samar-samar aku mendengar keran di kamar mandi dihidupkan.
Mungkin dia be'ol! Tidak, dia sedang mandi kayaknya.
Aku menuju ke tempat tidur yang sudah dihiasi kelopak mawar merah yang dibentuk menyerupai hati. Sedangkan di dinding kanan kiri tempat tidur sudah menjuntai lampu kerlap kerlip berwarna kuning.
Bau harum yang ku cium saat membuka pintu tadi ternyata berasal dari lilin aromaterapi yang diletakkan di sebuah meja kecil di sudut ruang.
Mimpi apa aku ini bisa mendapat keberuntungan seperti ini?
Aku segera meletakkan tasku ke atas tempat tidur saat mendengar hadle pintu diputar. Aku pura-pura mengaduk-aduk tasku. Seolah mencari sesuatu yang sangatku butuhkan.
Aku duduk memunggung.
Hah, orangnya sudah keluar! Orangnya sudah keluar!
Ya Allah, ya Tuhanku. Engkau maha pengasih dan maha penyayang. Hanya engkaulah yang tahu betapa gugupnya jantungku ini.
Aku masih melanjutkan kepura-puraanku padahal kupingku sudahku siapkan setajam mungkin. Siapa tau dirinya berbicara denganku.
Aku mendengar dirinya mengusap-usap rambutnya dengan handuk sembari menyingkap lemari di samping tempat tidur dan mencari sesuatu.
Tidak berapa lama itu aku mendengar sejadah digelar di atas lantai.
Aku memelankan gerakanku yang takut mengganggu konsetrasinya. Sebaiknya aku hentikan kepura-puraan ini sebelum dirinya curiga.
Aku harus menyapanya bagaimana setelah dirinya selesai sholat?
Hai?
Sudah selesai sholatnya?
Kita berapa lama disini?
__ADS_1
Ah, biarlah dia menyapa duluan. Sorry, sorry ye aku mau nyapa duluan!
Bersambung 💐🌸💮🏵🌹